Post #1

Andi Faisal wroteon May 23, 2009 at 6:57am

memasuki abad ke 21 alur ekonomi menempuh pengembangan yang cukup signifikan, ekonomi pada abad-abad sebelumnya berada pada level mikro dengan hanya menganalisis kondisi pasar dan harga, namun, sejak keynes dan kawan2 membawah ekonomi dari riil ke moneter, terjadi lompatan yang sangat jauh, namun sayang ekonomi meleompat tanpa memiliki kaki yang kuat, akibatnya, ekonomi pada tahun 30an, mengalami patah kaki, kondisi yang sama terjadi pada tahun 97-98 dan tahun 07-08.
para ekonom pun berpikir, apa yang salah dari kapitalisme.

disisi lain, terjadi perlawanan dari timur terhadap hegemoni ekonomi barat, sebut saja Amartya sen, peraih nobel ekonomi asal india, yang tampil dengan kritikannya.

dan dari pemikir-pemikir islam, konsep ekonomi islam semakin didengungkan,..

nah, babakan sejarah telah dimulai, apakah timur bisa mengalahkan barat??? apakah ekonomi islam bisa jadi solusi??
itu tergantung anda..!!!!

Report

 

Post #2

1 reply

Ariz Mencari Cinta wroteon May 24, 2009 at 6:22am

Timur dan barat adalah dikotomi yang telah usang. siapa yang kapitalis siapa yang sosialis, timur ataukah barat?. tapi pada dasarnya teori ekonomi kapitalis dan sosialis awal kemunculannya juga dari wilayah yang disebut “barat”.
pun pula ekonomi islam, yang dianggap “timur”, karena tinjauan historis, kelahirannya bersamaan dengan agama islam yang muncul dari jazirah arab (dalam peta dunia masuk benua asia yang dianggap “timur”).
perlu diperjelas bahwa ekonomi islam sebagaimana pembawa agama islam (Muhammad S.A.W) adalah rahmatan lil alamin. ekonomi islam adalah solusi universal, tanpa harus dikondisikan sebagai bagian dari “timur atau barat”.

Report

 

Post #3

1 reply

Andi Faisal replied to Ariz’s poston May 27, 2009 at 11:52pm

aduh, apa yang anda maksud dengan islma adalah solusi universal, konsep ekonomi islam hanya lahir karena lemahnya kapitalisme, akan tetapi islam pun tidak punya pondasi teoritis yang kuat

Report

 

Post #4

Mahmal Rizka (Indonesia) wroteon May 28, 2009 at 5:30am

Setau saya dalam islam, spekulasi sangat dilarang. Yang mana spekulasi merupakan salah satu faktor penyebab jatuhnya kapitalisme. Dalam islam objek transaksi harus jelas. Kalau anda menyatakan islam tidak pondasi yang kuat, bukankah yang saya sebutkan di atas merupakan prinsip yang mana jika dilupakan niscaya ekonomi islam pun akan mengalami nasib yang sama dengan kapitalisme. Itu baru salah satu prinsip di samping prinsip-prinsip lainnya. Tugas kita selanjutnya adalah mengembangkan prinsip-prinsip tersebut agar bisa diimpelementasikan pada kondisi sekarang.

Report

Post #5

Ariz Mencari Cinta replied to Andi’s poston May 28, 2009 at 7:49pm

hehehe…. jangan dipandang ekonomi islam lahir ketika akhir masa orde baru atau bersamaan dengan krisis ekonomi 1997, bahkan jika dikatakan ekonomi islam lahir bersamaan dengan lahirnya teori keynesian (setelah terjadinya The Great Depression tahun 1930-an yang terjadi di Amerika Serikat), secara historis saja pernyataan itu sudah konyol.
yang anda maksud pondasi teoritis itu apa? apa yang anda maksud teori-teori matematis?
dalam ekonomi islam memang jarang sekali dijelaskan secara teoritis tapi kebanyakan berwujud norma-norma dan aturan-aturan. tapi jika anda melihat secara benar terhadap dasar-dasar ekonomi islam yang bersumber dari al-qur’an dan al-hadits mungkin anda akan temukan jawabannya.
contoh : sedekah (sodakoh) coba anda perhitungkan secara makroekonomi apa pengaruhnya terhadap perekonomian.

