Saya kali ini menulis teruntuk sahabatku yang kini menjadi orang maha penting di Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam. Seorang sahabat yang kerap membersamai perjalanan panjang melakukan dan mengawal perubahan. Dari Rawamangun hingga dramaga. Dari masjid ukhuwwah islamiyah hingga bundaran HI. Kau telah demikian panjang menyertai perjalanan yang telah kita tempuh bersama dari awal saat pertama kita dipertemukan. Saat aku harus memasuki lorong gelap yang tak pernah kukenal atau saat apa yang selama ini aku lakukan semakin berat. Aku mencoba tak pernah kehilangan pegangan ataupun harapan. Selama masih berada di tengah-tengah manusia –manusia yang beriman. Yang berkumpul dalam rangka ketaatan.yang berhimpun dalam samudera ketaqwaan. Bagaimanapun jua aku harus menuliskan hal ini dan apa yang kutemukan selama membersamai perjalanan seorang sahabat di sepanjang alur sunnatullah yang telah ditetapkan. menjadi seolah kebiasaan di bumi melayu dalam hal menilai orang, yang dicari kebaikannya terlalu rumit namun kalau sudah bicara cacat dan aib seolah semua ada dalam orang tersebut. Tak heran kritik dan masukan kerap disikapi secara tidak proporsional dan penuh tanggapan yang cenderung tidak dewasa. Karena porsi kebaikan dan keburukan ternyata lebih diberatkan pada sisi kelemahan atau cacatnya. Padahal seorang ulama salaf pernah berpesan, “jika engkau mencari saudara tanpa aib-aibnya, nyaris kau takkan pernah memiliki seorang saudara “ untuk itulah catatan-catatan ini perlu aku tulis.

Untuk seorang sahabat yang sedemikian aku hormati, aku hormati segala keikhlasanmu dan kesahajaan yang kau miliki sampai detik ini. Betapa ringannya langkah kaki dan raga menapak jalan yang kita tidak pernah tahu kemana berpenghujung. Aku tak pernah memperlihatkan rasa sakit yang sebenarnya selama ini aku derita. Rasa sakit yang kerap menyerang tiba-tiba dan membuat langkah gerakku terhenti agar kau tak pernah merasa sedang sendiri dan harus menanggung beban sahabatmu yang sedang sakit. Aku tetap tersenyum ketika kalian tertawa dan aku tertawa melihat kebingungan serta kejenakaan kalian.kini kau sudah benar-benar sudah ditempa. Di tempa dalam majelis zikir, diasah dalam majelis fikir .

teruntuk sekali untuk Imam Punarko. Kampus rawamangun ,sekretariat BSO KSEI UNJ  menjadi seepisode pertemuan yang berkah itu lahir dalam tawa canda dan agenda da’wah. Sekarang dunia pun sudah berubah. Semua orang sedang menolehkan kepalanya ke Timur dan mencari-cari akar kebijaksanaan untuk menyelamatkan dunia yang sedang sekarat ini. Hampir seperti yang disarankan Muhammad Iqbal, pujangga negeri Pakistan, “Resapilah kembali nilai-nilai kebajikan,kebenaran dan keadilan. Niscaya kau akan dipanggil memimpin bangsa-bangsa di dunia” maka yang kau dan rekan-rekan presnas hadapi sebenarnya bukan bagaimana menjalankan visi yang telah dicanangkan di munas. Tetapi kau melihat 2030 bukan sembarang tahun. 2030 tantangan dan cabaran menjadi terakumulasi apakah Indonesia, tanah air kita,akan segera tinggal landas atau malah semakin tak berharga nilainya di mata penduduk dunia. Dan mungkin kalau bukan kepadatan jadwal di kantor. Aku telah berangkat ke palembang untuk menyertai dirimu menyambut 2030.

Engkau yang kukenal adalah sejauh aku mengkilas balik perjalanan dan kebersamaan dengan dirimu. Kemanapun langkah kita pernah menjejak. Sentiasa berharmonisasi dengan nuansa zikir tak pernah berhenti berfikir mengeluarkan umat dari jerat kemiskinan dan jerat penindasan dari salah faham mengadopsi ideologi manusia. Membebaskan ummat dari peradaban jahiliyahnya sebagai tatanan hidup manusia yang paling terendah dan aku teringat apa yang dikatakan oleh Ustadz Rahmat Abdullah mengenai esensi dan tujuan da’wah “membebaskan manusia dari perbudakan dan penindasan manusia dari kelas entah untuk entah  siapa kepada hanya Allah SWT manusia layak berkorban”  bersama saudara-saudara kita yang lain di medannnya masing-masing. Saat ini juga aku melihat sudah banyak dari dirimu yang sudah berubah. Lebih serius dan lebih bijak, maka itu menjadi bagian dari konsekuensi tentang amanah yang sangat berat. Dan aku jujur sangat iri kepadamu, karena kau menadapatkan kesempatan untuk melipat gandakan kebaikan demi menjaga maslahah bangunan ini. Karena kau sebagai pemimpin memiliki keutamaan menegakkan hukum yang tidak bisa ditegakkan oleh Qur’an.

Belakangan aku banyak mendengar tanggapan-tanggapan yang menyerukan merubah arah laju kapal ini dengan tanggapan yang begitu bersemangat “membumikan ekonomi islam” dan secara tidak disadari merubah khittah perjuangan fossei sebagai wadah perjuangan mahasiswa yang terlukiskan dalam slogannya merajut ukhuwwah melalui da’wah bernuansa ilmiah. Tapi aku faham itu semua sebagai ghirah mahasiswa yang segera dan sadar harus ada yang dirubah dan berubah. Objek da’wahnya kah atau da’I-da’I nyakah . sistemnya kah atau targetnyakah. Karena ghirah adalah rumus kejiwaan sebagai mahasiswa dan pemuda. Melihat kondisi yang semakin stagnan dan ambigu siapakah yang salah apakah jalan yang kita perjuangkan atau ketidakpandaian kita membaca arah zaman. Sehingga begitu sampai di masa transisi kita benar-benar bingung what we should do ??. sedangkan tanpa ghirah, takbirkanlah empat kali sebagai indikasi kematian hati, kata Buya Hamka. Kematian hati serasa tak punya beban sebagai pemuda. Kematian hati seolah hidup di dunia kumaha aing. Dan seolah tak ada yang perlu dicemaskan dan dikhawatirkan.

Ala kulli hal, selamat jalan dan selamat mengemban tugas maha berat, akhina Imam Punarko, seperti ini saja aku mendokumentasikan kenanganku bersamamu. Di dalamnya ada barakah dan pahala di antara jenak-jenak canda dan riang gembira antara kita. Di antara keletihan menyelesaikan amanah atau mencari-cari tempat magang dan pkl yang kita berdua, ditakdirkan bersamaan mencarinya. Mugi dipasihan ku Gusti Alloh dan memudahkan langkah yang kau dan rekan-rekan presnas lainnya tempuh.

“Sekali kau telah mengambil pedang di tangan dan memegang pena. Janganlah sedih bila kuda jasadmu lumpuh atau diam saja.

Kebajikan lahir dari mata pedang dan ujung pena

Wahai saudaraku,seperti cahaya lahir dari api

Dan api dari pohon narvan menyala “

Muhammad Iqbal, Javid Namah