Idea ini datang dari kalangan Hizbut Tahrir dengan sosok utamanya di dunia Ekonomi Indonesia. Seperti Hidayatullah Mutaqin yang populis dengan jurnal ekonomi ideologisnya banyak memberikan kritik-kritik tajam terhadap pembangunan perekonomian Indonesia yang dewasa ini telah banyak berkiblat pada gaya neoliberal dan kapitalisme yang sangat terasa di pelbagai kebijakan Ekonomi Indonesia. Hidayatullah Muttaqin bersama beberapa penulis lainnya yang tergabung menjadi contributor tetap JurnalIdeologis menjelaskan dalam pelbagai kolom analisa di jurnal ekonomi Ideoologisnya hanya ketika Ekonomi islam berdiri bersama dengan berdirinya system Islam yang mengejawantah dalam Khilafah Islamiyah akan sanggup secara optimal memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi dunia.

Sebaliknya, beliau mengkritisi perkembangan Ekonomi Syariah saat ini hanya terpatok pada bentuk-bentuk Lembaga Keuangan Syariah hingga akhirnya harus terdistorsi sama dengan Ekonomi Syariah itu sendiri. Begitu juga yan diangkat oleh akademisi Hizbut tahrir lain sepetti Ismail Yusanto dalam bukunya “Pengantar Ekonomi Islam “ dan Muhammad Karebet Widjayakusuma dalam talkshow pelajar mengenai Ekonomi Syariah di Universitas Pancasila yang diselenggarakan oleh FoSSEI Regional jadebotabek, Ekonomi Islam dikhawatrkan menjadi gaya berekonominya kapitalisme baru yang lebih bersimbol Islam ketika Ekonomi Islam tak berdiri di atas Sistem Islam yang sebenarnya. Atau paradigmanya masih terpenjara cara pandang barat hingga menghasilkan kebijakan-kebijakan perbankan yang cenderungt pragmatis.

Tradisi Ilmu Dari Syaikh Taqiyuddin An Nabhani

Syaikh Taqiyuddin AnNabhani adalah seorang ulama berbobot yang lahir di kawasan Ijzim Palestina dan tumbuh di tengah-tengah keluarga shalih. Kakeknya, Syaikh Yusuf An Nabhani, adalah seorang pensyarah kitab Riyadhus Shalihin dan seorang hakim terkemuka yang banyak memberikan pengaruh pemahaman politik yang kuat pada diri ulama bernama lengkap Syaikh Muhammad Taqiyuddin ibn Ibrahim Ibn Yusuf Ibn Yusuf An Nabhani ini. Syaikh Taqiyuddin An Nabhani sedari remaja telah memiliki potensi keulamaan yang sangat luar biasa dan terbukti hafal qur’an di usianya yang amat belia,13 tahun. Melihat potensi yang luar biasa tersebut, Kakeknya, Syaikh Yusuf  An Nabhani mengirimkan beliau untuk belajar di Universitas Al Azhar untuk melanjutkan pendidikannya di bidang Syariah.

Selepas melanjutkan studi di tsanawiyah Al Azhar, beliau mengambil Darul Ulum yang juga Hasan Al Banna pernah menimba ilmu disini, dan tuntas pada tahun 1932. Selesai menamatkan kuliah, beliau kembali ke Palestina, tanah kelahirannya, dan bekerja untuk kementrian Pendidikan Palestina sebagai tenaga pengajar. Hingga akhirnya setelah beliau melihat intervensi asing yang demikian kuat di dunia Pendidikan , beliau memutar haluan ke Mahkamah Syariah dan berjumpa teman-teman semasa kuliah dulu di Al Azhar yang juga bekerja di sana. Berkat mereka, An Nabhani diangkat menjadi sekretaris di mahkamah syariah Beisan hingga dipindah ke Thabriyya. Di tahun 1940 beliau dingkat menjadi asisten qadhi hingga 1945 , dan selepas itu beliau diangkat menjadi qadhi juga di Ramalllah hingga Zionis Yahudi merampas Ramallah dan menyebabkan beliau hijrah ke Syam.

Sahabatnya, meminta beliau kembali ke Al Quds untuk bekerja kembali di Mahkamah Syariah Al Quds dan Syaikh An Nabhani pun menyanggupinya di tahun 1948.  Syaikh Taqiyuddin An Nabhani mendatangi kota Amman dan menyampaikan risalah Islam di sana dalam bentuk ceramah-ceramah kepada para pelajar kulliyah Ilmiyyah Islamiyah . Beliau mulai merintis pergerakan Hizbut Tahrir pada tahun 1949 di tengah-tengah kesibukannya sebagai Qadhi atau hakim agama di Palestina. Sedangkan ketika beliau masih bekerja di Kementrian Pendidikan Palestina, beliau menanamkan kepada para murid-muridnya kesadaran dan ghirah berislam dan menyadarkan akan ancaman imperialism Barat yang melalui tangan zionis Yahudinya telah mencaplok Ramallah dan dunia Islam keseluruhan.