Report

 

Post #6

Andi Faisal wroteon May 29, 2009 at 1:32am

buktinya, ekonom islam, baru muncul belakangan ini?..

yang sy maksud landasan teoritis itu adalah konsep filosofis, bagaimana islam memandang individu?, bagaimna islam memandang masyarakat?. bagaimana islam memandang kepemilikan pribadi? bagaimna islma memandang pendidikan sosial????
karena konsep ekonomi dibangun berdasarkan pandangan itu, sy jg mau tanya ke saudara, dasar-dasar ekonomi islam itu sep apa?

Report

 

Post #7

Andi Faisal wroteon May 29, 2009 at 1:36am

utk saudara mahmal, coba saudara analisis kondisi sosial pada jaman khalifah usman bin affan.
pada waktu itu para keluarga khalifah melakukan spekulasi sehingga sebagian besar dana baitul mal dimiliki oleh keluarga khalifah usman,, bukankah mereka adalah sahabat nabi?

Report

 

Post #8

Willy Mardian  wroteon May 31, 2009 at 9:56pm

bismillah

masalahnya apakah Ekonomi Islam itu merupakan “yang sama sekali baru “,”Jadid Min Zaman” dan berbeda sangat dengan yang sebeluimnya pernah ada ” kalau dipersepsikan demikian maka jangan heran akan selalu ada klaim2 yang menyatakan bahwa Ekonomi Islam tak lain kapitalisme berwajah Islam karena persepsinya Ekonomi Islam hanyalah sikap reaksioner terhadap kebobrokan Kapitalisme dunia beserta dengan kegagalannya.

Saya sepakat dengan pandangan Prof Adi Setia di Jurnal Islamia, Dari pada kita mengejar keterbelakangan dari peradaban Barat dan asumsi kita bisa mencapai penumbuhan modern peradavban barat yang lagi belum terbukti apakah ia akan memberikan maslahah dan manfaah bagi rakyat banyak bukankah lebih baik menumbuh kembangkan peradaban Islam itu dari tradisi keilmuan Islam yang erat kaitannya dengan ajakan qura’an untuk menggali yang baik itu tersurat atau tersurat. Kalau dikatakan Ekonomi Islam hanyalah Utopia bukankah Barat sendiri banyak melakukan copy paste karya-karya Ulama Islam semisal Abu Ubaid Ibn Abdus Sallam dengan Al Amwalnya atau karya-karya Imam Ali dengan Nahjul Balaghahnya yang dicopy menjadi Teori Pareto Optimum

atau di bidang Akuntansi, saya agak miris begitu banyak orang yang inferior pada tradisis keilmuan Islam yang seharusnya kita jaga dan tumbuh kembangan kembali. Adalah Abdullah Al Mazindarani yang pertama kali membuat sistem double entries sebelum seorang Lucas Pacioli yang mengklaim sebegai penemunya. Maka dengan kata lain ketika telah ada transaksi perdagangan di dunia Islam saat itu juga Ekonomi Islam di samping subject ilmu pengetahuan yang lain telah ada membangun dan mendirikan Peradaban Islam baik itu di Andalusia.

Delete Post

 

Post #9

1 reply

Willy Mardian  wrote on May 31, 2009 at 10:11pm

ini sama saja dengan kembvali kita membuka bab rancang bangun Ekonomi Islam
seperrti yang sudah saya jelaskan di atas. Rancang Ekonomi Islam itu sendiri tediri dari lima aspeck yang merefkesikan Tauhid, Keadilan,Nubuwwah dan Khilafah

