Bangga menjadi seorang muslim Marthin Luther, seorang reformis gereja katolik pernah menyatakan kalau syetan lah yang menjadi pengarang Qur’an dan lebih lanjutnya,Marthin Luther mengatakan adalah jiwa-jiwa pembohong yang mengontrol Muhammad dan setan telah membunuh jiwa-jiwa Muhammad dengan Qur’an. Serta menghancurkan keimanan orang-orang Kristen. Marthin Luther King yang lahir di Atlanta,Georgia, seperti mengulang dan memutar lagi yang pernah diwasiatklan pendahulunya dalam menghadapi ummat muslim. Paus Leo III dalam surat- menyuratnya dengan khalifah Umar Ibn Abdul Aziz di era reformasi kekhalifahan Ummayah, Paus Leo III dalam surat menyuratnya dengan Umar tersebut dengan sinis menuduh bahwa Mushaf Usmani telah melalui proses kanonisasi dan banyak diganti oleh Al Hajjaj Yusuf Ats Tsaqafi .

Setelahnya ada Yohanes dari Damaskus hampir sama dengan Marthin Lutrher King dalam memandang islam. Yohanes memandang penuh sinis dan arogan, kalau Islam memberikan pelbagai pembenaran untuk memperbanyak istri dan selir melalui surat An Nissa. Mungkin itu juga mengapa feminisme yang awalnya berrtumbuh kembang dari Renaisannce Barat dan traumatiknya pada poligami selang beberapa abad setelahnya ditularkan ketakutan yang sama sama pada Islam sebagaimana pengakuan Salman Rusydi tentang bukunya “Ayat-Ayat Setan” katanya, untuk memasukkan ide-ide tersebut dalam agama besar ini (islam), papar Salman Rusydi.

Kemudian ada Dante Aliegheri, sang penyair kawakan pernah juga membuat dongeng yang menggambarkan bahwa gambaran penghuni neraka dengan tingkatan-tingkatannya yang teratas dan terbilang ‘ringan” adalah Ibnu Rusyd,Ibnu Sina, Al Kindi dll. Sedangkan yang beada dalam kerak paling dasar adalah Nabi Muhammad beserta sehabatnya. Semakin masuk ruangan globalisasi, semangat untuk membenci Islam dan apa yang disebut oleh para fundamentalis Barat sebagai Islamic Revival dan Perang Salib semakin membuncah. Ada yang menyerang secara frontal seperti mengulang jejak sejarah masa silam dan kebodohan yang dikemas seilmiah serta serasional mungkin sehingga seolah-olah bisa diterima umum oleh masyarakat Barat dan harapan ummat muslim pun terbuka menerima kritik yang ditujukan secara sarkastik tersebut seperti yang ditunjukkan oleh Westergaard,kartunis yang mengkartunkan sosok Nabi Muhammad SAW di Jyland Posten. Atau Film Fitna, yang dibuat oleh salah seorang politisi dari partai fundamentalis kanan Belanda, menggambarkan perilaku keji ummat Islam yang merupakan totak dari serangkaian terror di eropa. Ketika ayat-ayat qur’an dalam film itu disandingkan dengan klip-klip berisi terror.

