Ketika kau memilih putus di hadapan tebing terjal.  Kau berkali-kali untuk mendakinya sementara di atas sana sejumlah kawanmu tengah menikmati pemandangan yang menakjubkan dari atas tebing. Kau bukan tanpa usaha. Kau bukan juga tak pernah berdoa dan bekerja keras. Bahkan kau mengeluarkan keringat lebih banyak dari mereka dan malas tak pernah ada dalam kamus hidupmu. Hidupmu selalu memancarkan wajah cerah.menyambut  tersingsingnya sang Fajar.

Di awl-awal perjalanan kau mengatakanpada rekan seperjuanganmu.rekan seperjalananmu.bahwa kita akan gugur dan bangkit bersama dan seandainya ada bahaya di depan,kau mengikhlaskas semua dari tubuhmu menjadi bagian korban bila harus jatuh korban. Kau tak pernah  menghitung-hitung berapa yang kau akan dapat dan berapa yang telah kau tanam. Semoga saja iblis tidak membisikkan ke telingamu bahwa kau sudah termasuk orang yang ikhlas. Bahwa kau sydah termasuk dari kalangan mukhlis  yang mukhlas. Atau seperangkan pujian maut lainnya yang bisa jadi hanya sedetik niat dan perjalananmu berubah total. Banting setir. Putar haluan. Dan sebagainya.

Tetapi kali ini kau mengalaminya sangat berbeda. Tidak jarang kau mengeluh kenapa hanya aku yang menjadi bagian kesusahan dan yang paling sulit dalam mendaki tebing terjal itu. Ditambah kau melihat ke atas tak sebarang pun yang dilemparkan oleh kawanmu yang sudah dengan merdekanyh merekaa melemparkan bantuan k e bawah tempat kau dengan bersusah payah mencari batuan pijakan. Peralatanmu yang seadanya dan  standar tetapi dengan kemauan yang kuat, kau begitu yakin akan segera sampai karena kau telah melakukan banyak latihan keras. Dibandingkan dengan temanmu yang mempunyai perlenhkapan ter up date dan lengkap namun dengan latihan yang hanya sehari menjelang pendakian dan kemauan yang hanya rata-rata.  Saat itulah kau mulai bertanya dan protes. Protes kepada Gusti Allah, seolah-olah Ia tengah menzalimi hamba-hambaNya dan berat sebelah  dalam menimbang amal-amal hambanya.  Bagaimana mungkin Ia lupa pada janji-janjiNya yang telah tertuang paxda Qur’an yang agung dan sabda Kanjeng Nabi SAW yang tak setetes pun dari mulutnya mengandung kedustaan. Inilah ujiannya. Kau mengharap pahala di akhirat atau hanya ingin yang segera dicepatkan di dunia. Apakah selama ini ibadahmu belum lagi mengenalNya.kalau kau memang belum mengenalNya, sangat bisa jadi kau belum mengenal dirimu.

Menghadapi masa-masa terjal itu , kau memilih untuk mundur sejenak.  Kembali ke kemah dan membersihkan debu serta luka yang menempel di pakaianmu. Melihat kembali semua peralatan yang kau gunakan. Dan untuk mencairkan suasana kau memilih untuk merebus sebungkus mie rebus yang kau bawa sebagai bekal. Dan mulai menatap tajam ke tebing terjal yang jaraknya tidak jauh dari rumahmu. Kau lihat disana, seketika rasa nyeri mulai datang dan membiarkanmu mengatakan “seandainya aku mempunyai perlengkapan secanggih mereka” atau malah lebih parah “seandainya Allah berlaku adil terhadapku. “ namun untungnya kau beristighfar. Istighfar pertama kali sepanjang hidupmu, saat ibadah yang lain menjadi roda rutinitas. Menjadi gerak tanpa nyawa dan baru kali ini kau benar-benar beristighfar

Astaghfirullahaladzhim…. Astaghfirullahaladzim …Duh Gusti, Gusti Nu Pinuh Kawasa, mugi dihapunten dosa abdi, sareng ka Gusti abdi, ibadah mung ka Gusti Abdi neda pitulung….” Ucapmu lirih dan benar-benar pasrah sejadi-jadinya atas apa yang baru kau alami. Kau tertunduk pasrah dan sekali lagi membenarkan bingkai ketaqwaan yang mulai pudar ditelan prasangka yang tidak-tidak pada kemampuanmu sendiri dan kepada Allah Rabbul Izzati. Setelah itu kau keluar kemah dan meneropong apa yang sedang dilakukan rekan-rekanmu di atas sana. Di awal kau berfikir, di atas sana rekan-rekanmu sedang merayakan keberhasilan mereka dan menyalakan api unggun. Aah ternyata tidak. Kau melihat di atas sana mereka sedang menyiapkan sesuatu. Seperangkat perlengkapan yang siap dijulurkan ke bawah tebing. Salah seorang dari mereka mengkaitkannnya dan mengikat dengan kuat pada salah satu pohon jati yang akarnya sudah menancap dalam. Seketika kau menatap  langit, dan perut awan seolah seolah sudah siap memuntahkan berbarel-barel air.

