Akhir ramadhan kemarin telah begitu banyak pelajaran yang aku dapatkan. Di tengah hujan lebat dan dingin di pekarangan rumah. Di tengah posisi yang memilukan aku harus tetap menulis. Dan baru kali jua di akhir Ramadhan dan setelah Idul Fitri, energy terkumpul demikian hebatnya untuk menulis. Aku berharap inilah rahmat dan cara Gusti Alloh membalas amal-amal hambaNya yang berjuang menemuiNya di penghujung Ramadhan. Dan jujur, itulah yang membuat aku belakangan ini selalu rindu dengan Ramadhan. Karena Allah punya “ruangan” untuk menerima hamba-hambaNya yang datang,mengetuk pintuNya, dan mencurahkan segala keluh kesah serta beban hidup yang semakin menghimpit. Betapa Allah Yang Maha Pemurah selalu punya waktu menerima doa-doa yang diucapkan hamba-hambaNya. Especially di Malam Lailatul Qadar. Malam yang tidak saja diberi julukan oleh Kanjeng Nabi SAW sebagai malam yang lebih agung dari malam seribu bulan tetapi malam yang senantiasa bercahaya dan gemerlap dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Sekalipun seandainya hujan, inshaAllah, hujan tersebut merupakan kabar gembira bagi orang beriman.

Ditambah saat aku itikaaf di Masjid Bank Indonesia,bersama sahabat-sahabatku dari FOSMA 16 , aku benar-benar menangis sejadi-jadinya kala aku baru sadar Ramadhan kan segera usai. Di penghujung Ramadhan itulah aku banyak membuka dan mempelajari kembali pelajaran Tarbiyah Ruhiyah nya Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah melalui Madarijus Salikinnnya dan Filsafat nya Imam Ghazali melalui Tahafut Al Falasifah yang menunjukkan betapa kuat mencengkramnya kekuasaan dan eksistensi Tuhan Alam Semesta ini. Imam Ghazali dan Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah memang rujukan utama kalau sudah menyakut pemikiran dan tarbiyah Ruhiyah. Di Penghujung Ramadhan jua aku mengalami banyak hal yang membuatku tersenyum dan bersyukur atas limpahan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa selama ini.

Selepas aku mengkhatamkan qur’an di I’tikaafku di Masjid BI, aku mulai bisa untuk sehari =1 Juz=10 lembar Mushaf Qur’an. Ditambah aku sangat menikmati pelajaran yang Allah turunkan dalam Surah Al Baqarah yang sangat indah dan menegaskan kemantapan komitmen di jalan Allah agar tidak berakhir seperti halnya mereka yang telah ingkar. Yang pada akhirnya,mata,hati, dan jiwanya telah disumbat untuk tidak bisa membedakan mana yang haq dengan yang bathil. Tiada yang lebih rugi, kata Allah SWT, daripada yang menukar petunjuk yang sudah on the right track dengan kemusyrikan dan kebathilan. Saat I’tikaafdi masjid BI juga membuat aku banyak belajar terutama dari kultum shubuhnya Ust Fadhil Usman Baharun “Jangan setengah-setengah berniaga dengan Allah SWT !! “ Total dan penuh integritas serta diiringi keikhlasan.

Maka tiada yang lebih istimewa ketika berbisnis dengan Allah SWT seperti  yang pernah juga aku alami saat magang dan ketika magang telah selesai. Saat di FoSSEI sudah banyak keringat,harta, dan waktu yang aku keluarkan. Turut serta dalam amal jama’I mereka. Dan serta dalam peluh keringat bahkan tangisan mereka. Saat di  aku magang di lembaga amil zakatnya Bank Muamalat Indonesia, semua itu dibalas kontan oleh Allah SWT !! mulai dari gaji bulanan yang “gue aja kagak nyangka lumayan gede buat mahasiswa “  hingga bertemu dan banyak belajar dari salah seorang manager BMM, Bpk Agus Khalifatullah, salah satunya yang banyak beliau ceritakan adalah awal mula merintis karirnya di Bank Muamalat Indonesia “yaa samalah kayak antum, mas Willy…saya malah dulu lebih parah tanpa digaji se sen pun. ..namun sering ikut dalam proyek-proyeknya Bank Muamalat hingga semakin meningkat karir saya dan akhirnya ditarik ke BMI dan sekarang balik lagi ke BMM sebagai tanda terima kasih saya pada BMM.. “ paparnya panjang lebar dan penuh semangat.

