pergerakan

“Kader, sesungguhnya nama harum harimu dibangun di atas fakta-fakta yang berakar dalam ke masa lalu. Ketika kereta da’wah ini bermula. Di gubuk-gubuk gank sempit lahirnya. Berpeluh di kendaraan umum dalam rute-rute panjang aktivitasnya. Menapak jalan-jalan kota dan desa nyaris tanpa sepatu kadernya “ ( Ust Rahmat Abdullah, Penggodok Batu )

Euforia dunia politik saat dan zaman ini seolah tak menunjukkan titik deklinasinya. Para mafia yang menjadi penguasa sebenarnya negara ini. Kekuasaan negara yang selalu kalah di hadapan masyarakat, penyakit ideology dan dibelenggu dengan ancaman disintegrasi jati diri bangsa yang gamang lalu kemudian dipaksa mengejar ketertinggal dari negara-negara barat. Belum ditambah, penyakit yang paling parah mengjangkiti partai-partai politik adalah semakin langkahnya kader muda yang berkualitas dan kalangan kampus lebih banyak yang memilih menjadi macan di balik toa dibandingkan menjadi macan di dunia professional. Menakutkan. dan akut. Di satu sisi, figurisasi oknum atau tradisi pengkultusan diperkirakan segera berakhir di akhir kepemimpinan Kaisar SBY ini. Tetapi serentetan kaderisasi menuju wajah baru figuritas semakin panjang. Iklim demorasi di Indonesia memang semakin baik tetapi kualitas para pemilih mengambang yang menjadi mayoritas negeri ini belum lagi teredukasi dengan menyeluruh tentang etika dan pendidikan politik yang lahgir dari rahim tradisi keilmuan, sudah ditambahkan ketokohan sebagai salah satu syarat partai politik untuk bisa survive di tahun 2014.

Dulu Ustadz Rahmat Abdullah, ulama betawi, pernah memperingatkan kader-kader tarbiyah untuk menghindari  pengkultusan pemimpin dan kefahaman yang menyimpang tentang arti dan siapa seorang kader sebenarnya di tengah proses pematangan bangsa. Jangan sampai, kata Ustadz Rahmat Abdullah, ada kader yang snob. Hanya bangga dengan produk-produk tak beridentitas dari luar padahal telah lama kolaps dan bangkrut.  Saya membayangkan,kalau ustadz Rahmat Abdullah mengatakan yang demikian di era kiwari tahun 2010 saat ini. Mereka yang kini mengaku “penjaga ashalah da’wah” dan melembagakan dirinya melalui FKP atau Forum Kader Peduli, sudah tertunduk menangis dan tidak lagi membuat ricuh dan rusuh dalam jamaah yang begitu panjang proses pembentukkannya.

Semakin besar krisis kaderisasi di tengah lembaga politik, seolah semakin langkah krisis keteladanan di negeri yang konon lahir dari rahim benua atlantis ini. Seorang Guru Besar Akuntansi  Fakultas Ekonomi Trisakti menulis di Koran mengenai kasus Century yang semakin luruh dan miskin tanggung jawab dari lembaga eksekutif. Dulu beliau paling antipati dengan persoalan politik tetapi berkat media massa yang demikian aggressive mengangkat isu-isu dari mulai “nyanyian” Susno Duadji, Mafia Pajak, L/C Gagal Bayar yang sekarang entah kemana, terorisme, dan sebagainya yang semakin seolah menjadi menu bersama anak bangsa dan nampak sekali ingin mengeyampingkan dosa-dosa besar yang telah dilakukan media demi mengangkat isu-isu di atas.

