Ekonomi Islam dan Idealisme

Seorang bisa saja menjadi seorang ilmuwan yang kepakaran di bidangnya dengan derajat pemahaman dankekguman orang-orang  pada keilmuannya. Namun sepanjang sejarah, tidak pernah ada jaminan ia mampu keluar dari dilemma ideology dan sains sebagai pahlawan yang mendudukan keduanya dengan cara yang elegan lagi terjaga kapabilitas syariahnya. Bahkan seringkali lebih meilih menggadaikan idealismenya demi kepentingan pemilik modal yang berstatus sebagai Kaisar di balik kekuasaan otoritas formal tertinggi Negara.
Sebaliknya, malah sang Pahlawan yang bukan hadiah dari langit, bukan juga manusia pilihan puta tuhan yang malah berangkat dari mitos Yunani dan Romawi. Tidak selamanya identikdengan status profesi apapun. Namun sekali-kali tidak sebagai dengan perannya sebagai justifikasi kezhaliman penguasa bila ia seorang ulama. Bukan pyula tuan kulak yang memeras punggung rakyat kalau ia sebagai pengusaha. Bahkan bukan penjilat penuasa kalau ia seorang Ilmuwan. Ya, ini maasalah bashirah. Akankah masih mau dengan Al haq dan ahlul Haq. Walau betapa kerasnya penentangan dan intimidasi dalam ranah politik bahkan terkadang, hatrus menerima penentangan yang paliung keras dari saudaranya sendiri atas nama kepentingan Madzhab, manhaj madrasah. Harus merasa paling ahlus sunnah wal jamaah. Dan itu juga jalan yang dipilih oleh barisan Pahlawan. Saat yang lain memilih bertengkar untuk memperpanjang usia persoalan dan sedikitnya yusia kerja diaman harus terlibat didalamnya, ia lebih memilih pendapat yang dapat segera

diaplikasikan tanpa harus kehilangan ashalah da’wahnya. Tercenung saya mendengar pernyataan mantan Dirut Bank Muamalat, Riawan Amin, “Kami Adalah Da’I dan Mujahid, Bukan bankir”. Saat yang sama beliu mengatakan demikian, perdebnatan soal bunga bank masih mengemuka panas dan masih mempersoalkan keberadaan “eksistensi” Lembaga keuangan Syariah “ seolah-olah Peradaban  Islam tidak pernah mengenal namanya muamalat. Dan disitulah rumitnya.
Seorang ustadz di DPBS BI selalu mewanti-wanti. “Jaga idealisme dan nilai ketauladanan antum dalam berakhlak akhi “ kata beliau dalam sebuah sesi seminar di semarang, “ Hari ini antum masih bias memperlihatkan ghirah dalam da’wah ini yang semakin bergelora, tetapi di dunia kerja”, kata beliau,” betapa banyaknya rintangan yang harus hadapi “ malah dalam sebuah sesi dalam pertemuan kami yang teramat bersahaja, tak surut beliau tegaskan lagi, “Boleh jadi Ekonomi Islam hanyalah muara dan pangkalnya dua kalimah syahadat!” Maka kalau semakin ikut kajian Ekonomi islam dan pelbagai mata kuliah yang berkaitan erat dengan Ekonomi Islam semakin jauh dari perlilaku individu berakhlak Islam, semakin layak jua untuk dipertanyakan komitmen syahadatnya.
Output yang terbventuk dari manusia-manusia seperti ini memang sangat bias berpotensi menjadi, apakah ia teknisi,ilmuwan,akademisi,praktisi,analisator, akuntan, dll sesuai dengan bakatnya, tapi bagai butir pasir di luasnya jazirah, menguap karena lenyapnya idealism dan militansi untuk memaknai kembgali makna sebenar dari keberadaan Da’wah ini. Saya membaca secarik notes dari seorang sahabat saya yang menjadi Marbot di Masjid AL Hurriyah IPB, beginilah isi notesnya itu : “Ini bukan da’wah akhi, kalau shalat fardhu masih kau lalaikan dan sepelekan. Ini bukan da’wah akhi, kalau shalat –shalat nawafil masih sering kau tinggalkan dan ini bukan da’wah akhi, kalau semua itu beralasan penuh kesibukan atas nama kegiatan da’wah maupun ilmiah. “ notes yang simple namun sangat menampar-nampar. Menampar relung hati nurani ini kalau dinapak tilasi ke belakang. Menampar desiran detak jantung ini kala terbangun gambaran Yaumul Qiyamah yang banyak dipaparkan oleh Surat Al Haqqah,Al Qiyamah, Al Waqi’ah, Al Hasyr, Yasin, dll dan pedihnya siksa Allah bagi merekan yang ingkar. Dan sekali lagi, kalau outputnya hanya individu-individu yang gemar mencari hillah dan pembenaran logikanya sendiri. Maka bangunan dari kerja-kerja da’wah yang kita susun selama ini bukan lagi EI sebenar melainkan Ekonomi Ilmaniyuun !!
Kalau ada di beberapa blog, sebagian masyarakat mengeluh betapa kurang efektifnya dari kampanye Ekonomi Syariah selama ini dan dikuatkan dari pernyataan seorang Ustadz di DPP IAEI, Enam Milyar Rupiah hanya habis di euuforia FES daripada dialokasikan untuk mengkaderisasi elemen masyarakat bias jadi benar juga . Dengan tarikan pragmatism apalagi di era liberalisasi ini yang begitu mencengkram sehingga sebagian mereka yang kionon mampu menjadi ilmuwan,konseptor, akademis,dsb lebih nyaman untuk tinggal di dalam zona nyaman. Pernahkah terpikir selama ini kalau kiranya enam milyar rupiah itu dialokasikan dalam bentuk kampanye ke pasar-pasar,masjid-masjid, perumahan warga. Pusat grosir,stasiun,terminal, SMA-SMA dan SMP bahkan kalau perlu ke temapt-tempat saudara-saudara kita yang Bergama kristian dengan bahasa yang lebih universal dan diterima umum walau dirasa “berkeringat” , “ekspektasi belum pasti “ ataupun dalam bahasanya penyaluran pembiayaan, “ resiko NPF  tinggi “ jauh lebih membumi dibvandinghkan harus kampanye di Mall tengah pusat Ibukota yang selain sepi pengunjung, ekpektasi “orang berkantong tebal” membuka rekening juga tidak terbukti.
Tiba-tiba jadi ingin berancang untuk membangun mimpi sejenak yang entah kenapa tiba-tiba juga mimpiku sanma,hampir sama, dengan seorang ustadz dari DPBS BI tadi, “ Kapan yaa Ekonomi Syariah jadi model utama pembangunan seluruh aspek bernegara dan berbangsa negeri yang telah memasuki usianya ke enam puluh empat tahun ini ?? “ Selagi Harapan Masih Ada, karena bagi orang beriman, Harapan itu masih dan selalu ada sebagai bukti optimism akan Takdir Allah Yang Maha Mengatur.
Jakarta