Tetapi ada juga fundamentalis Kristen barat ini mulai memgambil sikap menelikyung melalui pemkiran dan sarat nuansa kepentingan politis. Seperti Francis Fukuyama dengan The End of History, Bernard Lewis dengan The Crisis of Islam, dan Huntington dengan The Clash of Civilazation. Tesis yang popular bagi mereka bertiga adalah konflik abadi antara Barat dengan Dunia Muslim. Semakin heterogen sebuah peradaban,kata Huntington, maka potensi konflik semakin besar. Tetapi rasanya Huntington melupakan jasa-jasa Dunia Muslim sebagaimana yang dicatat oleh Ahmad Y Hassan, mulai dari pena hingga pembangkit tenaga listrik. Dan globalisasi bukan sekali dua kali pernah terjadi. Even, kata-kata serapan dalam bahasa Inggris pun banyak diserap dari bahasa Arab. Dan bahkan menurut Fukuyama, sejarah akan diakhiri dengan mendaulatkan dirinya pada Demokrasi liberal dan Liberalisasi Pasar yang pure produk peradaban Barat. Ibarat tengah berdusta dan arogan terhadap “buku” sejarah itu sendiri, belum lagi menutup halaman terakhirnya, phobia Barat terhadap segala sesuatu yang fanmous dalam ensiklopedi Barat sebagai Islamic Revival atau lain lagi di negeri kita, kalangan liberalis phobia engan apa yang mereka sebut sebagai gerakan Transnasional. Seolah-olah melupakan kalau pengamat politik barat seperti Kenichi Ohmae pun menyatakan Nation State hampir tak lagi penting dan kehilangan signifikansinya dan sistem global yang ada berubah lebih kompleks serta banyak ketergantungan satu sama lain. (Ohmae :2005) Mungkin maksudnya dengan cara demikian bisa tersadarkan kembali semangat nasionalisme. Tetapi persoalannya adalah bagaimana menerjemahkan nasionalisme itu ke dalam bahasa globalisasi dan kenyataan zaman sehingga tidak ada yang merasa diopportuniskan dan malah smakin buruk, mempersempoit makna nasionalisme itu sendiri. Dan sekali lagi, kalangan liberalis Indonesia kurang menyadari dengan arif dan bijak, produk pemikiram mereka pun tak lebih bagian dari transnasionalis.

Dari kedua bentuk dan strategi perusakan fundamental ummat islam dikerahkan dari pelbagai arah. Walaupun sudah diingatkan muslim tak mudah merubah keyakinannya oleh Samuel Zwemmer.

“ The Chief Factor in this problem,however, is the character of Islam it self as a theistic faith. The Strenght of Islam is not in it’s votion to Mohammad,nor in it’s ritual abnd pilgrimage, onwe even in t’s innate political character, but in it’s tremendous and fanatical grasp on the one great truth. An idea which hold the muslim world even more than moslem world hold it “

Puncak putus asa orientalis berwajah melayu yang kadang njawani it uterus merangsek dengan menuduh Al Qur’an saat ini adalah hanya pengalaman sejarah zaman yang mempengaruhinya dan tafsirnya yang relatif. Untuk yang di Eropa, saking cepatnya pertumbuhan ummat Islam hingga diperkirakan Benua Eropa akan menjelma benua muslim pada tahun 2050 yang diestimasikan dari lonjakan pemeluk islam di dataran eropa yang saat ini mencapai 50 juta pemeluk muslim dan hampir sepertiga dari benua eropa. Di Prancis sudah diperkirakan kalau satu dari lima orang prancis adalahs eoarang muslim. Di Belanda, jumlah pemeluk islam saat ini juga sekitar 25 % dan di negeri bekas beruang merah,Rusia, juga sudah tercatat 23 juta pemeluk Islam disana. Fenomena-fenomena inilah yang boleh jadi mendorong phobi (ketakutan luar biasa ) pada pelonjakan jumlah muslim yang lebih besar lagi dan bahkan mengubah citra serta identitas leluhur benua Eropa seagai tanah persebaran Misionaris.

Sehingga merasa perlu bersikap represif dan diskriminatif terhadap perkembangan da’wah Islam. Pelarangan Menara Masjid yang dihasilkan melalui referendum di Swiss, pencoretan nisan kuburan muslim dengan lambing Nazi di Jerman, penembakan secara brutal terhadap Imam Masjid di Detroit USA. Hingga yang terhangat dilakukan oleh negeri muslim itu sendiri dengan memperkenankan pembangunan tembok baja perbatasan rafah dengan Mesir. Dan yang terakhir ramai di facebook, munculnya kemnbali blog-blog penghina Islam.

Ya. Semuanya berakar dari kebencian hingga komitmen untuk tidak pernah paham . Fallacy of Logic menjadi tren yang mengubah dirinya jadi bermacam-macam produk pemikiran ahistoris. Ada yang bangga sebagai seorang PSK mengkalim dirinya tetap suci walaupun melakukan pekerjaan teramat rendah dan merendahkan. Yang ini namanya dualism, ada yang alergi dengan teriakan Allah Akbar, tetapi setengah mati membela bapak pluralism sebagai pahlawan nasional dan hanya menganggap korban yang dibunhuh dalam suatu genosida missal hanya terkuak lima orang masih merasa aman dan normal. Sedangkan yang lain bebas menggugat hukum Tuhan tanpa perasaan bersalah namun menutup mata atau pura-pura tidak pernah tahu meningginya tingkat aborsi dan perputaran uang panas hingga menyebabkan kerentanan krisis keuangan tetap terjadi dan menghasilakn dampak sistemik. Hatta, Islamphobia seakan telah mengakar dalam jiwa muda muslim kiwari. Seolah-olah kalau gak nyeleneh gak eksis ! dan yang tua berebut mendapatkan gelar pahlawan nasional serta dianbggap telah berjasa besar dalam pembangunan bangsa.

