Ramadhan 1431 yang baru saja berlewat dari kita belum seminggu, adalah serangkaian ironi dan pesta paradoksal yang selalu berulang. Serangkaian ironi di antara peta keshalihan dan jejak buram hedonisme berganti baju. Pesta paradoksal , keberkahannya masih dinikmati segelintir penduduk Indonesia berkantong tebal, berotak bebal dan perlindungan hokum yang kebal. Tetapi kita ternyata amat membutuhkan Ramadhan. Adakah di bulan lain kita menyaksikan tekanan inflasi yang demikian hebat yang mengindikasikan bergairahnya pertumbuhan ekonomi bangsa ini selain Ramadhan.Adakah kita saksikan apa yang dijanjikan oleh Kanjeng Rasulullah bahwa di bulan Ramadhan tidak saja magfirah dan rahmat yang obral habis-habisan, juga rezeki bagi tiap manusia, Ramadhanlah titik panasnya. Bagaimana tidak dari mulai para pesolek di atas panggung hingga para pedagang handhphone dan laptop di  glodok dan mangga dua menuai meningkatnya angka penjualan dan banjir demand dari mereka yang kebagian THR di akhir ramadhan di Idul Fitri.

Inilah Ramadhan tempat pahala harus bertarung dengan rayuan-rayuan hawa nafsu melakukan perilaku binatang yang “berani” kalau dilakukan di bulan Ramadhan. Pahala sunnah setingkat amalan fardhu, kata Kanjeng Rasulullah apalagi yang fardhu? “Adh’afan Katsiran “ kata Allah SWT itulah mengapa guru ngaji saya pernah mengatakan “ yang namanya amalan sunnah, anda bila melakukannnya mendapat pahala kalau anda meninggalkannya sia-sia atawa rugi. Begitu juga dengan makruh,kata beliau yang alumnus Madinah dan IIUM, anda bila meninggalkannya berpahala melakukannnya sia-sia, rugi, alamat bangkrut. Dan apa nyang dikatakan beliau memang terbukti di bulan ramadhan. Dalam kacamata Iman, keredhaan Allah SWT , fanuyasiruhu lil yusra, membuat jalan atau usaha apapun yang kita tempuh selama di dunia menjadi mudah. Sebaliknya kalau Allah gak redho, fanuyasiruhu lil usra. Apapun yang kita lalukan selalu sempit dan selalu mendapat masalah yang tak pernah henti.

Dan itulah Ramadhan, saat kita kembali kealam bawah sadar dan menghentak akan ingatan abadi manusia akan sebuah perjanjian dan kesaksian yang pernah dilakukannya dengan Tuhannya sebelum lahir ke dunia. Maka, aneh dan konyol kalau ada yang mengklaim dengan penuh bangganya, bisa bebas dari aturan Tuhan. Sepeerti dalam kamus peradaban Barat, seonggok paham pernah mengaliri peradaban manusia meluncur ke derajat yang paling rendah sejak seorang filosof Jerman telah membunuh “tuhan”. Jika bagi seorang manusia sadar dimana nilai nalurinya, bahwa aka nada selalu rasa bergantung pemecahan masalah hanya melalui sadar spiritual. Maka sama saja sang filosof jerman ini tengah melakukan bunuh diri spiritual, Spritual Suicide.

Itu jua ramadhan. Saat-saat seolah pulang mudik merasa jauh lebih penting daripada I’tikaf memburu keanggunan jiwa di malam-malam kita akan meneteskan air mata berpisah dengan ramadhan. Saat-saat boleh jadi kita sedang bersiap kembali ke :”habitat asal” dengan masing-masing perilaku jahiliyahnya. Tidak ada bedanya menjadi “binatang” di bulan puasa dengan selain bulan puasa.maka tak heran kalau ada seorang artis seolah sedang menjadi “pahlawan” bagi mereka yang harus menahan perilaku amoralnya karena berpapasan dengan Ramadhan. Saat-saat boleh jadi belum lagi menjadikan para mustahik menjadi muzzaki , dalam sehari lebih dari 10 Milliar Rupiah mengalir dari industry haram dan transaksi yang gharar. Maka dalam sebulan saat Idul Fitri tiba lebih dari 300 Milliar telah dituai dari industry bermodal kebinatangan dan transaksi-transaksi dari mulai hot money yang banyak merebak dalam bentuk uang palsu hingga sisa anggaran agenda ramadhan dari mulai buka puasa di mal-mal hingga industry rokok yang kembali berdenyut selepas azan. Dan bukankah setiap tahun seperti ini. Alaisa Kadzalik ??