Pemikiran-pemikiran Syaikh Taqiyuddin An Nabhani baik tentang tsaqafah Islamiyah banyak tertuang di kitab-kitabnya dari mulai membersihkan keimanan seperti dalam kitab Nizhamul Islam hingga bangunan Ekonomi Islam, seperti dalam kitabnya “An Nizhamul Iqtishodi fil Islam “ dan penerusnya, Abdul Qadim Zallum menuliskan buku “ Al Amwal Fi Daulah Islamiah “ yang telah dicetak dan diterbitkan oleh Hizbut Tahrir. Di Indonesia, pemikiran Syaikh Taqiyuddin An Nabhani mulai dieksplore dan dikaji secara serius di permulaan fikrah Hizbut Tahrir itu sendiri masuk ke ranah dakwah kampus terutama di Masjid Al Ghifari, Baranangsiang, Bogor. Fikrah Syaikh An Nabhani sebagaimana pembaharu Islam yang lain semisal Hasan Al Banna hingga Badiuzzaman Said Nursi mengemukakan pandangan Islam sebagai din yang syummul dan wudhuh dan mencakup pelbagai aspek kehidupan manusia. Tak terkecuali Ekonomi yang menyangkut hajat hidup orang banyak, mendapatkan perhatian luas dari Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam An Nizham Al Iqtishodi nya dengan menungkap kebobrokan kapitalisme dan sosialisme secara terbuka dan tajam. Di bab yang lain dalam bukunya itu, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani juga menyorot tentang mata uang yang sah dalam Islam dan sejalan dengan pandangan Ulama Salaf seperti Al Maqrizy, dalam Ighatsul Ummah Li Kasyful Ghummah, bahwa mata uang yang sah dalam pandangan Islam atauy transaksi muamalah hanyalah mata uang emas dan perak ( Hasan :2008) demikian pula dengan Syaikh Taqiyuddin An Nabhani mengkritisi penggunaan mata uang fiat (kertas) hanyalah konspirasi dari consensus Washington melalui IMF nya untuk memperbudak Negara-negara dunia ketiga (An Nabhani :2009 )

Di luar dugaaan, ketika kami menelusuri karya-karya Syaikh Taqiyuddin An Nabhani spesialnya dalam bukunya yang ditulis khusus mengenai Ekonomi Islam  dan kaitanya dengan politik Ekonomi Islam, An Nabhani memandang bahwa politik ekonomi Islam bukan hanya bertujuan meningkatkan taraf kehidupan dalam sebuah negara semata, tanpa memperehatikan terjamin/tidaknya setiap orang untuk menikmati kehidupan. Namun, menurut An  Nabhani, politik ekonomi islam semata-mata merupakan pemecahan masalah utama yang dihadapi setiap orang, sebagai manusia yang hidup sesuai dengan interkasi-interaksinya serta memungkinkan dirinya meningkatkan taraf hidupnya dan mengupayakan kemakmuran dirinya dalam gaya hidup tertentu (An Nabhani : 2009 )

Dalam perihal sukuk, An Nabhani membahas dengan panjang lebar dalam kitab An Nizham Al iqtishodnya tersebut. An Nabhani memaparkan sejara panjang dan jelas bagaimana hakikat dan perbandingan obligasi dan sukuk dalam perspektif syariah.Lebih jauh ia tekankan bahwa jika sekuritasnya mengandung alat pembayaran berupa harta yang halal, seperti uang kertas yang mempunyai penjamin berupa emas dan perak, ataupun yang lain, yang setara dengan nilainya, maka memperjualbelikannya halal. Apabila sekuritas mengandung alat pembayaran berupa harta yang haram, seperti sekuritas utang yang dibungakan, saham-saham bank ataupun sejenisnya maka memperjualbelikannya haram, sebab ketidak jelasan status aset yang dijadikan jaminan ( An Nabhani :2009 ).  Walaupun Taqiyuddin An Nabhani termasuk dari ulama kontemporer namun beliau tetap mengambil prinsip kehati-hatian atas usaha kaum muslimin yang di era nya banyak melakukan trading saham dan menginvestasikan kelebihan harta mereka ke lembaga-lembaga keuangan saat ini yang notabene masih didominasi dengan lembaga keuangan konvensional maka beliau menjatuhkan hukum keharamannya atas perseroan saham.