Membaca ulasan majalah Tarbawi edisi 228 th II ini membuat tangan tak sanggup menahan untuk memberikan tanggapan penting mengenai kelangkaan ilmuwan yang berintegritas dan kesetiaan pada kebangsaan. Mengenai rapuhnya tradisi keilmuan even di kalangan yang mengklaim sebagai akademisi. Karena ternyata, antara kelimuan dengan derajat ketakutan pada Allah SWT tidak selamanya berbanding lurus. Itulah kenapa Kanjeng Rasulullah SAW pernah mengatakan “Barangsiapa tambah ilmunya tapi tidak tambah petunjuknya maka hanya akan bertambah jauh dari Allah “ demi gelar profesi dan pujian sesama akademisi tak sungkan-sungkan menghalalkan segala cara dan itulah yang pernah terjadi di salah satu intitut tekonologi yang famous di Indonesia.
Ulasan Tarbawi tentang masa depan mereka yang sudah merasa puas dengan title kesarjaannya dan pengetahuan sementara, mengingatkan saya pada ulasan tarbawi sebelumnya tentang nasib mereka yang diombang-ambing oleh melimpahnya informasi. Karena ternyata dua ulasan ini sangat berkaitan erat. Kalau yang satu pengetahuan yang bersandar pada tradisi keilmuan yang rapuh akan menenggelamkan di samudra kebodohan berkedok “ilmiah” maka yang kedua implikasi sampingan pada ketidakmampuan bersikap sewajarnya di depan serbuan raksasa informasi yang bernama media.
Ada yang mengatakan kalau para ulama dulu kalau pun berdebat antara satu dan lainnya tidak sampai membubarkan tali ukhuwwah dan kasih sayang sesama mereka. Disebabkan seperti yang pernah dikatakan Musthafa Shadiq Ar Rafi’I “Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang yang semakin kecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya. “ Maka begitu pula kaidah agung para ulama “ Pendapat Kami Benar tetapi kemungkinan salah,pendapat mereka salah tetapi kemungkinan benar “ jauh sekali dari anggapan pada pembenaran doktrin pluralisme. Doktrin usang yang lahir dari peradaban tak akrab dengan nalar agamanya. Atau tanya saja pada Imam Abu Hanifah yang menyatakan “ Ini adalah pendapat terbaik yang kami temukan. Dan bila ada orang lain yang bisa menemukan yang lebih baik lagi, maka ikutilah ia “ Perselisihan akhirnya terjadi di kalangan grass root yang tidak siap meneladani sang Imam. Antara Guru dengan murid boleh jadi ada hubungan emosional dan intelektual, tapi seorang ulama juga mengingatkan agar tidak terpukau menjadi seorang guru karena dekatnya hubungan dengan sang guru.
Teladan para salafus shalih dalam membangun tradisi keilmuan sudah demikian banyaknya menghiasi buku motivasi membaca. Bila dirasa utopia mari kita ganti sesaat saja kaca mata kita untuk mereka yang bergelimang skandal dan kontroversinya. Menteri Keuangan Republik Ini, Ibu Sri Mulyani, menurut sejumlah orang yang mengenal beliau secara dekat, menuturkan kalau Menteri keuangan RI yang dilamar oleh Bank Dunia sebagai Managing Director ini selalu menyempatkan diri untuk membaca buku bahkan di dalam mobil sekalipun saat menuju kantornya. Alan Greenspan, Fundamentalist Pasar yang juga mantan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat, dalam beberapa fotonya di otobiographinya juga selalu terlihat mengasingkan diri sejenak untuk meluangkan waktu membaca buku.
Walaupun membaca buku bukan satu-satunya standar keilmuan yang harus diperhatikan. Tetapi din kita benar-benar memberikan perhatian besar pada rekonstruksi tradisi kelimuan mulai dari membanjirnya ayat-ayat Allah untuk memperhatikan apa yang ada di langit dan di bumi hingga melupanya teladan para sahabat yang tergerak dari lisan manusia agung, Muhammad Rasulullah, “man Yuridullah khairan yufaqqihu fi diin “ atau seperti “ jika seseorang melakukan perjalanan dalam rangka mencari ilmu, Allah akan membutanya berjalan di salah satu jalan menuju surga “ nah, keunikan tradisi keilmuan tidak saja mengangkat pencarinya beberapa derajat. Yang terpenting mencegah kejahilan di kalangan berilmu, sejarah membuktikan, Jahil tidak identik dengan terbelakang dan primitive. Mereka yang menolak risalah Nabi SAW adalah orang-orang famous di masanya. Tetapi jahil karena ketidaktahuan dirinya dimana kebodohannya.
Kembali pada tulisan awal ini. Sajian tarbawi tentang nasib mereka yang dibuat terlanjur puas dengan apa yang sudah diketahuinya akan dibuat mandeg dan statis ketika berhadapan serbuan informasi dari dunia yang semakin global. Tidak ada tempat bagi dirinya memisahkan mana yang layak disebut informasi, mana yang layak lebih tepat disingkirkan sebagai sampah. Dari mana asal berita datang dan bagaimana akar masalah yang bercampur siapa yang didakwa dan sebagai tersangka. Dengan keadaan seperti ini, akhirnya “pengetahuan” itu baru diduga hanya sebatas knowledge bukan sains. ‘pengetahuan “ itu baru terdeteksi sebatas dibaca bukan dikaji secara mendalam. Walhasil media massa menjadi satu-satunya kekuatan “pengetahuan” tunggal para pembacanya yang bersandiwara di balik slogan objektif dan akurat.
Saya berbicara dalam essay ini dalam level mikro. Karena persoalan makro di republik ini baru akan selesai dari cara kita mengubah kebiasaan kita sendiri menyelesaikan masalah pribadi. Saat Century mencuat sejak tahun 2008 semua orang, tidak hanya mereka yang punya latar balakang ilmu ekonomi dan perbankan merasa berhak untuk ikut menentukan kebijakan hingga menjadi kebiasaan yang ektrim. Saat kasus mafia pajak menganga, semua orang serta merta mengancam untuk memboikot pajak, tanpa dipikirkan efek ganda pada level makro ekonomi kala tak seorang pun warga negara membayar pajak. Dan lagi kala kasus Muhammad Misbakhun, public yang baru belajar antara L/C fikitif dengan gagal bayar yang itu pun dari pemberitaan gencar media massa merasa sudah didustai oleh sebuah partai yang megusung citra bersih dan peduli. Padahal L/C terrsebut mengalami gagal bayar sebelum Misbakhun maju sebagai Caleg DPR RI dan Bank Century memang pertama kali sebagai pihak yang mengapproval permohonan pembiyaan L/C. ditambah kenyataan masalah sebenarnya bukan pada L/C tetapi deposito yang seharusnya menjadi collateral penerbitan L/C. dan kini bagaimana seorang Susno Duadji dulu dimaki-maki sebagai buaya kini public harus berada di tikungan yang mematikan tentang kebingungan siapa yang menjadi buaya yang sebenarnya.
Akhirnya Tradisi keilmuan kita yang rapuh bersiap diwariskan pada anak-cucu generasi setelahnya sebagai tumpukan persoalan bangsa yang tidak menemukan resep kesembuhannya selai sebagai sejarah akan tidak beresnya gaya hidup nenek moyangnya dahulu.