Saat-saat ketika Perbankan nasional hari ini baik yang konvensional dan syariah sedang dibanjiri oleh ribuan dan ratusan kali offering gimmick pada nasabah. Dalam tataran konvensional, Bank Mandiri yang disebut-sebut sebagai The Strongest Bank in Indonesia oleh salah satu majalah perbankan dan ekonomi yang famous di Indonesia, menjadi laju kapal perbankan yang tercepat pertumbuhannya dan berlari kencang menyalip bank konvensional lainnya. BRI yang selama ini lekat dengan pembiayaan mikro untuk para petani dan pekerja kecil juga melihat pangsa pasar yang masih besar tak layak rasanya untuk ditinggalkan untuk hanya berkonsentrasi dalam pembiayaan mikro. BRI dengan Beliung Britamanya menjadi salah satu gimmick yang banyak diunggulkan oleh BRI untuk menjaring para calon nasabahnya. Juga tentu memperkuat loyalitas nasabahnya. BCA dengan Gebyar,  BCAnya BNI dengan BNI Taplusnya, masyarakat pun seolah-olah diuntungkan dengan adanya kampanye gencar perbankan nasional dalam menjaring nasabahnya.

Satu poin yang ditinggalkan oleh banyak orang, likuiditas dalam perbankan memang menjadi suatu hal yang sangat unik dan merangsang. Rasio ukuran kesehatan perbankan ditakar salah satunya melalui seberapa besar likuiditas bank terhadap dana pihak ketiga sebagaimana yang biasa tercantum dalam laporan keuangan tahunan. Especially bagi perbankan syariah, bagaimana tetap rajin  berekspansi  namun di saat yang sama tidak mengalami krisis likuiditas dalam jangka pendek sehingga memungkinkan nasabah dapat mengambil dananya kembali bila diperlukan sesuai yang tercatat dalam akad. Jika akadnya muqayyadah maka dana pihak ketiga bersifat quyyud atau terikat sedang bila mutlaqah maka dana pihak ketiga,bank mempunyai keleluasaan dalam menginvestasikan atau diputar kembali dalam pembiayaan pada pihak ketiga. Kampanye besar-besaran yang dilakukan industry perbankan nasional saat ini dengan Gimmick ratusan motor, jutaan rupiah, puluhan mobil, belum rumah dan apartemen sejatinya tidak sedang merepresentasikan sebuah bank yang sehat dari sisi likuidita, in Contrast, bank membutuhkan menyedot dan menghimpun dana masyarakat lebih banyak lagi untuk memenuhi keringnya likuiditas.

Yang kedua, adanya kelebihan pendapatan bunga yang berlebih atau surplus. Sec ara teori pragmatis,dibandingkan harus melalui ekspansi kredit dengan ekspektasi ekonomi yang tengah lesu dan beresiko.  lebih baik disimpan di SBI, bukankah saat-saat ini suku bunga Bank Indonesia masih sulit untuk turun??. Dan tentunya melalui gimmick, salah satu instrument baru bagi likuiditas jangka pendek menjadi andalan bagi perbankan untuk menyedot dana segar dari masyarakat.

Yang ketiga, Gimmick tidak sedang merepresentasikan citra perbankan yang “bersih dan peduli” mendidik masyarakat untuk hidup konsumtif dan seolah-olah lupa moral hazard dan tindakan criminal selalui siap siaga mengancam keamanan perbankan seperti yang kita saksikan belakangan ini. ATM Perbankan Nasional menghadapi ancaman serius berupa pembobolan ATM secara serentak dengan total trilyunan rupiah !!. kita diajarkan seakan lupa bahwa konsep bermewah-mewahan bukanlah bagian dari ajaran Islam yang menganjurkan konsep berbagi resiko dan kerja sama antar deposan dan perbankan. Dengan model gimmick malah bukan tidak mungkin mendorong negative spread kembali. Bank harus menerima beban pembayaran bunga di atas batasan normal maka ekspansi kredit semakin tertekan.maka tidak ada jalan lain selain menaikkan tingkat suku bunga dan menitik beratkan pada jaminan di sector kredit

LTCM dalah salah satu dari tragedy negative spread yang terparah. Kumpulan investor/ deposan dengan kepemilikan dana “raksasa” Alan Greenspan menulis tentang LTCM ini dalam otobiografinya “Dekade Prahara / The Age of Turbulance “ bahwa LTCM terdiri dari orang-orang superkaya dari menginvestasikan portofolio sebesar US$ 125 Milliar namun tatkala Rusia kolaps, LTCM pun ikut meledak dan dalam waktu semalam USD 5 Miliar yng telah dibangun lenyap dan selesai begitu saja. Lagi-lagi, untuk LCTM rasionalisasi “Too Risk To Fail “ menjadi alas an untuk membail out LTCM US$ 3,5 Milliar dan sesudah itu ditutup.

Bank-bank syariah yang kini sedang menikmati gimmick dengan pelbagai bentuk dari mulai program naik haji hingga hampir sama yang ditawarkan oleh gimmicknya bank konvensional sedang memasuki fase yang sarat ujian. Globalisasi, pasar yang masih besar, dan tuntutan sebagian orang untuk tetap berpegang pada ashalahnya sebagai intermediary pihak surplus dana dan deficit dana sesuai syariah, dan branding bank syariah itu sendiri. Jika tanpa gimmick sama sekali pun bank syariah akan kehilangan brandingnya sebagaimana yang kita lihat dari produk-produk dan iklan mengenai Ib atau Islamic Banking yang ingin bisa mengakses dan dapat diakses oleh semua orang. Tetapi tetap saja kalau bank syariah bisa istiqamah tanpa gimmick yang significant dan mengedepankan ekspansi yang terus melaju dan non performing loan yang mulai lancar menjadi teladan dalam pasar yang demikian liberal dan memaksa munculnya produk tandingan untuk  produk yang bathil. Terjadilah mirroring. Lalu dimana lagi pembeda antara bank syariah dengan bank konvensional ??

 

Sentul