mengenai Khilafah sangat menarik kalau kita kutip pandangan Ayatullah Muhammad Baqir Ash Shadr, seorang ulama ekonom dari Iraq yang banyak memberikan perhatian khusus seputar gagasan Ekonomi di dunia muslim. “Saya tidak lain ada konsep yang lebih agung yang pernah dimiliki oleh ideologi lain seagung dan sesempurna konsep khilafah. Khilafah yang berarti menumbuh kembangkan dan memberikan percaya sangat dengan sosok manusia sebagai khalifahNya di muka bumi untuk mengelola alam dan begitu lah cara Allah memberikan motivasi kepada hambaNya” Justru dengan adanya Islam sebagai sebuah sistem dan ideologi yang kafah dan syummul memberikan banyak kemuliaan kepada hamba-hambanya. Ekonomi konvensional itu lahir dari alam pemikiran materalisme dan sekulerisme yang akaranya sebuah pemberontakan terpadu pada sistem Gereja yang sangat membelenggu. hingga puncaknya lahirnya pemberontakan penjara Bastille di Prancis dan Revolusi Industri di daratan Eropa yang efek selanjutnya membuka gerbang-gerbang pelayaran mencari daratan-daratan yang kaya sumber daya alam seiring dengan masa -masa merkantilisme dan berlanjut secara berkesinambungan dengan kekuataan kolonialisme du darata-daratan hingga Timur Jauh. Efeknya lebih lanjut di Dunia Islam, terputusnya jalur perdagangan dan hubungan bilateral antara daulah Khilafah Islamiyah Usmani dengan negara-negara yang selama ini menjalin hubungan erat dengannya seperti dengan kerajaan Samudera Pasai. Otomatis sumber daya alam yang tadinya berada dalam jalur perdagangan kaum muslimin di sepanjang baik itu jalur sutera maupun laut dengan Imperium Usmani akhirnya jatuh ke tangan Portugis yang berarti memutus mata rantai perdagangan kaum muslimin. dan saat itu juga kejayaaan Ekonomi Islam berakhir di tangan kolonialisasi dan sebab lainnya juga APBN Ipmerium Usmani yang telah membengkak (lihat Umer Chapra:The Future of Economics)

tugas kita sekarang menumbuh kembangkan tradisi keilmuan yang tenggelam dan terserak itu kembali. Ekonomi Islam hanyalah sebuah subjeckt dari pelbagai rangkaian sistem Islam yang holistik dan komprehensif. Kalau klaim kita sekarang bank-bank syariah belum begitu kompetitif jadikah ia alasan untuk masuk pada wilayah dharury lalu bisa menikmati bunga lagi dan menambah beban negara yang dibebankan ke rayat lagih ???? Ma La Yudriku Kulluhu La Yatroku Kulluh ya Ayyuhal Ikhwah !!!!!!

Delete Post

 

Post #10

Andi Faisal replied to your poston June 4, 2009 at 4:28am

salam untuk mas willy..

maksh banyak atas komentar dari saudara,,

sy bukan tidak sepakat dengan islam, tapi qt tidak boleh bersikap fanatik..
kalau antum mengatakan bahwa teori-teori ekonomi barat diambil dari pemkir islam, apa buktinya,, qt tidk sekedar mencocklogikan sesuatu..

kalau anda mengatakan bahwa qt mesti menggali elmu dalam islam, ok fine sy sangat sepakat.. nah sekarang sy pikir antum punya pengetahuan yang lebih dibidang ekonomi..

kalau tidak salah baqir sdhar mengatakan bahwa ilmu ekonomi berbeda dengan doktrin ekonomi?,, dalam islam yang ada adalah doktrin bukan ilmu?
jika demikian mengapa ada asumsi bahwa ekonm barat mengambil ilmu ekonomi dari islma, seperti yang dijelaskan oleh umar chapra??

dan sy kembali bertanya,, sebelumnya konsep dasar ekonomi ditegakkan atas paradigma tentang individu, masyarakat, pendidikn sosial, nah jik islam memiliki konsep dasar tentang ekonomi, berarti islam jg punya pandangan tentang hal – hal itu, tolong dijelaskan??

yang terakhir,, apakah ekonomi islam bisa dipisahkan dari syariat fikih?? jika iya bagaimana penjelasannya,,? jika tidak fikih yang mana ynag dipakai? bukankah dalam islam ada 5 mazhab besar???

maksh banyak

Report

 

