Hari-hari ini, melayu dan kebudayaan melayu mendapatkan masalah serius. Dalam salah satu tulisanku yang segera kupublish tentang ashabiyah, Malaysia-Indonesia selalu terlibat baku konflik dan sengketa tanpa henti. Di sisi pertama media Indonesia melihat dan menganggap Malaysia selalu mengklaim setiap produk budaya Indonesia sebagai miliknya.  Produk budaya yang, menurut anggapan sebagian besar media Indonesia, adalah stamboel terang bula. Tetapi menurut saya,dari salah satu sumber yang pernah kubaca stambul terang bulan adalah pemberian Bung Karno pada bangsa Malaysia,kala Malaysia meminta lagu terang bulan sebagai simfoni kebangsaannnya. Hanya saja stamboel terang bulan digubah liriknya menjadi Negaraku tanpa menggubah pula nada dan iramanya.

Dikatakan masalah yang menimpa orang melayu sangat serius karena memerlukan kedewasaan dan sudut pandang yang bersih dari ikatan motivasi politis maupun bisnis. De Yure, Malaysia telah terbukti melakukan copy paste budaya dalam ranah kebudayaan milknya yang diambil dari khazanahj bangsa Indonesia tetapi secara de facto juga, ada kesalah pahaman media Indonesia yang tidak mengambil aspek sosiologis dan sejarah yang sebenarnya mengenai sikap Malaysia terhadap Indonesia. Kita ambil contoh banyak kalangan media melihat ketika seorang melayu Malaysia menyebut Indonesia sebagai Indon, segera ditafsirkan sebagai bentuk penghinaan. Tetapi bukankah kalau kita atau bangsa lain menyebut kebudayaan Malaysia sebagai Malay Culture ?? mereka memberlakukan hal yang sama saat melihat Indonesia.

Dari aspek sejarah yang sebenarnya, selama ini sebagian besar media Indonesia memandang persoalan sejarah saat tahun 65an Bung Karno memerintahkan untuk menyerang daratan melayu yang akan dijadikan sebagai boneka Inggris meneruskan kolonialismenya di Asia Tenggara. Tetapi sebagaian besar media Indonesia juga tidak pernah mengambil bukti-bukti sejarah yang amat prestisius dan merupakan hasil percampuran serta pertukaran antara budaya melayu tua dan melayu muda. Baru-baru ini Ridwan saidi, seorang budayawan betawi, menulis sebuah buku berjudul  “Peradaban Melayu Betawi” yang memaparkan bahwa etnik betawi yang notabene beragama Islam dan sangat disiplin menjalankan ajaran agamanya, secara historis dan bahasa banyak mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Melayu. Pantun,lenong,dsb masih menjadi bagian dari kebudayaan melayu muda yang masuk ke kawasan Indonesia bagian barat. Belum ditambah pertukaran dan percampuran kebudayaan melayu,sebagaimana yang dicatat oleh sejarawan muslim sekaligus seorang ulama kelahiran hadramaut,Al Habib Alwi bin Thahir Al Hadad, pertukaran atau transfer knowledge sudah sangat terbiasa di sepanjang pantai sumatera. Sebagai contohnya. Seorang anak dari kesultanan Malaka memerintah di kesultanan Siak Indrapuri dan begitu juga antara Johor dengan kerajaan lain di sumatera. Habib Alwi, menjelaskan fenomena seperti ini sebagai hikmah dari adanya ukhuwwah Islamiyah di antara kerajaan-kerajaan di asia tenggara yang masih berumpun melayu dalam hal perdagangan,politik,atau bahkan mengbhadapi portugis dan inggris. Bahkan bagi kalangan nasionalis melayu muncul gagasan untuk melebur menjadi Negara-negara berumpun Melayu.

Anggapan media Indonesia lainnya menyaksikan gelagat Malaysia, adalah Malaysia sedang mendaulatkan dirinya sebagai pewaris tunggal kebudayaan melayu. Hatta,di negerinya saja seorang menteri pendidikan Malaysia mengacung-ngacungkan kerisnya seraya lantang bahwa hak-hak orang melayu akan terlindungi. Tak pelak, etnik lain selain melayu seperti India dan China seolah dianak tirikan dan menjadi persoalan krusial bagi Malaysia dalam hal integrasi kebangsaan dari bangsa yang multikultural. Dalam hal ini Indonesia masih beruntung perbedaan etnis dalam multikultural Indonesia menjadi tak penting lagi. Sebagai seorang yang masih berdarah Melayu dan tumbuh besar di keluarga melayu muslim, saya melihat Malaysia bukan berarti tidak mempunyai budaya asli tempatan mereka. Kalau banyak budaya dari luar Malaysia yang membanjir disana, seperti sinetron,music pop asal Indonesia, dsb disebabkan rata-rata orang melayu sangat terbuka dalam menerima arus perubahan sosial dan orang melayu juga paling bisa menyerap globalisasi yang dalam artian membanjirnya produk dari negeri tetangganya. Pattani meskipun bertetangga dengan negara bagian Kelantan ternyata paling banyak menerima saluran televisi dan musik pop dari Indonesia. Begitu juga sejumlah negara bagian Malaysia mereka menerima dengan sangat senang hati kebudayaan Indonesia yang lebih dinamis dan heterogen. Tetapi soal penghargaan, justru Indonesia yang harus banyak belajar ke Malaysia bagaimana menghargai karya seni atau I’tiraf akan sebuah khazanah budaya. Di situs resminya, pemerintah Malaysia mendaftarkan sekian ribu karya asli bangsa mereka tidak terkecuali para tokoh yang berjasa dalam mengenmbangkan kebudayaan masing-masing erikat budayanya mereka patenkan.

