Globalisasi Akuntansi Perhatian public dan kalangan politisi even akademisi di negeri ini pada current issues in Accounting World rupanya tidak segegap gempita perhatian public luas kepada persoalan Perbankan apalagi yang sudah menyangkut skandal perbankan. Apalagi sudah menyangkut Bail Out trilyunan rupiah. Semua seolah merasa berhak untuk angkat bicara. Semua merasa berhak menjadikan Isu Century sebagai “makanan wajib” yang dihidangkan di meja makan tiap sarapan sebelum sarapan sebenarnya. Akhirnya para pemimpin Negara ini tidak lagi punya ruang mengembangkan intuisinya menembus lorong gelap di seputar skandal perbankan. Mereka berbicara seolah tak ubahnya supir angkot ngobrol dengan kawan-kawannya. Intelektualitas dan tradisi keilmuan meluncur ke derajat yang paling drastis di kalangan pemimpin negara.

Padahal Dunia Akuntansi bagi yang rajin memperhatikan selalu seiring dan sejalan dengan pertumbuhan dan gejolak pasar yang istilahnya “booming “ dan “meltdown”. Dunia Akuntansi pada tahun 2002-2003 saat public dunia heboh memperhatikan serangan USA ke Iraq, malah public Amerika Sendiri dibuat kaget dengan robihnya sejumlah perusahaan seperti Enron,Adelphia,Xerox,WorldCom dll. Belum ditambah keterlibatan sebuah kantor akuntan publik terbesar di Amerika Serikat, Arthur Andersen, dalam opreasi manajemen laba dan off balance Sheet. Belakangan di tahun 2009, off balance sheet juga lah yang menyebabkan anak perusahaan DubaiWorld, Nakheel, kolaps dalam mengatur obligasinya untuk pembiayaan –pembiayan yang sebenarnya hanya mengedepankan prestisius semu. Lalu di tahun 2008, di Indonesia ada Sekuritas Sarijaya yang juga kolaps dan mengakibatkan direkturnya gantung diri dan uang nasabahnya hangus begitu saja akibat “digoreng” oleh pihak manajemen sekuritas sarijaya di pasar saham. Kemudian ada juga casenya Bernard Madoff, kasus penipuan berkedok investasi membawa korban yang tak kepalang tanggung dalam skim bodongnya dan total kerugian investor mencapai US$50 Milyar.

Gempa Akuntansi

Dan kini “gempa akuntansi” tahun 2011 nanti ditandai dengan proses adopsi dan konvergensi standar akuntansi keuangan dari FASB Oriented yang notabene American Business Environment ke IFRS yang lebih banyak diadopsi lebih dahulu ke Benua Eropa. Islamic Finance News pernah menyebutkan perbedaan karakter Amerika dan Eropa.Walaupun sama-sama lahir sebagai capalitalistic model tapi Eropa kenyataanya lebih konservatif dan prudent dibandingkan Amerika Serikat yang terlalu banyak menghabiskan anggaran belanja negara untuk membail out bank-bank swastanya yang kolaps kala robohnya Lehman Brothers dan retaknya gelembung financial perumahan tahun 2007-2008. Tahun 2010 pun menurut Bisnis Indonesia, Amerika Serikat kembalui menutup empat bank swastanya . Mungkin sudah terlalu letih dan lelah memberikan Bail Out yang berefek pada pencetakan dollar lagi untuk menambah persedian bail out. Secara makro, ketika uang lebih banyak beredar di pasar lebih banyak dari barang maka akan mengakibatkan inflasi, kalau terlalu sedikit akan penggangguran. Tapi ini adalah pilihan “better” bagi Amerika Serikat daripada harus chaos. Too Risk Too Fail, begitulah kaidahnya. Kaidah yang Alan Greenspan selalu taat menjalankannya semasa menjadi Gubernur The Fed

Nah, dalam rangka konvergensi ke IFRS itulah Dewan Standar Akuntansi keuangan Indonesia yang direpresentasikan oleh IAI menerbitkan dua PSAK baru. Yang pertama PSAK ETAP dan yang kedua PSAK Syariah sebagai revisi dari PSAK 59 tentang Perbankan Syariah. Current Issues Accounting lainnya yang tidak pernah mendapatkan perhatian dari public juga tentang Internal Control yang semakin diperketat dengan keluarnya UU Sarbananes Oxley. Pada intinya, Undang-Undang yang diterbitkan di Amerika Serikat ini melibatkan pengawasan super ganda atas entitas keuangan dan investasi di Amerika Serikat pasca robohnya Enron,Adelphia,Xerox,apalagi di Indonesia pasca case skandal Century.

