Catatan ini lahir ditengah lebatnya hujan dan derasnya musim ujian dan putaran nasyid itambah secangkir gelas di sebuah rumah kost di Bogor. Catatan yang lahir di saat yang sama menatap adanya masa transisi kepmimpinan global dalam segala hal yang akan mulai berubah pasca krisis ekonomi global tahun 2007-2008. Transisi model baru ekonomi politik dunia yang bergerak dari nation state ke region state. Konflik-konflik yang mengancam disintegrasi kebangsaan seolah semakin menguatkan premisnya Kenichi Ohmae,seorang futurolog keturunan jepang dan bermazhab Keynesian, mengenai gambaran dunia di masa depan . di saat yang sama aku membuka-buka kembali bukunya Kieso, Weygandt, “Intermediate Accounting “ dan membaca secara mendalam filosofi serta budaya American Culture Accounting yang dari mulai tahun 90an hingga sebelum terjadinya subprime mortage sampai detik inji sebagai textbook mata kuliah akuntansi keuangan I dan seolah merepresentasikan kebudayaan dan peradaban Barat dalam akuntansi.

Maka, seusai terjadinya resesi yang hingga kini masih berefek pada perekonomian Amerika Serikat, dunia seperti tengah kehilangan satu pos kepemimpinan global dan bandul zaman telah bergerak ke Timur. Saat China dan India tengah menyiapkan dirinya dipanggil untuk Dari tadinya hanya Negara agraris dan berkembang menjadi Negara yang pertumbuhan ekonomi dan laju industry nya bergerak dinamis. China, yang banyak disebut para analisator keuangan sebagai kekuatan baru dan telah siap menggantikan kepemimpinan politik dan ekonomi global dunia yang sudah gagal di tangan Amerika Serikat. Sebelum nya banyak yang percaya uni eropa mempunyai kesempatan untuk mulai menggusur kedigdayaan dollar amerika serikat dengan euro. Tetapi setelah melihat gemparnya krisis keuangan yang melanda Yunani yang berpotensi menenggelamkan perekonomian eropa, maka saat ini, China sedang face to face dengan ekonomi Amerika Serikat yang sudah tergopoh-gopoh dan tersengal-sengal namun masih bisa menyeringai arogan.

Bukan berarti tatanan yang sedang dibangun china tanpa catatan kritis. Dan sudah bisa menjami securenya keuangan dunia. Michael Backman (2008 ) dalam bukunya Asia Future Shock mencatat sejumlah kejanggalan dalam Xiaoping Nomic yang kini sudah dimodifikasi dan bisa setangguh ini. China, yang berpenduduk sekitar 22 % dari populasi dunia tetapi hanya memiliki persedian air sebesar 5 % dan hamper 60 % dsari lebih 400 lokasi di sepanjang tujuh sungai utama china yang dimonitoring tahun 2004 terbukti sudah begitu tercemar. Untuk mengakomodasi deficit air bersih, china mulai mengalokasikan anggaran dana mulai dari membeli pabrik-pabrik pengolah air limbah hingga mengundang kontraktor-kontraktor asing membuat program engineering raksasa untuk mengalihkan air bersih ke wilayah utara yang dihuni sekitar 400 juta orang dan salah satu pusat produksi padi. China, pun merasa perlu pengalihan air dari kawasan Tibet kearah utara China. Selain itu China menghadapi banyak obstacles dari segi SDM. China memilki 3.000.000 mahasiswa dari populasi penduduk china sebesar 1,3 miliar jiwa tetapi dari sedikit 3 juta mahasiswa itu sedkit yang mau terjun dalam lahan humaniora ipoleksusbud. Padahal peradaban Barat untuk bisa terdepan dari Asia secara massive beasiswa hingga mengirimkan orientalis untuk menguak rahasia kekayaan dan keagungan Asia seperti halnya Michael Backman ini.

China masih memiliki kendala dalam ideology yang dianutnya hingga detik ini. Bukan masalah bahaya laten atau bukan tetapi sebuah konsekuensi dari ideology yang masih mengakar itu akan diwariskan pada generasi mudanya yang akan menjadi budaya anti kritik dan kebebasan berpendapat. Soal kuantitas jika dibandingkan dengan Amerika Serikat menjadi tidak penting. Karena inti pendidikan bukan seberapa banyak universitas berikut perpustakaannya dan seberapa banyak pengajar dari luar negeri tetapi asas worldview dan epistemology dari pendidikan itu ditanamkan.

Fakta selanjutnya dari SDM China, dari 3.000.000 jiwa mahasiswa itu mayoritas tidak memiliki banyak akses untuk melakukan riset dan penelitian ilmiah yang mampu merekonstruksi gaya peradaban baru dan dapat menutup total peradaban sebelumnya. Inilah dosa warisan ideology sosialis dan komunis marxis. Walaupun telah dimodifikasi dan disebut oleh Deng Xiaoping sebagai “sosialisme dengan karakteristik China” . Menjadikan peserta didik hanya manggut-manggut. Kompeten tetapi tidak cerdas. Bagus tetapi diperobot. Menjadi teknisi atau di luar bidang humaniora. Inilah yang dominan menjadi pekerjaan utama pegawai-pegawai perusahan nasional dan industry swasta china. Kita telah menyaksikan di atas, bahwa China masih belum bisa mengambil posisi penting di masa transisi ini. Karena apa yang akan kita saksikan, Negara-negara berkembang yang menjadi follower china merakit ulang produk china untuk bisa mengungguli china dalam bidang industry.Peradaban memang disangga dengab pilar ekonomi yang mandiri dan membumi. Tetapi itu bukan segalanya. Apalagi Islam memandang tradisi keilmuan harus disangga tidak hanya dengan ilmu yang hukumnya fardhu kifayah tetapi juga fardhu ain. Kalau Amerika Serikat hanya membangun kedigdayaan ekonomi hanya memantapkan diri dalam perdagangan internasional mustahil para orientalis ada karena ada misi yang harus mereka tularka ke Negara-negara berkembang. Sebagai followernya.

