Negeri ini, ditengah kekacaubalauan supremasi hukum yang ada dan kekisruhan situasi yang tak lagi menunjukkan indikasi normalnya, percaya tidak percaya, mempunyai seribu satu harapan yang satu persatu harapan itu telah tersemai di sanubari orang Indonesia. Kalau mayoritas dari kita mengatakan perdagangan bebas akan secara massive memporak porandakan kesempatan kerja di pelbagai sektor Industrinya, Adalah Nyonya Meneer perusahaan tertua yang famous dengan obat-obatan serta jamunya malah bisa melesak masuk ke jantung perdagangan China,Hong Kong, dan Taipei. Kalau mayoritas dari kita mengumumkan lebih baik dihapuskan saja sistem perbankan dan pecat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena di seratus harinya tak mampu, bahkan menurut hitungan Fajroel Rahman, 5 tahun 100 Hari, tak mampu membuat Indonesia lebih baik maka Pertanian Indonesia sejak era Anton Apriantono menjabat sebagai mentan berhasil mempertahankan swasembada beras.

Namun masih ada juga minoritas dari ummat Islam, menganggap tabu Demokrasi. Bagi kelompok ini, Demokrasi adalah barang haram dan sampah yang tak dapat dimaafkan dan terkutuklah siapa saja yang berjuang menegakkan Islam dengan Demokrasi ini. Dengan mengorbankan fakta, kalau seandainya Ustadz Said Nursi, Najmuddin Erdogan,Necmetin Erbakan dan Rajab Thoyib Erdogan lebih memilih idealismenya di hukum mati militer Turki daripada mengembalikan Izzah Islam kembali di Negweri bekas Daulah Khilafah Usmani memalui Adellet Ve Kalkina Partisi nya. Mungkin hingga detik ini,  Turki takkan pernah mampu membentak Israel di Davos Economic Forum dan mendepak diplomat Israel dari Turki serta masih setia menjadi budak terhina Uni Eropa. Ditambah lagi kemungkinan lain, Jilbab mustahil bekembara dengan bebasnya di Negeri Turki seandainya mereka, para pelopor da’wah hingga penerusnya lebih memilih mati di tangam militer Turki yang secara totalitasb telah menolak mentah-mentah warisan kebudayaan Islam sejak masa Mustafav Kemal Pasha Attaturk.

Dari Gorontalo Hingga Lamongan

Serta menjadi suatu hal yang patut disyukuri bahwa di negeri dengan berpenduduk 220 juta jiwa ini, saat krisis kepemimpinan melanda dan supremasi hukum menjadi carut marut . Masih ada segelintir pemimpin yang mempersembahkan bakti dan dedikasinya untuk pertiwi tercinta. Tanyakanlah pada Bupati Gorontalo dan rakuatnya. Apakah makana dan arti dari pengambdian itu. Pengabdian dan pelayanan pada public secara Cuma-Cuma dalam meralisasikan Good Clean Governance. Ada seorang bupati Gorontalo yang bersedia berkorban dan meninggalkan semua fasilitas yang ia dapatkan secara otomatis sebagai pejabat public demi melayani rakyatnya hingga ke pelosok kampong di Gorontalo.

Bagaimana tidak, setiap bertemu warganya, beliau tidak hadir dengan rupa atawa sososk pejabat public yang khas dengan pakaian safari atau batik plus penjagaan boyguard ketat sana-sini dan ditambah rentetan wartawan yang merunut untuk terus mengikuti “kegiatan public” akan tetapi ia hadir dengan penampilan kebutuhan pribadi secukupnya selama perjalanan dan tinggal di rumah-rumah warga ditambah pula tas kerja beliau untuk melayani keluhan dan aspirasi masyarakat yang datang pada beliau. Beliau menyebutnya sebagai Government Mobile. Model pemerintahan yang selalu bergerak mencari warga dan masdyarakat bukan menunggu di balik meja kantor diselingi kopi dan rokok,warga datang padanya bahkan hanya sedekar membuat KTP. Pemerintahan yang membuka selebar-lebarnya aspirasi warga yang secara simbolis menghancurkan dan menghapus pagar bupati agar masyarakat tak lagi ragu untuk mengeluh.mengadu dan menyampaikan aspirasinya.