Tak ada profit atau bargaining position yang kita capai sekalipun kita berperang dengan Malaysia . tohk Malaysia dengan mendeportasi ratusan TKI sudah kewalahan dalam menopang perekonomiannya. Dari dari case di Timur Tengah,kepentingan Amerika Serikat telah memecah sikap emosional bangsa Arab untuk binafsi-binafsi. Nasionalisme pun berubah menjadi senjata pemusnah missal atas nama ras pilihan dan alasan pindah ranjang dari rantai ukhuwwah Islamiyah. Dihasutnya negeri-negeri jazirah arab untuk memberontak dan melepaskan diri dari Turki usmani. Tapi masuk ke lubang biawak yang tak kalah pedih: Penjajahan Kolonial Inggris. Dan lihatlah apa yang bisa diperbuat bangsa arab pasca perjanjian camp david untuk Palestina. Mesir sudah dibelenggu. Arab Saudi sudah “isti’anah pada Amerika Serikat dan membiarkan membuka pangkalan untuk militer Amerika Serikat, Dubai lebih hedon Wallstreet. Lebanon sudah enggan untuk kembali porak poranda. Apakah Indonesia dan bangsa-bangsa Melayu di Asia Tenggara masih mau terjerat dalam konspirasi bermodel lama ini ?

Sikap umum media Indonesia rata-rata menyerahkan semuanya kepada para pembaca. Dengan asumsi pembaca pasti lebih pintar.baca pasti sudah tau apa yang harus dilakukannya. Apalagi sudah mengetahui bahwa persoalan Malaysia-Indonesia sangat lekat dengan perhatian kebudayaan melayu. Tetapi persoalannya menjabarkan kefahaman mengenai dunia melayu tidak semudah di Malaysia. kefahaman melayu lebih dimaknai nama tempat di Jakarta atau nama jenis musik. Tidak semua orang Indonesia memandang persoalan Malaysia-Indonesia dari sudut pandang kefahaman melayu yang lengkap tidak terkecuali peradaban dan bahasa Melayu.
Syed Naquib Al Attas dalam bukunya Islam dan Sekularisme menjabarkan tidak bisa tidak bahkan rumit memisahkan kebudayaan melayu dari pandangan hidup Islam. Penyebaran islam di Indonesia,menurut Syed Naquib Al Attas, sangat berbeda dengan penyebaran agama Hindu dan Buddha yang dilegitimasikan melalui jalur kekuasaan para raja di Sumatera dan Jawa. Islam lah yang banyak memberikan pengaruh baru pada peradaban melayu setelah Hindu dalam hal kebahasaan dan dan struktur bahasa melayu yang hidup dari bahasa Arab. Syed Naquib Al Attas juga mencatat abad-abad ke-9/16 dan ke-10/17 kita menyaksikan karya ulama melayu yang sangat berlimpah. Ditulis dalam huruf arab namun dalam bahasa melayu. Belum ditambah penerjemahan Al Qur’an ke dalam bahasa Melayu oleh Syaikh Abdur Rauf Al Fansuri dari Singkel, Aceh. Bangunan tradiri keilmuan yang dirintis dan telah diisi oleh ulama melayu melalui tradisi pengajaran dan penulisan kitab kuningnya ini, menurut Al Attas, tidak pernah ada sebelumnya atau sangat tidak signifikan arti kontribusinya bagi peradaban melayu di asia tenggara saat masih terkungkung dalam tradisi hindu dan Buddha. Sekarang bila ada Missionaris Kristen yang hendak memurtadkan orang melayu dengan cara menerjemahkan bible ke dalam bahasa melayu  maka sebenarnya itu belum ada apa-apanya dan belum mampu untuk menghapuskan identitas melayu sebagai etnik kaum muslimin.
Ala Kulli Hal, kalau ada pemeo yang menyebutkan Journalism in west don’t get religion, journalism in east get religion but not understand yet so both of them don’t get it’s understanding around culture before approach deen correctly. Akhirnya kalaulah Melayu memang Melayu.Itulah Indonesia. Itulah Malaysia.