IndonesiaIndonesia di usianya yang ke enam puluh lima pada tahun 2011 akan segera memasuki masa penting dalam gejolak akuntansi dunia, di saat yang sama menurut Jan Hoesada, anggota dewan standar akuntansi keuangan, dalam seminarnya di STEI Tazkia kampus Andalusia, terdapat sekitar 2.650.000 unit UKM dan juga di saat yang sama mereka sangat potensial menjadi pengguna PSAK ETAP yang akan diberlakukan pada 2011 di saat yang bersamaan International Financial Report Standart diberlakukan di Indonesia menggantikan sejumlah PSAK yang selama ini lebih banyak mengadopsi FASB.

Pada penelitian sebelumnya, Dr Musa Hubeis (2009),  menyebutkan UMKM mendominasi sector usaha di Indonesia sekitar 99, 13 % dari keseluruhan sector usaha yang berkembang di Indonesia dengan asset di bawah 50 juta dan total penjualan di bawah 300 juta UMKM mampu berkontribusi untuk Pendaparan Bruto Domestik Indonesia sebesar 2, 360 Trilyun atau sekitar 56 % dari PDB. Dan dengan asset di bawah 50 juta ditambah jumlah karyawan rata-rata yang dipekerjakan oleh UMKM, sekitar kurang dari empat orang dan untuk sector usaha kecil dengan jumlah karyawan yang dipekerjakan antara 5 hingga 19 orang ternyata mampu berperan banyak dalam mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6 % lebih tinggi dari beberapa semester sebelumnya dan menggairahkan produktifitas perekonomian Indonesia selepas krisis keuangan dunia 2007, krisis keuangan Yunani dan terakhir Krisis Keuangan Irlandia, UMKM hanya sedikit yang terkena dampak dari krisis. Kalaupun ada, itu bagian dari UMKM yang banyak dan sudah melakukan ekspor ke luar negeri.

SAK ETAP memang lahir di saat yang strategis dan tepat. Alangkah rumitnya kalau sekitar 10 -12 juta unit UMKM yang potensial menjadi penggerak perekonomian Indonesia dan selama ini hanya mempunyai buku catatan transaksi yang sederhana dan hanya mencatat pos pemasukan dan pengeluaran harus dengan tergesa-gesa belajar cepat membuat laporan keuangan yang lengkap mulai dari neraca hingga laporan arus kas. Ditambah dengan adopsi IFRS dan SME IFRS yang menurut , Pak Ahmad Baraba, Komisaris Bank Jabar, yang dimaksud usaha mikro versi SME IFRS adalah Sektor Usaha Menengah yang assetnya sampai dengan 10 Milliar dan total penjualannya mencapai 50 Milliar dan jumlah karyawan yang dipekerjakan 20-99 orang karyawan. Maka UMKM jika harus mengadopsi SME IFRS sama saja memaksa UMKM untuk menerapkan perhitungan-perhitungan rasio dan menyediakan sejumlah laporan keuangan yang selama ini dalam proses bisnis mereka tidak membutuhkan sama sekali semua perangkat itu.

UMKM bukan hanya milik Indonesia. Dan itu benar tetapi bukan berarti Indonesia mengklaim dengan mutlak sebagai role model pengembangan microfinance yang berbasis empowerment dan kemandirian UMKM menghadapi perdagangan bebas. Sejumlah negara di Asia menurut catatan Bpk Jan Hoesada, hampir 99,9 % sector usaha di Asia, Include China dan India, Prof Sofyan Syafri Harahap, dalam tulisannya di Republika (2010 )  China menjadikan real based economynya hingga manufaktiur UMKM menjadi kekuatan utama mampu membuat takut pertumbuhan bisnis Amerika Serikat dan Eropa pasca resesi dan masa recovery. Itulah sebabnya Amerika Serikat memaksa China mengapresiasi mata uangnya Yuan, agar produk Amerika Serikat bisa berkembang di pasar Asia dengan potensi pertumbuhan penduduk dan pasar yang menjanjikan untuk iklim investasi dan usaha.

