Sebatang pena kembali menari

Dari seperangkat jemari rumi

Dentangan palu dan besi

Ibarat music orchestra tak berkesudahan

Yang mendengar menjadi candu

Yang memainkan menjadi debu

 

Sebatang Pena kembali Menari

Kali ini menghentak dan kadang berlari

Berlari dari menara-menara Jahiliyah

Potret tamaddun manusia paling rendah

Katanya, hukum Tuhan tak lebih besar dari ujung lidah

Yang mendengar menjadi Martir

Yang memainkan memilih menjadi gemuruh petir

 

Akhir Ramadhan,sebatang pena hampir lelah

Lelah menari,lelah bersastrawi

Kalau bukan karena ampunan,pena pun patah

Kalau bukan karena cinta,pena pun bersilat lidah

Saat asma Allah Yang Maha Indah

Adalah tinta bagi sang pena

Yang mendengar menjadi Muslim

Yang memainkan menjadi faham

Cukup ia dan Tuhan Yang Tahu.