Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS 6:17)


Pada usia empat puluh dua tahun, dia menerbitkan jihad iklan Tauheed,2 sebuah laporan berkala yang terbit dua bulan sekali tentang AIDS. Jurnalis memuat ulasan percobaan klinis, artikel-artikel tentang gejala atau ciri-ciri umum di antara para PWA (People With AIDS –orang-orang yang mengidap penyakit AIDS), daftar pelayanan sosial, tanya jawab, iklan dan tajuk rencana, beserta ayat-ayat Al-Quran. Dia juga menawarkan kepada para PWA sebuah kelompok diskusi, bantuan dari luar, layanan pembersihan apartemen, binatu, belanja, suruhan, pengawalan, kunjungan pribadi. Dia adalah seorang yang bersemangat luar biasa besar dan sebuah benteng kekuatan bagi kelima putrinya. Tetapi dia berjuang keras untuk merasakan perlindungan dan penghormatan oleh masyarakat Muslim.

Saya mengikrarkan syahadat enam belas tahun yang lalu. Suami saya telah memeluk Islam dua tahun sebelum saya mengucapkan syahadat saya. Saya pikir Islam begitu hebat.

Dulu saya memakai thobe3 dan kirfi (topi) kepunyaan suami saya. Pakaian itu tampak bagus saya pakai. Tetapi saya tidak tertarik. Saya menyebut diri saya, nyaris dengan kebanggaan, sebagai seorang ateis.

Suatu hari saya mengambil Al-Quran dan membacanya. Kitab itu sungguh melambungkan jiwa saya. Saya tahu inilah kebenaran. Sangat masuk akal. Tapi, saya tidak dapat segera mengucapkan kalimat syahadat. Sebab hal itu berarti saya harus membakar semua rok mini dan celana pendek saya. Tetapi saya tidak keberatan. Itu sama sekali tidak memberatkan saya. Karena sejak saat itu saya tidak ingin menjadi yang lain lagi.

Putri saya yang paling besar saat itu baru berumur enam tahun dan yang nomor dua sekitar dua tahun. Sekarang mereka berusia dua puluh tiga dan delapan belas tahun. Dahulu mereka bernama Nadine dan Hillary. Sekarang Latifa dan Malika. Sesudah itu saya memiliki tiga anak lagi, semuanya perempuan.

Ketika saya menikah, anak tertua saya telah berumur empat atau lima tahun. Kami memutuskan untuk menikah secara resmi. Kami meninggalkan Harlem menuju ke Brooklyn. Malik adalah teman saya, kekasih saya, sahabat saya.

Malik mempunyai masalah keterlibatan dengan obat-obatan. Dahulu saya sering menyindirnya. Saya katakan kepadanya bahwa dia bukan seorang pemadat yang baik. Dia telah berusaha keras dan tetap tidak berhasil. Dia mungkin bisa meninggalkan kecanduan itu selama lima atau enam tahun, kemudian minum-minum lagi selama satu tahun.

Dia cukup mampu membiayai kebiasaan itu. Dia tidak pernah mengambil apa pun dari rumah. Melihat perubahan wajah dan sikap yang dialaminya ketika dia sedang dalam pengaruh obat-obatan, merupakan saat yang paling menyakitkan. Saya tidak pernah melihat dia menggunakannya. Dia tidak pernah melakukannya di hadapan saya atau anak-anak, tetapi saya selalu mengetahui kalau dia memakai obat-obat itu lagi.

Tak ada alasan untuk meninggalkan orang ini. Dia terlibat dalam masalah yang dia sendiri tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Dan itulah persoalan utamanya.

Ketika orang-orang mulai membicarakan tentang AIDS, saya mendengarkan dan saya memikirkannya sendiri. Saya tidak perlu mengkhawatirkannya: saya seorang Muslim. Saya shalat lima kali sehari. Malik juga seorang Muslim. Saya berkata pada diri sendiri, dia yang menggunakan obat-obatan, bukan saya.

Tetapi ketika saya terus mendengarkan tentang AIDS, saya mengatakan, mari kita pergi dan periksa. Pada awalnya, dia tidak mau pergi. Tetapi saya, perlu mengetahui, sebab saya dengar bahwa tempat-tempat yang berhubungan langsung dengannya merupakan kategori risiko tinggi. Akhirnya dia setuju dan kami pergi. Hasil diagnosa mengatakan bahwa sejak sebelas tahun yang lalu kami mengidap HIV-positif.

Saya benar-benar terhenyak. Saya tidak dapat mempercayai bahwa saya terjangkiti virus tersebut. Tetapi saya tidak meratapinya terlalu lama. Islam mengajarkan kepada Anda bagaimana menghadapi berbagai persoalan yang terjadi dalam hidup Anda. Dan cara untuk menghadapinya sangat sederhana: beriman dan tawakal kepada Allah. Saya memikirkan hal itu dan saya berkata pada diri sendiri, mungkin sekarang dia akan meninggalkan obat-obat itu.

Tak ada dukungan komunitas Muslim yang dapat diharapkannya. Tak ada sistem yang mendukung kaum heteroseksual. AIDS adalah penyakit para gay. Itu adalah penyakit orang Haiti, itu adalah penyakit kaum homoseks kulit putih. Begitu pendapat orang banyak dan sekarang kita ketahui bahwa pendapat semacam itu salah. Tetapi saat itu, itulah yang dipercaya semua orang. Kami bukan orang kulit putih, kami bukan gay, kami bukan orang Haiti. Dan saya tahu ini tidak disadari masyarakat. Saya sangat marah pada Malik sebab saya ingin dia melindungi saya, bukan dari virus itu, tetapi dari unsur-unsur di sekeliling virus tersebut. Saya ingin duduk di samping Malik dan mendapat rasa aman. Saya tidak ingin mencemaskan apa yang dipikirkan orang Muslim yang lain. Saya ingin Malik membuat hidup ini aman bagi saya. Saya sangat marah pada Malik atas semua ini, tetapi saya tidak pernah marah mengenai penyakit itu.