Dunia Islam

Lalu bagaimana bargaining position dunia Islam saat ini? Banyak yang berharap sejak mula jatuhnya daulah khilafah usmani tahun 1923 menjadi momen penting bagi duwal islamiyah wal duwal arabiyah untuk merapatkan barisan. Tetapi kenyataanya semakin ke sini peran duwal islamiyah dalam membangun hubungan lebih dari formalitas sebagai bilateral dan unilateral pada negeri-negeri yang hari ini posisinya sebagai emerging markets. Let’say Turki, Maroko, Pakistan dan Indonesia. Cukuplah kejatuhan instrument sukuk di Dubai menjadi pelajaran termahal bagi bangsa arab dan yang lain tentang paradigm ekonomi yang harusnya tidak lagi merncontek gaya hedonisme kapitalis. Saat yang lain mulaio sadar tentang basic need nomic, Dubai dengan segala ambisinya menjadi hub mode dan bisnis seantero Timur Tengah malah mengedepankan wants basic nomic. Actually, dunia Islam dengan posisinya yang masuk pada emerging markets. Mempunyai banyak peran dalam terlibat urusan regional seperti Indonesia contoh menariknya, dapat kita temukan pada posisi Indonesia sebagai ketua lembaga internasional untuk Palestina. Dimana malah yang duduk sebagai chairmannya adalah Marzuki Ali dari Partai Demokrat. Persoalan Palestina menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk lebih membuka diri dengan Negara-negara arab dan afrika untuk merancang masa dean sendiri tanpa bergantung pada PBB yan nyatanya terpenjara lobi yahudi Israel di Amerika Serikat.

Sudah menjadi tidak relevan bagi politisi Indonesia untuk merasa takut dicap Arabic oriented dsb sebagaimana yang banyak dituduhkan kalangan liberal yang malah sangat buta melihat ke Barat. Karena sejak orde baru, Indonesia sudah digiring untuk bersikap antipati pada Islam yang justru dianut mayoritas penduduk Indonesia dan akhirnya dubes-dubes kita yang dikirim ke Timur Tengah gaptek dengan bahasa arab. Lalu bagaimana pintu komunikasi dibuka dengan para sheikh petrodollar itu ??. dibandingkan membiarkan dana di kantong tebal para sheikh itu dibuang-buang pada obsesi Buruj Al Arab dll, lebih baik dialokasikan untuk investasi membangun infrastruktur dan suprastruktur di Indonesia yang bermanfaat langsung ke sector riil.

Industri Keuangan Syariah Global

Dalam perkembangan industry keuangan shariah global saat ini juga masih dalam proses pembenahan. Tetapi volalitas asset, framework, regulasi, inovasi produk atau link yang terhubung ke AAOIFI, IFSB, dll tetapi juga aspek maslahah haqiqiyah berupa turunnya angka kemiskinan seperti warga London lebih prefer menggunakan KPR syariah dari Islamic Bank of Britain. Tanpa merasa harus takut dicemaskan berfluktuasinya suku bunga. Alla kulli hal, dua hal ini yaitu posisi dunia islam dan potensi keuangan shariah mereka dapat sinergikan lebih halus dan elegan lagi. Saya terngiang-ngiang apa yang dikatakan Sayyid Quthb, syuhada kebangkitan Islam, dalam Ma’alim Fi Thariq

“Saat ini, ummat manusia sedang berada di tepi jurang kehancuran. Bukan karena factor ancaman kehancuran yang menggantung di atas kepala mereka karena hal ini hanyalah gejala-gejala penyakit. Bukan sakit itu sendiri melainkan karena kebankrutannnya dalam dunia “nilai-nilai” yang dengannnya kehidupan manusia dapat berkembang dengan sehat dan meningkat kea rah lebih baik. Oleh karena itu, ummat manusia memerlukan “kepemimpinan” yang baru !”

Oleh karena itu, hanya islamlah yang sanggup dan secara total memberikan penyembuhan masalah tanpa harus menciptakan masalah lagi. Seperti yang saya pernah ungkapkan secara detail dalam essay saya “Krisis dan Politik Perbankan; Dalam Sebuah Pendekatan Fiqh Ekonomi Umar Ibn Khattab “ realisasi dari paradigm kapitalisme klasik hingga Negara kesejahteraan ( walfare state ) tidak pernah menyelesaikan masalah agar tidak berulang lagi secara sistemik. Jauh dari anggapan simplicity karena saat ini kita sedang beranjak dari normative theory ke positive theory atau kita biarkan manusia hari ewsok hidup tanpa harapan ??

Bogor Dramaga