Begitu juga yang saat ini sedang berlaku di Amerika Serikat. Kalau pada tahun 2007 dan tahun-tahun awal millennium, Amerika Serikat masih menikmati dominasi pasar saham atas sector usaha di seantero Amerika Serikat dan bahkan menikmati apa yang disebut oleh Alan Greenspan sebagai Demam Millenium, saat surplus anggaran belanja tengah mencapai titik paling puncak sedangkan suku bunga mencapai titik nadir yang paling rendah. Maka dengan mudah para Investor Amerika Serikat berbondong-bondong memasuki pasar baru yang belum dikenal dalam mencari diversifikasi. Dan ditambah bank-bank asing menyerbu negara-negara berkembang untuk mencari imbal rate yang paling tinggi dan menggiurkan atas pinjaman biasa yang mereka bisa dapatkan di Amerika Serikat. Maka pada hari ini Anerika Serikat,pasca peluruhan pasar saham dan recovery di masa pemerintahan Obama berjalan tersendat-sendat dan masih dilator belakangi ramalan dan kebangkitan ideology kiri ( Sugema :2010  ) dengan ditetapkannya UU Jaminan Kesehatan, seperti mengubah wajah Amerika Serikat dari ‘kanan tulen’  menuju “ke-kiri kiri-an “. Padahal sejatinya sebuah peradaban dalam menyikapi perubahan sosial tidak serta merta dan mengenal fase-fase perubahan.

Maka pada hari-hari ini menurut catatan Dr Jan Hoesada, dalam kuliah umumnya tersebut, hampir 99,9 % sector Small Medium Enterprise mendominasi sector usaha di Amerika Serikat. Ibarat blessing in disguise, Krisis Keuangan dunia tahun 2007-2008 telah memporak-porandakan semuanya dari mulai sector perumahan hingga perbankan dan seakan Amerika Serikat harus terpaksa mengubah ideologinya karena salah satu fundamentalis market yang juga mantan Gubenur The Fed, Bank Sentral Amerika Serikat, pun mengakui dengan sangat jujur pada anggota kongres “ In other words you found that your view of the world, your ideology, was not right, it was not working” kata Alan Greenspan sebagaimana yang ia tulis juga dalam otobiografinya The Age of Turbulance (2007 ) maka Amerika Serikat melalui pertumbuhan SME ini menjadi booster dalam menggerakan kembali pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan akhirnya mampu menyaingi China walaupun harus membayar sejumlah cost.

UMKM memang akhirnya menjadi pesona.pesona industry yang mendasari dirinya pada transaksi riil antara barang dengan uang harus ketemu. Antara jasa dengan manfaat harus berjumpa dan antara peredaran di pasar uang seharusnya memang mencerminkan peredaran uang di pasar barang sehingga tidak ada bubble economic yang akhirnya memicu serangkaian krisis dan resesi keuangan dunia. Itulah sebabnya sejak 14 abad lalu, Al Qur’an mengatakan “ agar harta itu tidak beredar di kalangan orang-orang kaya saja di antara kamu “ ( Al Hasyr : 7 ) terjadinya decoupling memang watak klasik kapitalisme. Yang tidak pernah mampu menjelaskan siapa yang dimaksud The Invisible hand menurut versinya Adam Smith dalam The Wealth of Nations.

Ala Kulli Hal,  perlu menjadi catatan, menurut Dr Jan Hoesada yang juga pemeluk Katolik ini, perbankan syariah bersifat sangat terbuka dengan pembiayaan UMKM karena itulah watak dari perbankan syariah yang menurut beliau sendiri mencerminkan nilai kerja sama dan akuntabilitas serta keadilan. Perbankan syariah harus segera lending saat nasabah sebagai shahibul maal menanamkan modalnya di bank syariah pada UMKM atau sector usaha yang ditunjuk oleh investor/ nasabah. Disinilah sinergi unik dan mesra antara PSAK Syariah 101-109 dengan SAK ETAP bermain.

Sentul

Desa Cadasngampar

19 RayaAgung 1431 H