filisthine

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari-hari ketika kemanusiaan dirobek. Harga diri sudah dicampakkan. Dan peluru sebagi bahasa dunia yang wajib dikuasai. Jadilah hukum rimba di era jahiliyah kontemporer, siapa yang memiliki senjata nuklir merasa berhak untuk menentukan kemana paying keadilan bergerak. Siapa yang memiliki banyak modal merasa wajib untuk mempertimbangkan kemana barisan umat manusia harus berkiblat. Sepanjang sejarah, selalu ada dagelan yang mempertontonkan bagaimana kebodohan dan ketamakan bisa menjadi lagu kebangsaan ummat manusia sedunia.

Demokrasi, Hak Asasi Manusia,Humanisme, dan pluralism atau serangkaian lagu kebangsaan lainnya. Muslim pun dipaksa untuk mengimaninya dan secara ekstrim segelintir orang dibiayai dengan cangkokan dalil sangat dipaksakan. Tapi lain cerita kalau para tuan-tuan pemberi bea siswa untuk kuliah iman terhadap demokrasi dan hak azazi manusia merobeknya demi kepentingan negeri yang sangat tidal kayak disebut negara.

Begitulah yang terjadi di bumi para anbiya, Palestina. Isolasi dan blokade di Ghaza dan sekarang serangkaian pembangunan tembol tebal, pembangunan pemumiman yahudi illegal atau public belum lupa perampokan dan pembajakan armada Mavi Marmara di lautan Ghaza yang diklaim oleh menteri pertahanan Israel sebagai aksi “mempertahankan diri”. Armada kemanusiaan yang menyalurkan bantuan pangan begitu “elegan’nya di bajak oleh pembajak laut tengah: Zionis Israel ! “

Sekarang seluruh dunia berteriak mengecam kekejian Israel tersebut. Entah apa yang akan terlintas di fikiran saya kalau masih yang berani berkomentar “itu khan salah orang palestina sendiri dan negara-negara arab” pada Invasi ke Ghaza di awal januari 2009, orang-orang seperti melupakan hukum aksi reaksi dan siapa yang sesungguhnya sedang di eksploitasi dan dirampas tanah kelahirannya dari tahun ke tahun. Sehingga sangat berhak untuk menyerang dari mana saja dan kapan pun selama statusnya masih sebagai penjajah. Maka sekarang, selepas penyerbuan ke armada kemanusiaan Mavi Marmara  dan Freedom Flotilla, publik seolah merasa persoalan palestina sudah mulai berangsur pulih hanya dengan dibukanya gerbang rafah untuk penduduk ghaza. Padahal di bulan Ramadhan lalu Zionis Israel tetap kembali melakukan penyerangan roket ke wilayah Ghaza beberapa kali dan konflik antara pejuang Palestina dengan serdadu Zionis masih tetap berlangsung. Pejuang Palestin dengan persenjataan seadanya dan di tengah terik mentari Ramadhan menuai pahala syuhada jika pun syahid dalam konflik tersebut.

Ditambah komentar lain yang sangat sering muncul di kalangan indunisiyun, “mengapa negara-negara arab tak peduli persoalan palestina yang tak jauh dari mereka ?? “ terlepas dari analisis spekulatif permainan politik timur tengah, ada yang lebih penting ketika kita melihat masalah ini dari pada sekedar menunjuk-nunjuk kelsahan yang tak mau membantu negara tetangganya. Hal yang bisa saja menimpa bangsa Indonesia kalau-kalau diserang oleh Amerika Serikat dan terkena Embargo ekonomi lalu Malaysia dan negara –negara Asia Tenggara tak mau membantunya. Kalangan seperti ini seolah sudah meninggalkan kaidah syariah memandang masalah prioritas. Dalam Jihad, ada yang bersifat hukumnya Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah. Misalnya Imam Al Ghazali pernah mengkritisi sikap kaun muslim yang lebih mengutamakan ilmu-ilmu agama dibandingkan dengan yang berkaitan langsung dengan perkara dunia. Apakah pantas, Tanya Imam Ghazali, muslim bertanya untuk memenuhi kewajiban dirinya dalam hal puasa di bulan Ramadhan  harus juga bertanya pada dokter  Yahudi dan Kristen ??. ini bukan masalah halal dan haram tetapi kepantasan seorang muslim yang mempunyai urusan dengan agamanya sendiri.sehingga semua orang saling melengkapi hingga kadar kifayah itu tercukupi.

