Suka atau tidak suka, kereta da’wah kini tengah memasuki satu mihwar yang benar-benar ajaib dan di luar perhitungan para muasisnya. Senang tidak senang kita sedang berhadapan dengan mihwar tersebut, menghadapinya tak lagi mempan dengan apa yang disebut jihad siyasi karena memang bukan itu sarananya dan mihwar tersebut kita beri nama Mihwar Al Aulamah: Globalisasi

Globalisasi pun beragam modifikasinya. Ada yang mengambil bentuk area perdagangan bebas, ada lagi yang mengambil wajah homogenitas kultur tetapi efeknya hamper serata dan senada. Membentuk kampung dunia tanpa batas. Membentuk kebebasan informasi tanpa kelas dan tanpa batas territorial. Efek dari Mihwar Al Aulamah ini mungkin tidak terasa banyak kalau kita duduk di depan televisi yang menyajikan laporan hari ke hari 4 L: Loe lage Loe Lage. Meski dalam aspek perdagangan jelas membuat para pengusaha local khawatir. Karena efek derasnya dari globalisasi itu baru akan tampilkan saat kita membuka window dan berselancar dengan bebasnya di dunia yang dari mulai sajadah hingga haram jaddah ada.

Saat yang sama, banyak yang percaya era web yang mengakomodir facebook,multiply,twitter,typepad dll baru saja dimulai dan tengah menikmati masa gairahnya dus, perubahan social di dunia maya baru saja bergerak walaupun entah mengapa kerap meninggalkan luka di dunia nyata.

Yang saat ini kita tempati adalah eranya web2.0. era yang mengindikasikan dimana dunia tanpa batas dan hubungan yang terkoneksi tanpa pemisah itu kian kencang bergerak dan mengalir. Anyone can join and participate on that place Internet menjadi milik bersama para penggunanya.lebih seru lagi era web 2.0 disimbolkan dengan ajang lapor diri,pengumuman dan sebagainya hanya melalui status. Di ranah politik, ajang dan sikap jaim serta ikonisasi sebenarnya hampir musnah dengan adanya era web 2.0 ini. Di twitter, politisi,selebriti, penyiar,penyair, hingga orang biasa bertemu dan lebur menjadi sebuah wadah masyarakat tersendiri yang sedang dan memang sudah membentuk kebudayaannya. Include istilah-istilah hingga regulasi tidak baku yang walaupun kita anggap cair sebenarnya sudah tertulis secara “tidak tertulis “ dalam dunia internet. Nah, untuk membakukan regulasi yang dapat diterima secara universal kerap harus menerima penolakan dan kritikan dengan anggapan dapat membatasi kebebasan berekspresi dan mengutarakan pendapat. Para pengkritiknya, seolah-olah membatasi dirinya sendiri yang hanya mempunyai filter moral menolak hal-hal yang tak pantas di internet. Facebook, dsbnya dalam anggapan kita bebas nilai, seandainya benar-benar depend who controls pun cara kita menyikapi facebook dan pelbagai tools di era web 2.0 yang tidak sesuai pandangan hidup dan filter moral diri kita sendiri.

Maka ungkapannya, CEO Facebook, Mark Zurkenberg, dunia yang saling terkoneksi satu sama lain tidak sepenuhnya bisa diterima bulat-bulat. Yang kerap kita saksikan dalam portal berita online maupun di pelbagai forum diskusi persoalannya menjadi krusial dan menakutkan disebabkan komentar tanpa identitas pun bisa menjadi berita yang hangat.lebih parah lagi seperti yang digambarkan oleh, Edi Santoso, pemerhati komunikasi, pengguna bisa bebas melontarkan caci maki dan umpatan pada salh satu pihak yang terlibat dalam konflik yang siapa dan apa peristiwa itu pun tidak sampai jelas spesifikasinya dan baru diterima dari satu portal media online baru dibaca beberapa menit kemudian atau dibaca di salah satu forum diskusi dunia maya !

Apa yang terjadi di Banyuwangi, menggambarkan betapa rendahnya dan bodohnya kebanyakan para pengguna informasi di dunia maya. Kasus di Banyuwangi yang terjadi akibat penyerangan sekelompok orang mengatasnamakan ormas islam dan tidak terkecuali FPI diklaim terlibat di dalamnya pada sejumlah orang eks PKI dan anggota DPR dari salah satu parpol di Indonesia. Padahal setelah dilihat lebih dalam dari rekaman tayangan yang ada tak satupun dari mereka yang melakukan penyerangan tersebut beratributkan FPI dan tak ada bukti berita acara dari Front Pembela Islam mengagendakan pembubaran acara tersebut. Sontak, saya hanya bisa tersenyum renyah melihat fenomena ini. Sebegitu rendahkah kemampuan kita menerima dan menyikapi informasi dan era kebebasan informasi ??

Dalam banyak kasus lagi kerap penulis temukan baik itu di youtube, kaskus, myquran dan lain-lain ternyata memang benar pengetahuan yang sedikit bisa mencederai kita. Akhirnya terperosok dalam stigmatisasi dan phobia sebelum kita mau mendengar lebih dalam dan menganalisa lebih dewasa serta tak membiarkan kecenderungan kita pada satu kemauan syahwat mendominasi dalam setiap analisa.

