Model manusia muslim bermuara pada referensi apa yang menjadi kepatuhan logikanya.Dengan nalar logika ia mampu mengisi ruangan kosong yang merindukan keadilan. Dengan menentukan mana yang haq dan mana yang bathil. Kalau tidak demikian, berarti there’s something right had loss from muslim mind. Walaupun dengan seribu kali lipat argumentasi yang pada dasarnya sudah sangat akut dan rapuh. Pembuktian logika juga mengikuti konsensus atas standar yang disepakati sehingga jika dalam pelaporan ada yang disclaimer atau tidak wajar dapat denganm mudah dideteksi dan dikoreksi. Tapi sayangnya terlalu banyak mereka yang silau dengan manipulasi angka di atas kertas untuk menggambarkan kepentingan pemilik modal adalah hal pertama yang harus diselamatkan dan disejahterakan. Krisis perbankan bulan-bulan ini juga berkutat pada pelitnya bank menurunkan suku bunga agar deposan yang memiliki dana investasi di atas 50 % tetap memberikan loyalitas bagi bank. Walaupun baru hari ini seperti yang dilansir dan menjadi headline utamanya oleh harian Kontan, sekitar 14 bank sepakat untuk menurunkan suku bunga. Dan itu pun hanya 1% dari keseluruhan total suku bunga yang telah ditetapkan oleh bank bagi investasi deposan. Dan sayangnya juga terlalu banyak dengan strategi manipulasi angka di atas kertas yang menyebabkan orang di luar menilai kalau Akuntansi tidak lebih dari :jurnal buku besar, penyesuaian, ayat pembalik, posting,neraca, arus kas masuk dan arus kas keluar. Sekali lagi, hanya sebatas itu.

Padahal kalau kita pahami, Ilmu Akuntansi modern tidak lagi atau telah kehilangan pembenaran “bebas nilai”nya. Karena, kalau menurut Pak Iwan Triyuwono, ideology mencerminkan legitimasi intelektual dari dominasi social dengan pelbagai penyimpangan mental. Yang lain hanya memandang ideology sebelah mata sebagai elan vital politik. Tapi cukup mendeklarasikan diri kalau Akuntansi mainstream bebas nilai saat itu juga telah membentuk realitas dengan cara mendoktrinkan sejumlah pandangan humanitas tertentu.

Namun, ada juga yang memandang ekstrim, Akutansi mainstream dipandang sebagai perwujudan spirit kapitalisme dari sistem pencatatan double entries. Begitulah pandangan Vernoon Kam mengkritisi sejarah Akuntansi yang menurutnya sarat dengan jejak kapitalisme. Padahal Al Mazindarani,Ibnu Khaldun, dan An Nuwairy pun menggunakan double entries yang secara salah kaprah “diklaim” oleh Lucas Pacioli pada beberapa tahun setelahnya.

Krisis filsafat akuntansi juga merebak pada tataran akademis dan profesi. Di pelbagai kampus dan universitas hingga SMA dan SMK, Edukasi Akuntansi tak ubahnya mendidik para mahasiswa dan pelajar sebagai “clerek” atau tukang catat angka antara jurnal dan historical balancing. Padahal reformasi sudah sekkian lama sejarahnya berlalu. Debat ideologis serasa pudar. Dan globalisasi menyapu ke semua lini hingga software Akuntansi untuk SME (Small Medium Enterprise) pun sudah mulai beredar lalau bagaimana halnya lagi dengan Akuntansi untuk Corporate dan Publik ? Berbekal pemahaman dasar AKuntansi yang melekat, software Akuntansi ibarat resto cepat saji dan GPL. Ahmed Riahi Belkoui, salah seorang akademisi Akuntansi Islam, mencatat dalam bukunya “Accounting Theory “ di tingkat kampus dan universitas seorang akademisi akuntansi dihargai sebagai penyusup ( Belkoui:2000) dan oleh Belkoui sendiri, Akuntan tercatat hanya dipandang menjadi sekedar seorang teknisi dari fungsionaris terpisah dari isu-isu social dan technologies dari profesi mereka (Belkaoiu:2001) atas sebab itu jua profesi akuntan telah terjebak dalam zona nyaman dan lebih memilih berada di bawah kendali manajemen heteronomous serta mengakibatkan hilangnya makna sang Akuntan.

