Post #1

1 reply

Mahbubi Ali wroteon April 29, 2009 at 9:22am

Benarkah ekonomi islam hanya menjadi alat kapitalisas?Kapitalisme Religius, demikian Vadillo mengungkapkan..banyak pihak menuding, praktek ber-ekonomi syariah di dunia, termasuk jga d indonesia masih sangat pragmatis dan terlalu profit oriented. Yang pntng sesuai syariah..!Adiwarman menyebutnya dengan istilah, “Formalisasi Syariah Tanpa Jiwa” bagaimana menurut anda??

Report

Post #2

Tatto Sugiopranoto wroteon April 30, 2009 at 6:24am

Assalamu’alaikum Wr.Wb. Mas Mahbubi. Semoga Allah SWT meridhoi apa yg kita usahakan. Salawat serta salam kita sampaikan buat Muhammad SAW, rasul Allah, yg telah mengajarkan kita semua bagaimana mensyukuri nikmat.

Menurut saya, apa yg disampaikan para akhli ekonomi, pengamat ekonomi islam termasuk Umar Vadillo adalah praktek ekonomi islam saat ini merupakan salinan (foto copy) dari ekonomi kapitalis barat.Pendapat saya didasari atas fenomena saat ini yg diusung oleh praktisi ekonomi islam saat ini adalah instrumen ekonomi yg mengarah ke kepentingan kapitalis. Contoh, bank dan segala instrumen perbankan lebih berpihak untuk kepentingan kapitalis. Produk simpanan diarahkan bagi pemilik modal dengan iming2 lebih menguntungkan, demikian juga dengan produk pembiayaan yg lebih diarahkan pada sektor konsumtif seperti murabahah, ijarah dsb.

Tujuan ekonomi sendiri adalah untuk pemenuhan kebutuhan manusia, mazhab apapun akan mengatakan hal demikian (kecuali Keynes yg selalu bicara capital dalam bentuk materi).

Tujuan utama dari Ekonomi Islam itu sendiri hampir sama dengan apa yang dicetuskan oleh Adam Smith, Karl Marx dll. Yg membedakan adalah bahwa dalam kegiatan EKONOMI ISLAM harus didasari Amar Makruf Nahi Munkar (AMNM). Seperti apa AMNM itu. Al-Qur’an dan Al-Hadist menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, seperti apa kita harus bersikap terhadap modal/harta/keahlian/tenaga, bagaimana tata cara bertransaksi dan melakukan perjanjian.

Perbankan Syariah, Reksadana Syariah, Pasar modal Syariah dan instrumen ekonomi lain, bahkan SUKUK, masih jauh dari tujuan “pemenuhan kebutuhan manusia”. Artinya, sektor produksi yang dapat memberikan nilai tambah dan memberikan kontribusi lapangan kerja pada masyarakat belum tersetuh secara utuh. Semuanya dibuat seolah hanya untuk kebutuhan pemilik modal saya, bukan untuk menggerakkan sektor riil untuk menciptakan produksi dan nilai tambah. Ini menurut pendapat saya yg bukan akhli ekonomi.

Wallahu’alam bishowab

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Report

 

Post #3

Achyat Ahmad wroteon May 3, 2009 at 6:24am

assalamualaikum
sebetulnya saya tidak punya otoritas apapun di bidang ini. di sini, saya hanya menghormati saudara pengundang. menurut saya, dia mengundang saya bukan karena saya bisa memberikan solusi, tapi mungkin untuk membuka kran pendapat-pendapat ‘yang salah’, agar mengalir lebih deras. bukan begitu, bung boby? he he he…

saya melihat, di sekeliling lingkungan saya, terdapat begitu banyak para penjual cireng, cilok, teote, guddu, jemblem, dls-dls, yang bergerak tanpa modal dari bank, termasuk yang berbasis ‘syariah’ sekalipun.
saya mengundang para pakar ekonomi untuk tidak sekadar berteori, tapi bagaimana teori-teori itu diramu, kemudian digerakkan di lingkungan saya, atau mungkin juga di lingkungan anda.