Post #11

Willy Mardian  wrote on June 8, 2009 at 12:45am

baik akh faisal …ada banyak sebenernya literature Ekonomi Islam bahkan Akuntansi yang diadopsi oleh pemikir Barat. Al Kharraj yang disusun oleh Imam Abu Yusuf dari madzhab Abu Hanifah, Nahjul Balaghahnya Imam Ali, Ighatsul Ummah Li Kasyfull Ghumma karya Imam Al Maqrizi yang banyak berbicara seputar penyebab Inflasi di era Abaasiyah atau Imam Ghazali yang ternyata menulis kitab tentang Al Ihya Ulummudin.,Selama ini banyak orang yang berfikir Imam Ghazali tak jauh-jauh pemikirannya dari tradisi sufisme dan tasawuf ternyata juga bnayak membahas seputar peran uang. especially tentang kebijakan moneter dan fiskal. lebih lengkapnya bisa anda periksa lagi di bukunya Adiwarman Karim (Ekonomi Islam suatu kajian kontemporer ) dan coba dicheck di buku yang disusun oleh pak Ikhwan Abidin Basri ( Pemikiran Ekonomi Islam ulama Salaf

Begitu berlimpah karta dan tradisi yang dibangun oleh ulama Islam terdahulu sehingga begitu aneh ada orang yang inferior dan mengemis2 pada peradaban Barat bahkan di saat kejatuhannya masih bisa mengatakan bahwa hanya kapitalisme yang terbaik dalam mengobati permasalahan.

Memang benar Ayatullah Muhammad Baqir Ash Shadr dalam buku Iqtishoduna nya banyak mengedepankan kembalinya gagasan Ekonomi nya sebagai revivalisme kolonialisme Barat yang menggejala. Ayatullah Muhammad Baqir Shadr sendiri termasuk ulama syiah yang gugur di depan eksekusi pemerintahan Saddam Husein . buku Iqtishodunanya sangat dengan dengan niuansa Keindonesiaan terutama pengelolaan barang tambang dan mineral yang seharusnya sesuai amanah undang-undang 1945 bahwa kekayaan alam adalah amanah yang harus dieksplore dan digali sebesar2nya untuk kemaslahatan negara dan rakyat Indonesia. Memang ada perbedaan pandangan antara Pemikiran Ayatullah Muhammad Baqir Ash Shadr dengan pemikir Ekonomi islam lain yang cenderung mengambil jalan pertengahan tanpa menghilangkan kebesaran Islam itu dalam dimensi Ekonomi. Ayatullah Muhammad Baqir Ash Shadr menjelaskan Islam bukan berarti menjadi Ekonomi sendiri atau teori ekonomi mikro dan ekonomi makro dengan penambahan2 ayat tetapi Islam telah memberikan doktrin dan gagasan serta aturan umum yang berbicara tentang pengaturan pasar dan kesehatan spritualits individu yang menyeimbangkan perekonomian dan alokasi distribusi yang telah dicontohkan oleh Zakat, sedeka, Infaq dan Wakaf. sedangkan gagasan Umer Chapra adalah menyeimbangkan antara Worldview atau pandangan hidup suatu bangsa dengan strategi pembangunan Ekonomi yang seharusnya seiring sejalan. Bagi Chapra, adalah paradoks dengan filosofi sebagau negara berpenduduk muslim terbesar di dunia namun yang diambil dalam menjalankan strategi pembangunan Ekonominya adalah Ekonomi Pasar ala Konsensus Washington atau Ekonomi Jepang dan China. Maka dalam pandangan Mazhab Mainstream bukan ditambah2kan embel2 Islam pada institusi keuangan dan strategi pembangunan ekonomi sebagaimana yang diarahkan oleh kaum sekuler tetapi akan lebih baik dan pas ketika permasalahan di dunia muslim diselesaikan dengan kaca mata pandangan hidup Islam atau dalam bingkai Maqashidusy Syariah ….

Pandangan Islam tentang Muamalat

contoh sederhanya Allah SWT menjelaskan kepada kaum mukmin dan sekaligus menawarkan maukah kita diberikan sebuah transaksi business yang tak pernah merugi dalam pandangan Allah ? atau saat Allah Ta’ala dengan jelas mengharamkan transaksi yang bermotif riba sebaliknya saat menurunkan pelarangan hal tersebut Allah Ta’ala memberikan solusi Alternatif yaitu jual beli

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
(At Taubah :111)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu[287]; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. ( An Nisa :29)

Orang-orang yang makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. ( Al Baqarah :275)

Bahkan tak tanggung2 Qur’an juga telah menyeru ummat islam untuk mempelajari Akuntansi

