Salah satu poin penting kritik yang sangat fundamental terhadap asumsi bebas nilai adalah simplikasi masalah dan efek yang ditimbulkan secara makro ekonomi dan jangkuan luas secara holistik. Asumsi Bebas nilai mengasumsikan dalam sains hanya ada kekosongan nilai yang tergantung siapa bisa menguasai dan memberikan warna pada sains tersebut. Itulah mengapa kala dihadapkan pada gagasan Islamisasi Pengetahuan ataua Aslama Al Ma’rifah, sejumlah cendikiawan menolak mentah-mentah gagasan tersebut dengan asumsi segala sains yang telah dan patut kita telaah pada dasarnya tergantung di tangan siapa menjadi bermanfaat. Secara moderat, Ziaddin Sardar pun menilai kalaulah Sains itu bebas nilai,seperti yang ditunjukkan ilmu-ilmu eksakta, maka pendekatan kepadanya yang membuat kita menjadi lebih sekuler.

Merujuk pada bahasan Dr Muhammad Syafii Antonio di seputar gagasan mengapa perlunya kita menyediakan SDM yang kapabel untuk memasuki ranah Perbankan dan Lembaga Keuangan Syariah ternyata dunia telah terbagi menjadi dua. Yang pertama, kata beliau, mereka yang terbiasa dengan tradisi Turats di pondok pesantren  dan menguasai pelbagai tools ilmu-ilmu keislaman seperti bahasa Arab,Fiqh, kitab kuning dan lain-lain. Di saat yang sama, kata beliau, para bankir menguasai manajemen keuangan,Akuntansi Finansial,Statistik, Manajemen Operasional, Akuntansi Biaya namun minim pengetahuan di bidang Islam. Otomastis hal-hal seperti inilah yang menyebabkan terjadinya misunderstanding dan asumsi bebas nilai itu senantiasa muncul. Tanpa mengetahui terlebih dahulu  akar epistomologi dan sejarah yang melatarbelakangi keilmuan itu muncul efeknya adalah penyederhanaan persoalan makro menjadi semata moral hazard dan error human saja. Padahal dalam Islam, tiga pilar yang menopanginya yaitu akidfah, syariah, dan akhlak membentuk sistem sekaligus para pelakunya. Syariah itu sendiri tak semata-mata berputar pada Fiqh saja tetapi juga seluruh ruang lingkup gerak individu yang terjalin dengan akidah dan akhlak itulah Syariah.

Efek penyederhanaan masalah dengan asumsi bebas nilai juga sejatinya bermuara pada ketidak tahuan dimana wajah sarat nilai dari satu keilmuan itu. Mau tidak mau Tradisi keilmuan yang pertama kali dengan gemilang dikembangkan para pelajar Islam di Baghdad dan Andalusia menarik para sarjana dari Barat untuk belajar untuk membangun peradaban mereka yang masih remang-remang. Sekembalinya ke negeri mereka, dilakukanlah penerjemahan pelbagai literatur keislaman dalam bahasa latin dan modifikasi sesuai dengan selera dan latar belakang budaya barat. Sampai saat ini, Tradisi keilmuan konvensional yang telan-telan kita pelajari masih memperlihatkan ego kebudayaan yang positivistik sentris dan relatifitas nilai. Relatifitas nilai itu juga salah satu efek lain dari simplifikasi masalah keilmuan. Padahal tanpa disadari dengan merelatifkan moralitas dan standar “benar “ dan “salah” dengan sendirinya telah membentuk absolutnya “relatifitas nilai “ itu.

Di negeri kita, simplifikasi tak hanya mencakup globalitas makro dalam perekonomian dan juga biaya sosial yang lebih tinggi. Hatta dalam hal Ideologi negara, Pancasila diasumsikan oleh sejumlah kalangan yang mengaku reformis dan pembaharu Islam juga bebas nilai. Maka tak heran, Pancasila yang perumusannya mengundang konsensus dari para pejuang nasionalis muslim seperti K.H Agus Salim dan K.H Wahid Hasyim, Kasman Singodimejo, daln lainnya, malah sebagai “stick yard” untuk ummat Islam dalam hal pemenangan hak konstitusi yang seharusnya menjadi seolah-olah mengancam persatuan dan kedaulatan NKRI. Dari Awal pun negeri ini berdiri sudah mulai dikhanati dengan ancaman memisahkan dirinya kawasan timur Indonesia dari NKRI kalau tetap ada tujuh kalimat yang bernuansa syariah Islam. Dan Kini pelbagai undang-undang yang mengakomodir kepentingan ummat islam sebagai mayoritas di negeri ini dan juga sejarah mencatat lagi-lagi para santi dan ulama lah yang mengobarkan perang Jihad mempertahankan NKRI dari invasi sekutu pasca memproklamirkan kemerdekaannnyamasih dianggap sebagai obstacle atas nama “ persatuan “ dan “kedaulatan NKRI. Padahal tiap poin-poin dalam Panca Sila juga banyak merefleksikan nilai-nilai Islam. Mengapa ? karena hanya dalam Islamlah kosa kata Adil dari kata Al Adalah dan Adab yang memiliki relasi kuat dengan nuansa khuluq dalam ajaran Islam. Maka benarlah yang menjadi judul bukunya “Pancasila bukan untuk Menindas Hak Konstitusi Ummat Islam !

Finally, sejarah keilmuan dalam Islam adalah sejarah bertemu mukanya Islam sebagai ajaran wahyu dengan segala spek isyarat untuk memperhatikan apa yang di langit dan dibumi. Kala keilmuan membuat manusia semakin tau semakin pandai menggasak alam. Kala keilmuan telah menghilangkan segala aspek non moneter dengan alasan susah dinilai dengan monetary unit. Saat itu juga keramahan alam harus dibalas dengan keganasan manusia yang bisa saja motivasinya dari asumsi bebas nilai tadi. Kita tidak perlu heran, di kampus  yang notabene berlatar belakang Islam malah semakin memeprlihatkan wajahnya yang jahiliyah. Tradisi akademik yang bebas nilai  mengasumsikan selama dalam batas akademik maka masih wajar tanpa dlihat lagi efek dan substansinya menghilangkan maqashid syariah atau tidak. Saudahs aatnya kita katakan dengan tegas namun elegan tak ada lagi hedge atas exploitation de ll’home par ll’home. Karena, ia bermakna ideologi boleh salah tapi tidak dengan keilmuan. Tuhan boleh salah dalam memberikan aturan sehingga merasa perlu untuk tafsir hermeneutika tapi tidak dengan manusia yang berpotensi menjadi tuhan bag dirinya sendiri. Taregi Dehumanisasi. Menghilangkan kemanusiaan dengan superioritas manusia itu sendiri bak Lingkaran malapetaka yang tak pernah selesai atau inikah rasanya jahiliyah ??