di sini, di pasar yang dibuka sendiri ini, mereka akan dapat langsung menerapkan teori-teori ekonomi syariah yang menyelamatkan itu, lalu mungkin kelak akan menjadi besar, dan memiliki suara yang cukup lantang untuk berteriak pada para kapitalis yang berbaju syariah itu…

Report

 

 

Post #4

1 reply

Irsan Yanuar wroteon May 3, 2009 at 7:14pm

@Tatto: Pemenuhan kebutuhan manusia hanyalah salahsatu aspek ekononmi. aspek lainnya adalah keterbatasan sumberdaya (resources) dan cara2 bgmn sumberdaya yg terbatas itu dpt memenuhi kebutuhan.

dlm bidang keuangan, resources yg terbatas itu (uang), dimiliki oleh pemilik modal. lalu bgmn caranya (menurut ekonomi islam) para pemilik uang ini tertarik untuk memenuhi kebutuhan dana pihak lain?

mudah2an yg menjawab mendapat pahala.

Report

 

Post #5

Irsan Yanuar wroteon May 3, 2009 at 7:18pm

@Achyat Ahmad: bagaimana cara para penjual cireng/ cilok itu menerapkan ekonomi syariah?

Report

 

Post #6

Irsan Yanuarwroteon May 3, 2009 at 7:23pm

@Mahbubi Ali: setuju. saya melihat tidak ada bedanya ekonomi biasa dgn ekonomi islam/ syariah. hanya beda label saja. kayaknya tidak ada prinsip baru yg ditawarkan.

Report

 

Post #7

Achyat Ahmad wroteon May 3, 2009 at 7:37pm

to Irsan Yanuar:
ada baiknya jika komentar ini didasari oleh data yang jelas, hasil penelitian objektif, atau hal-hal absah yang lain.
saya melihat itu adalah paraasumsi pribadi anda?

Report

 

Post #8

Mahbubi Ali wroteon May 3, 2009 at 11:14pm

@ Pak Achyat: terima kasih atas partisipasinya. sengaja saya mengundang anda untuk melihat dari perspektif yg berbeda: perspektif pesantren dan lingkungan.
@ Irsan Yanuar: memang dibutuhkan data dan perspetif yg jelas. Jika misalnya dikatakan tidak ada bedanya, dari sisi apa kita mengatakan seperti itu?. sebab kalau dari aspek, keberpihakan terhadap sektor riil, jelas bank syariah lebih berpihak. ini bisa dibuktikan dengan FDR yang di atas 100%. pada sisi komposisi pembiayaan, hampir 80% dana yang disalurkan masuk ke ukm.

Report

 

Post #9

Irsan Yanuar wroteon May 4, 2009 at 2:28am

@Mahbubi Ali: FDR itu apa? Sebetulnya saya sudah bertanya2 ke beberapa forum, tapi tidak ada jawaban. pertanyannya adalah: apa itu ekonomi islam, dan konsep/ logika ekonomi apa yg diusungnya. tapi kok tidak ada yg jawab… mudah2an forum ini dapat membantu.

Report

 

Post #10

Irsan Yanuar wroteon May 4, 2009 at 2:40am

@Achyat Ahmad: Itu semua memang pendapat pribadi saya… kalau segala sesuatu harus bikin penelitian dulu ya agak sulit…

Report

 

Post #11

Irsan Yanuar wroteon May 4, 2009 at 2:46am

@Achyat Ahmad: atau memang mas achyat sudah bikin penelitian tentang kaitan penjual cireng dgn ekonomi islam?

Report

 

Post #12

1 reply

Irsan Yanuar wroteon May 4, 2009 at 8:01am

Wah gak ada yg jawab…

Ini saya perjelas pertanyaan saya yaa… Ekonomi, secara umum, bukan melulu soal keuangan dan pembiayaan. Persoalan pokok dalam ekonomi adalah:

1. pemenuhan kebutuhan
2. sumberdaya yg terbatas
3. bagaimana agar kebutuhan dapat dipenuhi dgn sumberdaya yg terbatas

Nah… bagaimana islam/ ekonomi islam menjawab persolan itu? Selanjutnya, bagaimana mekanisme harga terjadi menurut ekonomi islam? dst…

Tujuan saya banyak bertanya ini supaya lebih mengenal dan berdiskusi soal ekonomi islam, bukan debat kusir.

saya pikir banyak orang yg berteriak2 kehancuran kapitalisme, kejayaan ekonomi islam, dst… sebetulnya tidak paham soal ekonomi islam… buktinya pertanyaa saya tidak dijawab.

