Momen penting yang dirasakan oleh semua warga negara Indonesia pada beberapa hari yan lalu yaitu datangnya Presiden Amerika Serikat, Barrack Husen Obama, telah membuka mata warga Indonesia yang merasa demikian butuh ‘pencerahan” dari  Presiden yang pernah melalui masa kecilnya di kawasan menteng. Setelah sekian lamanya, yang dinanti-nanti kan sempat tertunda dan setelah yang sekian lamanya mengundang pro dan kontra dengan wajah baru politik luar negeri Amerika Serikat. Momen penting itu demikian berharga, kita yang mengaku sebagai bangsa besar tiba-tiba alangkah sibuknya menyiapkan segala sesuatu secara detail untuk seseorang yang sebenarnya belum banyak berkontribusi untuk negeri ini walau hanya melewatkan masa kecilnya satu tahun. Kita, kata seorang kolumnis Koran harian di Jakarta, merasa telah memberikan banyak jasa dan segala pada manusia yang kini menjadi presiden Amerika Serikat dari partai Demokrat itu. Oleh karena itu kita mengharap demikian harap agar sekembalinya ke negeri ini. Obama give something to us untuk membantu mengubah bangsa ini lebih baik.

Dan ini bagaimanapun tidak rasional. Seperti itu pula sindiran seorang kolumnis tersebut yang menandakan betapa inferiornya negeri ini dari bangsa sekelas amerika serikat yang pasca sejumlah krisis keuangan dunia dan tingginya angka pengangguran serta ketidak jelasan arah kebijakan ekonomi amerika serikat , menjadi “kalah kelas “ dibandingkan dengan kekuatan baru ekonomi dunia yang saat ini mengusung idea sosialisme democrat atau meminjam istilah Deng Xioping, sosialisme berjiwa China (Greenspan :2007 ) sejak Mao mengumumkan kepada para pengikut setianya “kaya itu baik” berangsur-angsur China memperlihatkan bakatnya yang terpendam sebagai negara industry baru kea rah demokrasi terbuka dengan menekankan pada industry real based economy. Apalagi saat pemerintah China mulai mengakui kepemilikan pribadi, sector industry riil dan usaha menengah tumbuh dengan subur dan berhasil menyulap wajah kota-kota di China seperti Shanghai demikian gemerlap.

Amerika hari ini berbeda dengan Amerika tahun 1980-1990an. Dan itu benar. Kalau pada tahun 90an hampir lebih 20 perusahaan investasi dan keuangan masuk dalam daftar Top 20 Financial Companies by Market Value seperti City Group, Barclays, Bank of America,Fannie and Mae, Lyod TSB ,Morgan Stanley masuk dalam daftar unggulan perusahaan investasi dunia. Maka pada tahun 2009 perusahaan-perusahaan investasi china seperti Bank of China, China Construction Bank, Industrial and Commercial Bank of China menggusur superioritas investasi amerika serikat yang kolaps saat robohnya perusahaan investasi Amerika serikat terbesar, Lehman Brothers. Robert J Samuelson, dalam kolom analisisnya di majalah newsweek, menulis perbaikan pertumbuhan ekonomi amerika saat ini sedang menunjukkan gejala yang anxiety and blureed. Tidak jelas dan kabur.

Dan seperti itulah, kata Samuelson, krisis selalu pergi dengan meninggalkan banyak penyakit. Diantaranya angka pengangguran yang digambarkan hampir setengah dari 15 juta yang dalam usia  bekerja kehilangan pekerjaannya. Kemudian, berdasarkan survey yang dipublikasi oleh lembaga survey Pew Survey pada tahun 2009, hanya 23 % dari masyarakat amerika serikat yang mempercayai pemerintaha obama bisa mengatasi permasalahan ini namun malah 29 % yang yakin, obama sedang dan pasti akan gagal mengatasi the reluctan recovery ini. Sisanya 38% percaya, sarua !