Era baru reformasi akuntansi pernah datang, mereka menyebutnya sebagai kelas universal dan menmgklaim mereka datang tidak hanya dengan kompetensi keilmuan seperti wajah mereka yang lalu seiring dengan matinya wajah asli kapitalisme tapi juga sebagai intelektual kemanusiaan. Namun kalangan ini kembali dikritik oleh Ahmed Riahi Belkaoui sebagai kelas universal yang cacat. Cacat karena pada esensinya hanya merepresentasikan kepentingan mempercepat dan memperluas kekuasaan pemilik modal. Senada dengan Belkaoui, begitu juga dengan Gouldner (1978) kelas baru menggunakan reproduksi budaya untuk memelihara kepentingan kekuasaannya hanya sebagai reproduksi ekonomi yang melayani segelintir penguasa pasar. Krisis yang melanda filsafat akuntansi kontemporer hampir sama halnya dengan krisis epistomologi Ilmu Ekonomi. Sebagai disiplin ilmu yang lebih ke arah sains dan “ikutan”, Akuntansi juga melenyapkan segala asset dan kewajiban non moneter. Perhatian kita hanya tertuju pada pengurangan cost untuk maksimalisasi profit yang dapat digunakans ecara rasional oleh shareholder dan stockholder. Namun tak pernah mampu menjelaskan makna di balik persamaan dasar akuntansi: Asset-kewajiban =Ekuitas.

Padahalsekali lagi, Akuntansi memiliki peranan ampuh dalam membentuk realitas dengan cara mendiktekan suatu pandangan humanitas tertentu. (Triyuwono:2002) Selain itu kalau dalam Islam, Akuntansi disebut sebagai muhasaba oleh Hussen Syahattah makan dalam akuntansi mainstream yang notabene rule based lebih menitikberatkan kepada penyediaan laporan financial bagi investor atau creditor yang berpotensial dan penggunaan lainnya dalam membuat investasi berkeputusan rasional dan keputusan penting lainnya (Kieso,Weygandt:2007 )

Ya,. Itulah realitas akuntansi modern memposisikan pembaca laporan keuangan sebagai pihak yang rasional. Basis rasionalitas inilah yang mengundang ambiguitas sendiri dalam menentukan kadar “benar” atau “salah” . Sebagaimana kritik fundamental pada ilmu ekonomi yang lebih sibuk mengedepankan utilitas sebagai acuan rasional(Chapra:2000) kemudian pada dasarnya memberikan kesempatan luks yang sebenarnya tak perlu pada pembeli kelas kakap ataupun CEO Perusahaan Multinasional yang juga banyak mendapatkan kredit secara mudah maka akuntansi dengan asumsi bebas nilai lebih akt dan Arrington serta francis seperti yang dikutip oleh Triyuwono (2002) “with survival at the stake, Only market leadership ,strong, profit, and high price can be allowed to matter”

Reformasi Islam : sebuah proyek Islamisasi Sains

Di telaah dari arah arus pemikitan ekonomi islam yang secara umum terbagi tiga besar: Mazhab Iqtishoduna dengan icon Sayyid Baqir Shadar, Ekonomi Islam mainstream yang banyak lahir di Pakistan dan Indonesia. Serta pemikiran Islam yang lebih bersifat otokritik ang diwakili oleh Jomo KS dari Malaysia. Maka penyikapan arus Akuntansi Islam juga bisa saja berbeda. Tapi hanya satu ikatan kuat yang saling mengecangkan satu sama lain dalam memandang peradaban barat yaitu Tauhid.

Sebagaimana seperti dalam pemikran ekonomi Islam mainstream, bermula melihat masih adanya celah idealism di tengah-tengah realitas social ekonomi yang notabene didominasi oleh semangat kapitalisme, celah idealism dari balik pendirian institusi keuangan Islam dan Perbankan seperti Bank Muamalat di Indonesia pada tahun 90an, Bank Mit Ghamar di Mesir, dan Bank Islam Malaysia Berhad pada tahun 50an lebih lama. Hingga di awal tahun 2010 nanti, diestimasikan dua Bank Umum Syariah akan segera hadir meramaikan persaingan industry perbankan syariah di Indonesia.