Itu masyarakat umum. Bagaimana para aktivis da’wah yang belakangan ini juga membanjiri dunia maya dengan identifikasi diri yang khas. Memang belum pernah ada penelitian khusus. Sejauhmana persebaran dan atensi para aktivis da’wah di dunia maya khususnya jejaring social dan blog. Sepengetahuan penulis, para aktivis da’wah ikut membanjiri dua sarana tadi sedemikian gairahnya. Tak pelak lagi, saat terjadi serbuan Israel ke kapal Freedom Flotilla,  berhamburan dan bertubi-tubi kritikan dan statement yang akhirnya ikut merangsang public beropini juga bahwa adalah biadab dan amoral nya serdadu Zionis Israel mendarat di atas kapal Mavi Marmara bak perampok bergaya koboi, di jejaring social melalui status-statusnya dan di twitter yang khas dengan hastagnya #freedomflotilla.

Siapapun mereka, para aktivis da’wah tetap mengusung apa yang menjadi tujuan dan cita-citanya. Menebarkan kebaikan dan mengantisipasi keburukan kalau perlu menjadi counter attack terhada[ tata nilai yang saat ini sedang mengepung dan membelenggu kemerdekaan berfikir dan bernalar manusia Indonesia di hadapan era dan zaman yang kian tak kenal ampun. Di hadapan ideologi cairyang tak pernah mengenal indoktrinasi langsung tetapi dianut oleh semua penduduk dunia dan menghisap kebebasan nurani dan bertafakur yang sebenarnya.

Aktivis da’wah di era status

Ironisnya, dal;am sejumlah kasus yang penulis temukan, para aktivis da’wah kadang berindak tidak jauh berbeda dari warga pengguna informasi internet lainnya dalam menyikapi masalah persinggungan antar fikrah. Persinggungan antar harakah, keyakinan, dan prinsip bukan sama sekali dua kali terjadi. Ayat-ayat berhamburan plus buat mereka yang sebenarnya baru mulai ngaji,sudah merasa perlu ikut berkomentar atas suatu masalah langsung ditarik kesimpulannya dari garis doktrin. Terjadilah perang copy paste sesame user. Seakan-akan diharapkan user yang berlainan fikrah akan segera sadar dan bertaubat setelah membaca tulisan panjang dan sarat dalil itu melalui copy paste !. objek utamanya memang kebenaran melawan kebathilan tetapi dlam dunia maya sebagian aktivis ini,bagi mereka, kebenaran vs kebenaran yang sebanrnya sama sekali tidak meyangkut masalah prinsipil dan telah tamat dibahas oleh para fuqaha dan ulama ribuan tahun silam.

Fenomena yang masih terjadi dan menyangkut keterbukaan kran informasi juga sama-sama menggelikan. Kerap penulis dan rekan-rekan penulis temukan di dunia dakwah kampus dan sekolah. Rupanya bagi para aktivis da’wah kampus 2000-2007 sarana konvensional yang lebih banyak ditemukan di dunia maya dan tidak terlalu besar efeknya. Secara negative bagi eksistensi da’wah kampus dalam menjalankan cita-cita serta visi dan misinya. 2007 hingga saat ini tahun 2010, bisa kita katakan ibarat masa transisi model kebebasan kran informasi dan kesempatan bagi aktivis da’wah mencari cara menyampaikan pesan mereka ke tangan objek dakwah. Atau mengikat tali silaturahim sesame ADK dan ADS.

Namun gokilnya , bagi keduanya lebih ekstrim yang selama ini penulis temukan salah paham informasi berakhir perdebatan,mengkritisi fenomena yang sedang terjadi di kalangan aktivis da’wah terjatuh pada vonis dan penghakiman sepihak, mengomentari status seorang akhwat dituduh sedang merayu padahal yang mengomentari hanya merasa tidak tegas melihat seorang akhwat sekaliber aktivis da’wah kampus menumpahkan depresinya melalui status. Belum lagi yang marak terjadi di kalangan aktivis da’wah sekolah. Masa-masa remaja labil dan penuh pergolakan itu juga yang pernah rekan-rekan penulis rasakan tidak terkecuali aktivis da’wah hanya saja bedanya dulu belum adfa fasilitas facebook,twitter dsb.

Kini dengan adanya semua itu, informasi privat mengenai diri atau profil diri seorang aktivis dengan mudahnya terbaca oleh siapa pun dan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan apapun. Kapan pun dan dimana pun. Itulah sebabnya ada seorang kawan yang kalau ditanya “kenapa setiap hari online terus ? “ jawabnya “ agar bisa monitoring  dan mengontrol “. Adab-adab sesame ikhwan dan akhwat juga benar-benar lebur tak pelak seorang rekan terperangah melihat profil para pengurus Rohis yang namanya dikaitkan dengan nama pacarnya ! tentu saja fenomena-fenomena seperti ini sulit di genelisir.  Tetapi bukankah mereka juga mencerminkan jiwa masyarakat zamannya. Menyalahkan zaman dan teknologi juga tidak relevan. Inilah yang dikritik oleh Ustadz Rahmat Abdullah “ Bukan salah bunda mengandung maka jangan salahkan teknologi nya apa dan di zaman seperti apa. Tetapi salahkan diri yang tak berdaya di hadapan teknologi”

Alangkah elegannya dan luar biasa jika para aktivis da’wah memberikan teladan pada masyarakat bagaimana menghadapi,menyikapi, dan mengerahkan informasi dengan benar. Bukan malah gelagapan dan gamang dengan keterbukaan arus kran informasi di era mihwar aulamah ini. Sebab kalau lebih percaya internet dibandingkan dengan murrabinya masing-masing, mengapa tidak sekalian ta’limnya sama internet ??

Jakarta

18 rajab 1431 H