Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).
Al Anfaal :60

Saya kali ini menulis seputar betapa urgennnya sebuah pusat informasi bagi suatu pergerakan. Dalam beberapa tulisan saya yang telah lalu, saya telah membahas hakikat kebijakan desentralisasi yang diiconkan dengan regional madani pada karakteristik maupun tujuannnya. Dan kali ini saya ingin menulis mengenai dunia yang selama di KSEI Progres saya geluti.

Diplomasi Republik Indonesia, menurut salah seorang staff ahli kedutaan Indonesia di luar negeri, mempunyai filosofi sendiri dalam membangun  hubungan multibilateral mauoun multilateral dengan negara-negara tetangga atau dunia Internasional. Diplomasi Total Football, itulah nama diplomasi yang selama ini dilancarkan oleh departemen luar negeri republic Indonesia. Yang berarti Indonesia sebagaimana awalnya tetap menganut politik luar negeri bebas aktif dalam hubungan internasional sebagai negara yang berdaulat dan diakui oleh dunia.

Begitu pula filosofi kebijakan yang selama ini saya terapkan semasa saya menjabat sebagai wakil ketua departemen luar negeri Progres. Pada masa sebelumnya, saya banyak melihat. Bahwa KSEI yang terletak waktu itu di kampus Dramaga mempunya banyak potensi dan kekuatan yang belum dilihat oleh KSEI lainnya seindonesia. Orang hanya tahu kalau anak-anak Tazkia sudah pasti kepakaran dalam hal Fiqh Muamalah dan sebagainya. Tapi orang juga tak pernah tahu bahwa STEI Tazkia dengan KSEI Progresnya ini mempunyai banyak hal penting yang tidak dimiliki oleh KSEI-KSEI mapan seperti UGM dan UNPAD. Kekuatan-kekuatan yang bahkan tidak disadari oleh pengurusnya sendiri waktu itu dan menatap KSEI lain di jadebotabek seperti UI dan LISENSI. Tetapi saya melihat perspektif lain dalam membangun hubungan bilateral antar KSEI. Jadilah dalam kerangka fikir yang saya bangun. Seolah-olah mengasumsikan bahwa saat ini kita juga mengalami Mihwar Aulamah atau Globalisasi.

Namun ada satu prinsip penting yang saya pegang dalam membangun hubungan antar KSEI yang lebih baik. Perlakukan KSEI lain sejajar dan sewajarnya sebagaimana mereka memperlakukan kita. Karena dengan itu kita mulai bisa membangun dialog dan mengetahu untuk apa sebuah dialog diperlukan dalam membangun kekuatan regional. Regional memerlukan penguatan. Penguatan yang tidak mungkin datang dari sang Koreg. Penguatan yang tidak mungkin dengan program-program regional. Penguatan itu datang dari revitalisasi hubungan antar KSEI Itu sendiri. Untuk itulah di KSEI progress ada program yang namanya Kajian Pertukaran Pembicara. Alhamdulillah beberapa kali program ini berjalan. Waktu itu kami memgundang KSEI LISENSI yang wkatu itu masih dikomandani Akhi Riza Rizky Pratama.. dan berjalan sukses.

Program di deplu ini tidak sama sekali bertujuan untuk saling mengkritisi antar kafaah KSEI sebagaimana yang diparadigmakan oleh sejumlah orang yang tidak faham. Tetapi ia menyediakan ruang dialog untuk saling mendengar dan saling memahami. Sebuah tujuan filosofis karena kita juga masih sama-sama belajar. Kalau salah satu bidang dalam ekonomi Islam tidak ada jaminan bahwa bidang lain kita juga kepakaran memahaminya. Dan inilah yang hilang dari fikiran kebanyakan pengurus waktu itu. Jadilah sering saya dengardari wahid, bahwa teman-teman KSEI enggan datang ke kampus kami dalam program kajian pertukaran pembicara disebabkan mereka takut mendapatkan kritik dari temen-temen Progres atas kajian yang disampaikan. Dan saya pun geleng-gelengh kepala, kenapa harus sampai berfikir sejauh itu ??. jadiya program yang tadinya menjadi program unggulanm Departemen Luar Negeri Progres terhenti beberapa saat.

Perjuangan untuk membuka hubungan yang lebih baik dengan KSEI lain, dilanjutkan di masa adik-adik kelas saya angkatan 2008. Seperti halnya Kunjungan Studi Banding ke UGM. Mempunyai sejumlah arti. Pertama revitalisasi makna silaturahim yang selama ini mengikat keutuhan kita sebagai keluarga besar yang bernama Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam. Yang kedua saya melihat proses transformasi antar peradaban dan antar budaya dalam satu zaman itu akan tetap ada. Teorinya Huntington tentang The Clash of Civilazation semakin kehilangan relevansinya untuk membangun sebuah dunia yang lebih beradab. Yang ada selepas Krisis Keuangan terus menggeleparkan perekonomian Eropa, Dunia merasa perlu untuk mencari pelbagai alternative untuk menyelematkan milyaran umat manusia tidak peduli dari mana dan asal siapa jalan alternative itu.

Begitu juga pola hubungan antar KSEI dan pola hubungan antar pergerakan yang seharusnya mulai berjalan. KSEI Progres akan melihat SEF UGM sebagaimana KSEI lain juga mempunyai kedudukan yang sama dengan KSEI Progres. Dan KSEI Progres akan belajar banyak dalam hal modernisasi manajemen termasuk pengelolaan wealth or treasury department. Sebaliknya SEF UGM mulai berfikir bahwa kajian kitab klasik ulama Islam tidak pernah bisa ditinggalkan dalam pengembangan teori ekonomi Islam. Memisahkan pengembangan ekonomi Islam dengan asal mula ia dibangun sama saja merobohkan pengembangan teori ekonomi Islam itu sendiri. Dan ketiga penguatan antar regional. Seperti yang sudah saya bahas di atas, merevitalisasi hubungan antar KSEI  mampu memberikan penguatan penting bagi pengembangan kekuatan regional. Regional startegis tapi selama ini kurang perhatian. Regional penting tetapi selama ini juga kebijakan FoSSEI nasional tidak banyak menguntungkan regional. Untuk itulah regional harus mampu membangun kekuatan utamanya melalui revitalisasi hubungan antar KSEI.

