Tahun 2009-2010, adalah tahun dan era yang berat dan melelahkan bagi semua orang. Bagi para pemegang modal yang menggenggam kongres dari Wallstreet.2009 adalah tahun sarat prahara dan deklinasi yang terus meluruh. Bagi para pengambil kebijakan di negeri ini, 2009 adalah tahun perubahan peta politik dan arus balik kepentingan berkelindan di balik permintaan pelaku pasar. Ditambah wajah memelas rakyat yang tak sanggup lagi bahkan untuk menegakkan punggungnya di tengah-tengah kemilau orang berdasi Indonesia membuang-buang duitnya mulai dari ujung Sentosa Island Singapore hingga Senayan City, Braga dan Ciwalk Bandung, dan emperan Malioboro. Tak terkecuali bagi para aktivis da’wah, mereka yang berani mengambil seribu satu resiko menerjang beracunnya Demokrasi untuk keselamatan dan kesejahteraan anak bangsa bahkan di tiap jengkal kepala manusia di seantero Indonesia. Tahun 2009 adalah tahun akselarasi percepatan generasi dan ambil alih zaman bagi para aktivis da’wah dan subhanallah usaha-usaha sejak tahun 80an hingga 2009 di tengah resesi dunia, amal kerja da’wah itu selalu memperlihatkan hasil.

Tetapi lain halnya dengan para penggiat dan pejuang Ekonomi Islam menyikapi tahun 2009. Sharing magazines memanmg mampu mendokumentasikan dengan apik pertumbuhan,perkembangan, akselerasi, dan bahkan outlook Ekonomi Syariah di bumi persada selama tahun 2009. Tetapi anehnya, bagi sebagian orang , prestasi-prestasi dan jejak yang seharusnya disyukuri walauipun tidak seberapa seperti hilang lenyap begitu saja. Kemudian secara tiadk terhormat mengkaitkan eksistensi sistem yang baru ada di Indonesia selama 19 tahun ini dengan isu-isu mulai dari politisasi ekonomi suyariah oleh pasangan capres saat Pilpres 2009,tingkat korupsi yang masih tinggi, jumlah orang miskin yang semakin menambah, atau malah sekarang Century Gate dll. Kalau mau disbanding-bandingkan secara proporsional, kapitalisme sendiri yang hidup selama berabad-abad dengan setumpuk paradioksal dan teori ekonomi modern yang using belum lagi mampu menyejahterakan ummat manuia baru mendapatkan kritik ketika ada krisis atau resesi yang mengguncang, namun tiba-tiba untuk sistem ekonomi syariah yang baru berusia 19 tahun segera “ditodong” untuk secepat hero menyelesaikan hajat hidup manusia saat ini juga.

Betapa hormatnya saya kala menyaksikan sendiri ghitrah dan militansi teman-teman di KAMMI, Ghirah dan militansi teman-teman di FSLDKN atau yang sering kuamati di milistnya FoSSEI dan MES, dan malah diantara teman-teman seperjuangan di kampus sendiri. Opini yang masuk pun beragam namun belakangan dari mulai yang memberikan masukan membangun serta konstruktif tetapi sayangnya kritik yang ditujukan mulai kehilangan arah dan epistomologinya. Ada yang mengkritisi kenapa di bank Syariah lebih mahal dalam transaksi jual beli dengan akad murabahah, ada pula yang mempertanyakan bank syariah sudah juga lama bertengger tapi kenapa orang miskin masih belum berkurang, dan yang paling menjadi “mainstream” seputar kesyariahan Bank Syariah padahal yang mempertanyakan belum tentu faham akan Ushul Fiqh dan alur pemutusan hukum melalui Syariah beserta kaidah-kaidahnya. Namun akhirnya kesemua tadi diatas jatuh pada penalaran sempit atau terrjebak pada similirisasi sistem Ekonomi Islam dengan lembaga keuangan syariah itu sendiri. Dengan semangat “45” membara dalam mengkritisi perbankan syariah pada akhirnya terperangkap pada gambaran umum “miskin”nya peran partisipasi mayoritas dari kita yang kerap mengkalim sebagai stakeholder ekonomi syariah dalam melakukan amal shalih yang paling sederhana dan menjadi rumus kekayaan versi Allah SWT serta tak usah lagi ditanya sisi ekonomi syariahnya.