***

Saya harus memberanikan diri untuk keluar. Saya ingin tahu apa yang dilakukan orang terhadap AIDS, saya ingin mengambil manfaatnya bagi saya. Saya tahu banyak orang yang mengidap penyakit tersebut selain saya. Lagi pula, saya tahu banyak orang Muslim selain saya yang terjangkiti penyakit ini. Saya tahu saya bukan satu-satunya yang terkena virus tersebut.

Malik tidak ingin menghadiri kelompok pendukung. Dia tidak ingin mengetahui apa-pun. Dia hanya marah: Mengapa Allah menimpakan hal ini kepadanya? Mengapa Allah meletakkannya pada posisi di mana terdapat kemungkinan besar bahwa dia akan mati karena sesuatu yang tidak ada obatnya, dan meninggalkan istri dan anak-anaknya? Saya bukan seorang laki-laki, dan saya tidak memahami bagaimana seorang lelaki berpikir, tetapi saya kira saya memakluminya.

Kami selalu bertengkar sejak saat itu. Saya mencela kemarahannya. Dia mencaci cara saya menghadapi keadaan tersebut. Saya pikir mungkin sebagai laki-laki dia merasa gelisah karena istrinya lebih kuat dari dirinya. Saya tidak pernah mencoba menegangkan otot, dalam arti mengajaknya berkelahi. Saya pun ingin melindunginya. Tetapi kadang-kadang saya sendiri pun merasa ingin menangis. Saya ingin menangis tetapi saya tidak dapat melakukannya. Saya terlalu sibuk menabahkan diri untuk menghadapi kenyataan itu.

Entah bagaimana sebagai seorang perempuan, saya mendapati diri saya setahap demi setahap meninggalkan sifat feminin saya dan memandang segala sesuatu dari sudut pandang maskulin. Karena saya merasa tak seorang pun melindungi saya, maka saya harus melindungi diri saya sendiri. Lalu saya mengenakan baju baja saya, membawa perisai di satu tangan saya dan tombak di tangan yang lain. Saya mulai mendatangi kelompok pendukung yang satu ke kelompok yang lain, hanya untuk melihat.

Saya mengetahui semuanya dari ‘penghuni planet Mars yang kecil dan hijau’. Tetapi saya gembira. [Tertawa].

Gay Men’s Health Crisis Center (Pusat Penanganan Krisis Kesehatan Kaum Gay) di (Greenwich) Village memperlakukan saya seperti seorang ratu.

Sebelum saya ke sana, saya tahu bahwa tempat itu hanya untuk kaum gay semata. Tetapi itu tidak membuat saya berbalik. Merekalah yang terperanjat dengan kehadiran saya. Lupakan kenyataan bahwa saya seorang wanita. Tetapi saya seorang wanita kulit hitam, dan saya seorang wanita Muslim. Saya membiasakan diri dengan kenyataan tersebut.

Ketika saya mengunjungi GMHC dan beberapa organisasi AIDS lain yang semuanya dikelola oleh para pria homoseks, tindakan pertama mereka semuanya sama: Mereka hanya duduk dan memandangi saya. Di wajah mereka saya dapat membaca pikiran mereka [dengan suara yang dibuat-buat, difemininkan]: “Oh, dia nyata-nyata berada di tempat yang salah.”

Dan di wajah-wajah yang lain saya dapat melihat: Saya heran apa yang dia lakukan di sini. Dan ada pula wajah-wajah yang menyiratkan: “Oooo, saya menyukai pakaiannya.”

Itu semua sangat menghibur saya. Mereka memperlakukan saya dengan begitu baik. Tentu saja saya tidak membuang waktu menunggu mereka bertanya mengapa saya berada di sana. Saya segera menjelaskan duduk persoalannya. Saya segera memperkenalkan diri: “Nama saya Tarajee. Saya juga mengidap HIV positif. Saya tahu saya berada di tempat yang tepat.”

Mereka senang bersama saya, saya pun demikian. Mereka ingin mengetahui mengapa saya menutup rambut saya dan seberapa panjang rambut saya. Mereka menanyakan kepada saya beberapa pertanyaan kewanitaan. Itulah yang sangat menghibur saya. Saya dapat berbagi rasa. Saya merasa nyaman bersama mereka. Saya merasa bersama “para wanita”. Saya tidak merasa terkucil.

Mereka membuka lebar pintu mereka. Saya dapat datang dan pergi-sesuka hati. Sebagian besar dari mereka merasa saya orang yang mengagumkan. Kami tidak banyak berbicara masalah HIV, tetapi kami lebih banyak membicarakan masalah-masalah kemanusiaan. Saya datang ke sana tanpa mengetahui apa yang saya cari, tetapi saya keluar dengan begitu banyak pengetahuan. Saya mempelajari banyak hal tentang mereka –kecemasan mereka, cara mereka menghadapi masalah itu. Lebih dari itu, saya mengetahui bahwa mereka pun berdarah jika terluka, sama seperti yang terjadi pada saya. Mereka merasakan apa yang saya rasakan. Mereka terluka seperti saya terluka. Mereka tidak berbeda.

Saya tidak segera mendatangi masyarakat Muslim dan mengungkapkan status HIV saya. Saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepada suatu kelompok atau seseorang mengenai masalah AIDS hanya untuk melihat reaksi mereka. Dan banyak orang Muslim yang meyakini bahwa siapa pun yang terserang AIDS berarti telah melakukan suatu perbuatan dosa, dan Allah menghukum mereka.