Diplomasi FoSSEI

Saya sebelumnya ingin bertanya, kepada Presnas, apakah selama ini komunikasi antar pergerakan mempunyai tempat tersendiri dan juga telah mengalami revitalisasi dalam mengembangannya sebagai pembentukan citra pergerakan ??. tidak bisa dipungkiri, dunia mahasiswa saat ini masih berpatok pada urusan-urusan sosial politik. Isu korupsi dan sejumlah persoalan hukum negeri tampak dominan dalam agenda perjuangan mahasiswa. Metode konfrontasi opini yang dikembangkan masih terbilang “konvensional” . Turun ke Jalan dan bentrok dengan aparat menjadi mainstream dominan pergerakan mahasiswa saat ini. Dan dalam hal dialog, kita masih berdiri antar ujung ke ujung yang lain. Padahal musuh yang kita hadapi bersama juga satu dalam hal ekonomi. Kemiskinan,penangguran, ketidakmerataan pertumbuhan, dan sejumlah paradoksal ekonomi modern masih siap tayang hari-hari ini. Lalu mungkinkah kita tampil bak single fighter seolah hanya kita yang berhak menyelamatkan Negara ini dari beringasnya krisis keuangan atau tersimilarnya perbankan syariah dengan system ekonomi Islam yang secara kefahaman atau praktik banyak merugikan citra Ekonomi Syariah itu sendiri ?? alangkah tamaknya kita !!

Itu bermakna, FoSSEI tidak bisa tampil sendiri membawa isu perubahan besar ini ke tengah masyarakat. Ada pihak  lain dalam kedudukan yang sama sebagai mahasiswa dan dalam posisi yang sama mereka, mahasiswa dengan idealisme dan cita-citanya merindukan keadilan dan kebenaran., bersama kita membawa isu besar perubahan ke tengah masyarakat umum.

Tetapi bukankah selama ini FoSSEI telah ikut menggandeng sejumlah stakeholder ekonomi Syariah ??. adalah benar selama ini FoSSEI melakukan banyak kerja sama dengan, MES,IAEI,AAKSI,Karim Business Consulting, dan sebagainya. Tetapi mereka yang selama ini mengabdi di regional juga merasakan betul bentuk-bentuk kerja sama yang dilakukan lebih banyak berperan sebagai event organizer seminar-seminar dan forum riset. Akhirnya sebagian teman-teman regional merasa, tidak ada lagi gunanya kerja sama yang dilakukan selama ini. Kita tidak menemukan komposisi yang sesuai dalam bentuk kerja sama ini. Padahal dalam Rakernas V di Universitas Pancasila, telah ditekadkan bahwa menjadi EO bukan sebuah prioritas kader-kader FoSSEI. Oleh karena itu dalam Rakernas FoSSEI V juga ditetapkan tiga pilar internalisasi nilai. Al Wala, Al Udhiyah,At Tawashi. Kesetian dan loyalitas, pengorbanan, dan budaya munashahah atau tradisi saling menasehati.

Maka, dalam hal ini FoSSEI perlu membangun hubungan kerja sama intensive dengan sejumlah pergerakan mahasiswa untuk menemukan roadmap dan blueprint membumikan ekonomi langi di bumi dengan posisi yang sejajar sehingga ada pembagian spesifikasi yang jelas. Sulit untuk terus mengandalkan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang saya sebutkan di atas. Agar tidak ada lagi pertanyan-pertanyaan ahistoris, “akh kita ini bagian dari MES yach “ seperti yang banyak ditanyakan oleh adik-adik kelas saya di kampus. Atau agar tidak ada lagi kevenderungan program regional harus diarahkan menjadi penggalangan kader fossei ke acara-acara yang fossei dalam acara itu lagi-lagi hanya berperan sebagai EO. Akibatnya banyak program yang terbengkalai seperti yang banyak dirasakan oleh FoSSEI Jadebotabek sebelum masa Akhi Ardiansyah Selo Yudha. Saat-saat itulah kelemahan fossei dirasakan berada di tangan komando puncak karena sifatnya top down. Melalui koreg, Presnas menginstruksikan adanya kerja sama ini dan harus dimanfaatkan sesuai job desk yang diberikan oleh stakeholder ekonomi syariah.

Hari ini zaman sudah berubah. Visi kita bukan saja  bagaimana menjadikan FoSSEI sebagai organisasi yang tumbuh secara berpengaruh untuk menjemput cita-cita 2030. Masih terlalu banyak PR umat dan PR jamaah yang harus kita benahi. Tidak terkecuali budaya Al Wala, Tawashi, dan Al Udhiyah harus dibarengi dengan budaya Al Fahmu, Al Ikhlas, Al Amal, Al Jihad, Ats Tsabat, At Tajarud, Al Ukhuwwah, dan Tsiqah. Internalisasi nilai budaya di atas juga harus merasuk ke tiap koordinator regional dan para punggawanya. Seorang Ulama mengatakan “pendapat kami benar tetapi kemungkinan salah, pendapat mereka salah namun kemungkinan benar “ melukiskan ketawadhuan seorang mukmin dalam memberikan hak ta’akhi kepada saudaranya.

Jakarta

6 Muharram 1432 H