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Baqarah :282)

sebenarnya kurang adil juga kalau kita dilarang fanatik dengan agama sendiri dibandingkan dengan agama Protestan dan Katolik yang begitu agresif dalam menyebarkan Islam di Nusantara samapi-sampai perlu ada penerjemahan bibel ke pelbagai bahasa Daerah di Indonesia seperti Sunda, Madura, Jawa, Padang, Batak, bahkan ada sebuah Gereja di pinggir Jakarta yang khusus melayani orang-orang betawi dengan corak ragam kebaktian dan nuansa misa adat budaya betawi. Tapi bandingkanlah dengan Islam baru sekarang-karang saja mulai ada yang berusaha untuk menerjemahkan Al Qura’an ke bahasa daerah seperti bahasa Sunda (Alhamdulillah saya punya terjemahan bahasa Sundanya🙂 ) , Aceh, Madura dan Gorontalo bahkan Jawa yang sudah lama dirintis dengan Tafsir Al Ibriz nya

maka dibandingkan dengan usaha propaganda salibis ke pelbagai ranah kita belum ada apa-apanya tetapi lihat justru di negara asalnya atau yang notabene mayoritas penganut agama katolik maupun protestan yang malah subur dengan da’wah Islam dan sufdah berlembar2 Qura’an dicetak dan diterjemahkan ke bahasa Inggris dan bahkan bahasa Korea !! Itu Da’wah Islam yang berjalan dengan seadanya plus keikhlasan dari para Da’i nya lalu apa yang salah kaiu kita fanatik ??? Teringat dengan kelakar bang Teguh Iman Perdana di buku “Negfriend Ma Islam ” ummat Islam hanya berfikir The Song Not The Singer tetapi mereka non muslim justru berfikir The Singer Not Only The Song ”

inshaAllah kalau mau diskusi lebih lanjut dateng aja ke kampus Tazkia🙂

Delete Post

 

Post #12

Aam Slamet Rusydiana wroteon June 9, 2009 at 7:33pm

nice discussion. gud!!

Report

 

Post #13

Willy mardian  wrote on June 11, 2009 at 1:26am

kemana aja Om ……

sorry yach lagi sibuk nih ….jadi lama referensinya ….🙂

Delete Post

 

Post #14

2 replies

Ahmad Riady wroteon June 18, 2009 at 10:01am

sorry ces,,baru muncul lagi, kayaknya pertanyanku belum dijawab,, apa landasan teoritisnya bunga dilarabg, secara makro bunga sangat menolong tumbuhnya perekonomian, coba analisis situasi jila lagi inflasi, bunga sangat berperan untuk terjadinya fluktuasi pasar,,

pada level muamalat, sy kira kita harus bisa menyajikan suatu fremwork yang utuh tentang itu..

jika anda membolehkan fanatik seperti itu, anda hanya mendukung terjadinya perang agama…

Report

 

Post #15

Ariz Mencari Cinta replied to Ahmad’s poston June 18, 2009 at 10:24pm

Mohon diperjelas tentang posisi bunga dalam perekonomian! soalnya setahu saya bunga biasanya dianggap cateris paribus, ataupun kalau dimasukkan sebagai variable endogen, justru pengaruhnya adalah negatif terhadap investasi. seandainya investasi berslope negatf apakah bisa dikatakan terdapat pertumbuhan ekonomi?
soal terjadinya perang agama, agama mana yang akan di adu? soalnya hanya islam (setahu saya) yang memunculkan konsep muamalah dalam bagian ajarannya.

Report

 

Post #16

Willy Mardian wrote on August 14, 2009 at 8:35am

bismillah

koq bisa Bunga bermanfaat buat kehidupan ?? Yang ada kalau anda dalam kesusahan lalu anda meminta bantuan ke teman kerabat anda dalam bentuk dana maukah anda dalam kesusahan itu ditambah-tambah dengan diminta rela mengembalikan imbalan berlipat dari dana yang anda pinjam ?? Krisis Moneter di Indonesia telah menjelaskan kepada anda secara tersirat dampak negatif bunga dalam perekonomian. Perbankan hanya memberikan kredit kepada UMKM di hanya dibawah 5 % sedangkan para deposan menerima bunga lebih dar 60 % keadilan macammana yang bisa diharapkan. Ada asumsi sebagian ekonom, kalau stimulus dilancarkan ke sektor keuangan maka akan mempercepat pula sektor rill tetapi berdasarkan pengematan saya di lapangan 40 % dari UMKM menyumbang untuk pertumbuhan Ekonomi dan rata-rata masih sanggup berdiri walau tak terhubung ke sektor keuangan.