Dan Dj pun Berzikir

Saat yang lain, masih di penghujung Ramadhan, aku menyaksikan sendiri betapa mudah juga bagi Allah SWT  membolak-balikkan hati hambanya. Sekalipun dalam logika manusia,sekalipun dalam hitung-hitungan penuh spekulatif tetapi tetap saja selalu ada yang meleset. Karena kalkulator pun buatan manusia sebagaimana software untuk aplikasi apapun tetap bisa salah dalam memprediksi.

Seorang sahabat yang kini mempunyai tekad bulat dan azzam yang kuat untuk berubah. Dari dunianya yang sarat hiruk pikuk jahiliyah menjadi seorang muslimah seutuhnya. Seorang sahabat ketika di SMA mulai merintis jalan mengenal Tuhannya melalui novel  Ayat-Ayat Cinta  dan dengan terisak tangis mengeja ayat-ayatNya. Hanya saja jalan yang ia telah rintis tak disertai pemahaman yang baik dan benar mengenai dunia dan akhirat. Ia malah memahami kalau kita rajin beribadah maka harus rajin juga dugem atawa clubbingnya. Agar balance, katanya. Dan aku pun sempat mengoreksi cara berfikir yang keliru seperti ini. Hanya saja aku takut melukai hatinya. Dan semakin jauh kembali ke ajaran Islam. Di penghujung SMA, kami pun berpisah, sahabatku itu meneruskan studinya di bidang hukum di Trisakti dan memulai karirnya sebagai seorang DJ walaupun sebenarnya ia juga bercita-cita sebagai produser music. Sedangkan aku kuliah di sebuah sekolah tinggi ekonomi islam di kota Bogor. Berlayar dalam samudera Ilmu Ekonomi Islam.

Kami kembali dipertemukan selang beberapa tahun  tepatnya saat aku sedang online, dan dia, yang sebelumnya sudah menghubungiku melalui facebook dan memfollow ku di twitter. Sebelumnya lagi, dia memberitahuku, bahwa dia sudah menambahkan aku sebagai teman di yahoo messenger. Maka saat aku sedang online itulah, dia menyapaku melalui chatting ym. Dan dimulailah interaksi dari mulai menanyakan kabar dan aktivitas masing-masing. Hingga ia mengajakku untuk buber atau buka bareng. Awalnya ia mengajukan untuk buber di Central Park, hari jum;at, namun di saat yang sama, aku kerja dari pagi hingga malam tidak terkecuali hari jum’at dan baru punya hari sabtu dan minggu aku libur dan kosong. Sampai ketika aku sudah selesai magang, aku bisa menyusun jadwal lagi. Dan kita sepakat untuk bertemu hari  senin sore di Masjid Agung Al Azhar Kebayoran, dengan harapan bisa buka di sekitar atau di belakang Masjid Alpus tersebut namun, kita ternyata datang sama-sama telat. Aku datang pas ketika waktu berbuka dan menyempatkan untuk bergabung dengan jamaah masjid alpus berbuka bersama di aula buya hamka dan ternyata sahabatku itu masih di jalan terjebak dengan kemacetan.

