Seorang pejuang baru mulai bergerak dari tataran tahu menuju pemahaman yang baru untuk mengenal apa yang terjadi di republic ini. Atau bahkan seluruh dunia dimulai dari keresahan dan kegelisahan. Keresahan dan kegelisahan akan jauhnya jarak yang membentang antara idealisme peradaban dunia dengan tata nilai dan system korup dan bobrok. Keresahan intelektual menyaksikan rapuh dan robohnya tradisi intelektual di tangan para akademisi berjiwa bal’am bin baura dan walid bin mughirah.

Kegelisahan dan keresahan itu merayap dalam tulisan-tulisan dan diskusi demi diskusi yang semakin cepat menembus ruang-ruang social masyarakat. Para aktivis kampus banyak memulainya dari kegelisahan mereka menyaksikan kepongahan cabinet 100 menteri dan presiden yang ingin hidup seribu tahun lagi. Para aktivis kampus di tahun-tahun UU Subversiv dan NKK/BKK memulainya dari keresahan mereka tentang negeri yang telah tercerabut daro akar sejarahnya yang didominasi darah para syuhada dan tinta para ulama. Tetapi out put atas sumbangan dan kontribusi umat islam pada masa-masa pembangunan luar bisa tidak terhitung. Namun hasilnya rezim orde baru bak rezim aggressor pada siapa saja yang berani berteriak tirani dan jihad.

Setiap zaman ada rijaalnya. Dan di setiap rijaal itu ada gumpalan yang lagi-lagi mengiringi keresahan dan kegelisahan melakukan perbaikan. Sikap anti kemapanan yang ditunjukkan oleh anak-anak punk juga sebenarnya adalah efek panjang dari marginalisasi mereka dari kehidupan masyarakat. Jadilah mereka menyerukan jalanan yang sarat ancaman kekerasan itu sebagai gaya hidup. Debu dan keringat, kata mereka, adalah symbol kesederhanaan kaum punk dalam melukiskan sikap mereka terhadap kemapanan. Tak pelak, gaya hidup dan filosofi seperti ini menjadi target mulai dari sosialis kiri yang tak pernah terwujud cita-cita negara sama kaya sama rasa hingga kaum gembala domba yang tak pernah tahu jalan pulang.hingga, akhirnya ada seorang ikhwah yang melihat ini bukan sebagai dosa warisan

Kalaulah out put dari pembangunan ekonomi yang salah arah, jelas mereka tidak dapat disalahkan mentah-mentahj apalagi sebagai objek ringkusan satpol PP yang hanya tahu bahasa pentungan,gebukan dan jawab normative “ kami hanya menjaankan tugas” seorang ikhwah itulah yang turun menyelamatkan mereka. Tapi bukan merubah kultur tetapi mengenalkannya pada sosok agung sepanjang sejarah yang jauh lebih menderita dan memperjuangkan dua kalimat pembebasan manusia atas manusia yang lain. Jauh dari angle camera dan catatan jurnalis atau para aktivis “kehewanan” yang lebih focus dan sibuk mengurusi kucing mati nun jauh disana dari pada ratusan ribu manusia dibantai di shabra dan shatilla atau di jalur ghaza. Itulah paradoksnya humanisme, Humanisme, menurut Hamid Fahmy Zarkasy, akhirnya memilih memanusiakan Tuhan dan menuhankan manusia.

Everything has price to be paid. Kalau engkau ingin sukses dan mengejar cita-citamu. Ada pajak yang harus dikeluarkan. Ada tekanan yang harus dilewati. Ada intimidasi yang harus diterima. Itulah mengapa Allah SWT  menegaskan “apakah kamu sudah dikatakan beriman sebelum kami mengujimu ?” Para syuhada Al Ikhwanul Muslimin telah membayarkannya dalam dalam menyebarkan fikrah nya ke seluruh dunia. Dari mulai Hasan Al Banna yang dibiarkan darahnya terus mengucur tanpa ada yang berani memberikan pertolongan tanpa seizing Raja Faisal. Ada Imad Ibrahim,arsitek bom syahid Palestina melakukan operasi militer mengguncang kenyamanan negara aggressor. Sayyid Quthb,di tengah sakit paru-paru nya yang sangat parah, perhatiannya hanya tertuju menyelamtkan kaderikhwan dari berperilaku ekstrim dengan pembinaan yang dalam dan even menajdi saksi mata tragedy Mansyiah dan pembantaian Liman Turah terjadi. Izzudin Al Qassam, syahidnya menjadi inspirasi babak baru intifada Palestina dan tak heran, salah satu faksi jihad di Palestina menamai brigade militernya dengan nama Brigade Izzudin Al Qassam.

Tidak semua dari pahlwan kebangkitan ini gugur di ujung militer Israel atau di tiang gantungan penjara militer Mesir. Seorang orientalis sekaliber Oliver Roy bisa saja mengatakan sekalipun Al Ikhwanul Muslimin telah pulutan tahun berada di bumi Mesir tetapi belum jua mengubah system politik Mesir tersebut. Akan tetapi orientalis ini meninggalkan fakta lain,karya para ulama,mujahid,penulis, telah memenuhi hampir semua pustaka di dunia Islam. Tidak terkecuali di Indonesia yang menginspirasi lahirnya Partai Keadilan Sejahtera. Karya-karya Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb hampir tidak lagi asing dan dijadikan arah serta referensi bagi para aktivis lembaga dakwah kampus dimanapun justru FoSSEI lebih banyak mengambil nya dari khazanah ekonomi Islam bumi Pakistan. Sebutlah Dr Muhammad Umer Chapra yang emrupakan murid langsung dari Syaikh Abul A’la Al Maududi. Murid satu lingkaran dalam tarbiyah pergerakan jamaat Islam, Dr Nejatullah Shiddiq, Muhamamd Fahim Khan, Khursid Ahmad juga memiliki akar pergerakan tarbiyah islam yang tidaj jauh berbeda dari Dr Muhammad Umer Chapra

Keresahan dan kegelisana lalu tersimpul dalam amal nyata hingga benar apa yang pernah dikatakan oleh Sayyid Quthb “seseorang yang lahir dan mati untuk dirinya sendiri niscaya hanya dikenang sebagai orang kecil tetapi seseorang yang lahir dan mati untuk kehidupan orang lain niscaya akan mati sebagai orang besar dan dikenang sebagai orang besar “
16 Rabi’ul Awwal 1431 H
Paledang
Bogor