Begitu juga dengan persoalan Palestina yang saat ini memang pantas di jadikan persoalan bersama kemanusiaan. Maka, persoalan Palestina dirangkaikan dengan sikap negara-negara arab tidak lagi relevan dan pas. Siapa yang berani konsisten dengan doktrin Humanisme dalam peradaban barat dan ensiklopedi Zionisme ??. dialog menjadi tak berharga dan kemanusiaan itu sendiri telah dikoyak Israel melalui pelbagai fragmen yahudisasi dan genosida mulai tragedy Dier Yasin.Tragedi Ibrahim Al Khalil, Tragedy Shabra Shatilla, Tragedy Naqba, Tragedi invasi Ghaza dan terakhir pembajakan Armada kemanusiaan freedom Flotilla.

Negara berkembang, ketika angkat bicara dan mulai mengkritisi persoalan palestina, dipaksa  membuka hubungan dialog dengan negari Zionis tetapi yang duduk sebagai dewan keamanan PBB pun tidak bisa berbuat apapun untuk menghentikan agresinya atas tanah Palestina. Persoalan Palestina memang bukan persoalan umat muslim semata , tetapi sungguh keterlaluan juga ada anggota DPR dari fraksi Partai Demokrat yang menyatakan bahwa Palestina bukan persoalan agama. Jadinya hanya semata persoalan politik praktis antara Hammas dengan Fatah atau perebutan lahan.  Mungkin anggota DPR benar-benar tidak tahu sama sekali tentang salah satu plan besar Israel menggusur Masjid Al Aqsha dan menggantinya dengan Haikal Sulaiman. Sejak tahun 2007, fondasi bangunan Masjid Al Aqsha sudah lama digerogoti dengan klaim mencari puing peninggalan purba yang tersisa. Masjid Al Aqsha, yang Allah sebutkan “ Alladzi Baraakna Haulahu Li nuriyahu bi ayatinaa”. Belum ditambah dengan catatan kelam pembakaran Mimbar Shalahuddin Al Ayyubi oleh seorang fundamentalis yahudi, Danis Rohan tanggal 21 agustus 1969. Including kalangan kristian pun mempunyai banyak kenangan bersejarah di beitlehem hingga sebuah majalah protestan “Reformata” pernah menurunkan headline “Apakah  Israel Masih Perlu Kita Anggap Anak Tuhan ? “ pada saat terjadinya serangan ke Ghaza.

Kalangan media pun serempak menjadikan Zionis Israel sebagai common Enemy seluruh umat manusia. Koran Tempo yang ownernya sekularis sejati  menurunkan headline “Amerika Mendua “ dan sebuah kolom berita mengenai babak belurnya serdadu team elit Israel di geladak kapal Mavi Marmara. Republika dengan tegas menurunkan headline “Brutal !!” disertai dengan gambaran ilustrasi penyerbuan Zionis ke kapal Mavi Marmara tetapi terkecuali dengan majalah Time dan media CNN. Yang benar-benar dibuat bungkam semilyar bahasa tak berkutik entah opini mana lagi yang bisa dibalikkan tengan konflik Israel –Palestina. Benar-benar merupakan batu ujian bagi media. Apakah tetap sesuai dengan cara konvensional seperti kredo if it bleads it leads serta sesuai dengan porsi kepemilikan saham media. Atau kembali pada jurnalisme nurani. Ujian bagi media sekelas Time dan Newsweek, di pihak mana mereka berdiri. Walaupn secara normative, media berada di pihak netral namun secara empiris independen murni adakah utopia dan bahkan tidak pernah ada . selain keberpihakan pada kebenaran yang boleh jadi terdapat di salah satu pihak.   Peristiwa kebiadaban Israel membunuh 11 orang relawan pada tragedy Mavi Marmara dan menawan sisanya di penjara Israel juga menjadi ujian bagi media sekelas Time, Fox, CNN,Reuters, meninjau ulang kaidah objektivitas media melihat masalah. Secara konvensional, media dan jurnalis baru dapat dikatakan objektif jika sumber yang dijadikan referensi berita berasal luar pelaku peristiwa atau menyajikan apa adanya sesuai fakta. Namun persoalannya adalah fakta tidak pernah bebas nilai apalagi individunya. Maka slogan di Barat tentang objektivisme ini menjadi bias dan ambigu. Siapa yang lebih didahulukan keberpihakan pada nilai atau jurnalis ??

Maka benar apa yang dinyanyikan oleh mantan Rapper, Thufail Al Ghifari, “Tiada Perang Seteror Perang Terhadap Zionisme “ !!”