Saat itu kau bangkit dan mengemasi perlengkapan serta menggulung kemahmu dengan rapi. Dan mulai berjalan menuju tebing yang terjal lagi sombong melalui semak-semak belukar yang belum pernah kau jumpai. Rupanya kau mengambil jalan lain untuk menuju ke sana  dan langkahmu agak dipercepat, berlomba dengan bayangan gelap di atas langit. Di depan. Ya di depan  tebing yang terjal itu. Kau merunduk dan bersimpuh.  Dua tangan mu perlahan-lahan terangkat seperti hendak berdoa  dan dimulailah zikir kecil yang mengiringi munajat sederhahan di depan tebing tersebut.

Kali itu, kau berdoa diiringi sejjuta penyesalan yang tidak lagi terhitung.  Penyesalan karena kau telah berprasangka buruk pada takdirNya. Penyesalan yang tidak terhitung dengan pengabaian akan hak-hak ukhuwwah teman-temanmu yang lebih dahulu sampai di atas sana. Penyesalan yang berujung pada pada ketakutan akan diterkam hewan buas di tengah hutan belantara tanpa cahaya.sementara langit mulai gelap dan dimulailah munajatmu dirangkaikan dengan sejumlah kesalahan paling besar dalam hidupmu. Kau berkali-kali katakan pada dirimu sendirimu “peralatanmu sederhana tetapi azammu tidak sesederhana peralatanmu !! “ kau ingat dan membuka kembali ingatanmu beberapa tahun silam saat mendaki gunung salak, gunung semeru,dan gunung Memberamo.

Kau juga berangkat bersama teman-temanmu da terkadang sendiri tapi hasilnya dengan seperti ini. Saat kau akhiri pergulatan kecil itu semua, kau tarik uluran tali dari aas dan mengambil alat tajam  untuk mendaki tebing. Dan melangkah vertical  seraya mengikatkan kembali tali safetymu kemudian setahap demi setahap kau mengulangi kembali pendakian yang kau sudah tekadkan kuat di dadamu. Kau sudah tak lagi berfikir apa yang kau akan terima sesudah pendakian ini. Pujiankah atau sindiran dari kawan-kawnmu yang sudah di atas. Kau sudah tak lagi berfikir mau kemana setelah ini. Bisa jadi kali ini adalah penghabisan atau pahala terakhir yang sempat kau tunaikanm kewajibannya di dunia sebelum dirimu menghadap Yang Maha Suci. Perhatianmu saat itu hanya satu, menaklukan “alam”. Alam duniamu dan alam jiwamu. Setelah iotu kau baru mulai menyadari menaklukan alam jiwa jauh lebih rumit urusannya dengan menaklukan alam daripada menaklukan yang ada di sekelilingmu !!.

Hanya saat-saat menegangkan dalam sejarah hidupmu, kau mulai lagi terkenang dengan wajah teduh ayahmu yang telah meninggalkanmu ketika kau masih kelas 2 SMP. Ataukah kau mungkin terhanyutkan dengan melodi sunyi di rumahmu yang asri saat sedang bercengkrama dengan ibunda yang selalu menyayangimu sepenuh hati. Sarat welas asih. Penuh dengan kasih sayang. Ketika itulah di masa yang sangat menegangkan dalam sejarah hidupmu bergelora menjadi jutaan badai yang siap menghempas dan menyingkirkan apapun yang menjadi penghalangnya. Betapa di tengah hutan belantara yang selalu siaga dengan ancaman binatang buas, masih menikmati semangkuk mie, adalah hal yang sangat berharga. Saat tak ada lagi yang membuatmu mampu bertahan sejauh itu, ternyata kau masih mempunyai satu senjata yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain : Tsiqah Kepada Allah !!!

Karena Allah mempunyai banyak cara dalam mendistribusikan rezekinya. Karena Allah mempunyai banyak tentara dalam memperjuangkan kelangsungan langit dan bumi. Jika Ia telah berkehendak :Kun Fa Yakun. Kau telah memilih jalan hidupmu yang saat ini sedang kau hadapi dan biarkan Allah SWT yang mengatur seperti apa jalan hidupmu dan memberikan skenarioNya disamping kau mendekat padaNya agar Ia selalu terlibat dalam usahamu. Seorang ulama dari Saudi, Dr Abdullah Aidh Al Qarny pernah mengatakan “yang merangkak pastilah sampai”

Kau suatu ketika boleh merasa lelah. Kau suatu waktu merasa jenuh dan bosan dan sedih dengan sedikitnya yang mau berjuang bersamamu. Kau boleh berpikir cabaran yang kau hadapi saat ini maha berat. Tetapi kau tidak boleh kalah dari berprasangka  baik itu pada ketetapanNya ataukah kapasitas dirimu. Dan saat yang sama, kau pun tidak boleh merasa surga sudah ada di tanganmu. Karena jika dibandingkan keikhlasan yang kau persembahkan, surga tidak ada apa-apanya dan lagi pula ityu bukan wilayahmu. Wilayah iradah Allah SWT  Yang Maha Menentukan. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang syuhada kebangkitan Islam, Sayyid Quthb, “Saudaraku, kau jangab jenuh berjuang, engkau lemparkan senjata dari kedua pundakmu, siapakah yang akan mengobati luka-luka para korban dan meninggikan kembali panji-panji Jihad ?? “

Desa Cadasngampar

Sentul