Apa yang disebut sebagai Otoritas Jasa Keuangan adalah sebagai sebuah refleksi ketidakpercayaan public pada lembaga yang selama ini bertugas memelihara kestabilan moneter dan perbankan dari gonjang –ganjing atau BI. OJK juga mencerminkan perubahan sistem pengawasan perbankan dari segi eksternal. Logikanya, kalau dari segi eksternal sudah demikian ketat apalagi dengan segi internalnya. Otoritas Jasa keuangan sudah mendapatkan legalitas hukum dengan adanya (UU) Nomor 3 Tahun 2004 sebagai perubahan UU nomor 23 tentang Bank Indonesia. OJK juga menjadi bahasan hangat para pakar akuntansi,praktisi perbankan, anggota DPR, dan harusnya juga melibatkan ulama di DSN MUI.

Karena kalau tidak begitu pencegahan fraud dan antisipasi pembobolan perbankan di Indonesia tak menemukan nilai siginfikansinya. Adalah sebuah kenyataan juga pengawasan perbankan apalagi internal control masioh sangat lemah. Jangankan kode etik, sistem saja berani di otak-atik. Moral dan bashirah sudah hilang. Tuhan pun seolah dimanusiakan dan manusia dalam symbol kreditor dan investor yang dipertuhankan sedemikian rupa. Belum lagi teori EMH, pasar seolah merasa sangat sensitive terhadap situasi politik dan gejolak masyarakat yang ada. Padahal kalau direview ulang seberapa besar populasi pasar yang sebenarnya ?? mengapa merasa sangat berkepentingan terhadap situsi yang sedang terjadi seperti misal Pilpres ?? Akhirnya prinsip Demokrasi di ranah riil hanya menjadi retorika dan slogan kosong disebabkan sensitifitas pasar yang hanya segelintir.

Good Governance & Green Banking

Dalam wajah klasiknya, Akuntansi memang dipandang sebagai alat yang menyediakan informasi tentang posisi neraca,laba-rugi,arus kas, pada satu periode perusahaan yang memadai. Jadilah Akuntansi kehilangan nurani kemanusiannya. Seorang Akuntan hanya terpenjara pada focus tentang financial report dan terisolasi dari persoalan keimanan palagi. Dehumanisasi Akuntan Itu Sendiri. Eldon S Hendriksen dan van Breda menulis dalam bukunya, Accounting Theory, Chapter 4.

“ Positive Accountant have said relatively little about contract between management and the general public, and management and employees. Clearly, it would be possible to extend the theory to take into consideration question such as whether management is bound to provide some working condition for employees or whether management is bound to avoid polluting the asmosphere by it’s activities “

Tapi decade ini juga adalah eranya Corporate Social Responbility. Tema-teman yang kerap kali keluar seiring pemanasan global dalam dunia perbankan adalah tentang Banking Go Green Style . Atau mengenai Akuntansi SDM yang meminta labours tidak hanya diposisikan sebagai penambah beban dalam laporan keuangan tetapi juga sebagai asset perusahaan. Atau yang disebut juga sebagai Intellectual Capital Walaupun belum diatur dalam standar akuntansi oleh dewan standar akuntansi Indonesia tapi sudah mencerminkan niatan kuat untuk amsuk dalam rangkaian pola piker dan kerangka kerja akuntansi yang mengikuti Sunnatullah.

Menghargai Sang Maha Pencipta dengan istiqamah dalam batasan yang ditetapkanNya dan memandang derajat manusia bukan untuk diperbudak dan dihabiskan modal ciptanya sebagai mesin pemuas keinginan syahwat. Belum lagi ditambah dengan Socio Economi Accounting. Peran nyata perusahaan yang semoga bukan menjadi marketing gimmick, untuk taraf hidup yang lebih baik ditekankan disini. Berangkat dari keprihatinan social ekosistem yang terganggu karena ulah manajemen operasional perusahaan. Kita percaya dan yakin aka nada fase-fase socio economic accounting ini semakin mengkristal hingga sebagaimana tuntutan postulat akuntansi yaitu monetary unit. Kemudian ada apa yang disebut akuntansi pertambahan nilai, behavioral accounting, akuntansi upah pekerja dll hinga merasa perlu mengubah paradigm yang tadinya hanya hanya berkutat di bussines decision making ke multidiscipline paradigm In Order to Accountability Front Allah SWT Al Mighty. Inikah yang namanya Akuntansi Islam Substantif ??