Saya melihat begitu banyak kecemasan dan ketakutan serta penolakan dalam taraf yang tinggi. Saya menyarankan kepada seorang imam bahwa kami memerlukan kelompok-kelompok pendukung dari kalangan masyarakat Muslim untuk berkomunikasi dengan orang Muslim yang terjangkiti virus tersebut. Dan dia berkata kepada saya, “Saudaraku, engkau tidak memerlukan kelompok pendukung. Engkau telah memiliki kami.”

Dan saya menjawab, “Ini tidak realistis. Misalnya saya bosan hidup sendiri. Tindakan apa yang akan Anda ambil untuk meyakinkan bahwa saya akan mendapatkan seorang suami? Saya tidak mau kumpul kebo. Saya tidak mau berzina. Jadi langkah apa yang Anda ambil untuk meyakinkan bahwa saya masih berada dalam batas-batas agama saya?”

Dia berkata, “Baiklah, kita akan melewati jembatan itu jika kita sampai di sana.”

Ini reaksi yang khas. Dia marah pada saya karena saya terlalu banyak membicarakan masalah itu. Saya menjadi kurang ajar sekali.

Dialah imam pertama yang saya ajak bicara.

Saya mulai melontarkan beberapa pertanyaan: Mengapa masyarakat Muslim tidak menangani masalah ini? Mengapa setiap orang begitu tegang dan cemas terhadap persoalan ini? Apa yang tengah terjadi di sini?

Saya berjumpa seorang rekan sesama Muslim di Manhattan yang berkata kepada saya, “Mereka harus menempatkan semua orang Muslim yang terserang virus AIDS dalam perkampungan penderita kusta. Mereka harus mengunci para penderita tersebut dan membuang kuncinya jauh-jauh.”

Lalu saya berkata padanya, “Tetapi, saya tidak ingin tinggal di perkampungan penderita kusta.”

Dia memandang saya dan berkata, “Saya tidak membicarakan tentang Anda, saya membicarakan orang-orang yang mengidap virus tersebut.”

Saya berkata, “saya salah satu di antara orang yang ‘mengidap virus itu’.” Dia kaget sekali.

***

Saya memohon kepada Allah untuk tidak membiarkan saya merasa takut, dan itulah yang saya dapatkan. Anda akan mendapatkan apa yang Anda perjuangkan. Allah berfirman bahwa seseorang hanya akan memperoleh apa yang dia perjuangkan. Saya tidak mencari materi dan harta benda. Saya memohon petunjuk Allah. Saya memohon kepada-Nya untuk melindungi saya. Saya memohon kepada-Nya untuk menunjukkan pada saya bagaimana cara melewati air yang keruh ini. Dari Dia menunjukkan caranya. Dan saya juga memperoleh karunia-Nya yang lain sebagai tambahan.

Malik meninggal dunia tiga tahun yang lalu karena AIDS. Dia kembali menggunakan obat-obatan, dan dia melakukan sesuatu yang tidak pernah saya lihat selama dua puluh empat tahun mengenalnya: Dia menjadi seorang pemadat ulung. Akhirnya dia berhasil. Ketika telah kehabisan uang, Malik menyapu bersih dua deposito di bank, sebuah rekening koran; semua polis asuransi kami pun lenyap. Semuanya hilang ketika Malik meninggal. Bahkan saya harus meminta jasa kemasyarakatan untuk menguburkannya.

Pada hari dia meninggal saya berada di rumah. Saya bangun dan merasa aneh, saya tahu Malik telah meninggal. Saya tahu. Mereka menelepon saya dari rumah sakit. Saya tidak terkejut. Saya gembira Malik meninggal. Saya bahagia penderitaannya telah berakhir, sebab dia telah mengalami neraka yang sebenarnya, dan saya selalu berkata kepadanya, bangkitlah dari kedunguanmu, berilah perlawanan! Jangan biarkan hal ini menguasaimu! Bukan begini cara untuk mati. Engkau tidak perlu merasa sengsara. Kesengsaraan, bagiku merupakan pilihan.

Saya tidak berhasil membuatnya sadar. Dia begitu sedih dan marah sehingga dia dibutakan oleh keadaan. Saya sampai pada keputusan bahwa saya tidak dapat membicarakan hal itu lebih jauh dengan Malik. Dia lama sekali tidak mendengarkan apa yang saya katakan. Dia mencabik-cabik tubuhnya sendiri dengan obat-obat tersebut. Saya yakin dia mati karena perasaan pedih dan marah. Perasaan itu memangsanya hidup-hidup.

Dia terserang AIDS yang telah menyebar ke seluruh tubuhnya sekitar dua tahun sebelum meninggal. Saya telah mengetahuinya –sebelum dia diperiksa. Kami pergi melakukan shalat hari raya, di Prospect Park. Saya sedang berdiri dalam jarak yang agak jauh dari Malik, berbincang-bincang dengan seorang teman wanita. Lalu saya mendongak dan menatap Malik. Saya berkata pada diri sendiri, Ya Tuhan, dia telah terjangkit AIDS yang parah yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Saat itu dia tidak tampak kurus. Saya tidak pernah memberitahunya apa yang saya lihat. Ketakutan mencekam saya lebih dari segalanya, sebab sebagai Muslim kami diajarkan untuk tidak takut terhadap apa pun kecuali Allah. Saya meyakini hal ini.

Malik takut dikucilkan. Dia takut direndahkan. Dia takut orang lain tahu bahwa dia kacau balau, bahwa dia telah membuat kesalahan.

Kadang-kadang seorang Muslim ingin orang lain mempercayai bahwa dia tidak pernah melakukan kesalahan, atau dia tidak dapat berbuat kesalahan. Tetapi kita manusia. Kita selalu berbuat kesalahan dari waktu ke waktu. Allah menyatakan hal itu dalam Al-Quran. Begitulah cara Dia menciptakan kita.

