Semua ini MilikMu, dan pasti kembali padaMu Ya Allah

Tabahkan hati kami menjalani semua, anugrahMu Ya Allah

(Team Nasyid Sohib, Semua MilikMu )

Ada banjir bandang di ujung timur Indonesia, belum rampung korban yang dievakuasi, gempa mengguncang Padang dan kepulauan mentawai. Belum lagi banyak pengungsi dapat memperoleh bantuan, Gunung Merapi yang konon menjadi sumbu kepulauan jawa dan salah satu spirit kebudayaan mistik jawa akhirnya memuntahkan laharnya. Memuntahkan debu nya hingga memutihkan Jogjakarta dan sekitarnya. Tak ketinggalan, klaten dan sekitarnya ikut menampung debu-debu dari gunung merapi itu. Sang abdi dalem Raja Jogja pun yang diamanahkan untuk mengontrol keadaan gunung merapi wafat  bersamaan dengan meletusnya gunung tersebut.

Maka dimulailah spekulasi-spekulasi yang jika ditimbang-timbang tak ada signifikansinya untuk perbaikan bangsa dan kejiwaan rakyat Indonesia. Dari mulai spekulasi munculnya asap berbentuk wayang petruk sebagaimana yang pernah saya baca di Koran harian di Jogja saat kereta yang sedang saya tumpangi  menuju Solo melintas di stasiun lempunyangan, Jogjakarta. Hingga spekulasi akan berakhirnya masa pemerintahan SBY-Boediono.

Saya ingin bertanya pada hati nurani pembaca melihat pelbagai fenomena di atas, apakah demikian dahsyatnya bencana-bencana yang merenggut nyawa ratusan nyawa manusia dengan waktu tempo yang hampir singkat, apa iya masih membuat kita ingin menangis seandainya yang menjadi korban dalam bencana tersebut adalah sanak saudara dan keluarga, atau bahkan sahabat, atau bisa jadi orang tua kita sendiri. Apa iya masih membuat kita ingin teriak sekencang-kencangnya, dan kemudian memohon ampun pada Yang Maha Agung boleh jadi ada dosa besar yang demikian akrab dan kolektif dilakukan oleh bangsa ini. Sehingga bukan tanpa alas an Yang Maha Agung menimpakan cabaran agar kita kembali menyebut NamaNya, ingat kita ini di dunia hanyalah amanah dan sarat perjanjian saat sebelum dilahirkan ke dunia dengan Yang Maha Pecipta: Allah SWT. Sehingga bukan tanpa alas an dan menjadi keputusanNya untuk membersihkan bangsa ini dari penyakit nya dan membuat pemimpin bangsa ini melupakan sejenak kisruh politik mereka dan turun ke bawah mengatur distribusi makanan serta sandang dan papan untuk para pengungsi yang masih enggan pulang ke rumah mereka masing-masing.

Kalau jawabannya iya, Bersyukurlah, bersyukur karena hati kita masih hidup. Otak kita masih terus berputar pada garis edarnya. Dan langkah kaki kita bisa jadi lebih banyak untuk tempat-tempat dan majelis keshalihan sehingga kita pun tergerak langkah kaki ini, seandainya tidak sedang sibuk atau dipenuhi amanah dari kantor, seandainya tidak sedang dipenuhi amanah ortu untuk kuliah, jiwa raga ini melepaskan begitu saja rasa kumednya untuk membantu sesama yang sedang tertimpa musibah.

Seorang Ulama Salaf yang pernah menulis kitab Madarijus Salikin, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah pernah mengajarkan “Sesungguhnya di dalam hati ada debu-debu,yang tidak bisa dibersihkan kecuali dengan menyerahkan diri kepada Allah. Di dalam hati ada rasa asing, dan tidak bisa hilang kecuali dengan mendekat dalam khalwat bersama Allah, di dalam hati ada sedih, dan tidak lepas kecuali dengan bahagia mengenal Allah. Di dalam hati ada gelisah,dan tidak ada yang menenangkannya kecuali bersama Allah, lari dari takut kepada Allah menuju Allah juga, di dalam hati ada api yang membakar. Tidak bisa dipadamkan kecuali dengan redha atas ketetapanNya, redha atas perintah dan amaranNya, dan tetap sabar menjalaninya. “

Oleh karena itu jika anda yang hari ini turut berduka atas tiap musibah yang melanda bangsa ini, mereka yang saat ini sudah berbalut kafan di bumi wasior, mereka yang hari ini sedang dimakamkan di bumi mentawai dan mereka yang hari ini harus mengungsi atau sanak saudaranya telah menjadi korban akibat letusan gunung merapi, apa iya kita akan terus mengutuk pemerintah yang katanya tidak memberikan sinyal atau penanggulangan musibah sementara manusia tetap manusia, system keamanan yang dibangun sehebat apapun tak ada artinya jika Yang Maha Mempunyai Rencana telah memutuskan untuk kita semua hamba-hambaNya. Bukankah para gelar syuhada tidak serta merta hanya untuk mereka yang gugur di medan perang membela Agama Allah, tetapi juga untuk mereka yang tenggelam atau terhimpit dan dalam keadaan beribadah lalu musibah yang menyebabkan ia meregang nyawa,termasuk mereka yang kematiannya disaksikan (syuhadaa ) oleh Allah,RasulNya, dan para Malaikat.

