Sebelumnya aku harus berterima kasih kepada Progres dalam membina tiap generasi angkatan STEI Tazkia dengan ruh pejuang yang rindu membumikan Ekonomi Islam. Kalau dittany, pada siapa pertama kali saya menengal ekonomi Islam seusad aku tercelu dengan nilai-nilai Islam melalui interaksiku dengan Tarbiyah, maka saya akan menjawab:Progres. Aku telah banyak menulis catatan-catatan tentang perkembangan Progres dan pada tulisan ini, aku hanya akan menuliskan sejumlah analisa tentang hal-hal yang menjadi tantangan Progres ke depan sekaligus juga sejumlah Otokritik yang inshaAlah membangun kepekaan kita pada jalan yang telah kita pilih (Catatan Malam Hari Selepas Isya, Bogor )

Semenjak aku menjabat sebagai waka kadiv Luar Negeri progres, semenjak saat itu pula beringsut-ingsut hasrat memandang persoalan KSEI lebih luas dan tak hanya dari satu sudut saja. Bersyukur adalah hikmah yang selalu saya dapatkan. Sementara semangat adalah yang kutebar ke KSEI-KSEI Lain. Karena saya memandag persoalan KSEI lebih komparatif dan komprehensif. Inilah Progres dan dari situ pula banyak pintu terbuka untuk menilai baik dan buruk perkembangan Progres yang dari namanya saja merefleksikan sebuah asa yang dinamis dan sarat nilai-nilai Hayawi.Terlalu banyak kejutan di dalamnya tapi tak sedikit ada masukan yang,InshaAllah berarti untuknya.

Dengan standar rating penilaian yang dibuat oleh stakeholder Ekonomi Syariah manapun, aku berani memprediksi Prores adalah salah satu KSEI di Jadebotabek yang selalu stabil temu Ilmiahnya. Yang selalu bertenaga perkasa para personilnya. Serta selalu kreatif dalam memuncratkan idea-ideanya. Even, hanya ada di Progres, Kajian Ekonomi Islam dalam skup Fiqh Muamalah Klasik selalu mendominasi.Hingga tak perlu heran kerap diadakan debat Ekonomi Islam dalam kerangka muamalat dan tinjauan hukum syariah.

Aku pernah mengundang Farizal El Boncelli,MPF, untuk bisa datang ke STEI Tazkia dan mengisi kajian temu ilmiah mengenai Akuntansi Shariah. Melalui chat di Facebook, doi menjawab kalau dirinya belum siap untuk “dibantai” oleh teman-teman Progres. Aku agak sedikit terkejut juga karena beliau duduk sebagai MPF dan tentu saja suaranya yang vocal,kritik sana,kritik sini, tapi nyatanya belum siap “dibantai” dalam temu ilmiah Progres. Kalau mengelak bahwa STEI Tazkia adalah basisnya kampus Ekonomi Shariah,nayatanya kampusnya doi juga sebuah perguruan tinggi Ekonomi Shariah ternama di kawasan Ciputat. Alhamdulillahnya setiap saya bertemu dengan sejumlah akademisi Ekonomi Syariah baik itu dari Bank Indonesia,MES,IAEI,dan sebagainya selalu memndang STEI Tazkia dengan hormat. Saya berharap respek mereka bukan hanya melihat sosok sentral STEI Tazkia, Dr Muhammad Syafii Antonio.M.Ec, yang menjadi mashdar ilmiy bagi kami para mahasiswanya tetapi juga semangat tempur mahasiswa STEI Tazkia yang msih memiliki idealisme pure to grounded IslamicEconomic.

Antonio Sentris?