Kalau engkau merasa belum cukup yakin bahwa harapan itu masih tersimpan di bumi ini, datangi saja kabupaten Sragen. Disinilah antara realisasi  Good Clean Government terintegrasi dengan kearifan local melalui kebudayaan setempat seperti Gamelan,wayang kulit dll. Untuk mensosialisasikan program pemerintah daerah pada masayarakatnya secara Cuma-Cuma. Kemudian kalau di Gorontalo, kita diakrabkan dengan istilah Government Mobile divisulakan dalam bentuk fisik, maka disini kita belajar tidak hanya melestarikan kebudayaan tetapi juga mengembangkannya dengan berintegrasi pada berjalannya wujud pelayanan public oleh Pemrintah yang juga menuju Good Clean Governnance.

Dari situ kita boleh melanglang buana agak jauh. Di kabupaten wakatobi tepatnya. Tersedianya infrastruktur dalam menopang sektor investasi dan mempelancar pembangunan merupakan syarat mutlak di tengah-tengah arus perdagangan bebas. Dan sungguh unik sang Bupati Wakatobbi tidak hanya tidak hanya mewujudkan semua itu dengan membangun landasan pesawat terbang di daerah terpencil tetapi juga memperkuat Government Mobile nya dengan likungan yang ramah lingkungan. Bentuknya adalah dengan terwujudnya wisata bahari dan konservasi alam lingkungan.

Bila merujuk pada data yang dikeluarkan oleh KADIN bidang kelautan dan perikanan bahwa si sektor perikanan telah mencapai swasembada maka apalgi potensi perekonomian berbasis wisata bahari ? Apalagi ditata,dikelola, dan dibesarkan dengan pandangan hidup Islam (Islamic Worldview ) yang sejak era Rasulullah telah mebiasakan tardisi sangat lekat dengan kelestarian alam seperti Hima, Iqta,Ihya Mawaat, lalu konservasi alam, Rasulullah SAW juga pernah memproteksi tanah mati demi maslahat umum seperti Tanah Baqi, yang diperuntukkan bagi unta-unta sedekah,hewan ternak, dan kuda-kuda para mujahid. Kanjeng Rasulullah merombak kebiasaan arab jahiliyah yang dalam hal penguasaan tanah, ketika seseorang menginjakkan kakinya di sebidang tanah subur maka iaakan membuat anjingnya mengongggong dari bukit atau tanah datar di sekitarnya dan sejaumana gonggongan anjing tersebut, sejauh itu pula tanah yang dikuasai oleh seseorang. Kalangan Syiah yang direpresentasikan oleh Sayyid Muhammad Baqir Shadr maupun Sunni dalam memandang Hima menemukan garis kesamaan. Imam Mawardi juga menyebutkan, Hima merupakan kawasan lindung yang dilarang untuk menggarapnya untuk dimiliki oleh siapapun agar ia tetap menajdi milik umum sebagaimana isyarat Kanjeng Rasulullah “ ini adalah lahan yang kulindungi” seraya memberikan isyarat ke lembah.

Ada lagi cerita unik dari Jombang. Yang menmbuat saya teringat pada satu topic perkuliahan yang disampaikan Pak Ahmad Djazuli dalam Akuntansi Sektor Publik. Seputar program layanan cuma-cuma pemerintah daerah dalam memberdayakan masyarakat sebagai outputnya tetapi juga dengan cost yang serendah-rendahnya. Stressing point nya tidak hanya pada output yang banyak diacu kepada human deve,opmen Index. Atau dalam pandangan hidup Islam sejalan dengan Maqashidusy Syariah, Kabupaten Jombang menjalankan program yang diberi nama Puskesmas Peduli dalam memberikan layanan pada masyarakat kelas bawah.di tambah cost yang berhasil ditekan hingga dibawah batas kemampuan daya beli masyarakat dan uniknya, kabupaten jombang mendapatkan sertifikat ISO sebagai bentuk penghargaan atas pelayanan public yang diberikan kepada masyarakat menengah ke bawah.