Begitulah cara orang-orang Muslim menangani hal itu. Mereka lebih takut terhadap apa yang dipikirkan orang lain daripada kenyataan bahwa mereka mengidap virus itu. Saya tidak dapat mengerti hal itu. Sebab saya masih tetap berpendapat kami orang Islam. Jika Anda mengucapkan, La ilaha illa Allah, Anda telah mengikrarkan janji pada Allah. Anda harus percaya pada Allah bahwa Dia akan memimpin Anda, membimbing Anda, bersama Anda di mana pun Anda berada. Saya menjadi lebih memahami hal itu sejak saya mengidap virus tersebut.

***

Pada awalnya saya merasa takut menerbitkan laporan berkala ini. Penerbitan itu telah berumur dua tahun. Saya menginginkan nama para imam agar saya dapat mengirimkan laporan berkala itu kepada mereka. Saya membeli buku petunjuk Muslim yang memuat alamat segala macam bisnis dan organisasi. Dalam waktu satu tahun jurnal itu telah mencapai oplah lebih dari 900 eksemplar.

Tujuan penerbitan jurnal itu sebenarnya adalah untuk memberikan informasi yang sebagian besar orang tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya. Sebagian besar orang tidak mau pergi ke organisasi AIDS untuk mencari keterangan tentang hal tersebut. Terutama orang-orang Muslim.

Saya memberikan informasi secara gamblang. Saya memasukkan dalam tulisan saya surat-surat dari Al-Quran sehingga orang dapat membaca sesuatu yang benar-benar meresap ke dalam hati. Ayat-ayat itu menjadi peringatan-peringatan kecil.

Saya mendapatkan beberapa tanggapan bernada marah lewat surat dan telepon: Mengapa seorang Muslimah membeberkan segala macam tentang AIDS?

Membeberkan “masalah” apa? Saya memberi Anda informasi. Anda mungkin berpikir Anda tidak membutuhkannya? Berapa banyak rekan wanita yang berada dalam situasi seperti yang saya alami? Hidup didampingi pria yang kecanduan narkotika? Banyak orang berganti-ganti suami dan istri seperti berganti kaus kaki. Laki-laki boleh memiliki lebih dari satu istri.

Seorang rekan pria Muslim dari Sri Lanka yang tinggal di Manhattan menulis kepada saya sepucuk surat yang manis, menerangkan bagaimana dia dulu terbiasa melakukan tindakan-tindakan tercela ketika baru datang ke Amerika Serikat, dan bagaimana sekarang dia kembali mengenakan thobe dan kufi-nya, dan dia akan mencari seorang Muslimah yang baik untuk diperistri dan hidup bahagia bersamanya selamanya. Dia memberitahu saya jika saya telah menemukan diri saya kembali (bertobat) dan tidak lagi melakukan apa pun yang pernah saya lakukan, maka Allah tidak akan menghukum saya dengan penyakit AIDS.

Saya menjadi marah. Betapa beraninya Anda berpendapat bahwa saya telah berbuat salah, dan hal itu menunjukkan pada saya tingkat kebodohan Anda!

Lalu saya menulis kepadanya dan mengatakan, “Saya bahagia Anda kembali pada thobe dan kufi Anda. Tapi Andalah yang telah mengacaukan semua rencana dengan satu hentakan, bukan saya. Saya hidup bersama satu pria dalam separuh umur saya. Saya mendapatkan lima anak dari satu laki-laki yang sama. Saya tidak pernah menggunakan narkotika. Tidak pernah! Saya memanggang roti dan membuat biskuit ketika Anda berkeliaran di luar melakukan segala perbuatan keji Anda.

“Dan sekarang ketika Anda telah memakai thobe dan kufi Anda kembali, jika seorang Muslimah melihat Anda, dia tidak akan menanyakan tentang masa lalu Anda. Dia akan memandang Anda dan berkata, ‘Alhamdulillah!’ Katakan pada saya apakah hal itu benar atau salah. Anda terlalu sombong sehingga Anda bahkan tidak mau bertanya lebih dahulu. Bagi saya, Anda berbahaya! Saya takut pada Anda. Sebab semua orang yang tidak terjangkiti virus itu akan memandang pada Anda dan pada orang-orang seperti Anda dan akan dininabobokan oleh rasa aman palsu yang Anda proyeksikan.

“Jangan khawatir. Saya tidak mengenal Anda. Dan Anda juga tidak akan membiarkan saya mengetahui siapa Anda. Anda tahu bahwa apa yang saya katakan adalah benar.”

Saya tahu cara menghadapi orang-orang dengan pola pikir seperti itu.

Saya mengenal sedikitnya 150 orang Muslim yang mengidap AIDS, laki-laki dan perempuan. Yang paling banyak laki-laki. Tak mudah mengajak mereka untuk bergabung. Tapi saya coba mempengaruhi mereka.

Saya berkorespondensi dengan rekan-rekan pria di mana-mana. Mereka ketakutan. Mereka bahkan tidak ingin bertemu satu lama lain, sebab mereka tidak ingin yang lain tahu bahwa mereka mengidap virus itu –walaupun orang lain itu juga terkena virus tersebut.

Saya mempunyai daftar –yang saya sebut daftar sahabat pena yang terdiri dari orang-orang Muslim yang HIV-positif. Saya mengedarkan daftar itu kepada orang Muslim yang terjangkiti virus tersebut, supaya mereka tidak merasa bahwa mereka tidak mempunyai pilihan lagi. Setiap orang yang tertera dalam daftar itu telah setuju untuk ikut dimasukkan ke dalam daftar tersebut. Jika Anda tidak mau mencantumkan nama Anda dalam daftar, maka Anda pun tidak akan mendapatkan copy daftar tersebut. Saya hanya menuliskan nama, jabatan, dan nomor seri. Untuk membuat mereka terus berkomunikasi.