Sayyid Muhammad Baqir Shadr menganalisa, anggapan ekonomi islam sebenarnya berpihak pada ekonomi konvensional hanya ada dalam tataran praktik seperti praktik perdagangan bebas di awal masa Nabi SAW akan semakin hilang “nuansa” konvensionalnya kalau sudah dalam tataran non akademik. Nah disinilah ruangan mencari solusi reformasi dalam pandangan hidup Islam terhadap permasalahan yang mendera keuangan dan perbankan konvensional. Dan cara pemecahan masalah yang banyak digunakan sepanjang periode ijtihad oleh para ulama ushul fiqh pun pandangan jumhur ulama terlihat lebih realistis.Tanpa bermaksud mengeyampingkan pandangan fuqaha lainnya. Dan realistis tanpa juga menghilangkan sisi idealitasnya.

Krisis filsafat akuntansi yang berujung pada praktik-praktik akuntan yang kerap keluar dari norma-norma hokum seperti fraud yang terakhir dilakukan oleh Bernard madoff sebesar $50.000.000.00,00. Di Indoensia oleh Sekuritas Sarijaya dan Antaboga yang sama-sama mengakibatkan korban nasabah melakukan bunuh diri. Sejatinya bermula dari ambiguitas nilai-nilai keilmuan dan filter moral yang seharusnya menjadi perisai akhlak bagi tiap individu muslim malah seakan tidak berarti. Padahal Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI yang banyak disebut-sebut sebagai agen IMF atau Neolib, menmgakui kalau seorang muslim yang taat dan sungguh-sungguh walaupun hidup di kutub utara tak sedikit pun tergerak jiwanya untuk memupuk keuntungan bagi dirinya sendiri dengan cara yang curang ( Ardiansyah: 2009)

Islam dan Peran Filter

Fakta di dunia Muslim, kejatuhan kekuasaan politik bisnis,dagang, dan kebudayaan Islam lebih didominasi guncangan eksternal seperti guncangan bertubi-tubi perang salib dan lemahnya moralitas penguasa Islam yang telah terjbak dalam zona nyaman. Hilangnya perdagangan Internasional dan kapitulasi kekuatan barat juga tercatat sebaga pengurang kekuasaan poltik Islam. Di Indonesia, Sejarawan muslim, Ahmad Mansyur Suryanegara menulis dalam buku terbarunya yang dirilis di tahun 2009 kalau pasar Islam di sepanjang pantai pesisir jawa dan sumatera adalah basis kekauasaan politik Islam(Suryanegara:2009) Sebaliknya ketika ada perlawanan dari dalam hutan sumatera akan mudah bagi colonial Belanda melakukan pemadaman perlawanan seperti terlihat dalam perlawanan Radin Intend an perlawanan Imba Koesoema (Suryanegara:2009) Namun, di masa pra kemerdekaan Indonesia, kebangkitan kesadaran akan persatuan kemerdekaan justru bermula dari pasar. Sebutlah gerakan Serikat Dagang Islam yang cenderung terbuka dan multietnis. Selain sejumlah factor tadi, ada variables lain yang dicatat juga oleh Ahmad Y Hassan, yaitu Faktor Lingkungan dan alam. Bencana alam yang puncaknya sangat mematikan dan menurnkan populasi ummat islam secara massif pada tahun 1341,1348,1349 H dengan sebutan sebagai Black Death yang menyebar di seluruh dunia muslim. Kolonisasi dan intervensi militer yang puncaknya adalah lenyapnya khilafah islamiyah tahun 1924 oleh Mustafa Kemal Pasha.

Oleh karena itu, mundurnya kaum muslim lebih banyaknya bermukla tekanan dari luar dan dari ambrolnya mekanisme akhlak yang telah menjangkiti penguasa muslim di dekade akhir kekhilafahan. Borosnya penggunaannya sumber daya alam uintuk obsesi proyek-proyek mercusuar di masa Sultan Sulaiman Al Qanuni dan setelahnya juga patut dicatat sebagai implikasi mulai menurunnya kolektifitas akhlak penguasa muslim kala itu(Chapra:2000). Bahkan sesungguhnya, secara sadat atau tidak sadar sekularisasi sudah berlangsung kala seorang muslim melepaskan tata pola hidupnya dari syariah islam. Karena pada saat itu jua hamper lenyap sama sekali batasan yang tegas tentang akhlak dan etika. Apalagi dengan sitem etikanya mengambil dari definisi ilmuwan barat tentang moralitasyang sejatinya sudah seharusnya tidak relevan.