Yang terakhir, kekreatifan Kabupaten Lamongan dalam memberikan stimulus permdayaan SDM dengan melaunching program wajib pembelajaran bahasa Mandarin dari mulai tingkat SD hingga SMA sebagai wujud pengkaderan generasi yang siap menyambut globalisasi dan perdagangan bebas. Aku ingat, saat membaca kata pendahuluan bukunya Michael Backman, Asia Future Shock bagaimana Michael backman terkaget-kaget, ada seorangh kepala sekolah di London Utara yang “hare gene belajar bahasa Latin ??” Kepala sekolah ini mungkin memandang dibandingkan dengan London dengan segala ‘eleganisme” Britania Rayanya, Asia Timur Jauh bukanlah apa-apa bahkan secara arogan, Michael Backman menulis bahwa bukan tandingan yang selevel dengan Baratnamun sangat penting untuk saat ini. Secara empiris bahasa Mandarin akan menjadi bahasa tercepat jumlah penuturnya di dunia dan sanggup untuk menyaingi “superpower” bahasa Inggris untuk saat ini. Mungkin saja China memperbesar jumlah penutur bahasa bahasa Inggris di negerinya tapi dalam keadaan transisi global yang mulai muncul secara luas indikasinya, China juga akan “mengekspor” bahasanya secara bersamaan dengan dibukanya kesepakatan perdagangan bebas ASEAN Free Trade Area. Lalu China melihat pasasr Asia Tenggara dengan posisi Indonesia yang berpenduduk lebih dari 220 juta jiwa, sebuah pasar yang harus dierbut dalam meregenerasi pengaruh di Asia dan persiapan memiliki jumlah penutur bahasa Mandarin lebih banyak lagi secara massive di Asia Tenggara.

Berbuat Terbaik di tengah Kerumitan

Ala Kulli Hal, The World has change, dan perubahan tersebut sangat gradual dan terkadeang bersifat fundamental. Walau arahnya belum “dikehendaki’ secara scenario politis untuk tatanan dunia baru jilid II. Para konspirator dari garis keturunan Rotschild itu masih bisa memperlambat proses bverlangusngnya tatanan baru jilid II. Perubahan posisi sentral pasar, perubahan sistem moneter dunia, perubahan standar akuntansi keuangan,dan kekuatan New Emerging Markets merupakan topic-topik yang sangat ditakuti oleh para konspirator itu.

Bukankah kalau cucu dari garis keturunan ideologis Rotschild itu adalah jajaran konspitaor yang boleh jadi mengambil banyak peran dalam sukuk defaults in Dubai maka Allah adalah Maha Pembuat Konspirasi yang tak pernah terduga kapan meluncur misi konspirasiNya ??. Maka setiap kerumitan persoalan di negeri ini tak mungkin tidak tersisa padanya kebaikan or something great positive thinking yang masih harusnya ada di benak tiap orang yang meyakini hari akhir.

Kekhalifahan Ummayah dan Abbasiyah dalam Tarikhul Khulafanya Imam Suyuthi juga mengalami masa-masa panjang dan berat serta melelahkan. Antara kudeta, dan pembunuhan para khalifah oleh orang-orang Turki. Tapi di era-era seperti itu Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah pernah lahir dan menggoreskan pelbagai karyanya. Imam Ghazali yang famous dengan Al Mustashfa dan Ihya Ulumuddin, Abu Yusuf yang tercatat pernah melakukan perjanjian koalisi dengan Harun Al rasyid dalam membangun perdaban Abbasiyah

Dan Sekali Lagi, Terserah apa kata orang apatis di luar sana, harapan Itu (memang) Masih Ada !!

Bogor

Desa Gugah Sari, Dramaga