Gayus Halomoan Tambunan, satu segelintir darti kisah penguasa informal di negeri ini. Memiliki banyak akses dan fasilitas tanpa harus bertahta di atas istana atau memasuki rumah anggota dewan yang terhormat. Gayus bersama sejumlah orang yang berkuasa di negeri ini, seperti, Artalyta, yang menyulap penjaranya bak sebuah rumah pribadi atau kamar hotel, anggodo widjoyo yang begitu bebas mengutip nama presiden terhormat untuk melegalkan rencana konspirasinya menutup KPK. Tetapi Gayus tampil seolah innocent dan buah dari kebobrokan system. Saat dalam persidangan, Gayus pun bernyanyi siapa dia dan mengatakan kalau orang yang hanya karyawan kelas III A, bisa memiliki rekening “gendut” di sejumlah bank dari para “klien’nya maka apa lagi dengan para atasannya.

Sontak wajah hukum dan sosial kita digebrak. Dan menguatkan persepsi serta opini public selama in terhadap birokrasi di lembaga penegak hukum. Betapa “maha kuasa”nya mereka yang akhirnya menjadi penguasa informal dan ternyata berkuasa tanpa selembar pun surat pengakuan alangkah membahagiakannya untuk orang-orang seperti Artalyta,Gayus Tambunan, dan Anggodo. Kasus Gayus juga bukan murni kasus hukum apalagi politik yang selama ini kental diperlihatkan oleh media massa. Dalam ujian akuntansi syariah kemarin, ada soal yang menarik yaitu mengenai Tax Avoidance sedikit public Indonesia yang menyadari apa dosa mendasar seorang Gayus sehingga hari ini tampak gayus hanya dihukumi sebagai orang yang demikian leluasa memutar balikkan aturan hukum. Tidak terkecuali dapat melenggang ke Bali hanya untuk refreshing dari penatnya penjara bahkan difasilitasi oleh kepala sipir dan para staffnya yang masing-masing telah mendapat Dp dari Gayus sebesar 100 juta.

Merujuk pada sejumlah bukti kronologis terjadinya “ledakan” di direktorat Pajak. Gayus yang mempunyai background akuntansi perpajakan lulusan sekolah tinggi akuntansi negara dan lulus tahun 2000 ini bahwa Gayus memang telah lama menjadi andalan para pengusaha untuk memberikan ‘jasa” atas permasalahan pajak yang membelitnya. Dan memang beragam cara teknik “bermain-main’ dengan pajak ini. Regulasi tak bisa di otak-atik tetapi bukankah laporan keuangan agar bermanfaat bagi para pengguna dan memberikan hasil yang memuaskan selalu terbuka untuk dicari post mana yang overstated dan understated ??. secara sederhana, dalam penyusunan anggaran perusahaan, seorang akuntan dalam alam mainstream diuji sejumlah persoalan psikologis yang mempengaruhi performance anggaran yang disajikan untuk pihak manajemen. Tension,dominations,fault finding, fraud adalah sejumlah perilaku akuntan yang system manapun dalam alam mainstream sulit dicegah. Secara makro, akan menimbulkan post-post seperti beban CSR, biaya kampanye lingkungan hidup, biaya beasiswa dipangkas dari yang seharusnya menyebabkan peran perusahaan menyempit dan efeknya seperti yang terjadi di Wasior. Illegal logging telah menghancurkan segalanya yang dimiliki oleh alam.

Gayus berhubungan dengan para kliennya memang dalam rangka memberikan “jasa” yang sangat dibutuhkan oleh 149 perusahaan bermasalah dengan pajak. Dan Gayus, adalah orang tepat selain memiliki background keuangan dari STAN juga professional dalam menyajikan “jasa”nya. Tidak terkecuali tiga perusahaan milik Abu Rizal Bakrie, PT Kaltim Prima Coal,PT Bumi Resources, dan PT Arutmin tiga perusahaan inilah yang menyuplai 28 Miliar ke rekening milik Gayus. Gayus dijerat dengan pasal 3 ayat (I) UU nomor 25 tahun 2003 tentang perubahan Undang-Undang 15 tahun 2002 mengenai tindak pidana pencucian uang dan pasal 372 KUHP tentang penipuan. Tapi hukum pun dibuat tak berdaya, Gayus diketahui jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarganya ke bali dari tahanan dan di pengadilan Gayus mengaku, tidak tega rasanya hanya dia seorang yang belum pernah menikmati jalan-jalan sementara tahanan lain begitu bebas keluar masuk tahanan. Padahal penyelidikan juga membuktikan bahwwa Gayus bukan sekali dua kali keluar masuk dari penjara bahkan tercatat hingga 69 kali. Semakin morat marit pulak wajah hukum di negeri ini.

Dalam islam, akuntabilitas ternyata tidak almost similar dengan responsibilitas. Gayus bisa jadi dalam perspektik konvensional adalah seorang akuntan pajak yang professionally dalam menyajikan jasa nya sesuai keinginan perusahaan yang meng-hirenya. Professional dalam kinerja maupun kompensasi yangdidapat oleh Gayus. Dan bisa jadi,sekali lagi dalam kasus ini Gayus Tambunan sangat tergolong orang menerapkan responsibilitas karena tanggung jawab beliau bukan hanya pada nama direktorat pajak tempat ia bekerja juga sejumlah klien langganannnya yang memberikan kompensasi sesuai dengan risiko dengan pekerjaan yang digeluti oleh gayus selama ini.

Akuntabilitas is the ultimate responsibility lebih dari sekedar pertanggung jawaban formalitas pada manajemen atau klien. Tetapi juga pada Allah Yang Maha Melihat yang ghaib dan inilah yang tidak dimiliki oleh alam ekonomi mainstream. Tuhannya bukan lagi ada di agama-agama namun berada di manapun yang memiliki kekuatan ekonomi dan transfer wealth yang mampu mempengaruhi kehidupan orang banyak. Tujuan akuntansi kapitalis yang memberikan informasi keuangan yang berguna bagi para pengguna secara rasional untuk kepentingan bisnis dalam jangka waktu tertentu telah menjadikan rasionalitas memanusiakan Tuhan dan menuhankan manusia. Posisi manusia sebagai khalifah fil ardhi tidak saja sebagai Al Jalal  (penguasa )tetapi juga yang menjaga Al Jamal (keindahan).

Gayus Halomoan Tambunan adalah baru sedikit dari rangkaian kisah para penguasa informal yang tidak memerlukan mekanisme demokrasi untuk bisa berkuasa. Tidak memerlukan kampanye untuk bisa berpengaruh dan bahkan tidak memerlukan regulasi untuk menjeratnya. Tohk demikian juga nasib “ikhwan” seperjuangannya yang tercatat dalam sejarah. Anggodo, Artalyta dan siapa lagi yang mau menyusul untuk bisa seperti Gayus ???

Jakarta

9 Dzulhijjah 1431