Da’wah Kita !

Da’wah kita konon, telah mulai merintis memasuki Mihwar dauliy. Jauh dari angapan sempit kriminalisasi Demokrasi dan kemnbalinyab theokrasi, logika Mihwar Dauliy malah semakin besar dan ibarat karpet yang dapat diduduki oleh semua orang hingga semuanya merasa nyaman berada di karpet tersebut. Maka, harakah Islam pun alam menghadapi gejolak Islamphobia jangan sampai kembali mengandalkan reaktifitas sesaat.Seorang Rabbi Yahudi pernah menyindir agar ummat yahudi tidak pernah tajkut dengan ancaman ummat islam yang merasa terhina Nabinya, Kanjeng Rasulullah, dilecehkan. Kata Yahudi itu, “biarkan saja nanti mereka lupa sendiri”. Jangan lagi bertanya, mengapa yahudi sering berbuat seperti itu dan mengapa Kristen tak pernah bersahabat dengan umat muslim. Sama anehnya bertanya mengapa anjing selalu menggonggong dan syetan yang tabiatnya selalu menyesatkan bani adam. Maka, dengan merangkul semua lapisan masyarakat dalam susunan pemerintahan, penyelesaian Islamphobia bisa cepat diselesaikan. Karena ada gerak strategis di dalamnya . jwa-jiwa yang memang pure membenci Islam hingga mendarah daging dan menumpahkannnya entah dalam bentuk karikatur,opini yang menyesatkan, blog yang sarat menghujat, forum yang penuh amarah dan fitnah semakin menyempit ruang alam pikirannya. dari yang tadinya bisa berfikir, mereka yang menyaksikannnya waspada akan lenyapnya akidah, sekarang harus ditertawakan dan dikasihani karena bodoh kuadratnya. Dari yang tadinya “bervisi “ liberal semakin menyempit pula ruangan ketakutannya.

Persoalannya adalah sanggupkah harakah-harakah Islam yang saat ini eksis dengan pelbagai karakteristiknya juga pemahamannya untuk berishlah dan mulai memikirkan proyek-proyek da’wah yang sekiranya dicurahkan padanya perhatian luar biasa jauh lebih akan mempercepat akselerasi kebangkitan manfaat dan energy Umat Islam! Dari mulai pembenahan akidah, hinbgga kesejahteraan ekonomi umat yang lebih berdaya panjang dan ditanmbah regernerasi pemberdayaan juga dapat memfasilitasi keamanan dan kenyamanan dalam beribadah. Ada yang merasa, kalau masih dengan Demokrasi gak bakalan diterima shalatnya. Yang lain kagak berkah kalau da’wah memggunakan saranah hizbiyyah. Inilah persoalan internal yang belum jua usai. Padahal KH Shalahuddin Wahid pernah menulis tentang kegaglan pendidikan agama di tingkat SMP dan SMA. Dengan output yang jauh api dari panggang. Mau sampai kapan kita harakah Islam merasa dirinya yang paling berhak masuk surga. ??

Ala Kulli Hal, teringat tulisan teman tentang ilustrasi bangunan yang harus dipertahankan. Seandainya masih yakin dan mau bersabar untuk mencari dimanakah orang-orang ikhlas dan sabar itu berada niscaya dirinya yang belajar bersabar juga sbagai cerminan kalau orang-orang disekelilingnya pun betah dengan kesabarannnya tersebut. Seandainya kau mau bertahan lebih lamabahwa masih ada potret keshalihan masdyarakat pengamal niscaya kau yakin tidak ada yang bisa menghalangi kalau Allah Yang Maha Menakdirkan sudah berkehendak dengan akhir yang baik bagi ummat ini. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan.

Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar ( Al Anfaal :66 )