Lalu mengapa obama dan Amerika Serikat demikian lebih popular di negeri ini. Kunjungannya obama ke Indonesia bukan tanpa menyisakan pesan. Bukan tanpa menyisakan makna selain momen “pulang kampong” bagi Indonesia. Dan itu tercermin dari kuliah umum obama di balairung Universitas Indonesia pada hari selasa tanggal 9 november 2010. Demokrasi, kata Obama should hand on hand to Islam as the most biggest it’s population not only represent Indonesian’s mayority religion, sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. Dan lagi, demokrasi harus bisa menciptakan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan taraf hidup orang banyak agar demokrasi dapat diterima sebagai pandangan hidup dan keharusan sejarah. Seperti halnya tesis yang diajukan oleh Francis Fukuyama dalam The End of History. Dan Huntington dalam The Clash of Civilazation.

Tidak hanya itu, dari kunjungan obama ke Indonesia juga dapat menyiratkan betapa “maha pentingnya” Indonesia yang mampu keluar dari krisis ekonomi global dengan performance pertumbuhan ekonomi yang tidak terlalu berpengaruh dengan situasi krisis dan resesi hanya menyebabkan ekspor Indonesia terganjal lebih serius dibandingkan sebelum krisis, untuk digandeng dan dijadikan mitra bersama untuk menghadapi China dan India. Dua negara ini mendasarkan pertumbuhan ekonomi negaranya pada real based economy. Produk yang dihasilkan dari industry usaha kecil menengah dan sector informal dua negeri ini telah dengan cepat diterima oleh pasar. Dengan perhatian pemerintah yang melihat peluang-peluang penting, mereka mampu membesarkan usaha yang dikembangkan oleh industry usaha kecil menengah sehingga mereka demikian siap untuk mengadopsi International Financial Report Standart sejak tahun 2007. Indonesia begitu “maha penting” untuk digandeng sebagai partner tidak saja dalam bidang perdagangan dan ekonomi khususnya juga Islamic Studies yang gencar di beberapa universitas seperti McGill University menunjukkan gejala misi lain yang dikembangkan dengan kerja sama intensif dengan Amerika Serikat.

Muslim Melihat Demokrasi

Seperti yang dikatakan oleh Fahry Hamzah di Twitternya, usaha Obama untuk mempertemukan kembali dunia islam dengan wajah Barat akan menemui banyak kendala dan gagal tetapi, kata mantan aktivis KAMMI itu, bukan itu yang terpenting namun yang penting Barrack Obama telah usaha dan mempunyai tekad yang baik menjalin hubungan dengan dunia muslim pasca pemerintahan George w Bush yang kental dengan semangat fundamentalisme Kristen dan Phobia dengan dunia Islam.  Tidak terkecuali akomodasi kepentingan muslim di Amerika Serikat. Industry pangan halal dan perbankan syariah menjadi komoditas yang memikat dengan pangsa pasar potensial kaum muslim yang terus berkelanjutan tumbuh dengan pesat. Jika dilihat dari kaca mata konvensional, Obama seolah hendak ingin mengatakan “justru dengan lingkungan dan iklim demokrasi, umat muslim yang minoritas mampu mendapatkan segala hal di negeri notabene secular dan menerapkan demokrasi “ nah disinilah dillemanya.

