Dalam paradigma sekuler, sejarah kepahlawanan tidak ditulis melainkan berdasarkan anggapan kehidupan bak siklus yang mengalir tanpa mula dan tanpa akhir. Mirip dengan pemikiran ekonomi dari mazhab Newtonian yang meyakini ketika Tuhan hanya bak sebagai reparasi jam tangan maka begitu jam tangan sudah selesai diperbaiki, selesai juga urusan tuhan dalam mengatur kehidupan. Berbada dengan cara Islam memandang sejarah peradaban ummat manusia. Pernah ada dua kelompok orang yang sangat ekstrim menyikapi takdir. Ada qadariyah yang hanya percaya manusia memiliki kuasa penuh menentukan arah hidupnya. Dan ada kalangan jabariyah yang menolak anggapan manusia punya pilihan dalam menentukan tujuan dan arah hidupnya selain itu semua dalam wilayah otoriter nya Tuhan. Nah, kalangan ahlus sunnah berpegang di tengah-tengah kelompok ini.

Manusia sebagai khalifah fil ardhi di amanahi wewenang yang tak pernah diberikan kepada makhluk lain untuk menghidupi dan memberikan semangat kesejahteraan ummat manusia dan seluruh alam tetapi dalam koridor ketentuan yang telah digariskan olehNya melalui wahyu yang diturunkan olehNya. Agar manusia tidak mengalami kebingungan arah dalam menjalani hidup, Ia turunkan WahyuNya yang dibawa oleh seorang utusannya tiap zaman untuk menjelaskan dan mengenalkan siapa yang telah menciptakan manusia dan untuk apa manusia hidup di muka bumi. Sehingga sangat tidak beralasan, ketika kaum kafir memberikan argumentasi “jikalah bapak-bapak kami beriman, tentu kami juga akan beriman kepada Allah dan rasulNya” karena di setiap zaman, sudah ada nabi dan rasul yang sentiasa diturunkan. Hingga pamungkasnya Allah menurunkan Nabi Muhammad SAW dengan wahyuNya yang terakhir. Mengakhiri perdebatan antara perjanjian lama dan perjanjian baru yang sarat dengan komplikasi masalah, maka saya teringat apa yang pernah Almarhum Ustadz Ahmad Hossen Deddat sebutkan sebagai “perjanjian terakhir”

Kalau landasanya bukan sebagai khalifah fil ardhi, apa yang melatarbelakangi perjuangan fi sabilillah rakyat Aceh dengan teriakan dan slogan yang membahana di dada mujahidin Aceh, Udeep Saree atau Mati Syahid. Tanyakanlah arti khalifah fil ardhi pada kilatan rencong Teungku Umar, tanyakanlah maknanya pada seruah ghirah Jihad Teungku Cik Di Tiro dan menyelami jutaan misinya pada kesetiaan Cut Nyak Din. Memang benar deislmisasi telah lama berjalan di republic ini. Ia mengakar dan seolah telah dibangun di atas darah syuhada pada penyerbuan sekutu dengan bom-bomnya di lapangan Tegal Leg. Pada penyerbuan sekutu di Surabaya dan pelbagai tempat lainnya di Indonesia. Even kisah romantik perlawanan Pangeran Diponegoro pun diprovokasi melakukan perlawanan terhadap colonial hanya karena keraton mematok-matok areal pemakaman leluhur Pangeran Diponegoro.

Itu dalam skala nasional, di skala internasional, juga hampir persis sejarah kepahlawanan ditulis dari sudut pandang pandangan hidup barat yang sarat deterministik sekuler dan Newtonian. Karena mereka mempunya misi besar untuk bisa membaca pikiran orang-orang timur, maka selama berabad-abad ekspedisi,observasi,dan penelitian berskaal masiive dikerahkan untuk menelaah alam pikiran orang Timur. Salah satunya peradaban yang tak bisa membuat Barat aman dari gangguan yang mampu mengurangi rasa percaya diri Peradaban Barat sebagai kekaisaran tunggal dunia sekalipun, Huntington, Lewis, dan Fukuyama, optimis dan yakin bahwa sejarah telah usai dan pemilik kemenangan sejarah itu adalah kampiun demokrasi liberal yang dikomandoi oleh Amerika Serikat. Itulah Islam, oleh seorang orientalis pula, Prof H.A.R Gibbon, “Islam is indeed much more than a system of Theoology, it’ is a complete civilization. Malahan Ahmad Y Hassan menulis ulang a complete Civilazation itu dalam sebuah buku yang ditulis dengan Donald Hill “Islamic Technology; An Ilustrated History” yang memuat senarai lengkap peradaban ummat Islam mulai dari prabrik kertas, gula,gelas, pembangkit tenaga listrik,irigasi dll.