Report

 

Post #13

Irsan Yanuar wroteon May 4, 2009 at 3:51pm

Masih gak dijawab…

Contoh konkritnya (biar lebih membumi)…Soal susu di Indonesia. Banyak sekali anak2 Indonesia yg kekurangan gizi… produksi susu pun cukup banyak, tapi tidak terserap oleh industri. ditambah2 harga internasional susu turun. jadi banyak susu yg terbuang…

bagaimana kira2 ekonomi islam menjawab persoalan ini?

Report

 

Post #14

Achyat Ahmad wroteon May 4, 2009 at 11:51pm

@ Irsan Yanuar

sejak awal saya tidak memperbincangkan keterkaitan apapun. sebab itu bukan topiknya.

topik diskusi ini adalah ekonomi islam = kapitalisme. dideskripsikan bahwa agaknya ekonomi islam secara praktis hanya merupakan kepanjangan tangan dari kalangan kapitalis. lembaga2 keuangan syariah pun kenyataannya tidak memihak main street.

karena itu saya sarankan, daripada gerah mengamati lks2 yang seperti itu, sebaiknya membuka pasar sendiri, dan menerapkan ekonomi islam di pasar yang baru dibuka itu.

Report

 

Post #15

Achyat Ahmad wroteon May 4, 2009 at 11:54pm

@ Irsan Yanuar

pertanyaan anda itu bukannya sulit, tapi terlalu lumrah, sehingga tidak menarik untuk dibahas. jadi, agaknya anda tidak sedang ingin berdiskusi, namun ingin belajar. mungkin teman2 tidak ada waktu untuk itu di sini.

Report

 

Post #16

Irsan Yanuar wroteon May 5, 2009 at 1:45am

@Achyat Ahmad: Betul sekali… saya ingin belajar dan mengenal konsep ekonomi islam. Kelihatannya agak susah mo bertanya… karena gak ada yg jawab. Bukankah berbagi ilmu itu ibadah?

Saya mengajukan pertanyaan yg mungkin terlalu lumrah… seharusnya tidak sulit menjawabnya kan? Kecuali kalau memang tidak ada yg tahu jawabnya.

Report

 

Post #17

Irsan Yanuar wroteon May 5, 2009 at 2:01am

@Achyat Ahmad: Sebetulnya saya & mas achyat bertujuan sama, yaitu mengajak teman2 lainnya teori- teori ekonomi syariah sehingga dapat diterapkan secara praktis. tapi mungkin pertanyaan saya terlalu provokatif.

Report

 

Post #18

Achyat Ahmad wroteon May 5, 2009 at 2:29am

silakan yang lain…

Report

 

Post #19

Irsan Yanuar wroteon May 5, 2009 at 3:17am

Karena penasaran, saya cari sendiri jawabnya… ini kira2:

Wikipedia:

Sistem ekonomi syariah sangat berbeda dengan ekonomi kapitalis, sosialis maupun komunis. Ekonomi syariah bukan pula berada ditengah-tengah ketiga sistem ekonomi itu. Sangat bertolak belakang dengan kapitalis yang lebih bersifat individual, sosialis yang memberikan hampir semua tanggungjawab kepada warganya serta komunis yang ekstrim[1], ekonomi Islam menetapkan bentuk perdagangan serta perkhidmatan yang boleh dan tidak boleh di transaksikan[4]. Ekonomi dalam Islam harus mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, memberikan rasa adil, kebersamaan dan kekeluargaan serta mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha.

Kesan saya: tidak ada konsep apa2 di sini… hanya cita2/ utopia.

ekonomisyariah.blog.gunadarma.ac.id

…Ekonomi syariah berbeda dari kapitalisme, sosialisme, Berbeda dari kapitalisme karena Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Selain itu, ekonomi dalam kaca mata Islam merupakan tuntutan kehidupan sekaligus anjuran yang berprinsip pada nilai ibadah.