Masih sangat sedikit orang peduli kalau substansi dari kampanye dinar dan dirham adalah untuk menjadi alat tukar yang senantias stabil walaupun masih bisa mengalami fultuasi seperti yang sering kita lihat di kurs dinar. Tapi ampuhnya luar biasa menanggulangi malapetaka inflasi dunia. Tanyakanlah pada rakyat Zimbabwe, bagaimana artinya selembar kertas bernilai hingga ratusan sampai ribuan dollar hanya untuk membeli sekantong kurma atau sekeranjang permen. Maka Gideon Gono, Gubernur Bank Sentral Zimbabwe, pun telah melaknat dollar dan mata uang kertas lainnya “ pergilah ke neraka dengan mata uang yang lain !! Inilah Dollar Zimbabwe yang baru telah ditopang oleh Emas” dan lebih sedikit lagi orang yang sadar, dari jauh-jauh hari bagi madrassah Austrian telah mengeluarkan “fatwa” , untuk mengganti uang kertas yang kita miliki sekarang dengan uang emas. Memang terlihat compatible dengan aturan Islam soal uang. Namun uniknya mayoritas dari kita masih keukeuh hanya mengidentikkan Gold Standar ini sebagai instrument investasi.

Dalam menjawab tiap kritikan yang muncul di ranah muamalah ini memang secara elegan dijawab dengan amalnyata, ratusan lebar buku yang ditulis tentang ekonomi syariah semuanya nihil kalau blank di tataran proyek perdaban manusia. Karena disanalah, “peperangan”  kebudayaan dan kompetisi tukar khazanah peradaban dalam perjalanan ummat manusia sepanjang zaman. Misi hijrah Kanjeng Muhammad Rasulullah beserta sahabatnya dari Mekkah tidak hanya mencari wijhah da’wah yang aman dari gangguan dan strategis, tetapi juga penguasaan pasar yangs sebelumnya dikangkangi oleh kabilah Yahudi. Permintaan Abdurahman Ibn Auf pada pada saudaranya dari anshar ke pasar ternyata untuk merealisasikan misi hijrah tersebut.

Soal mengapa sistem ini tidak dari awal saja dieksekusi oleh Pemerintah. Kadang dengan adanya swadaya yang tumbuh secara bottom up bisa lebih mapan dan terjaga kualitas ashalahnya, saya pernah dengar sendiri dari Ibu  Nursanita Nasution,dari fraksi PKS, seputar atas tanggapan dari pertanyaan kenapa RUU Perbankan Syariah bisa lambat sampai bertahun-tahun padahal tiap rancangan undang-undang hanya punya jatah paling lama tiga bulan. Mulai dari dibahas di Pansus,Panja,Timus, dan Timnis. Dan memang great obstacles seandainya ketika itu melibatkan secara full dari legislative dan eksekutif dalam mengkesekusi sistem ekonomi syariah ini. Adalah benar Indonesia merupakan negeri pemeluk Islam terbesar di dunia yang kemudian diikuti oleh India dan Pakistan, tetapi persoalannya adalah apakah pemerintah selalu bersedia mengakomodir hak ummat islam bertahkim pada syariah dalam bentuk hukum positif kenyatannya sangat ironis dan berbanding terbalik. Untuk urusan Ekonomi Syariah bisa jadi masyarakat kala itu lebih cerdas dari pemerintah. Pak Syafii Antonio pun diundang untuk memberikan “kuliah Informal” bagi anggota DPR yang terlibat dalam eksekuasi RUU Perbankan Syariah No 21 tahun 2008. Tetapi kala itu juga malah ditingkahi “aneh” oleh anggota Dewan. Ada yang benar-benar merasa duduk lagi sebagai amahsiswa dalam kuliah, ada pulak yang masih saja betah dengan semangat phobia pada apa yang bernuansa syariah.

Ala Kuli Hal, kita tidak sedang miskin peran, dan yang paling fundamental, Ekonomi Islam hanya subdomain dari sistem Islam secara total. Maka memperjuangkannya juhga harus gradual dan tidak hanya teredusir menjadi bab fiq muamalah faqath Dengan kata lain, amal shalih dan kebiasaan positif yang kita dawamkan itu juga akan menghiasi sistem ekonomi Islam sedang kita tata ini. Ya! Inilah Sistem ekonomi Islam bukan retorika kata-kata, dan Ekonomi Syariah bukan sekedar kata!!!