Pergilah Akang Berjihad
Ke Medan Juang, jadikan Bandung samudera api
Aku akan menunggumu sendirian di kebon kalapa
Di beranda masjid agung dalem kaum
Kan kunanti meski di depan ujung senapan “
Agustrijanto, Tonil Nyai Di Ujung Senapan

Saat aku membuka kembali sebuah cerpen yang pernah ditulis oleh Agustrijanto “Tonil Nyai Di Ujung Senapan “  saya menemukan momentum yang pas dan unik. Cerpen yang berlatar belakang bergairahnya  kota Bandung sebagai Parijs Van Java dan eksotiknya alam parahyangan semakin berkilau dengan asah intelektual pemuda-pemudi dalam barisan kemerdekaan. Antara kebudayaan sunda yang diapit oleh mendominasinya serta merebaknya kultur barat yang di bawa bangsa eropa di jawa barat merasuk dalam gaya hidup pribumi sunda.
Tetapi akar konflik yang disampaikan dalam cerpen Agustrijanto bukan disitu. “Tonil Nyai Di Ujung Senapan “ bercerita tentang kisah seorang madame butterfly bernama Euis Kadariah menjadi bintang sejagad di mata para penikmat kesenian maupun  kalangan menak dan walanda di bumi parijs van java. Kawasan Braga menjadi salah satu tempat favorite para walanda dari Batavia dan keturunan menak dari sekeliling kota bandung menghabiskan akhir pekannya. Braga telah menjadi famous stage bagi bertemunya kebudayaan-kebudayaan dunia saat itu di kota bandung. China, Eropa, dan sunda. Even bagi madane butterfly yang asli pangalengan ini karirnya  sedang di puncak kegemilangan , harus mulai terancam saat ia menyanyikan sebuah syair penuh “provocative “ dan bernuansa “radikal” di kalangan menak dan walanda.
Saat itu nyai euis kadaria kagetnya bukan kepalang. Bagaimana mungkin syair lagu yang isinya percintaan ada kata-kata seperti “Jihad” dan “kunanti meski di ujung senapan. “. Karuan, Euis Kadariah langsung didamprat habis-habisan oleh baik itu Tuan Broer, pimpinan orchestra walanda maupun oleh suaminya sendiri yang keturunan walanda, Tuan Jansen Jacobus. “Bikin Malu ! kau tidak bisa membedakan selera pembesar belanda dengan gerakan pemberontak islam bandung heh !!” umpat Tuan Jansen Jacobus dalam cerpen itu. Euis Kadariah akhirnya mendapat skorsing sebulan dari Tuan Broer. Di saat sedang skorsing itulah Euis Kadariah akhirnya bertemu dengan salah seorang pemuda berdarah menak yang bernama asli Raden Brata Natanegara, anak seorang saudagar teh kaya raya di Ciwidey, gunung puntang dan pangalengan. Masa lalunya yang gelap ditambah perlakuan diskriminatif Kolonial Belanda terhadapnya walau ia berdarah masih keturunan saudagar teh yang tajir. Namun keakrabannya dengan aktivis pergerakan Islam seantero Bandung telah mengantarkannya pada hidayah Alloh. Hidayah yang datang kala kehidupan seorang Raden Brata Natanegara atau ucup sudah mengalami kejenuhan dan hidup bak kunarpa.
Tak berapa setelah sebulan, Euis Kadariah kembali ke jagad dunia hiburan. Namanya kembali dipromosikan dan di elu-elukan sebagai madame butterfly. Meskipun pada peristiwa yang lalu posisinya bsudah digantikan oleh orang lain tetapi semuanya pun tak bisa memungkiri The Truly Madame Butterfly yaitu Nyai Euis Kadariah sulita dan tetap susah untuk digantikan. Even oleh Tuan Broer dan Tuan Jansen Jacobus menaruh banyak harapan padanya. Namun saat Madame Butterfly memasuki ruang pertunjukkan, Nyai Euis Kadariah bertemu dengan Ucup yang menyambutnya dengan riang gembira. Disinilah mulai terjadi dialog-dialog yang bersifat transendental dan kuat nuansa ideologisnya. Euis Kadariah mulai sadar akan siapa jati dirinya sebagai seorang muslimah sunda yang hidupnya semasa kecil hingga remaja di pangalengan penuh kenangan emosional dan hidup di sebuah pedesaan yang tenang dan bersahaja.  Sebelum Nyai Euis Kadariah diperkosa oleh Tuan Jansen Jacobus dan diboyong ke Bandung yang hedon dan gemerlap. oleh para penikmat  seni di sepanjang bragaweg. Sampai Nyai Euis Kadariah mulai bersenandung syahdu dari mulai irama klasik dan sampai ketika Nyai Euis Kadariah menyanyikan syair yang sangat heroic, ketegangan di antara jajaran aparat keamanan muncul dan bahkan memerintahkan Nyai Euis Kadariah ditangkap. Tapi Nyai Euis Kadariah seakan tak peduli resiko itu semua.  Jari-jarinya terus dengan lincah memainkan piano seraya bersenandung lantang
“Pergilah Akang Berjihad
Ke Medan Juang, jadikan Bandung samudera api
Aku akan menunggumu sendirian di kebon kalapa
Di beranda Masjid Agung Dalem Kaum
Kan kunanti meski di ujung senapan “
Nyai Euis Kadariah bersiap untuk melarikan diri, saat terseok-seok menuju belakang panggung. Aparat keamanan kolonial belanda segera mengejarnya dan bahkan menumpahkan semulah peluru yang berhasil mengenai Nyai Euis Kadariah.  Tergeletak berdarah. Ucup hanya menatap kosong , perempuan yang tadinya akan ia nikahi tergeletak tak berdaya seraya menjemput  ajal.