Ekonomi syariah sangat menarik untuk digunakan sebagoi solusi karena sekali lagi mempunyai unsur-unsur keadilan didalamnya yang mempunyai akad-akad didalamnya yang menekankan keadilan dalam berbagi masalah perekonomian karena didalam akad-akad dalam ekonomi syariah terdapat ijab dan kabul dalam setiap kegiatan perekonomian, jadi mampu meminimalisir ketidakpuasan atau ketidakadilan antara pelaku ekonomi. dan Satu lagi ekonomi syairiah berbeda dengan sistem ekonomi yang lain karena tidak adanya unsur Riba. Dan banyak lagi unsur-unsur yang bisa digali dan bisa menjadikan ekonomi Islam sebagai solusi masalah perekonomian baik di Indonesia bahkan didunia.

Kesan saya: ini membahas unsur2 yg seharusnya ada dlm ekonomi syariah… bukan konsepnya.

http://www.ekonomisyariah.net artikel: Bisnis Syariah Adalah Solusi, Bukan Alternatif!

…Ia menjelaskan, ekonomi syariah mengajarkan tegaknya nilai-nilai keadilan, kejujuran, transparansi, antikorupsi, dan eksploitasi. Artinya, misi utamanya menegakkan nilai-nilai akhlak dalam aktivitas bisnis, baik individu, perusahaan, ataupun negara.

Kesan saya: tidak jelas bagaimana itu semua dapat dicapai.

hendrowibowo.niriah.com arftikel: Sistem Moneter Islam dan Konvensional dalam Tinjauan Sejarah

…Tidak ada teks yang spesifik dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang dapat menjelaskan bahwa sistem berdasarkan bimetallic standar yang berlaku selama masa nabi Muhammad SAW dan sejarah Islam pertama atau bahkan full-bodied monometallic standard yang berlaku kemudian merupakan kewajiban bagi umat Islam untuk menggunakannya secara terus-menerus. Hal ini secara jelas terlukiskan dalam fakta sejarah bahwa Khalifah Umar bin Khatab pernah berpikiran untuk memperkenalkan kulit unta sebagai mata uang yang kemudian membawa refleksi bagi tulisan-tulisan para fukaha’ (ahli fikih) melalui sejarah Muslim. Contoh, Imam Ahmad bin Hambal (w 241H/1328M) telah mengamati bahwa tidak ada kerusakan dalam pengadopsian mata uang lain yang secara umum diterima oleh masyarakat.11 Ibnu Hazm (w 456H/1064M) juga tidak menemukan beberapa alasan bagi kaum Muslimin membatasi mata uangnya hanya kepada dinar dan dirham.12 Ibnu Taimiyyah (w 505H/1328H) merasa bahwa dinar dan dirham tidak dinginkan untuk demi milik mereka saja karena kemampuannya membantu menjadi media alat pertukaran.

Kesan saya: ini cerita tentang mata uang… bukan konsep ekonomi islam…

Report

 

Post #20

1 reply

Irsan Yanuar wroteon May 5, 2009 at 3:27am

Kalau ada yg ingin menambahkan silahkan…mungkin saya salah, tapi kesan saya tentang ekonomi islam/ syariah adalah:

1. menyalahkan sistem ekonomi yg ada… kapitalis lah, komunis hancur lah, dsb atas segala kegagalan ekonomi.
2. mengusulkan ekonomi islam/ syariah sebagai solusi untuk mencapai suatu idealisme (kemashalatan, keadilan, tidak ada eksploitasi, dst) , tapi…
3. pemahamannya baru pada ciri2 transaksi saja… belum pada solusi persoalan mendasar ekonomi;
4. belum ada konsep yg jelas dan…
5. tanpa konsep yg jelas, apa yg disebut ekonomi islam tidak akan memiliki daya tarik bagi masyarakat dan…
6. tanpa daya tarik, maka ekonomi islam tidak akan kompetitif dibanding sistem ekonomi lainnya. Jadi…
7. kalau memang serius untuk mengedepankan ekonomi islam, mulailah berpikir tentang konsep ekonomi islam yg jelas, bukan serta merta menyalahkan sanasini…

