Buruj Al Arab

Dubai Desperate Times

Kekaguman  serta keterpesonaan Industri Perbankan Syariah kita pada Industri Perbankan Syariah Global baik itu di Timur Tengah, Eropa, Afrika Utara, Malaysia bahkan Amerika belum lagi merefleksikan kesadaran sebenarnya akan substansi maqashidusy syariah yang harusnya tercermin juga dari besarnya perputaran volume Perbankan Syariah  Internasional.

Di 2009 ini, saja Malaysia seperti yang dilansir oleh Islamonline.net berencana kembali mendaulat dirinya sebagai garda terdepan dalam lalu lintas keuangan Islam Internasional. Instrumen-Instrumen keuangan Islam yang sebenarnya mengundang syubhat dari fatwa fuqaha bermazhab Syafii yang notabene dianut oleh mayoritas muslim Asia Tenggara, menjadi instrument yang sangat dominan dalam mempercepat eksistensi pasar keuangan Islam Malaysia menuju garda terdepan dalam menyaingi pesaingnya di Timur Tengah yaitu Uni Emirat Arab. Uni Emirat Arab berambisi untuk membangun sebuah megapolitan di tengah-tengah jazirah padang pasir dan bahkan membangun sebuah pulau buatan manusia berbentuk pohon kurma yang diberi nama Palm Jumeirah Island, Hotel yang sangat mewah dan megaha yaitu Buruj Al Arab dan sedikit orang tahu kalau Dubai selain mencanangkan diri sebagai hub pusat keuangan syariah dunia namun juga surganya bagi kaum Gay(Eramuslim.com) Luar Biasa Dubai !!!

Di saat yang sama di penghujung akhir tahun ini pangsa pasar perbankan syariah nasional masih saja beringsut-ingsut di angka 2,40 % saat yang lain tengah melesat jauh di atas angka 10 %. Namun euphoria itu semua seperti mengikuti sunnatullah, tiap gelembung euphoria pasti ada yang tidak wajar dan perlu diwaspadai. Kejatuhan instrument sukuk baru-baru ini bukan barang hal yang pertama. Sebuah perusahaan investasi asal Kuwait, Dar Investment, mengalami kerugian di pasar bursa Dow Jones sebesar US$ 100 Juta yang akan jatuh tempo pada 2010. Dar Investment pun terpaksa membuat penjadwalan ulang pembayaran kewajiban senilai US$ 3,5 Billion yang jatuh tempo pada desember 2009 ini. Lain Kuwait, lain dengan Dubai. Pada tanggal 25 November 2009, Pemerintah Uni Emirat Arab mengumumkan kegagalan bayar sukuknya sebesar US$ 88 Billion. Dan serentak membangunkan Dubai dari khayalannya untuk menjadi kota cosmopolitan seperti Makau dan Singapore dari sebelumnya hanyalah sebuah perkampungan nelayan ikan di masa pemerintaha dinasti Al Maktoum. (Times Magazines,14 Desember 2009 ) Sekarang Uni Emirat Arab tidak lagi mempunyai pilihan selain membail out anak perusahaan Dubai World sebesar US$ 15 Billion dan menghentikan proyek baru perumahan yang tengah lagi dalam pembangunan.

Akar masalah dari kejatuhan instrument sukuk ini  rupa-rupanya bermulaPulau buatan manusia berbentuk Pohon Kurma dari penyikapan dan recognizing dari instrument sukuk itu sendiri yang lebih banyak digunakan oleh anak perusahaan Dubai itu untuk membiayai pembangunan arsitektur ambisius lainnya  di Dubai. Secara teoritis, instrument sukuk terbagi dua. Sukuk dengan berbasis asset nyata dengan sukuk yang ditopang oleh asset nyata atau melekat pada instrument sukuk itu sendiri. Untuk yang pertama sukuk dengan berbasis asset nyata, yang namanya underlying asset diadakan hanya untuk memenuhi keabsahan secara legalitas hukum syariah dalam menerbitkan instrument sukuk. Hakikatnya terpisah dari underlying asset itu sendiri dan kalau di Bonds, maka ia termasuk unsecured bonds atau obligasi yang tidak dijamin oleh keberadaan asset. Sedangkan untuk yang kedua, Instrumen sukuk melekat dengan underlying itu sendiri. Sehingga lebih mendekati batasan-batasan syariah yang telah disepakati di antara fuqaha islam dan akademisi yaitu, back up asset, sesuai dengan prinsip risk sharing (berbagi resiko) sesuai nilai-nilai syara dan pengembaliannnya dalam bentuk sukuk ijarah,dalam bentuk ujrah dari sewa bukan bunga.