Saya diperkenalkan dengan seorang imam yang istrinya juga mengidap AIDS. Orang yang mengenalkan saya dengannya juga mengidap AIDS, tetapi imam tersebut tidak mengetahuinya. Saya ingin imam itu memberitahu istrinya bahwa banyak orang yang seperti dia, yang berbicara dengan bahasa yang sama dengan bahasanya. Yang semuanya juga orang Islam. Saya tidak tertarik bagaimana atau mengapa dia sampai mendapatkan penyakit itu. Saya hanya prihatin pada kenyataan bahwa keadaan itu adalah cara yang mengerikan untuk mati. Bukan karena AIDS tetapi karena rasa kesepian, amarah, dan kepahitan.

Allah berfirman, jangan berputus asa, jangan berkecil hati. Itu artinya Anda tidak boleh mendahului menyimpulkan sesuatu yang Anda tidak mempunyai kekuatan untuk mengendalikannya. Anda tidak dapat berbuat apa pun mengenainya. Jadi jangan sesali keadaan itu dan carilah hikmahnya.

Imam itu heran bagaimana saya tahu. Dia berkata, “saya ingin tahu siapa yang telah memberitahu Anda.”

Saya berkata, “Saya tidak ingin membicarakan hal itu.”

Dia tidak peduli, “Anda tidak akan dapat membicarakan masalah ini dengan saya sebelum Anda memberitahukan siapa yang menceritakan pada Anda.”

Kemudian saya berkata, “Mengapa Anda mempersoalkan masalah ini? Istri Anda terkena AIDS! Saya juga terkena virus itu. Biarkan saya menjadi temannya, sebab jika Anda tidak terjangkiti virus ini, imam, tidak mungkin Anda dapat memahami apa yang dia alami. Saya tidak peduli apa yang telah Anda baca dari buku.”

Saya tidak pernah berhasil membujuknya.

Ketika saya sadari bahwa yang jadi persoalan baginya adalah siapa orang yang memberitahu saya, saya sadar bahwa penyakit AIDS tidak menjadi persoalan. Maka saya mohon diri dan pamit.

Tetapi saya ingin mereka mengerti. Betul, saya mengidap virus itu, tetapi Anda tidak dapat mengusir saya keluar dari masyarakat ini. Lalu saya jalan-jalan berkeliling dan meyakinkan diri bahwa mereka melihat saya. Yah, saya masih di sini. Allah belum memanggil saya kembali kepada-Nya.

Saya pergi ke masjid Al-Farooq di Atlantic Avenue [di Brooklyn]. Beberapa sukarelawan dari organisasi-organisasi AIDS di seluruh Brooklyn, Manhattan, dan Queens diundang. Kami menggantungkan poster-poster di mana-mana.

Kami mengadakan pertemuan di sana. Tak ada seorang Muslim pun yang hadir. Ada sekitar dua puluh lima orang non-Muslim yang datang, saya pikir ini luar biasa. Mereka harus duduk di lantai. Itu hal yang sulit bagi mereka.

Sang imam akhirnya masuk. Dan seorang rekan wanita yang merencanakan program itu berkata, “Imam, apakah Anda mau mengucapkan sepatah kata?”

Dia berkata, “Ya. Orang Islam mempunyai obat ampuh untuk AIDS: jangan bergonta-ganti pasangan, maka AIDS pun tidak akan datang!”

Kami tidak percaya dia akan berkata begitu.

Saya berkata kepadanya, “Imam, bolehkah saya menyampaikan sepatah kata?”

Dia menjawab, “Ya.”

“Sayalah yang mengirimkan pada Anda laporan berkala itu. Lupakan masalah gonta-ganti pasangan. Saya tidak mempunyai pacar. Saya tidak pernah melakukannya. Saya mempunyai seorang suami. Tapi saya terjangkiti virus itu. Mengapa saya diperlakukan seolah-olah saya harus bungkam mengenai semua masalah ini?”

Dia begitu terperanjat bahwa ada seseorang yang terjangkiti virus duduk di dekatnya. Dia hanya bisa memandang saya. Dia tidak pernah menjawab pertanyaan itu. Dia berdiri dan berkata, “Assalaamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.” Dan dia pergi. Dia meninggalkan kami duduk terperangah di sana. Saya memandang orang-orang non-Muslim yang duduk di sana. Saya berkata pada diri sendiri: Tak mungkin saya dapat menyeru mereka untuk memeluk agama Islam. Tak mungkin mereka mau mendengar apa yang akan saya sampaikan.

Sekarang, mungkin saya telah salah menafsirkan semuanya. Tetapi jika mereka memerlukan bantuan, maka Anda harus memberikannya. Itulah ajaran Islam yang saya tahu. Itulah yang diajarkan Allah kepada kami. Dia mengajarkan pada kami bagaimana menjadi manusia yang bijak.

***

Saya tidak mencari keuntungan apa pun dari laporan berkala itu. Siapa yang mau terkenal sebagai penderita AIDS? Tetapi saya harus melakukan itu dengan tujuan mengajak orang-orang Muslim yang lain untuk muncul. Saya sedih kalau mengingat mereka.

Pilihan apa lagi yang saya miliki? Saya telah menyaksikan apa yang terjadi pada Malik ketika dia tidak dapat menghadapinya. Saya sering menyaksikan hal itu terjadi pada orang lain. Saya melihat mereka mati karena berbagai sebab yang saya pikir tidak ada hubungannya dengan AIDS.