Masih ingat dalam file ingatan saya kalamembaca sebuah artikel dari Nasher Akbar di KOMDAS “AntonioSentris” yang mengkritik sikap mahasiswa Tazkia banyak atau terlalu bergantug pada zona nyaman yang menitik beratkan pada sang icon Tazkia. Muhammad Syafii Antonio. Tidak mengapa kalau hanya menjadi inspirasi dan motivasi untuk tetap berkuang on the right track. Tapi lain cerita kalau kahirnya kita terus bergantung pada nama besarnya.pada iconnya. Agar, sinrom kepahlawanan itu tak menjelma penyakit kultus individu. Demikian diungkapkan oleh Anis matta dalam “Mencari Pahlawan Indonesia” Akan ada selalu pejuang yang dengan idealismenya menatap optimis tanapa merasa perlu bergantung pada kebesaran sang Tokoh. Di Pentas politik yang carut marut kenyataanya kita masih bias menemukan cahaya teladan di tengah-tengah belantara manusia yang antara memuja kekuasaan dengan memuja orang lain. Sebuah partai da’wah yang selalu berkesinambungan memunculkan kembali di pucuk kepemimpinan. Pemimpin yang ditunjuk tanpa banyak spekulasi dan disambut dengan “sami’na wa atha’na “ oleh para kadernya. Satu naik ke tingkat eksekutif,yang lainya menggantikan. Selalu begitu. Berkelanjutan.

Begitu pula jati diri mahasiswa Ekonomi Islam. Especially, mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi islam Tazkia yag secara rasionalitas mampu mengembangkan sayapnya sendiri. Sayap Intelektualitas ke langit biru peradaban Indonesia. Sayap-sayap Cinta yang tak perlu patah lagi karena cintanya buka personal bukan pula cinta jiwa. Ia Manifestasi Rahmatan Lil Alamin.

Tantangan Progres Ke Depan

Tantangan Progres ke depan bukan main-main. Saat saya bersilaturahim ke BI untuk bertemu dengan Pak Muliaman Hadad,ketua MES, ada kesempatan untuk sharing seputar program unggulan KSEI Masig-masing di Jadebotabek. Ternyata aku sedikit tercengang juga dengan program unggulan upi YAI dan LISENSI UIN. Keduanya sangat mengalami kemajuan drastis. LISENSI UIN telah merambah cakupannya bukan lagi sekedar kajian-kajian semata tapi juga pemberdayan UMKM melalui perintisan BMT dan menajli kerja sama dengan BMT,BPRS,serta dengan PINBUK. Kemudian UPI YAI juga demikian telah berjalan jauh menuju permbedayaan masyarakat. FORDEST Trisakti takkalah taringnya. Walaupun tengah dilanda konflik internal namun telah berhasil dengan evennya yang juga focus dalam pemberdayaan masyarakat. “ Pesantren Entreprenuer”

Saya jadi bertanya pada diri saya sendiri. Selama jangka waktu Progres hadir hingga kini apa saja yang telah dipersembahkan untuk masyarakat ? Karean dalam perjalanan siklus kehidupan hanya ada dua pertanyaan menggelayut di sana. Saat kita telah tiada apa yang dirasakan oleh mereka yang ditinggalkan. Merasa kehilangan tempat bergantung ataukah terlepas dari beban berat selama ini ?

Bargaining Position ?

Ada yang menggelitik kepekaan saya kala seorang teman mengomentari tawaran kerja sama siaran online dengan radio Bogor MARS FM. “Sebenarnya mereka yang butuh kita apa kita yang butuh ?? Kalau mereka yang butuh karena tak ada lagi program acara untuk mengisi kekosongan jadwal siarannya, bargaining position kita bias lebih kuat dan bias menolak twaran mereka karena berbenturan dengan rencana kita “ . Ini bukan sekedar taktis politik atau siapa yang membutuhkan. Sadarlah, dengan atau tanpa kita di jalan yang telah dipilih ini Ekonomi Syariah akan terus bergeliat dan menebarkan barakahnya ke penjuru bumi persada.

Maka kaidahnya bukan sesiapa lagi yang membutuhkan. Lantas kita bisa menjual mahal tapi gerbang untuk memberi sebanyak-banyaknya. Kesempatan yang belum tentu datang ke tiga kali. Untuk mengajarkan pada siapapun kebebasan adalah cara memberikan dan menebar kemanfaatan sebesar-besarnya. Inilah yang salah satunya diajarkan Rasululah pada kita. Terimplementasi dalam logika Ekonomi Islam tentang tiga pilar: Afilasi,Partisipasi,dan Kontribusi.

However, Sejarah hanya mencatat karya terbaik dari anak manusia. Bukan pengulangan-pengulangan atawa copy paste dengan sedikitnya modifikasi.

Bogor,Syawal 1430 H