Dulu, Ustadz Rahmat Abdullah allaharyam, pernah memberikan taujihnya mengenai tarbiyah dzatiyah. Yang menarik kata beliau, tarbiyah dzatiyah bertopang atas dua hal. Yang pertama al ihdharu niah atau menghadirkan niat dan yang kedua, Al Ikhlas. Ada orang bekerja seperti hanya menggenapi rutinitas jamak kehidupan. Ada lagi yang hanya bekerja seperti tanpa nyawa. Banting tulang dari pagi hingga petang tanpa pernah menyadari ada hak-hak dan kewajiban yang harus ditunaikan pada Rabbnya dan keluarganya. Tetapi dengan ihdharu niah atau menghadirkan niat membuat bekerja untuk hidup yang lebih hidup. Inilah yang memotivasi bahwa pekerjaan itu hanya untuk Allah SWT. Dan Al Ihdharu niah, menurut Ustadz Rahmat Abdullah, tidak otomatis tidak mempunyai uang untuk menggapai mimpi dan cita-citanya.
Al kisah, cerita beliau, ada seorang marbot yang demikian tekun mengabdi atau berkhidmah. Lalu suatu ketika datanglah salah seorang jamaah yang datang dari jauh dengan segala kelebihan assetnya shalat di masjid itu. Hampir tiap pecan, salah seorang jamaah ini bekerja di dekatr lingkungan masjid tersebut dan shalat disana. Tampaklah tertegun melihat sang bapak marbot ini dengan segala ketekunan dan kerajinannya berkhidmah. In one day, salah seorang jamaah ini menghampiri beliau dan berbincang-bincanguntuk mengenal lebih jauh. Hingga sampai salah seorang jamaah ini bertanya “ kalau bapak pengen gak naek haji ?? “ sang marbot jelas kebingungan ditodong pertanyaan seperti ini “dari mana uangnyah ?? “, tapi bapak ini kembali bertanya “saya Tanya,bapak siap gak taun ini naik haji ?” , sang marbot pun menjawab sekenanya “ya, saya mah dari dulu juga selalu siap untuk naik haji pak “ , akhirnya yang tak terduga itu muncul juga “ kalau begitu , bapak ikut bersama saya naik haji, saya yang bayar semuanya “ , ajak salahs eorang jamaah masjid tersebut dengan penuh meyakinkan. Nah itulah salah satru coretan kecil yangs ederhana bahwa ihdharu niah tidak equivalent dengan harus mencapai cita-cita dari memiliki tapi cita-cita tercapai dari seribu satu tekad. Man Jadda wa jada
Cerita yang hampir sama makna dari al ihdharu niah, pernah saya dapatkan dari cerita salah  seorang peneliti di dpbs BI. Masa studinya di IIUM hampir putus di tengah jalan atau masa kelulusannya terancam. Tapi jalan terangnya ketika dosennya semasa beliau kuliah di Malaysia datang ke Indonesia sebagai pembicara dalam seminar yang diadakan oleh BI tentang sukuk. Kala mengantar dosennya kembali ke bandara, beliau baru cerita tentang masalah ijazahnya yang masih terkatung-katung sampai kemudian dosennya menjajikan agar ijazah beliau cepat selesai dan bisa diambil. Tak berapa lama, tremannya datang berlibur ke Indonesia sekaligus membawakan ijazah kelulusan beliau yang sangat lama tertunda di Malaysia !! Allah akbar!! Itu baru masalah niat, bagaimana dalam hadith-hadith arbain nawawiyah, yang pertama kali dijabarkan oleh Imam Nawawi adalah masalah tentang niat dan keikhlasan . tanpa niat, pekerjaan ibarat beban roda berat yang harus terus bergulir dan berputar tanpa pernah tahu mau kemana jalan sang pedati.


Fiqh profesi
Beberapa hari yang lalu selepas ujian akuntansi keuangan lanjutan, saya singgah di kantin untuk makan mengisi perut yang dari pagi sebelum masuk ruangan ujian, saya belum makan sama sekali atau pun hanya mengganjal perut dengan makanan ringan. Di kantin saya bertemu dengan anak-anak EI yang nampaknya juga baru keluar ujian. Sambuil menanti nasi goreng yang saya pesan, saya bebrincang-bincang dengan kalangan candidate of economist ini salah satunya tentang Fiqh Profesi dan masa depan poresi kita masing-masing setelah kita lulus. Tapi yang saya catat dari obrolan bersama mereka, rupanya amsih ada persepsi negative dan sempit tentang profesi akuntan. Bagi kalangan candidate of economist ini , prosesi di dunia akuntansi merupakan profesi yang menjenuhkan dan beside on the desk.  tapi dunia yang semakin borderless dan system informasi akuntansi yang semakin menuju paperless juga membuat cara pandang terhadap akuntansi juga seluas boloa mata memandang dan bashirah menelusur. Ada yang dilupakan dari hakikat dan tujuan akuntansi even yang konvesnional sekalipun “ memberikan infomrasi yang berguna bagi users internal dan ekternal untuk keputusan bisnis dalam pehitungan ekonomis “ nah profesi akuntansi seharusnya tidak diidentikan dengan siapa yang menyediakan informasi tapi justru pengguna itu sendiri dalam peran pengambil keputusan dengan menimbang nmaslahah dan dampak komprehensif kepada semua kalangan yang berhubungan dengan entitas bisnis.
Tetapi dalam fundamental ekonomi Islam, perusahaan bertanggung jawab pada tiga aspek. Kepada Allah SWT, kepada umat Islam, dan kepada masyarakat. Idealita seperti ini tidak dimiliki oleh ekonomi konvensional, pertyanggung jawaban hanya pada pemilik modal, pemegang saham biasa dan preferen dan jkepada pemerintah yang mengelurkan berlapis-lapis regulasi agar kondisi ekonomi tetap “going concern “ .
Hal lain yang Nampak pada obrolan kami, adalah soal  persepsi utilitas pekerjaan. Ada anggapn selepas kita lulus kuliah, sebaik-baiknya pekerjaan adalah yang membuat kita berkeringat lelah dan letih tapi menikmati juga remunerasinya yang tinggi. Ada lagi yang mengatakan sebaik-baik pekerjaan yang kita terima seimbang dan setaraf dengan kita dapatkan semasa kuliah dan seterusnya. Tapi yang jelas poin dilupakan dari diskusi-diskusi ini adalah tentang kedudukan dan keberadaan niat di sisi Allah SWT yang paling berat timbangannya. Padahal niat memberikan cara pandang lain dalam menyikapi masalah karena kita yakin yang kita korbankan semakin berpahala  di sisi Allah SWT karena tergantung niatnya.
Ada kalangan ekonom muslim yang selalu alergi dengan nilai-nilai ideal dengan anggapan susah dikuantitatifkan tapi di dunia akuntansi , postulat monetary unit juga sudah lama selalu dikritisi dan diperdebatkan. Ada banyak patokan ideal di dunia inmi terasa sangat layak untuk dimasukkan dalam neraca tapi dibenturkan dengan postulat monetary unit. Ditambah dengan keadaan  inflasi dalam makroekonomi juga bisa mengugat kemapanan stable monetary unit, maka angka-angka dalam pos asset dan kewajiban boleh jadi tidak memunhi karakteristik full disclosure dan mencerminkan kesehatan keuangan perusahaan saat itu
Ala Kulli hal, kalau dulu Rene Descartes pernah mengatakan “aku berpikir maka aku ada” maka bagi seorang muslim “aku bekerja dan mengamalkan ilmuku maka aku ada “!!
Jakarta