Ustadz Ali Sakti M.Ec dalam pelbagai tulisan di blognya selalu mengingatkan tentang bargain keteladanan. Kalau kita melihat semua orang di sekeliling kita hari ini dan lingkungan yang sema,kin rusak bukankah boleh jadi kita dikirim ke lingkungan seperti itu untuk menjadi inspirasi dan pembaik bagi orang lain ??. benar kata beliau. Yang di sekeliling kita saat ini adalah sedang menunggu. Menunggu dari mereka yang digerakkan hatinya untuk melakukanm perubahan dari hal yang sederhana dan dengan kehidupan atau tata cara hidup yang sesuai kebutuhan. Economic Basic Needs bukan Economi Wants Oriented. Saat sebuah lembaga politik atau bahkan lembaga negara mengalami krisis kader, perhatikanlah yang pernah dilansir oleh harian republika tanggal 1 april 2010, di salah satu kolomnya, Republika menurunkan sejumlah oartai politik yang menghire para artis ibukota untuk mengisi kekosongan kader  berkualitas. Sebagai pelayan ruang public mulai dari wakil bupati,wakil gubernur hingga wakil walikota. Bukannya menyalahkan artisnya,tetapi apakah dari sekian ribu kader sebuah partai politik tidak seorang pun yang memiliki standar berbobot dan berkualitas. Dikemanakan garis perjuangan partai dan sejumlah jargon lainnya. Tetapi alangkah masih beruntungnya saya bahwa partai yang selama ini saya dukung dan hormati idealismenya tak sedikit pun dari anggota DPRnya dari kalangan selebritis. Masih ada mereka yang mampu professional dan bersih dalam berbuat. Mereka tahu dan faham Allah Maha Baik dan hanya menerima dari yang baik-baik. Para kader partai ada yang sengaja dikader bukan menjadi orang berkualitas di tengah heterogenitas kebangsaan tapi seperti memberikan latihan tongkat estafet bila sang Kaisar sudah  masanya.even sang kader,kandidat ketua umum partai menjanjikan anak/puta mahkota sang kaisar mendapatkan posisi strategis dalam DPP.

Kita hari ini mengalami krisis kader. Dan itu benar, ketiadaan orientasi jangka panjang ditambah kehilangan kesempatan untuk mencandera masa depan adalah baru salah satu penyebab. Yang paling kronis,pola pikir politik konvensional selalu meyakini manusia membutuhkan eksistensi dirinya melalui jabatan strategis,status,reputasi dan pencapaian karir politik.  itulah mengapa, kita sangat sering mendengar kasus “pencemaran nama baik “. kalau ada orang jujur angkat bicara tentang pelaku kebobrokan di sebuah institusi. “pencemaran nama baik”. Bisa terkena lapisan pasal tetapi alangkah kontras dengan yang melakukan penodaan agama,yang mempertahankannya bisa terkena cap transnasionalis dan wahabi.

Pola pikir politik konvensional seperti tadi dapat dilacak di hirarki aktualisasi dirinya Abraham Maslow. Teorinya disebut Psichology of Being. Kenikmatan dari pengetahuan baru dapat diketaui kalau manusia sudah memiliki semua kebtuhan biologis dan eksistensi dirinya melalui kedudukan dan reputasi. Tapi agaknya kurang pas kalau disebut sebagai kebutuhan. Karena Islam benar-benar mengarahkan apa yang disebut kebutuhan sejalan dengan tujuan hukum syariah itu sendiri. Maka akan lebih tepat kalau disebut sebagai manipulasi kebutuhan, cdrmin dari tidak pernah terbatasnya ketamakan manusia yang tidak mampu mengendalikan keinginannnya.

Bagi Abraham Maslow, yang lahir pada tanggal 1 April 1908, pengalaman puncak adalah pengalaman yang paling indah dalam dalam sejarah pengalaman manusia. Pengetahuan,Kata Abraham Maslow Malah bisa ditangkap dari pengalaman puncak tersebut dengan hanya bergantung pada alat material seperti telah terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan biologis dan kepentingan eksitensi dirinya melalui sejumlah karir dan prestasi ilmiah lain.  Abraham Maslow memandang pengalaman puncak juga dapat mempertemukan pengalaman spiritual agama-agama termasuk mereka yang tidak punya agama sekaligus. Dalam perspektifnya Abraham Maslow, titik temunya justru pada pengalaman puncak yang malah lebih mempunyai nilai-nilai religious dibandingkan dengan posisi “Religion “itu sendiri. Jadinya kita paham pola pikir psikologi barat ini yang paling  banyak mempengaruhi gaya berpolitik orang Indonesia sekaligus gaya beragama orang-orang yang  hidup mengaku secara modern dan kosmopolitan !!