UIN JakartaDua hari yang lalu, saya membaca sebuah notes dari akhia Riza Rizky Pratama,CEO KSEI Lisensi UIN Jakarta, Riza menulis dalam notesnya itu paradoksial kampus UIN Syahid. Seputar pendirian Bank Mandiri yang notabene konvensional dalam komplek UIN Syahid memicu paradoksial nurani yang luar biasa. Yang yang gokil dari tulisannya Riza tersebut, dicantumkan serta juga sebuah isi sms dari Dr Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah yang beruapa alasan mengapa UIN mengizinkan bahkan memakai Bank Mandiri yang msih kental dengan nuansa ribawinya dari pada BUSNya,Bank Syariah Mandiri atau yang juga sama-sama telah mapan semisal Bank Muamalat, berikut alasannya :

  1. Bank Syariah belum murni sesuai Syariah, Pelayanannya belum sempurna
  2. Keptutusan Rapat dengan Dekanat dan arahan dari Depatemen Agama.

Untuk satu saja dari dua poin di atas sangat menggelikan ! kita, saatini tidak sedang hidup di erah tahun 70 an atau ke belakang lagi tahun 60 an yang belum lagi tersedia atau bahkan kesadaran masyarakat untuk keluar dari muamalah dengan riba. Bahkan Fatwa MUI tentang keharaman bunga bank yang sejatinya sudah tak perlu dipertanyakan lagi disebut oleh Dr Muhammad Syafii Antonio, Chairman Tazkia Group, sudah sangat startegis meskipun terlambat secara waktu.  Tepat karena di saat yang sama, Bank Syariah yang pertama kali beroperasi, Bank Muamalat, sudah beroperasi dengan mampu menembus duia krisis di dua periode. Hatta, menjelang awal januari 2010 nanti, siap sedia diluncurkan BCA Syariah yang akan lagi meramaikan kompetisi Industri Perbankan Syariah Indonesia. Terkait dengan kesyariahannya atau pelayanannay, kita hastu mampu berfikir jernih. Keduanya berbeda secara substansi namun saling mendukung dan terpadu ketika dikombinasikan. Contoh, banyak mengkritik, idelanya bank syaria menggunkan uang emas seperti dinar dirham, namun realitanya Bank Syariah masih menggunakan uang kertas. Apakah lantas Bank Syariah serta merta tak lagi syariah ??? Kenyataanya dalam pandangan Fiqh Muqaranah yang menjadi sandaran DSN MUI, kedudukan uang kertas adalah absah dan tidak menjadi masalah dalam operasinya masih menggunakan uang kertas. Sedangkan dalm hal pelayanan, ada banyak otorkritik yang masuk, tetapi kalau dalam Ushul Fiqh, ada dua mudarat yang bertemu, kita masih bisa mengambil kebaikan dengan menimbang mudrarat yang paling sederhana dan tak berpengaruh banyak maka apalagi bila sudah jelas porsi keburukan dan kebaikan dalam tinjauan syara sudah tersaji di depan mata.

Soal Otokritik bukan main jga banyaknya. Tetapi memilih sama sekali bank yang notabene ribawi daripada bank syariah yang agak kurang maksimal namun sudah jelas kandungan halalnya adalah menyalagi kaidah logika sama sekali. “Ma La Yudriku Kulluhu La Yatroku Kulluhu “ adalah kaidah logika yang telah ditata dalam Islam untuk membingkai persoalan hal yang sebenarnya baik dan positif namun belum bisa berkembang baik. Maka, dalam logika Dr Komaruddin Hidayat, lebih baik memilih bank yang jelas-jelas mendukung spread negative sana sekali daripada bank dengan model kerja sama dan berbagi resiko seperti yang terrefleksikan dari  operasional Bank Syariah. Bahkan yang membuat aku sedikit terkejut, laporan dari InfoBank Online bahwa salah satu faktor yang banyak menyelamatkan Perbankan Nasional selamat dari terpaan krisis finansial adalah adanya ajaran yang melarang investasi ke kawasan derivative dan sarat dengan spekulasi serta banyak memberikan potensi short selling dan profit taking. Klau kita mau cermat, dari mana asal ajaran ini berasal, maka Islam 1400 tahun yang lalu telah jauh-jauih dari dengan bijaksananya melarang tiap model transaksi yang gharar dan maysir. Di saat yang sama, Perbankan Nasional Amerika mencatat kejatuhan terparah di 2009 ini. Sekitar 305 bank nasional maupun swatas Amerika Serikat yang telah tutup buku dan bail outnya pun terbesar sepanjang sejarah US$ 700 Milyar !!

Maka  alasan bank syariah belum murni syariah hanyalah celah bagi Dr Komaruddin Hidayat untuk menutup mata akan eksistensi dan perbaikan kualitas Perbankan Syariah yang menjaga komitmennya.Dan kebijakan Rektorat UIN Syahid ibarat melecehkan diri sendiri sebagai: pertama Institusi Islam Negeri yang tertua yang didirak sejak 24 Agustus 1960 bertepatan dengan tanggal Hijriah 2 Rabi’ul Awwal 1380 H oleh Menteri Agama ketika itu, K.H Wahib Wahab di Yogyakarta yang waktu itu jua, sebagai pusat ibukota pemerintahan RI. Termasuk UIN Jakarta berdiri atas prakarsa ulama-ulama Jakarta dan juga dengan Muhammad Natsir,Pahlawan Legendaris ummat Islam Indonesia yang selain kapabilitasnya menguasai ilmu-ilmu keislaman namun juga memanfaatkan jenjang pendidikannya yang pernah diterima semasa Hollandsche Inlandsche School Adabiyah Padang.

Mungkin, Dr Komaruddin Hidayat beserta jajaran rektotrat lainnya yang sudah menyetujui rencana pembangunan Bank Mandiri dengan araha dari departemen agama tersebut tidak merasa berdosa dengan pengkhianatan dan pelecehan identitas sejarah UIN yang didirikan dengan niat bersih dan murni. Mengingat kredibiltas UIN akhirnya lebih famous sebagai sarang penyakit liberalisme dan “ideologi transnasional “ dari Barat dalam bentuk outputnya pemikiran hermeneutika dan relatifitas nilai. Yang kedua ini yang terparah, pelecehan yang dibuat oleh kebijakan rektorat tersebut adalah di saat yang sama dibuka program studi muamalat atau jurusan perbankan syariah di Fakultas Hukum dan Syariah. Terlebih lagi idealism dibukanya Program Studi Muamalat atau Perbankan Syariah untuk menambah pasokan yang mumpuni dalam hal perbankan,ekonomi, dan keuangan untuk masuk ke ranagh Industri perbankan syariah nasional. Tentunya sebuah langkah yang bertolak belakang. Bahkan dengan diwajibkannya melalui Bank Mandiri itu juga mencakup pembayaran uang kuliah dari segala jurusan termasuk jurusan perbankan syariah sama dengan “kriminalisasi” atau sebutlah “pemandulan” Program Studi Muamalat khususnya teman-teman di bawah KSEI LISENSI UIN agar terperangkap dalam dikotomi ilmu.

Kalau beramal saja tanpa ilmu dianggap lumpuh maka apalgi Ilmu tak berujung amal. Sekumpulan doktri dan dogma terkombinasi dengan rapi bak bangunan ilmu namun rapuh. Serapuh-rapuhnya sebuah bangsa yang lupa akan identitas sejarahnya !!!!

Jakarta -Bogor