Dalam pelbagai studi, seperti yang diperlihatkan oleh Adian Husaini (2009) ada tiga kalangan dari umat muslim yang bersikap menentukan sikapnya mengenai demokrasi. Kalangan pertama mereka yang dengan kontras menolak dan menganggap demokrasi tidak memiliki referensi yang berdasar dari sejarah Islam dan praktik Nabi SAW dan para sahabatnya. Kalangan ini banyak mengemuka dan menanggap haram dan bathil hukumnya menerapkan demokrasi untuk menegakkan Islam. Zaim Saidi (2007) dalam bukunya Ilusi Demokrasi, Kritik dan Otokritik islam dalam Islam, tidak pernah ada Demokrasi namun yang ada adalah Nomokrasi (The Rule of Law ) Demokrasi juga dicap oleh Zaim Saidi sebagai negara Fiskal yang memeras rakyat banyak padahal mereka jua yang selama ini sebagai bagian dari elemen demokrasi. Kalangan kedua menganggap demokrasi adalah bagian dari keharusan sejarah dan pandangan hidup tiap warga negara yang hidup di alam demokrasi dan keterbukaan informasi serta kebebasan berpendapat. Kalangan ini menganggap antara Islam dan Demokrasi almost similar dan saat Huntington menulis bahwa hanya kebudayaan Islam dan Konfusianisme yang menjadi tembok penghalang demokrasi yang rumit, dengan serta merta sejumlah cendikiawan yang terlanjur terpukau dengan demokrasi lantang bersuara “Islam sangat berkesuaian dengan Demokrasi !! “ sikap tersebut lahir karena anggapan tertanam kuat bahwa Demokrasi identik dengan Modernitas. Jika mau hidup modern dukung dan besarkan demokrasi, begitu lah logikanya. Padahal sejumlah negara berpopulasi muslim dengan penerapan dan paradigm demokrasi seperti ini tetap berada terbelakang dalam hal pemerataan ekonomi dan kesejahteraan taraf hidup. Kalangan ketiga menganggap Demokrasi hanyalah pintu dan jembatan untuk mengakomodasi kepentingan muslim yang tidak pernah mendapatkannya di masa rezim politik yang otoriter dan sarat pembungkaman. Anis Matta dalam bukunya “Menikmati Demokrasi “ (2000) mengatakan bahwa Demokrasi bagi umat muslim saat ini adalah lingkungan yang paling mendekati dan mengakomodasi kepentingan umat muslim dalam bidang ekonomi dan urusan public agar berkesuaian dengan Syariah Islam yang umat muslim suarakan. Yang benar, kata Anis Matta, dalam alam demokrasi belum tentu legal secara positive sedangkan yang bathill belum tentu illegal dan dianggap melanggar hukum. Begitulah logika demokrasi berbicara. Namun di satu sisi, Demokrasi juga yang paling mendukung untuk akselerasi perjuangan umat muslim menegaskan eksistensinya dalam mengatur urusan public.

Democracy Cost Accounting

Perspektif yang ingin ditawarkan oleh Obama dalam kuliahnya umumnya adalah semakin tinggi tingkat demokrasi maka kesempatan untuk kesejahteraan juga akan semakin berpeluang meningkat. Dalam pelbagai studi menunjukkan bahwa tingkat demokrasi yang tinggi tidak selalu sebanding dengan peningkatan ketaatan pada regulasi dan minimalnya angka korupsi dan taraf hidup yang membaik. Studi yang ditunjukkan oleh Prof Didin S Damanhuri (2009) dalam tulisannya Demokrasi Politik, Korupsi dan Kesejahteraan yang terkompilasi dalam bukunya beliau Indonesia, Civil Society, dan Pasar dalam kemelut Globalisasi menunjukkan bahwa walau tingkat Demokrasi di Indonesia lebih baik dari Malaysia, Thailand.  namun kesejateraan dan human development index masih tergolong rendah setara dengan sejumlah negara berkembang seperti Turki, Senegal, Yordania dan lain-lain. Sebaliknya sejumlah negara yang masuk dalam sample studi tersebut seperti Argentina, Romania, India, Filipina dan Bolivia, tergolong dalam tingkat partisipasi demokrasi yang tinggi namun belum jua dapat keluar dari kemelut korupsi dan kolusi dalam budaya birokrasi pemerintahannya.

Oleh karena itu Obama mencoba mengubah wajah demokrasi yang terlampau menelan banyak biaya namun low impact ini dengan wajah demokrasi yang lebih simpatik dan efisien. Namun seperti nya obama sedang melawan arus mainstream kapitalisme global yang sulit dinafikkan keberadaanya masih menentukan tataran politik ekonomi internasional.

Ruang Publik nan Bising

Keterbukaan informasi dan kebebasan berpendapat bukan tanpa biaya. Keterbukaan jaringan sosial dan suara public yang demikian kencang kurang lebih banyak menghiasi perjalanan bangsa ini dalam mencari identitas demokrasinya. Edy Santoso,pemerhati komunikasi dan juga kolumnis majalah Tarbawi, pernah menulis di salah satu kolomnya di majalah tarbawi edisi 228/Thn 11, 20 Mei 2010, fenomenas yang mengerikan dan konsekuensi demokratisasi ruang publik adalah ketika budaya keilmuan dikalahkan oleh opini yang sepotong lalu menyebar dengan cepatnya melalui notes di Facebook, Tweet di Twitter, artikel mentah di blog ditambah komentar panjang di pelbagai forum diskusi di dunia maya. Jika ukurannya, pengetahuan, kata kolumnis ini, seberapa “tahu” kah kita sesungguhnya ? persoalannya, kita lebih sering merasa “tahu” dari pada” sungguh-sungguh tahu” jadilah ruang public yang demikian terbuka di dunia maya menjadi arena untuk menghujat tanpa bukti dan menghina tanpa alasan.