Saya tahu banyak orang Muslim lain yang terkena AIDS di luar sana. Saya tahu apabila saya tidak datang untuk memberikan pertolongan, mereka tidak akan mendapatkannya. Mereka berhubungan dengan saya dan mereka meneruskan korespondensi mereka. Orang memiliki sejuta cara untuk menangis, menjerit. Saya telah melanggar beberapa ketentuan stunnah. Misalnya, masalah hubungan antara pria dan wanita. Saya pergi mendatangi tempat tinggal rekan pria Muslim dan berkata, “Nah, istri pengganti Anda telah datang.” Dan saya pergi belanja untuk mereka, dan saya bersahabat dengan mereka. Saya belanja dan masak untuk mereka.

Semua itu merupakan suatu petualangan. Saya telah berjumpa dengan orang-orang yang paling baik dan menyenangkan di planet ini. Dulu saya selalu berpikir bahwa semua orang adalah iblis yang menyamar menjadi manusia dan saya adalah sebuah pasak persegi yang tidak sesuai dengan lubang bulat, yang juga tidak berusaha untuk cocok dengan lubang bulat itu.

Saya duduk dengan sekelompok orang. Saya tidak menilai mereka: Oh, dia orang baik… orang ini lesbian, dan sebagainya. AIDS telah memisahkan manusia menjadi dua kelompok: Orang-orang yang tidak terkena AIDS dan orang-orang yang terkena AIDS.

Saya berpegang pada kehendak Allah, dan tidak akan melepaskannya. Saya tidak tahu kemana Dia akan membawa saya, tetapi saya tahu itu benar, kemana pun saya pergi. Dan Anda dapat merasakannya di sini [menepuk dadanya dengan kepalan tangan]. Anda tahu itu benar.

Saya tidak pernah berangan-angan menjadi penasihat AIDS, tetapi jika itu yang harus saya lakukan, saya akan melakukannya.

Segala sesuatu telah direncanakan dan dirancang untuk mengajar Anda. Itulah yang membentuk karakter Anda. Itulah yang mendefinisikan Anda. Keadaan selalu membuat Anda harus melakukan definisi ulang. Itulah yang membentuk Anda. Itulah gunanya kesengsaraan –untuk menguatkan karakter kita. Tanpa itu Anda tidak akan menjadi pribadi yang tegar.

***

Sebelum saya memulai jurnal itu, saya berhadapan dengan satu persoalan: bagaimana cara berjumpa dengan orang lain? Saya benar-benar tidak menyukai pilihan yang dihadapkan pada saya apalagi bertemu dengan orang lain yang juga terkena virus itu.

Saya membaca The Village Voice dan menilik rubrik pencari jodoh. Saya belum pernah melihat kolom itu selama hidup saya. Saya menandai beberapa iklan khusus untuk kaum pria. Mereka semuanya gay, mereka terkena virus itu, dan mereka mencari orang lain yang juga mengidap virus yang sama. Saya berkata, oh, ini ide yang bagus! Lalu saya mengirimkan sebuah iklan. Saya menulis sebagai berikut:

WANITA MUSLIM, HIV-POSITIF, UMUR 40-AN, SETEGAR KARANG, JUJUR. TIDAK UNTUK MAIN-MAIN, MENCARI SEORANG PRIA MUSLIM YANG SAMA. DI MANAKAH ANDA? MARI KITA PERGI.

Saya mendapatkan banyak jawaban. Saya juga mendapat balasan dari orang non-Muslim. Saya mengenal mereka semua sampai sekarang. Dan saya sangat akrab dengan mereka, tetapi saya tidak ingin menghabiskan sisa hidup saya bersama salah satu dari mereka.

Saya mendapat teguran dari seorang rekan Muslim pria yang mengetahui bahwa saya begitu peduli tentang AIDS, tetapi tidak tahu saya terkena virus itu. Dia sangat marah. Iklan itu ditunjukkan kepadanya oleh salah seorang Muslim lain yang membacanya. Mereka berkumpul di Al-Farooq untuk suatu rapat kecil membahas iklan itu. Mereka tidak tahu yang menulis iklan tersebut adalah saya.

Dia berkata, “Lihat? Seorang rekan wanita Mushmah mengirimkan iklan dalam koran Sodom dan Gomorah. Dia terjangkit AIDS dan dia mengiklankan mencari seorang suami!”

Saya berkata, “Hei, mengapa kalian membaca kolom pribadi jika kalian pikir itu sebuah kolom yang menjijikkan?”

“Tidak, tidak, tidak. Pesolek ini membawanya kepada kami dan berkata, ‘Saya tidak tahu ada orang Muslim yang juga terjangkiti virus ini’.”

Lalu saya jawab, “Nah, adakah di antara kalian yang HIV-positif?” itu.

“Tidak, tidak, tak seorang pun di antara kami terjangkiti virus”

Saya berkata, “Kalau ada, suruh dia menghubungi nomor kontak di koran itu.”

Dia heran, “Apa maksudmu?”

“Itu iklan saya.”

Sejak saat itu saya tidak pernah mendengar apa pun dari dia. Tidak pernah. Saya membuat diri saya menjadi seorang musuh.

Cara kaum Muslim memberi salam, antar sesama pria atau wanita, adalah dengan berpelukan. Sebelum saya terkena AIDS, itu merupakan kebiasaan yang saya lakukan secara otomatis. Setelah saya terjangkiti virus itu, saya menghentikan kebiasaan tersebut.

Saya menghentikannya karena dua alasan. Pertama: Saya tidak tahu sebenarnya setakut apakah orang-orang itu. Mengapa saya membuat diri saya merasa begitu pedih menyaksikan orang-orang itu menarik diri? Saya pernah mengalami peristiwa itu. Tapi saya tetap melakukannya dengan orang-orang yang paham bahwa mereka tidak akan tertulari lewat cara itu. Untuk orang yang tidak mengerti, saya tidak ingin menakuti mereka, dan saya tidak ingin melukai perasaan mereka.