Report

 

Post #21

Tatto Sugiopranoto replied to Irsan’s poston May 6, 2009 at 12:23pm

Bapak Irsan Yanuar yg terhormat,
Saya mohon maaf, bukannya tdk menjawab pertanyaan-pertanyaan anda, tetapi kegiatan saya sehari-hari bukan cuma buka facebook.
Saya setuju ketika anda berbicara bahwa salah satu aspeknya adalah sumberdaya (resource). Dalam islam reource dibagi dalam 5 bagian, dan uang bukanlah sebuah resource. Sebelum ada uang, kebutuhan manusia bisa dipenuhi dengan cara barter.

Sekali lagi saya bukan ahli ekonomi dan juga bukan ahli syariah, tapi saya hanya seorang yg mencari kebenaran dengan panduan syariah. Sehingga saya tidak dapat memberikan jawaban dalam kolom yang sempit ini, karena dengan jawaban singkat saya khawatir akan menimbulkan interpretasi yg keliru.

Kalau boleh, bisa saya mendapatkan email address anda sehingga saya bisa mengirimkan tulisan saya tentang konsep, kerangka dasar dari ekonomi islam yang saya fahami sebagai jalan hidup. Dalam tulisan saya juga ditulis mengenai resource dan definisi dan fungsi uang baik menurut para akhli barat maupun menurut ulama islam.

Report

Post #22

1 reply

Mohamad Firdaus wroteon May 17, 2009 at 2:05am

Maaf sebelumnya, menurut saya apa yang diterapkan mengenai ekonomi islam saat ini, masih merupakan sebuah alat yang digunakan oleh kaum kapitalis untuk meraup keuntungan, contohnya mengenai pendirian bank syariah saat ini merupakan alat bagi kaum kapitalis dan neoliberalis untuk meraup keuntungan dari cara yang lain, mengapa demikian,di saat ini sistem bank konvensional ternyata kurang mampu menghadapi krisis keuangan didunia, mereka melihat ternyata sistem bank syariah lebih survive dari pada bank konvensional. Dan mereka menggunakan ini bukan untuk kemashlatan umat tapi untuk bagaimana mesin bisnisnya terus tetap berjalan. Jadi ekonomi islam saat ini secara impelementasi masih lebih besar dipengaruhi oleh, para pengusaha kapitalisme.

Report

 

Post #23

Mahmal Rizka(Indonesia) replied to Mahbubi’s poston May 18, 2009 at 7:09am

Menurut hemat saya, yang dibutuhkan dalam penerapan ekonomi Islam adalah: 1) Ahli ekonomi yang benar-benar memahami hakikat ajaran islam. 2) Para ulama yang memahami permasalahan-permasalahan ekonomi (yang sangat kompleks), dan 3) Sehingga kombinasi kedua pihak tersebut bisa membangun masyarakat yang mengerti ekonomi islam (permasalahan ekonomi serta hakikat dari ajaran islam dalam memenuhi kebutuhan ekonomi). Jika 3 hal tersebut terpenuhi akan sangat membantu segala upaya dalam rangka membangun ekonomi Islam.

Report

 

Post #24

Ariz Mencari Cinta replied to Irsan’s poston May 24, 2009 at 7:18am

maaf, sebelumnya.
idealisme dan cita-cita mungkin dianggap hanya khayalan karena tidak dapat di wujudkan dalam sebuah teori. tapi pada dasarnya, kemunculan sebuah teori juga merupakan tanggapan dari kenyataan yang terjadi. teori ekonomi juga mengalami hal yang sama, lahir sebagai tanggapan atas kejadian-kejadian ekonomi.
terkait tentang konsep-konsep ekonomi, pasti ada perbedaan. jika konsep ekonomi selain islam kebanyakan berlandaskan teori matematis dengan berbagai asumsi, sedang dalam islam jarang ditemukan, itu tidak bisa dijadikan argumen untuk mengatakan ekonomi islam tak berkonsep dan hanya dianggap sebagai kesimpulan normatif semata.
jika anda mengatakan bahwa ekonomi islam hanya pada tataran karakteristik transaksi, mungkin anda perlu belajar lebih banyak tentang tata cara transaksi dalam islam. dari tata cara tersebut anda juga harus menganalisanya sehingga persoalan mendasar dari ekonomi islam dapat anda pahami.
tapi apakah konsep-konsep ekonomi semacam kapitalisme tidak muncul dari sebuah idealisme?

