Tidak sedikit kalangan intelektual dan pemerhati alur politik nasional yang mempercayai kalau ada momen-momen tertentu yang sangat penting dalam sejarah Indonesia sebagai start startegis untuk menggalakan kembali serta merevitalisasi pergerakan mahasiswa. Sebab, kenyataan perjalanan bangsa-bangsa di dunia juga menunjukkan bahwa mahasiswa memang mengambil peranan besar dalam sebuah perubahan dengan idealisme nya yang menyala-nyala tapi juga perlu diketahui kalau mahasiswa adalah bagian yang tidak terlepaskan dari akumulasi kebobrokan moral dan semangat hedonism kampus.

Dulu orang percaya,kalau mahasiswa dilukiskan sebagai sosok heroik,benteng moral dan kekuatan potensial sebagai oposan Tiran yang berkuasa di tiap decade. Tapi kenyatannya itu juga bisa berbalik fatal. Hedonisme,budaya clubbing,diskotik,tawuran antar kampus bahkan antar warga, juga dipenuhi oleh mayoritas mahasiswa saat ini. Even seorang pengamat dari LIPI, pun menyayangkan kurangnya partisipasi pergerakan mahasiswa dalam mengontrol pemuilu dan pilpres tahun 2009 lalu dan lebih banyak focus pada dunianya sendiri: Studi Oriented

Bersyukur juga generasi mahasiswa dekade ini telah “dilimpahi” segudang persoalan mendasar tentang kebangsaan dan sangat fundamental yang mampu menjadi “soal latihan” untuk jiwa pergerakan mahasiswa memanaskan mesin intelektualnya. Seperti yang kita saksikan pada kasus kriminalisasi KPK,Skandal Century,terorisme dan bencana alam.
Sadar atau tidak sadar, sejatinya pergerakan mahasiswa sedang menghadapi perubahan kondisi global yang sangat cepat. Model politik sudah berubah. Serta di dunia ekonomi, isu-isu permberdayaan masyarakat kelas bawah agar bisa bertahan juga bisa menyelamatkan ketahan ekonomi domestik juga menjadi tren perubahan sosial pasca krisis ekonomi global. Maka, hal-hal seperti ini menuntut pergerakan mahasiswa lebih strategis dalam bergerak. Tidak turun ke jalan bukan berarti equivalent dengan mandul. Tidak berjibaku dengan aparat keamanan dan anarkis bukan berarti tidak memperlihatkan semangat militant.atau malah sejalan dengan kebijakan pemerintah bukan berarti tidak idealis.

Secara nyata, pergerakan mahasiswa bisa mengambil banyak cara menuju visi misinya dan kontribusi pada masyarakat serta untuk bangsa. Mulai dari membiasakan kajian strategis di kampus-kampus, melibatkan pihak yang selama ini dikaji sebagai bentuk dialog publik seperti dari DPR RI atau Perbankan sebagai pembicara,bekerja sama dengan LSM-LSM yang komitmen pada perubahan. Bekerja sama melalui silaturahim di awal dengan media massa lalu beralihlah pada penguasaan opini public dan ruang wacana masyarakat dengan memenuhinya oleh tulisan hasil pemikiran mahasiswa atau dalam bentuk dialog dan talkshow tentang aksi yang sedang berlangsung. Kalau masih merasa perlu untuk turun ke jalan, sampaikan dengan arif dan melibatkan pihak kepolisian untuk bersama menjaga ketertiban ditambah gandeng dukungan dari ormas yang sejalan dengan opini yang akan disampaikan.

Ala Kulli Hal, kaidah fiqh mengajarkan pada kita selaku mahasiswa, Al Ghayah La Tubarirrul Washilah. Tujuan pergerakan mahasiswa untuk menyempurnakan dan menuntaskan perubahan jangan sampai menghalalkan segala cara yang illegal. Apakah artinya memperjuangkan kebenaran dengan menista kebenaran itu sendiri ? lalu akah artinya membela kepentingan rakyat banyak kalau telah menodai kemanan dan kenyamanan masyarakat itu sendiri ? tampaknya perlu kita revaluasi perjlanan pergerakan ini. InshaAllah