Saat akan menaiki tangga masjid Al Azhar, dia meneleponku dan meminta untuk shalat dulu “ iyah ini gue mau shalat dulu man, loe masih di jalan khan ?? “ jawabku. Seusai shalat aku mencari tempat aman untuk menunggu. Suasana kebayoran yang disertai gerimis dan hujan rintik-rintik membuat anak tangga masjid al azhar yang tanpa kanopi itu licin dan basah walaupun strategis untuk menunggu. Sehingga aku berjalan ke kampus Universitas Al Azhar Indonesia dan memastikan handphoneku baterai dan pulsanya masih full. Sehingga ia bisa meneleponku. Dan benar tak berapa lama ia meneleponku “eh will dimana loe ?? gue udah di al azhar neh, deket stand zakat gitu dech yang ada tulisan “tunaikan zakat anda di sini “  loe kemari yach”. Dan aku pun ke sana namun aku sempat kontak lagi ‘loe yang manah man?? “ , “gue yang mobilnya swift wil “ akhirnya aku harus bersabar di depan stand al azhar peduli ummat berharap ada yang memanggil namaku dan kupastikan itu orangnya. Sebab beberapa tahun kami berpisah sangat memungkinkan untuk lupa bagaimana penampilannya dan bagaimana bahkan wajahnya.hingga akhirnya sebuah mobil swift berwarna hitam berhenti dan kacanya terbuka “eh will !!! masuk will “ tak salah lagi itu orangnya, cewek berparas cantik,berdarah batak dan berkarakter agak tomboy itulah orangnya. Saat itu pun aku baru sadar ketika mobil dalam perjalanan kea rah setiabudi dan mencari tempat sharing yang pas kalau dia mengenakan baju gamis cowok lengan pendek. “waah ni bocah kagak berubah juga sejak sma…” kataku dalam hati sambil tersenyum-senyum. Perbincangan panjang dan perjuangannya mencari Allah yang membuatku terperangah pun dimulai. Dimulai saat aku mulai memberanikan diri bertanya “loe, sekali manggung dapet berapa man  ?? “, “gak nentu  dan tergantung will…kalo awal-awal seh palingan sekitar Rp500.000 tetapi kalo udah famous banget bisa lebih will “ jawabnya. Dan ia pun banyak bertanya tentang persoalan ekonomi termasuk zakat, asuransi syariah dan tabungan syariah mana yang terbaik “ klo gue seeh makenye dua, yang bsm buat kuliah ma yang muamalat buat tampat gue magang. Klo muamalat bagusnya  bisa diakses dimana aja man..gue sering bgt tuh ngakses muamalat pake CIMB NIaga, Bank Permata dan lewat BCA juga pernah “ , “Iyah?? Enak bgt donk, gue juga mau buka seh tapi masih nyari-nyari man.. “

Perbincangan sampai ke titik inti masalah kenapa doi mau ketemuan denganku. Penyakit yang ia idap sangat parah dan ekstrim tentu saja ia sudah menyadari sejak lama oleh karenanya Ramadhan ini ia ingin berhenti dari ketololan itu semua.  karena ia sadar betul kalau selama ini Allah SWT masih menyayanginya, masih bisa Umrah yang kesekian kalinya, menangis di Masjidil Haram sejadi-jadinya, hingga menangis di depan makam Kanjeng Nabi SAW. Ia bertekad Ramadhan dan Idul Fitri ini ia ingin kembali ke fitrahnya sebagai seorang muslimah yang seutuhnya. Tetapi ia ternyata belum bisa mudah begitu saja untuk berhenti oleh karena itu aku menyarankan “Man, gue paham masalah elo, gue paham elo punya niat yang nancep buat berhenti dari semua itu but semua itu belum cukup man, loe butuh lingkungan yang baru. Lingkungan yang benar-benar steril dari semua ketololan itu .. “ dan ia pun menjawab “ iyah will, oleh karena itu gue sebenarnya udah benar-benar mau cut off dari mereka semua, klo elo mau tau,nih ya..dari mulai laptop yang sering dipake ma mereka ampe seluruh onderdil mobil gue ini udah gue ganti semua .. Total man !! laptop yang sering dipake mereka, hardisknya gue ganti, yang di mobil dari mulai jok depan ampe kerangka bawah udeh gue ganti semua klo perlu gue cat ulang lagi dah mobil gue man ..”katanya berapi-api. Dan aku pun tersenyum dan bersyukur ia berani melakukan perubahan seradikal itu.   Walaupun masih sebagai seorang DJ dan masih cigarette aku masih tetap paham bahwa itu semua masih perlu proses yang panjang.