Report

 

Post #25

Ariz Mencari Cinta replied to Mohamad’s poston May 24, 2009 at 7:46am

jika ekonomi islam disebut sebagai alat ekonomi yang menguntungkan, itu membuktikan ekonomi islam adalah solusi untuk mengatasi permasalahan ekonomi.
jika kaum kapitalis menjalankan ekonomi syari’ah sekalipun hanya sebatas pada praktiknya saja tanpa memandang konsep islam sebagai maslahat, berarti mereka percaya kepada kemampuan ekonomi syariah.
dalam teori ekonomi manapun, keuntungan (ribih) adalah tujuan yang hendak dicapai. jika kaum kapitalis dan neoliberalis memanfaatkan ekonomi islam untuk meraup keuntungan yang digunakan untuk membangun dunia mereka, kenapa justru yang dianggap salah adalah sistemnya?
pada prinsipnya ekonomi islam tidak bisa dikatakan sebagai bagian dari kapitalisme karena dilaksanakan kaum kapitalis, bahkan bisa dikatakan merekalah para pelaku ekonomi islam (dalam tataran pelaku ekonomi).
bagaimana dengan anda??

Report

 

Post #26

Ariz Mencari Cinta replied to Irsan’s poston May 24, 2009 at 8:15am

Irsan Yanuar wrote:
Wah gak ada yg jawab…

Ini saya perjelas pertanyaan saya yaa… Ekonomi, secara umum, bukan melulu soal keuangan dan pembiayaan. Persoalan pokok dalam ekonomi adalah:

1. pemenuhan kebutuhan
2. sumberdaya yg terbatas
3. bagaimana agar kebutuhan dapat dipenuhi dgn sumberdaya yg terbatas

Nah… bagaimana islam/ ekonomi islam menjawab persolan itu? Selanjutnya, bagaimana mekanisme harga terjadi menurut ekonomi islam? dst…

saya hanya bisa mengatakan:
sebenarnya teori ekonomi makro sekalipun tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut.
contoh:
untuk mengatasi inflasi pemerintah melakukan kebijakan fiskal kontraksioner dengan menekan pendapatan nasional yang pada akhirnya akan berpengaruh pada tingkat harga. nah apakah dengan cara tersebut akan menyelesaikan masalah? teori ini khan berlaku jika beberapa variabel ekonominya sebagian dianggap konstan.
(jika pemahaman saya tentang teori ini salah salah mohon di jelaskan kebenarannya. terima kasih)

Report

 

Post #27

Taufik Hidayat wroteon May 25, 2009 at 12:07am

klu kita runut lg, ad banyak pemikiran juga dlam ekonomi islam. mazhab yg satu bilang kt g usah khawatir kurang SDA, karena pada dasarnya semua sudah dicukupi oleh tuhan, sementara yg lain ada juga yg sepemikiran dg keterbatasan sumber daya, meski semuanya bersandar dari Al quran. kita memang harus menyatukan pemikiran dulu. dan terus mengeksplore untuk membangun sistem. di satu sisi kita melakukan scientification of Islam dan disisi lain menjalankan Islamization of knowledge.

Report

 

Post #28

Willy Mardian  wroteon June 1, 2009 at 11:05pm

udah intinya banyak-banyak belajar lagi dan menelaaah secara mendalam

Delete Post

 