Alangkah amat menyedihkannya pengetahuan kita cedera hanya melalui pemahaman yang sepotong dan informasi yang tidak lengkap. Karena itulah benar yang dikatakan Imam Ghazali, “Barangsiapa yang mengatakan saya sudah tahu, niscaya dia menjadi bodoh saat itu juga”. Karena keilmuan di era demokrasi dan keterbukaan informasi menjadi tidak ramah dan cenderung merugikan bagi salah satu pihak. Entah itu narasumber atau bahkan wartawannya sendiri.

Ekonomi Islam ?

Sejumlah isu di atas adalah isu yang paling banyak mencuat di ruang public kita saat ini. Islam dihadapkan face to face dengan demokrasi kemudian polemik serta perdebatan selalu mengawali tanpa pernah menngakhiri. Demokrasi face to face dengan kesejahteraan dan pemberantasan korupsi menyisakan paradoks tentang pertumbuhan ekonomi tanpa pemeratannya. Isu-isu inilah yang dilihat obama sebagai peluang seandainya Indonesia berhasil menuntaskan isu-isu di atas akan membalikan semua teori-teori dan studi yang tak pernah berakhir. Dan Indonesia bisa menjadi role model bagi Amerika untuk diterapkan bagi “negara-negara asuhan”nya yang terus menerus dilanda konflik seperti Afghanistan dan Pakistan.

Amerika hari ini amat sangat membutuhkan Indonesia dan Indonesia membutuhkan Ekonomi Islam untuk menjelaskan identitas dan tujuan pembangunan juga pertumbuhan ekonominya.  serta ketahanan pertumbuhannnya dari terpaan krisis financial yang masih terus mengancam. Juga agar wajah Demokrasi kita lebih soft dan memiliki mekanisme moral yang memastikan tiap regulasi tidak saja menimbangkan berapa biaya yang harus dibayar agar regulasi ini dapat diterima oleh semua elemen bangsa tetapi tatanan sosial yang ditimbulkan regulasi itu tidak menimbulkan slogan “peraturan ada untuk dilanggar” jadinya lebih beradab dan bukanya semakin banyak regulasi semakin banyak celah untuk diterjang.

Demokrasi sangat membutuhkan Ekonomi Islam. Kesiapan SDM Ekonomi Islam tidak saja mencerminkan SDM perbankan yang saat ini identik tetapi SDM yang mampu mengubah wajah politik kita agar lebih beradab dan simpatik dan menggerakkan semua elemen untuk merasa butuh dengan adanya  wajah demokrasi yang baru. Karena ekonomi Islam salah satunya berdiri di atas elemen Khilafah yang menekankan pada akuntabilitas dan transparansi amanah sebagai khalifah fil ardhi. Akuntabilitas tidak identik dengan tanggung jawab normatif tetapi bashirah. Mata hati untuk membedakan yang paling baik di antara dua keburukan dan yang buruk di antara dua kebaikan. Melalui Ekonomi Islam, wajah demokrasi tidak perlu hingar bingar dan disikapi kedewasaan akan kebutuhan semua kalangan.

Ala Kulli Hall, bisa jadi obama tidak sepenuhnya benar. Melihat tumbuh pesatnya lembaga keuangan syariah dan pasar keuangan syariah di negerinya bukan disebabkan iklim demokrasinya.  masyarakat kolektif dan solid yang menggerakkannya hingga mampu memberikan alternatif untuk muslim minoritas di negeri ex strongest country tersebut. Dan disitulah Nilai Ekonomi Islam telah bermain !!

Jakarta

15 November 2010/ 8 Dzulhijjah 1431 H