saya seakat dengan pandangan Ust Agustianto, ayat Al Baqarah 275 yang berbicara tentang pelarangan riba tak bisa dipandang melainkan dari sudut pandang Makroekonomi dan Akuntansi. Setahu saya belajar Akuntansi dalam bab Time Value of Money, belum ernah ada bunga yang gak berlipat ganda karena berdasarkan hitungan y.o.y dan metode yang digunakan bunga akan selalu berlipat ganda dari hitungan di awal. oleh karena itu pas dikatakan oleh Al Qura’an “dengan berlipat ganda ”

coba aja check di BI Tren Inflasi akan selalu mengikut tingkat bunga yang ada

Delete Post

 

Post #17

Mahmal Rizka (Indonesia) replied to Ahmad’s poston August 18, 2009 at 7:06am

Untuk Bung Ahmad:

Ekonomi bukanlah ilmu pasti, seperti yang anda kemukakan fluktuasi pasar sering terjadi dan hampir tidak dapat diprediksi. Sementara bunga bersifat pasti.
Keliru jika anda mengatakan bunga menolong tumbuhnya ekonomi. Persentase bunga hanya merupakan jumlah asumsi pertumbuhan ekonomi beberapa waktu ke depan. Misalnya: “Melihat keadaan ekonomi Indonesia di tahun ini dari berbagai aspek baik itu sosial & politik nasional maupun internasional, sumber daya ekonomi, sarana prasarana, dan faktor lainnya yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di asumsikan pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai sekitar 5-6 %”).

Berdasarkan asumsi itulah BI menentukan BI rate.

Di samping itu, faktor risiko juga sangat memperngaruhi tinggi rendahnya tingkat suku bunga.

Di satu sisi, bunga memang bermanfaat karena bisa dijadikan acuan, tapi di satu sisi bunga bisa sangat dapat menjadi bumerang yang justru menghancurkan perekonomian suatu negara, itu bisa terjadi salah satunya karena asumsi yang meleset.

Report

 

Post #18

Willy Mardian  wroteon August 21, 2009 at 8:19am

hehehehe itulah kenapa Ekonomi masukinya ke kawasan Ilmu Sosial yang rata-rata masih bisa diperdebatkan kedudukan epistomologisnya juga aksiologisnya

i remember what my lecture said to me… ” In Muamalah all you can debate but not in ibadah mahdhah.. When you was praying five a days on Prophet era it’s still on five a days not more or less !!”

kata siapa mendukung fanatik agama ..sebaliknya dengan atas nama humanisme dan pluralisme yang ada memunculkan ambiguitas logika dan merelatifkan semua nilai. Ingat, munculnya economic behavior yang didasarkan pada asumsi “manusia rasional ” ternyata tidak memiliki kaidah-kaidah logfika yang dapat disepekati bersama ukuran baik dan buruk atau benar dan salah. Sehingga “rasionalitas” sangat mengambang bahkan sebagai gantinya secara manis, ekonom kapitalis menamainya sebagai mekanisme pasar yang invisible hand. Ukurannya hanya “nyaman” atau “tidak nyaman” .pafdahal kalau direnungkan konsep marginal utility, implikasinya semua orang menjadi serigala lapar yang selalu siap menerkam tanpa ampun dan mengabaikan kemampuan beli mereka yang di bawah rata-rata. Perekonomian Amerika Serikat sebagai contoh gamblang negara tambun yang telah memiliki hutang per individu sangat tinggi dan sepanjang sejarah dunia stimulus fiskal yang dialirkan melebihi stimulus lain yang pernah ada. padahal kita paham juga Stimulus Fiskal itu akhirnya dinikmati mereka yang dari kelas menengah ke atas !

Eropa terlihat lebih cerdik. Malah bagi mereka Krisis Keuangan saat ini lebih banyak disebabkan salah satunya pada insentif. padahal, logikanya setiap orang kalau dikasih selimut pasti minta yang lebih besar lagi bed cover misalnya. begitu juga dengan program insentif, yang akhirnya memanjakan segelintir orang tapi keberadaanya mendominasi keuangan dan perekonomian dunia