Post #29

Anton Budiyono (Indonesia) wroteon July 6, 2009 at 3:10am

untuk : Sdr Irsan yanuar.
assalamualaikum. maaf hanya ingin memberi sedikit stimulus.
dalam ekonomi Islam ada alat-alat yang bisa digunakan oleh penggunanya, baik secara makro atau mikro
1. iqtha ‘ ( pembagian tanah oleh pemerintah)
2. Zakat Maal (kewajiban mengeluarkan 2.5% dari harta yang sudah jatuh nisab dan wa’ad nya)
3. Zakat fitrah (kewajiban mengeluarkan bahan pokok dari setiap jiwa)
4. Infaq/ sedeqah (pengeluaran harta atau apapun yang bisa bermanfaat yang besarannya unlimited)
5. Jizyah (pajak yang dibayarkan oleh ahli dzimah, atau non muslim yang berada di daerah kekuasaan muslim)
6. Usyur (pajak 1/10, untuk setiap pedagang non muslim yang masuk ke wilayah kekuasaan muslim)
7. Kharaj : Pajak tanah untuk non muslim

mudah-mudahan alat-alat yang ada dalam ekonomi Islam tsb, dapat membantu sdr Irsan yanuar yang terhormat untuk menemukan jawaban atas semua pertanyaan sdr.

silahkan teliti ala-alat tadi, dan temukan kaitannya secara makro dan mikro.

wallahu’alam
wassalamu’alaikum.

Report

 

Post #30

Aam Slamet Rusydiana  wroteon July 12, 2009 at 9:56pm

Diskusi EIS ini kian menarik saja. Mudah2an membuka wawasan bagi semua. Sy mau berbagi sedikit. Sejak 3 hingga 4 bulan silam sy coba lakukan riset empiris mengkomparasi Ekonomi Islam dan KOnvensional. Sy agak bosan, byk yg bilang Ekonomi Islam tidak membumi. Bisanya normatif dan tanpa ada fakta di lapangan bahwa ia lebih baik dan lebih efektif sebagai ‘alat ekonomi pencapai kesejahteraan’. Jd dengan ini semoga mereka pun tercerahkan.

Ada 2 yang utama. Satu, judul riset sy “Determinan Inflasi INdonesia: Perbandingan Pendekatan Islam dan Konven”. Dua, “Mekanisme Transmisi Moneter Syariah melalui Jalur Pembiayaan”. Keduanya sy pake tools yang berasal dari barat. Pendekatan statistik-ekonometrik dengan metode Vector Autoregression (VAR). VAR sederhananya adalah metode regresi sederhana (OLS) yg bolak-balik.

Hasil riset yg pertama mencengangkan. Bahwa ternyata, Determinan/penyebab inflasi di Indonesia yg utama ialah bunga (sy proksi dgn variabel SBI 1 bulan). Sederhananya, semakin tinggi persen SBI yang kemudian mendorong suku bunga perbankan, semakin tinggi pula tingkat inflasi. Kita tahu, inflasi adlah salah satu indikator ekonomi penting. Lebih stabil harga, semakin baik kondisi perekonomian. Kedua terbesar adalah fluktuasi rupiah. Dua variabel ini yg signifikan menyebabkan inflasi Indonesia.

Nah, jika kedua variabel tsb kita ganti dengan ekuivalent rate Bagi hasil (sbg pengganti nilai SBI) dan indeks harga emas (sbg pengganti nilai tukar rupiah), maka inflasi terkikis menjadi hampir tiada (analisis FEVD). Artinya: Profit Loss Sharing Perbankan Syariah secara umum menjadikan harga lebih stabil. Begitu pula dengan standar Emas (baca: dinar) dibanding penggunaan rupiah, dolar, atau uang kertas sejenis.

Riset kedua ttg transmisi moneter, lebih meyakinkan sy. Transmisi Moneter adalah suatu cara bagaimana kebijakan moneter mempengaruhi perekonomian. Ada beberapa jalur (channel) transmisi. Bisa lewat suku bunga, kredit perbankan, harga aset, nilai tukar, dll. Disini sy gunakan satu jalur: kredit perbankan (untuk bank umum) dan jumlah pembiayaan (untuk bank syariah).

Hasilnya ternyata kredit perbankan memiliki pola hubungan positif thd inflasi, sementara jumlah pembiayaan bank syariah malah negatif. Maknanya: kredit bank umum terindikasi meningkatkan nilai inflasi sementara pembiayaan bank syariah diduga mampu menurunkan tingkat inflasi dalam batas tertentu. Ini dapat dimengerti karena pembiayaan bank syariah mampu menyeimbangkan antara sektor riil dan moneter. Tidak seperti halnya bank komersil umum.