Kami akhirnya sampai di salah satu restoran pizza di kawasan setiabudi. Karena penyakitnya parah dia memintaku untuk menyamarkan nama orang yang membuat dirinya masih terikat dengan alam jahiliyahnya. Persoalan alam ghaib yang banyak kami perbincangkan saat itu. Materi-materi yang aku dapatkan ketika itikaaf di Masjid BI aku keluarkan semuanya yach tentang karakter utama mereka yang bertaqwa, mereka harus meyakini adanya alam ghaib. Tentang surga,neraka,pahala,dosa,akhirat,hari pembalasan, tidak terkecuali Jin, malaikat, syaithan, dsb. Karena ini juga bagian yang fundamental bagi seorang mutaqqin. Karena indikasinya Kanjeng Nabi SAW pernah bersabda “beribadahlah seolah-olah engkau melihatNya, kika engkau tak mampu melihatNya, ketahuilah Ia melihatmu “. Maka inshaAllah aku berjanji untuk mencarikan nya majelis-majelis pembinaan untuknya setelah sebelumnya ia harus diruqyah terlebih dahulu walaupun ruqyah bukan segalanya. Tetapi minimal ruqyah akan membersihkan kotoran-kotoran dan sisa pengaruh sihir yang masih melekat pada dirinya dan membuatnya terganggu dengan keinginan kuatnya kembali ke jalan Allah.

Di akhir pertemuan, aku mengatakan padanya “Man, loe tau gak klo Baginda Nabi SAW  di akhirat kelak akan memberikan syafaat bagi orang-orang beriman dengan mengizinkan mereka menarik anggota keluarga,rekan dan sahabatnya yang dijebloskan oleh Allah ke jilatan api neraka walaupun memiliki kebaikan hanya sebesar butir kurma. Orang-orang beriman yang diberi syafaat oleh Baginda Nabi SAW ini bertanya “ Ya Rasulullah, bagaimana kalau tidak ada lagi yang mempunyai kebaikan sebesar biji kurma ?? “ Baginda Nabi SAW pun menjawab “ambilah dari mereka yang masih mempunyai kebaikan walaupun hanya sebesar setengah dari biji kurma “ kemudian mereka bertanya lagi “Ya Rasulullah, bagaimana jika kami tak menemukan seorang pun dari anggota keluarga kami yang kebaikannya tak sampai setengah biji kurma ?? “ kemudian Baginda Nabi SAW mengatakan “ambil sekalipun hanya seperempat dari biji kurma “ dan seterusnya. “ “dan satu lagi man, kataku melanjutkan  “ suatu ketika, saat salah seorang sahabat Nabi SAW yang namanya Muadz Bin Jabal membonceng keledai yang dikendarai oleh Baginda Nabi SAW, Baginda Nabi SAW bertanya kepada Muadz bin Jabal “ eh muadz,tau gak apa hak Allah atas hamba-hambaNya dan apa pula hak para hamba atas Allah SWT ?? ‘ kemudian Muadz Bin Jabal menjawab “ Allah dan RasulNya lebih mengetahui “ kemudian Baginda Nabi SAW melanjutkan “adapun hak Allah atas hamba-hambaNya ialah mereka menyembahNya serta tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu selainNya sedangkan hak hamba atas Allah SWT. Ialah bahwa dia takkan mengazab siapa pun yang takkan menyekutukanNya dengan sesuatu selainNya.” Mendengar itu Muadz bin Jabal, wajahnya cerah dan berkata “Ya Rasulullah,bolehkah aku menggembirakan orang banyak dengan apa yang engkau katakan ini ? “ tetapi Baginda Nabi SAW mengatakan “jangan, nanti mereka malas-malasan”. Itu artinya kita semua selama masih bersyahadat dan melaksanakan apa yang diajarin Baginda Nabi SAW dan ngejalanin yang diperintahkan oleh Allah dan bertaubat dari semua yang dimurkai olehNya bakalan masuk surga man !!, itulah hokinya jadi orang Islam man, loe tetep bisa optimis jadi orang bener tanpa harus terhalang dengan masa lalu elo, apalagi dalam salah satu riwayatnya yang lain, klo Allah sangat bergembira dengan hambaNya yang bertaubat dan segera mengijabah taubat hamba itu”

Di slipi kami pun berpisah. Seraya mendoakan kesuksesan masing-masing. Tiba-tiba aku merindukan Ramadhan. Too Fast we stand up on that great month,malam-malam Ramadhan yang selalu cerah dan bercahaya dan malam terakhir di warnai tangisan dan munajat mereka yang memohon ampunan di waktu sahur. Saat-saat itulah aku banyak menulis puisi dan syair di setiap tahun sebelum berakhir di Idul Fitri yang Mubarak

Jakarta

Syawal 1431 H