Model Kafiyeh jaman Kiwari Merujuk pada gejolak industry perekonomian yang melibatkan pro rakyat pada elemen-elemen tertentu, seperti pada idul Fithri atau semasa bulan Ramadhan yang membuka pintu baru sentral kekuatan ekonomi rakyat. Momen sepanjang Ramadhan dan Idul Fitri juga mencatat pertambahan kualitas kekuatan industry kreatif mulai dari Industri parsel semepat khawatir “gulung tikar “ karena keputusan KPK tentang pelarangan gratifikasi dari bawahan ke atasan bagi para pegawai negeri sipil. Di ramadha pupla tempatnya bagi industry makanan yang membanjir tiap tahun. Di lain sisi, Industri Kreatif ini ada pula yang bersifat reaktif dan mempunyai kedudukan antara positif dan negatif. Seperti produk-produk muslim style pasca ekspansi Zionis ke Ghaza Palestina. Mengundang pelbagai raksi dari public dunia tak terkecuali berimbas ke sentral perdagangan. Seruan boikot yang diserukan oleh Rabithah Alam Al Islamy untuk memboikot tiap produk yang diidentifikasi menyumbang 1 % untuk Israel.Sebutlah produk-produk yang lahir dari implikasi gejolak tadi.

Implikasi dan ouput yang bisa diterima dari imbas ini sangat penting. Ibarat boomerang, pereokonomian bisa menjadi senjata politik ampuh untuk setidaknya menahan invasi yang lebih besar. Juga kadar reaktifitas dari industry “kreatif ini telah membuka kanal baru bagi para konsumen yang nota bene memiliki ghirah keislaman yang kental dan melebar lagi konsumen muslim yang sadar akan identitas keislamannya. Belum dengan adanya Industri kreatif itu sendiri berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan, PDB Industri kreatif telah menyumbang pada PDB nasional sebesar 6,3% atau setara dengan 154 Trilyun terhadap PDB dengan harga yang berlaku.

Seperti awal mula Bank Syariah, mempunyai kanal baru berasal dari masyarakat muslim yang memiliki kadar emosionalitas keislaman yang kental telah juga menajdi aspek pendorong bergulirnya perubahan di sector perbankan. Nah, di sector Industri kreatif ini perubahan juga telah dan sedang berjalan dengan adanya kanal baru bagi ummat Islam mengkonsumsi produk yang halal dan nilai tambahnya serta pembeda dari semua produk yang dimiliki Industri kreatif yaitu thayiibah dan falah. Namun, kita juga tak bisa bergembira dengan cepat mengingat ada factor lain yang berpotensi menghambat tumbuhnya Industri Kreatif yang unik ini.

Pertama permintaan pasar akan menjadi kanal baru sector produksi dan konsumsi yang megikuti gelagat konflik di Palestina sana. Dua mandengnya usaha karena tidak mendapatkan sokongan secara nyata dari Industri keuangan Syariah untuk memperpanjang usia hidupnya. Kalua yang pertama bisa diatasi dengan profesionalitas market dan dan modifikasi produk yang bisa diterima siapa saja atau menghilangkan kesan ekslusif . Ada yang bilang kalau symbol-simbol Islam akan mampu menjadi perlawanan total pada hegemoni American West tapi kenyataanya Band Ungu lebih seronok juga kalau sudah lekat dengan model-model “Intifada” seperti Kafiyeh. Kapitalisme memang belum mati namun selalu mereduplikasi diri dan memodifikasi tak terkecuali mengambil atribut-atribut atau fenomena keislaman. Padahal, kalau mau direnungkan Industri Kreatif yang berbasis reaktifitas tadi berpotensi menyaingi keberadaan distro-distro dikota-kota besar di Jawa Barat yang sarat dengan para pelancong dari Ibukota dan menyiratkan symbol budaya pop western. Dan untuk yang kedua sinergisasi BMT hingga BPRS dalam penyaluran pembiayaan ke lini unit mikro kecil menengah.

Ada keunikan dari gaya berekonomi orang Indonesia. Kala Lehman Brothers Ambruk. Kala General Motors ketar-ketir bangkrut. Hatta Paul Krugman Analyst Ekonomi Amerika bisa berucap setengah lega dengan pengangguran yang meningkat pesat seiring recovery pertumbuhan Ekonomi Amerika. Atau Kala Malaysia yang memang secara “assabiqunal Awwalun” lebih awal mengintegrasikan system perbankan Syariah ke pereokonomian mereka di saat yang sama perbankan Syariah di Malaysia yang hnaya mereduplikasi produk keuangan konvensional dan harus kelak kehilangan pembeda rasa antara perbankan Syariah dengan perbankan konvensional.

Indonesia, telah diperhitungkan sebagai Emerging Market yang berpotensi membesar hatta menyaingi China dan India sekalipun. Ditilik dari pasar tenaga kerja yang bekerja di UMKM rata-rata antara periode tahun 2002 hingga 2006 mencapai 3.702.447, tingkat partisipasi pekerjaan sebesar 3.96 % plus volume  pasar Indonesia yang lebih huge  sebesar 240 juta dibandingkan dengan Negara tetangganya hanya 24 juta. Di Indonesia pun tercatat pengembangan volume pasar mikro yang bahkan dikatakan oleh pakar keuangan International, Dr Mohammad Obaidullah, telah mapan sebagai system. Bagaimana tidak ada sekitar 134 BPRS,3200 BMT dan 500 an Lembaga Keuangan Mikro Syariah. Terlepas dari sejumlah kekurangan disana –sini, kita patut berbangga dan it’s time to begin changes. ApakaH Itu Industri Kreatif berbasis Reaktif ataukah Reaktif yang menjelma Industri akan jauh lebih efektf apabila titik tekan sosialisasinya dan pengembangan pasarnya pada sinergisasi dan optimalnya BMT dan Unit Usaha Kecil Menengah. Daripada sekedar reaktifitas belaka. Seperti yang dipaparkan nomor pertama.