Bukankah dengan musibah yang sedemikan dahsyat, akhirnya menunjukkan pada kita bahwa ukhuwwah antara sesama muslim itu dekat. Saat rakyat Ghaza ditimpa musibah berupa blokade kota ghaza dan invasi serdadu Zionis yang bertubi-tubi, kita rakyat Indonesia, dengan sukarela turun ke jalan dan menyerahkan apa yang kita punya. Dan pada hari-hari ini mereka, yang hidup atau hanya untuk bertahan hidup dari blokade dan puluhan ribu jiwa telah meregang nyawa disana, mengirimkan ribuan dollar dan paket bantuan makanan serta obatan-obatan untuk para korban bencana di mentawai, lereng gunung merapi, dan wasior. Betapa dekatnya dan ukhuwwah itu bung !!

Bukankah dengan musibah yang sedemikian parahnya akhirnya menunjukkan kekayaan kita yang tak pernah kita ketahui. Saat gunung merapi menyemburkan lahar dan lavanya, berapa ton bebatuan dan pasir yang bisa untuk diolah kembali menjadi bahan bangunan, kalau diolah menjadi bahan bangunan, berapa banyak industry yang kembali tumbuh, kalau industry yang bahan dasarnya atau bahan mentahnya dari bahan bangunan sudah tumbuh, berapa banyak lapangan pekerjaan yang kembali subur, kalau lapangan pekerjaan kembali subur sejauh mana daya beli masyarakat akan kembali naik. Maka kalau daya beli masyarakat kembali membaik, berapa banyak industry lainnya yang kembali bangkit dengan bergairah mengejar pertumbuhan ekonomi dan pemerataannya. Kalau industry pangan,papan dan sandang yang menjadi kebutuhan masyarakat sudah membaik, berapa prosentase sumbangan terhadap growth domestic product akan tumbuh ??. kita sedemikian kaya dan mempunyai kekayaan yang tak pernah coba kita fahami sebagai sebuah bentuk syukur atau sebagai sebuah bentuk tafakur.

Bahwa di saat yang sama, kita, bangsa Indonesia, negeri berpopulasi muslim terbesar di dunia menjadi pangsa pasar yang demikian menggairahkan bagi para produsen asing yang jika dibandingkan dengan negeri tetangga kita hanya sebesar populasi jawa barat. Lalu apanya yang menarik dibandingkan dengan kita bangsa Indonesia ?? kita, dengan musibah ini kembali diuji mengasah kepekaan mata batin untuk bisa bersikap secara arif. Dan tidak lagi mengatakan “dengan system apapun akan gagal !! “ karena bukan begini Allah SWT mengajarkan,

janganlah engkau berputus asa, karena tidaklah berputus asa melainkan orang-orang kafir. “ . lihat, Allah SWT mengidentikkan sifat putus asa dengan dengan orang-orang kafir. Demikian Ia Yang Maha Agung menjelaskannya

Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih. “(Al Ankabut :23 )

Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu tempat azab yang amat sangat (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa. “( Al Mu’minun : 77 )

“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. “( Huud :9 )

“orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al Maidah : 3 )

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.  ( Surah Al Mumtahanah : 13 )

kekayaan-kekayaan itulah yang selama ini tersimpan dalam kejiwaan bangsa ini. Bangsa yang mampu tumbuh dengan demikian pengalaman melewati tahun-tahun pedih. Melewati masa-asa berat untuk tumbuh bersama melakukan rekonsiliasi sejarah dan menghapus bagian-bagian sejarah yang sebenarnya tak mampu dimaafkan dan mustahil hilang begitu saja dari memori kolektif bangsa ini. Ada memori kelam pembantaian di Bali tahun1965, ada memori buruk jauh sebelum peristiwa mengerikan itu,meledaknya gunung Krakatau, atau belum di masa-masa colonial dan jepang, para jugun lanfu yang tersia-siakan, para mantan romusha yang dipinggirkan di hari tuanya. Di masa orde baru, ada piagam Jakarta,amir biki, komji, yang kesemuanya rahasia umum terorisme yang legal atas nama negara. Atau serentetan musibah lain,tsunami di Aceh, semua orang di seluru dunia mendongkakkan kepala mereka pada asia tenggara, semua orang seperti yang digambarkan Soe Hok Gie, “para politisi di PBB sibuk mengatur bantuan dan pangan untuk negara dunia ketiga “. Kemudian gempa jogja, Majalah Tempo mendokumentasikan  untuk covernya salah satu pojok korban gempa itu dengan bingkai yang unik dan khas “ Ampun Gusti !! “. Belum saat gempa di Padang, Speechless !!.

 

Tetapi apa kita tidak melihat, bangsa ini masih mampu menjalinkan kembali mozaik-mozaiknya walau berulang kali berantakan dan saat disusun ulang, harus kembali koyak. Dan sekarang sedang rindunya mozaik-mozaik itu tersusun kembali dengan rapi. Rekonsiliasi dan integrasi bukan atas nama politik. Dan bukan atas nama musuh politik. Tetapi rekonsiliasi bersama sebagai satu bangsa di atas petaka musibah yang bukan kita mau untuk datang dan mengoyak kembali kepingan-kepingan mozaik itu Bung !!!

Sentul

Desa Cadas Ngampar

3 November 2010/ 26 Hapit 1431 H