Saya menyaksikan peristiwa itu terjadi pada seorang rekan pria Muslim. Dia meninggal dunia dua tahun yang lalu. Dia tertular AIDS melalui transfusi darah. Dia seorang penderita hemophily, masih muda. Dia tidak pernah keluar untuk melihat dunia.

Saya ingat suatu saat saya sedang berada di rumahnya ketika bibinya bersama dua anaknya datang menjenguknya. Dia duduk di tepi tempat tidur, dan dia berkata pada kedua gadis kecil itu, “Kemarilah beri saya sebuah pelukan.” Mereka gemetar ketakutan, dan saat itu saya menyadari apa yang sedang terjadi.

Saya pikir dia akan membiarkannya, tetapi ternyata tidak. Dan dia berkata lagi, “Kemarilah, kemari dan peluklah saya.”

Anak yang lebih besar, berusia sekitar delapan tahun, berkata, “Mama bilang saya tidak boleh memelukmu karena engkau terserang AIDS.”

Saya benar-benar terguncang. Bukan untuk diri saya sendiri –saya telah mengerti hal-hal semacam itu– tetapi untuk efek yang akan timbul pada diri orang itu. Ada beberapa orang di ruangan itu. Saya meminta mereka untuk meninggalkan kami.

Dia menangis, hatinya hancur berkeping-keping. Saya berkata, “Sekarang dengarkan. Engkau tahu mereka menyayangimu, tidak semua orang dapat menerima hal ini. Beberapa orang masih merasa takut dan engkau harus memahaminya. Mereka prihatin, ya, tetapi mereka masih takut menyentuhmu. Begitulah kenyataannya. Sekarang, engkau harus membasuh wajahmu, dan jangan menempatkan dirimu dalam posisi seperti itu lagi. Jangan pernah begitu.”

Dia berusia dua puluh dua tahun ketika meninggal. Dia berada di rumah sakit. Saya datang menjenguknya. Saya membawa minyak. Saya berkata, “Nah, istri penggantimu telah tiba.” Saya sudah pernah melihat pantatnya dan semuanya. Saya membantunya ke kamar mandi jika dia memerlukannya. Dan saya memijitnya dan bercanda dengannya. Lalu dua orang laki-laki Muslim masuk, mereka memandang saya dan berkata: “Astaghfirullah, saudaraku! Dia bukan suamimu, engkau tidak boleh menyentuhnya!”

Itu sebuah kebodohan. Mereka menanggapinya dengan begitu buruk, sehingga saya mengambil sebotol minyak dan berkata, “Baiklah, kalau begitu, Andalah yang harus menggosoknya.”

Tak seorang pun yang berani menyentuhnya.

Saya bilang pada mereka, “Bisa saya bicara sebentar dengan kalian di ruang duduk?”

Saya katakan pada mereka, “Betapa beraninya Anda bicara tanpa memikirkannya. Allah mengetahui niat saya. Jika yang saya lakukan itu hanya membatalkan wudhu saya, maka saya akan berwudhu lagi. Jika Anda tidak bisa membantu, jika Anda tidak mau memasukkan kaki Anda ke air yang keruh, maka jangan halangi saya.”

Penderitaan karena alkohol, tuna wisma, penyiksaan istri, penyiksaan anak-anak, homoseksual –semuanya sama saja. Semua itu persoalan yang harus diselesaikan. Jika Anda menyembunyikannya setiap kali Anda menjumpainya, itu berarti Anda tidak menyelesaikan apa pun.

Ketika Malik terlibat penggunaan narkotika dan saya mengharapkan dukungan dari masyarakat Muslim, saya mendatangi mereka dan berkata, “Tolong saya, Tunjukkan pada saya ada yang harus saya lakukan. Katakan pada saya bagaimana saya harus menghadapinya. Saya tidak ingin dia menjadi begini. Saya tidak akan minta cerai. Anda seorang laki-laki, dia pun seorang laki-laki, bicaralah sebagai seorang laki-laki padanya. Bicaralah padanya dengan bahasa yang engkau lebih tahu dari saya.” Mungkin dia akan mendengar sesuatu yang engkau katakan, yang saya tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Malik tidak mau datang kepada seorang penasihat dengan saya, jadi saya berusaha mengajak penasihat itu ke rumah. Saya mengharapkan pertolongan, saya mengharapkan pertolongan yang Islami.

Saya diberitahu sesuatu yang menarik, seperti, “Siapa? Abdul Malik terlibat obat-obatan? Dia selalu bekerja setiap hari.” Dengan kata lain, “Saya tidak melihatnya melakukan apapun.”

AIDS merajalela di sana. Saya ingin kaum Muslim yang tidak terjangkiti virus itu mengusahakan supaya pelayanan AIDS dapat diperoleh, dan saya ingin melihat mereka melakukannya secara Islami, bukan berdasar pada ada yang mereka rasakan.

Rekan-rekan pria yang selalu berkomunikasi dengan saya, tidak pernah menghubungi saya lagi. Saya telah menghubungi mereka, berkomunikasi dengan mereka mungkin selama setahun, dan mereka tidak mau memberitahu saya siapa mereka. Mereka tahu bahwa saya terjangkiti virus itu juga.

Ada seorang rekan yang telah berkorespondensi dengan saya selama tiga tahun. Dia tinggal di California. Dia menikah dengan seseorang yang tidak terkena virus tersebut. Dia mendapatkan dirinya terkena virus itu, dan untungnya istrinya tidak tertular. Istrinya mengetahui hal itu, mereka telah menikah selama enam belas tahun. Dia tidak melakukan hubungan seks dengan suaminya. Hati saya trenyuh pada pria ini. Tak ada pelukan, tak ada ciuman, tak ada hubungan intim di antara mereka. Mereka hanya berhubungan tentang anak-anak. Dia memasakkan makan malam. Hanya itu. Menyedihkan sekali ketika akhirnya dia berkata betapa mudahnya dia melakukan perzinaan.