Report

 

Willy Mardian  wroteon August 14, 2009 at 8:21am

bismillah

sebenarnya topik yang berkaitan dengan hal ini sudah pernah saya uraikan panjang lebar. Depend on you paradigm. Untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang berkeadilan dan sejahtera maka diperlukan sebuah garis besar haluan bangsa yang merefleksikan arah dan tujuan pembangunan masyarakat tersebut. Itulah yang disebut visi kebangsaan. Sedangkan untuk mencapai dimensi keadilan dan kesejahteraan diperlukan alat lain yang berupa strategi pembangunan ekonomi dalam jangka waktu yang ditentukan kemudian dievaluasi.

Tetapi persoalannya semenjak selesainya penjajahan kolonialisme di negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim yang terbentang dari Maroko hingga Timur Jauh, Kemerdekaan yang diraih dalam artian de facto dan de yure malah smakin menguatkan cengkraman kolonialisme era baru lagi. Bisa kita lihat adakah di antara negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim yang bisa dianggap representasi penuh dunia Islam di pentas dunia ?? Pakistan, salah arah dalam membumikan ideologi Islam ke tengah-tengah masyarakat, Iran, dalam newsweek pekan ini diturunkan sebuah ulasan yang sangat menarik mengapa Ahmadinejad banyak mendapatkan kritik yang salah satunya adalah mis manajemen kontrol ekonomi. Indonesia ?? bak api jauh dari panggang. dan sebabnya kalau ditelaah secara holistik bukan status kemusliman yang kental di negara-negara itu tetapi logikanya bagaimanakah mungkin anda membangun rumah dengan buldoser ?? Begitu pula dalam pembangunan negeri-negeri berpenduduk muslim mayoritas tersebut. Arah dan filosofinya katakanlah berkaitan erat dengan pembangunan dan pemerataan sosial tetapi yang ada atas nama efisiensi dan pareto optimum absen dari pemberdayaan sosial dan impilkasinya ke masyarakat sangat membahayakan

Kita semua tahu bagaimana kekayaan Alam Riau. Provinsi yang dikenang orang kini sebagai “Negeri Seribu Satu Asap ” dan Indonesia, tak pelak, dicap sebagai pengimpor asap terbesar di Asia Tenggara minimal. tetapi Riau memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Anda tak mungkin memprint untuk tugas anda kuliah, atau menulis hal-hal yang penting dalam hidup anda kalau tak berfikir darimana kertas-kertas itru berasal diproduksi. Datanglah ke belantara sungai Siak Indrapuri, Bekas Kerajaan Melayu Riau, ini yang banyak menyumbangkan produksi kertas di Indonesia. Belum lagi terhitung batu bara dan timah tapi kita heran juga Di Pekanbaru mati lampu bisa 12 dalam sehari.

Ini semua akibat dari tidak tersdambungnya antara tujuan pembangunan Ekonomi dengan strategi yang digunakan untuk pencapaian realisasi tersebut. Itulah mengapa dalam Islam, Allah SWT menurunkan hukumNya bukan “asal goblek ” dan tak satu pun setiap ciptaanNya tanpa tujuan yang jelas. Maqashidusy Syariah kita menampung yang dirumuskan oleh Imam Ghazali dan Asy Syathibi menyangkut lima elemen penting tujuan hukum itu ada. Menjaga Agama, Menjaga Jiwa, Menjaga Akal, Mnejaga Keturunan, dan Menjaga Harta. ditambah dengan statemen Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya “I’lam Muwaqiin” Perkara apapun yang menyebabkan rahmat menjadi kekacauan dan perdamaian menjadi kesengsaraan bukanlah syariah !! karena hukum dasar Syariah Allah itu ada untuk mengambil manfaat dan menolak kerusakan

Sampai sini, saya kira klaim-klaim kesejahteraan yang diajukan para sekularis bahwa tanpa formalisasi Syariah maslahah itu ada sendiri telah terbantahkan dan perbedaannya jelas sampai uraian saya diatas tadi apa bedanya Ekonomi Syariah dengan Ekonomi Konvensional