Dan dengan penulisan sejarah seperti itu, Dunia mengakui mereka yang “berjasa” merobohkan bangunan peradaban umat Islam selama berabad-abad sebagai pahlawan. Mengakui,mereka yang “berjasa” melakukan pembantaian terhadap muassis dan muharik da’wah sebagai pahlawan. Maka sepertinya, mengabadilah tangan besi Mustafa Kemal Pasha Attaturk, seolah berkekalnlah tangan berlumuran darah Gamal Abdul Nasher di buku-buku sejarah SMP dan SMA dan di Indonesia pentolan rezim yang sangar pada da’wah Islam di era orde baru dan pengasong ajaran buta serta doktrin pluralism berencana dinotabkan sebagai pahlawan nasional.

Soal Mustafa Kemal Pasha Attaturk, Dhabit Tarqi Sabiq pernah menulis sebuah buku yang sangat menggemparkan seantero Turki. Seperti tengan melawan arus “mainstream” yang ada dan dipujasecara fanatic seperti ideology kemalismenya itu. Bukunya secara orisinalitas ditulis oleh Dhabit Tarqi Sabiq berjudul “Ar Rajul Ash Shanam, Kamal Attaturk” secara eklusive membongkar tabir pemujaan terhadap sosok y6ang telah menjatuhkan bangsa Turki lebih rendah dari Uni Eropa even menyamai keagungan Kehalifahan Usmani pun tidak bisa apple to apple. “Ar Rajul Ash Shanam, Kamal Attaturk” seperti menyingkap biografi kejahiliyahan sosok yang dipuja oleh Barat sebagai bapak pembangunan Turki dan dengan lengkap memaparkan karakter “manusia modern” yang barbaer. Bqgaimana Mustafa Kemal dinekal oleh orang-orang seputar pemerintahan dan istana bahkan istrinya sebagai seorang pemabuk,dotyan main wanita,pengkhianat negara, pemuja budaya barat mulai dari topi cowboy lovers hingga memaksa orang-orang istana mencarika kuda jam duia malam. Moralitas dan substansi kepahlawanan apa yang bisa diambil pelajaran ??. even Istana,kediamannnya Mustafa Kemal di Janqaya mencatat kebobrokan moral Mustafa Kemal Pasha sebagai seorang Homoseks !! Istrinya, Latifah Hanim pun bersaksi akan penyakit sefilis yang diidap oleh Mustafa Kemal Pasha. Belum tradisi hura-hura hingga menenggak alcohol dan main wanita di saat perang berkecamuk sudah biasa disaksikan oleh teman-temannya.

Dan sekarang di Indonesia di awal tahun 2010, para pengasong pluralism memiliki dua muka dalam mengusung salah seorang tokoh pluralisme sebagai pahlawan nasional. Kepada khlayak umum, pluralisme diidentikkan sebagai heterogenitas kebudayaan dan agam dalam satu wadah bahkan seorang pengrajin patung di Indonesia ada yang merasa perlu untuk membutkan patungnya mirip dengan patung yang dipuja di salah satu agama di Indonesia. Kepada kalangan ummat islam, malah pluralisme lebih similar dengan teologi pluralismenya John Hick. Itulah kenapa para pengasong pluralisme belum berani secara tegas mendefiniskan pluralism itu sendiri pada semua kalangan dan karuan saja, hal-hal dualism seperti ini, membuat kader rohis yang sudah bertahun-tahun mentoring mulai dari ma’rifatulah hingga Qadhaya Al Asasiyah al ummah salah tingkah dan latah ikut mengidolakan sang pengasong pluraslime sebagai pahlawan nasional. Yang lagi-lagi, dia tas dasar heterogenitas budaya lalu tiba-tiba dipasang ke setting sirah Kanjeng Muhammad Rasulullah di Madinah !

Dan bukanlah tarbiyah mengarahkan untuk menjadi pembela Al Haqq meski tidak identik dengan gelarang pahlawan nasional seperti yang pernah digaungkan oleh Muhammad Natsir “Kaum Muslimin ! Mari Kita Bela Islam ! Kebenaran pasti Menang !! “

Jakarta

26 Rabi-ul Awwal 1431 H