Sementara itu, dia mulai mengalami gangguan syaraf, karena tidak mempunyai seorang pun tempat mengadu. Dan itulah yang menyebabkan kematiannya. Dia tidak mati karena virus itu. Saya memahami ketakutan istrinya. Lepaskan dia. Atau biarkan dia menikahi wanita lain –seseorang yang akan mengurus kebutuhannya. Itu tidak bisa diabaikan. Kebutuhan itu tidak hilang begitu saja hanya karena Anda terjangkiti virus itu. Kini, komunikasi dan uluran tangan justru merupakan sesuatu yang sangat membantu. Keadaan tidak lagi sama.

Saya ingat suatu ketika saya sedang duduk di kereta api dan ada seorang wanita tua duduk di samping saya. Dia tertidur, dan bersandar pada saya. Saya pikir betapa indahnya hal itu. Saya mendapat kehangatan darinya. Saya begitu menikmati kehadirannya dengan perasaan yang tidak pernah saya sadari sebelumnya.

Ini membuat saya mengerti apa yang dibicarakan pria itu.

Tetapi juga memahami apa yang dibicarakan istrinya.

Saya menikah lagi untuk waktu yang sangat singkat, empat bulan, dengan seorang pria yang telah saya kenal selama lima belas tahun. Dia tahu saya mengidap virus itu; selama empat tahun dia meminta saya untuk menikah dengannya, dan saya menolak karena dia tidak terkena virus itu.

Akhirnya saya mengatakan ya, tetapi saya merasa tidak nyaman selama perkawinan itu. Tentu saja kami menggunakan alat pelindung. Tetapi saya selalu khawatir kalau-kalau alat itu robek. Pikiran saya selalu penuh kecurigaan. Saya ingin mencium. Tapi saya tidak akan menciumnya. Karena saya selalu merasa khawatir. Saya tidak pernah mendapatkan perasaan apa-apa dari hubungan intim kami karena saya tidak bisa santai. Saya tidak ingin bertanggung jawab karena menyakiti seseorang dengan cara seperti itu. Maka saya memutuskan orang yang terkena virus harus bersama dengan orang yang juga terjangkiti virus itu. Saya tidak dapat menghadapi hal itu lagi. Seseorang yang mengidap virus itu lebih membutuhkan saya daripada yang tidak.

Perjuangan yang sebenarnya bukan mengenai virus AIDS. Tetapi mengenali fakta bahwa Allahlah yang berkuasa. Persoalannya begitu sederhana. Manusialah yang mempersulit semuanya. Manusia ingin mendapatkan apa yang diinginkannya ketika dia menghendakinya. Kenyataan tidaklah seperti itu.

Saya tahu kepada siapa saya harus pergi. Saya mengucapkan syahadat. Saya memasuki perjanjian dengan Allah. Saya merasa seperti menemukan sebelanga emas di ujung pelangi. Rasanya saya dapat merasakan segala sesuatu. AIDS membuat saya mengerti siapa Allah.

Bagaimana saya memandang AIDS saat ini? Saya memandangnya seolah-olah Allah memberi kita kesempatan hebat untuk menggalang aksi spiritual kami bersama-sama. Tetapi saya tidak dapat berdiri dengan tombak dan perisai saya dan muncul dari pusat Amazon sambil berkata, “Sekarang lihatlah! Kalian semua harus bangkit dan melakukan hal ini!” Saya harus mengatakannya dengan kalimat yang lebih halus, “Lindungi kami. Dukunglah kami ketika kami melintasi dinding-dinding bata ini. Banyak pekerjaan yang harus kami lakukan, walaupun tugas itu tidak menyenangkan. Kami harus melindungi kepentingan kami di sini.”

Anak-anak saya sangat cantik. Semua anak saya mengetahui saya mengidap virus itu, kecuali yang paling kecil. Umurnya delapan tahun. Sekarang saya masih membiarkannya bermain dengan boneka Barbienya. Mengapa saya harus membuatnya takut?

Anak saya yang paling besar tampaknya begitu penasaran dengan dunia luar. Dia sedikit nakal. Saya melihat dia mulai aktif secara seksual, lalu saya berkata kepadanya, “Saya mendapat AIDS dan saya telah menikah. Kamu harus sangat hati-hati, kamu juga tidak terlepas dari kemungkinan itu, mengerti?”

Saya memeriksakan mereka. Mereka mengira kami pergi untuk kunjungan rutin kepada dokter anak-anak. Segalanya berjalan dengan baik. Tak satu pun dari anak-anak itu HIV-positif. Saya sangat bersyukur bahwa anak-anak saya tidak terjangkiti virus itu, saya tidak berhenti memekikkan Allahu Akbar!

Catatan kaki:

2 Edisi Juni-Juli 1993 dipersembahkan untuk Abdul Malik Abdur-Rahim, Aishaa Salaam, Taiba Lythcott, Yusef Muhammad M. Rahman, Shareef Muhammad, Sheikh Jamal, Karima Abdul Wahhab, Sabir Tawwab, Abdul Gardinier, Shahida Uqdah, Katrina Haslip, dan Dawud Rivera.

3 jubah tangan panjang.


Jihad Gaya Amerika, Islam Setelah Malcolm X oleh Steven Barbosa
Judul Asli: American Jihad, Islam After Malcolm X
Terbitan Bantam Doubleday, Dell Publishing Group, Inc., New York 1993
Penterjemah: Sudirman Teba dan Fettiyah Basri
Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124
Cetakan 1, Jumada Al-Tsaniyah 1416/Oktober 1995
Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038