Cerpen yang saya membacanya kembali saat bulan agustus memang pas melewati sebuah momentum bersejarah bangsa Indonesia. Cerpen Tonil Nyai Di Ujung Senapan selain penuh dengan nuansa percintaan juga sarat dengan pesan-pesan kemerdekaan. Penulisnya, Agustrijanto, merupakan penulis kawakan di jagad sastra islam sekaliber dengan penulis-penulis lain yang banyak memulai debutnya dari majalah Annida seperti Sakti Wibowo, Abdul Fattah Jauhari, Afifah Afrah Amatullah,Helvi Tiana Rosa, Yus R  Ismail. M Irfan Hidayatullah, Galang Lufityanto dll. Backgroundnya dari hukum tak menghalanginya dari menggeluti kebudayaan sunda yang menjadi backgroundnya dalam dua cerpen dalam satu kumpulan cerpennya. Yang pertama, Tonil Nyai di Ujung Senapan dengan Runtuhnya Keangkuhan Nyai Bagendit, yang melukiskan kepercayaan urang sunda  sebelum masuknya  Islam. Unsur ekstrinsik ekonomi  Islam juga nampak disini. Bagaimana riba dapat menjebak para pelakunya terjebak dalam perangkap hutang yang tak pernah selesai dan memperbudak pada keinginan-keinginan yang tak perlu dan mendasar.
Tak bisa dipungkiri memang pergerakan membebaskan tanah air di Jawa Barat memang sangat panas. Disinilah etnik sunda yang sudah mengecap penjajahan dari bangsa ke bangsa yang pernah mengokupasinya dan merampok bumi Parahyangan. Mulai dari Portugis, Inggris, Belanda, Jepang, Mataram dan bahkan Majapahit. Sulit dipungkiri jua oleh para sejarawan darimana perlawanan itu mulai berkobar. Pesantren-pesantren tidak hanya menyebarkan atau pusat penyebaran budaya sunda. Yang akhirnya mengakar di tengah masyarakat pedesaan dengan tradisi Islamnya yang sangat kental. Seperti dalam tardisi tembang cigawiran, pupujian, seloka,wawacan, dan bahkan novel bernuansa pesantren. Tetapi juga menjadi candradimuka perjuangan ulama dan santrinya membebaskan bumi parahyangan dari penjajahan kolonial Belanda. Ahmad Masyur Suryanegara mencatat sejumlah perlawanan penting dan pergolakan dahsyat di tanah pasundan. Seperti perlawanan yang dilancarkan ulama tarekat di cilegon yang dilancarkan oleh tarekat qadiriyah naqsyabandiyah tahun 1888 M yang dipimpin oleh H Wasjid dan perlawanan itu memang tak bisa lagi dihindari sebagai hasil penderitaan petani muslim akibat kebijakan tanam paksa pada tahun 1245-1305 H/1830-1888 M. terutama di daerah lebak, banten
Latar belakang yang diambil oleh Agustrijanto, berdasarkan tulisan yang pernah disusun oleh Dra Eva Rufaidah,M. Hum “Dialog Antara Islam dan Sunda di Kota Bandung pada paruh Pertama Abad 20” dalam buku yang diedit oleh Cik Hasan Basri dkk “Pergumulan Islam dengan Kebudayaan Lokal di Tatar Sunda. “ hampir tepat. Bandung adalah sebuah kota berprospek wisata dan tempat peristirahatan orang Eropa dari Batavia. Maka kontak kebudayaan begitu lekat di jati diri kota bandung. Tahun 1900an yang menjadi latar belakang cerpen Tonil Nyai di Ujung Senapan memang semakin subur dengan populasi orang eropa yang semakin meningkat. Kehedonan gaya hidup barat semakin mengental dan seolah berdiri frontal dengan gaya hidup muslim sunda yang memelihara garis keislamannya dengan istiqamah. Gedung Pertunjukkan yang  Agustrijanto deskripsikan dimana Nyai Euis Kadariah menyanyikan tembang perjuangan.yang menghebohkan se-bragaweg adalah gedung Societeit Concordia yang sekarang menjadi gedung museum Konferensi Asia kelas  wahid dan top bagi para warga eropa.   Sementara Masjid alun-alun/ Masjid  Agung Dalem  Kaum memang letaknya tak jauh dari kawasan bragaweg.
Ala Kulli Hal, pesan kemerdekaan yang ingin disampaikan penulis kepada pembacanya adalah,hanya dengan kalimat takbir dan seruan jihad juga hamasah islamiyah, republic ini berani dan mendepak para penjajahnya. Maka momen kemerdekaan pada bulan agustus yang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Adalah bertemu mukanya keislaman dan keindonesiaan. Antara madrasah tarbiyah Ramadhan selama sebulan denghan kemerdekaan Repuiblik Indonesia yang mencapai umurnya yang ke 65 tahun !!

Jakarta