Karena bagi peradaban Barat,moralitas pun bisa direlatifkan(Somali:2009) hatta, dari jauh-jauh hari Durkheim,salah seorang filosof barat, juga sangat meyakini kalau moralitas harus empiris. Karena,bagi Durkheim, moralitas lebih sebagai fakta sosial daripada sekedar nilai-nilai. Dengan kata lain, moralitas harus berdasarkan apa yang paling banyak dibuat masyarakat sekalipun dari segi agama hukumnya haram namun selama masih banyak masyarakat yang permissive maka saat itu juga menjadi prinsip yang harus dihormati lebih dari agama.

PSAK Syariah dan PSAK ETAP

Rekonstruksi AKuntansi Keuangan Indonesia pada hari ini adalah seluas mata memandang dan sejauh telinga mendengar.Transaksi murabahah dikenai pajak ganda saja sudah mengundang pelbagai perdebatan antara stakeholder Ekonomi Syariah yang geram dan gemas dan Direktorat Jenderal Pajak yang tak jua kunjung paham. Karena measuring,recording, dan disclosing tiap transaksi secara syariah sedemikian unik dan terlihat “aneh” sehingga terasa sangat perlu dibuat Pernyataan Standar AKuntansi Keuangan sendiri yang mencakup segala bentuk,karakter,jenis transaksi, yang sesuai nilai-nilai syariah dengan di dukung oleh Fatwa Dewan Syariah Nasional dan merujuk juga pada Lembaga Akuntansi Syariah Internasional atau AAOIFI yang berada di Bahrain membuat “peralatan tempur” Ekonomi Syariah perlahan merangsek maju.

Namun menjelang masuknya IFRS yang diperkirakan akan diadopsi secara penuh,Ikatan Akuntan Indonesia menerbitkan juga Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntanbilitas Publik. Yang sengaja dialokasikan untuk sektor UMKM. Selama ini UMKM terlihat kesulitan mendapatkan pembiayaan dari Perbankan Syariah yang sudah sangat serius menggarap sektor UMKM dan Pertanian karena ketiadaan tools pendudkung pembiayaan syariah tersebut. Yaitu Akuntansi untuk SME /Small Medim Enterprise. Dengan format yang lebih simple dan mudah, diharapkan ke depanya SAK ETAP ini dapat juga digunakan di BMT atau di BPRS serta usaha microfinance lainnya. Yang menarik dari hal disebut terakhir, menurut penelitian Dr Mohammad Obaidullah dari IRTI IDB, usaha keuangan mikro di Indonesia terlihat lebih mapan dan membumidi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain yang telah menerapkan konsep serupa dengan microfinance tersebut. Walaupun menurut Direktur Teknis IAI, Ersa Tri Wahyuni SE M.Acc CPMA, Indonesia dalam hal penerapan SAK ETAP didahului oleh Afrika Selatan yang telah terlebih dahulu mengeluarkan Pernyataan Standar Akuntansi untuk usaha di sektor menengah ke bawah.

Melihat dengan diakomodasinya dua standar Akuntansi Keuangan yang memainkan peranan signifikan dalam percaturan perekonomian Indonesia menunjukkan tekad dan niat bulat dari IAI untuk turut serta mengembangkan Ekonomi Syariah di bumi persada ini.Bahkan PSAK Syariah diakui di luar negeri kalau PSAK Syariah mempunyai nilai-nilai Islam yang sagat ketat dan kuat.

Ala Kulli Hal, Akuntansi Islam pada hari-hari ini adalah seluas bola mata memandang dan telinga mendengar.Kejatuhan Akuntansi Kapitalis dari sisi Ideologis dan faktanya, adalah dua mata pedang bagi Akuntansi Islam. Satu sisi, bisa dan selalu menambah yakin kerapuhan pemikiran sekuler yang dalam praktik akuntansi kapitalis sarat degan pemujaan pemegang modal. Namun satu sisi yang lain Akuntansi Islam memasuki sisi yang pragmatis tanpa ada perubahan signifikan sementara pakar akuntansi dunia dan ekonom sudah mengakui akal-akalannya Akuntansi (Joseph Stighlitz:Dekade Keserakahan dan Kehancuran ). Dengan sudut pandang seperti ini, seorang akuntan semakin prudent atau bahkan kalau perrlu setiap membaca neraca keuangan saat itu juga ingat neraka !!!!

Bogor, 22 November 2009 Saat-saat penting menjelang ujian