Namun menurut salah seorang pakar ekonomi islam yang lain, bentuk sukuk dengan model ijarah seperti yang berlaku pada kasus Dubai World adalah Ijarah Mausufah Bil Dzimmah ( Karim:2009) artinya asset yang disewakan oleh anak perusahaan Dubai kepada SPV untuk membelinya dari dana investor belum lagi benar-benar barang yang siap pakai atau siap sewa melainkan belum jelas spesifikasinya. Dan tentunya hal ini yang lebih parah serta mengundang resiko dalam penerbitan sukuk yang lebih akut dan tinggi. Selain itu, perlakuan sukuk oleh Investor yang mengirimkan dananya kepada SPV memperlakukan sukuk sebagai surat hutang dan meminta yield yang lebih. Padahal peraturan AAOIFI tentang pencatatan penerbitan sukuk sudah jelas: Sertifikat dengan Nilai Setara dan merepresentasikan bagian kepemilikan yang tidak bisa di bagi-bagi dari aktiva tetap,manfaat, serta jasa serta kepemilikan atas proyek tertentu atau investasi khusus. ( Sharia Standard No 17 )

Seolah-olah lupa, motif Ekonomi Islam dalam penyikapan harta justru berhati-hati dengan harta itu sendiri. Seorang analisator keuangan menulis di Islamonline.com, Kejatuhan instrument sukuk di Dubai merupakan ujian berat pertama yang harus di hadapi oleh ekonomi syariah. Gelombang euphoria yang harus dihadapi dengan gagal bayarnya sukuk membuat mata ummat muslim terbuka, apa hakikat yang dikehendaki sejati oleh Ekonomi Islam. Seolah-olah, pelbagai mekanisme yang sophisticated dari instrumen-instrumen investasi syariah hanya digunakan dan memang digunakan semata-mata untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya  dengan justifikasi syariah. Seolah-olah, dilupakan sejenak, persoalan sesama muslim yang hanya beberapa kilometer dari Dubai sana. Ya. Palestina. Muslim Palestina berjaga-jaga tiap saat dengan nyawa dan darahnya dari serbuan zionis yang berambisi untuk merobohkan Masjid Suci Al Aqsha, kiblat pertama ummat islam dunia.

However, di 2009 ini, kita memang sedang tidak kemana-mana. Masukan dari Prof Didin S Damanhuri tentang potensi perbankan syariah yang bisa jadi terperangkap ke kolong permainan kapitalisme dunia mulai disikapi dengan serius sebagai masukan yang sangat penting. Dalam Seminar Akhir Tahun BI, pada forum riset perbankan syariah 2009 setumpuk masalah klasik terus merongrong. Mulai dari pangsa pasar yang sudah 19 tahun eksis di bumi pertiwi belum lagi mencapai target 5 %, pricing di bank syariah yang lebih mahal, dominasi murabahah yang kental, hingga tarik menarik Fatwa DSN antara legitimasi dan ansumsi pembatasan shariah compliances terlalu ketat. Ikhwah Fillah, kita tak perlu mengeluh, seperti yang diingatkan oleh Band The Massive, kenyataanya selama tahun 2009 ini Perbankan Syariah Indonesia berjalan sangat moderat dan selalu taat tidak saja asepek legalitas fiqh namun juga titik tauladan dalam hal maksimalitas kemanfaatan bagi perbaikan social dan ekonomi juga mengajarkan universal ethics acceptable ke semua lapisan masyarakat. Belajar dari kemauan Sudan dalam pengembangan Perbankan Syariah yang hanya membolehkan produk berbasis Mudharabah dan Musyarakah Menurun, menjadi sangat positif dalam mengurangi kemiskinan dan pemberdayaan masyakarat serta menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Yah, sampai akhir tahun 2009 ini masih banyak yang perlu kita benahi,dan memang sedang tidak kemana-mana.

Jakarta

8 Desember 2009