Hidup yang selalu penuh dengan gerak. Sekalipun banyak pilihan yang membuat kita diuji untuk memilih. Kalau dulu Gie atau Soe Hok Gie pernah menyindir sikap mahasiswa Indonesia dengan ungkapan “di Indonesia hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau idealis” seakan-akan telah terblok dua kubu tipikal manusia. Yang pertama nampak pemuja hedonistis dan euforisme gegap gempita dengan nuansanya politik dan ekonomi yang memburuk. Dan yang kedua, tetap bertahan di tengah gempuran gaya hidup dan hegemoni kkonspirasi pada cita-cita idealnya.

Rupa-rupanya dari “Mazhab Ekonomi Tazkia “ ada sekelumit kisah yang jarang idungkap ke khalayak ramai atau terekspos oleh publik. Tak sedikit para pakar dan ilmuan yang menjadi icon “mazhab ekonomi Tazkia “ yang kini aktif mengajar di STEI Tazkia. Mulai dari Syafii Antonio dengan resep wealth managementnya yang sangat holistik ternyata sedari kuliah S1 telah membiasakan diri dengan membaca buku 2 jam sehari. Ascarya, peneliti senior Direktoran Perbankan Syariah Bank Indonesia, yang setelah menyadari kebobrokan kapitalisme di negeri kelahirannya saat tengah sakit parah dan saat yang sama masih mengambil S3 di Amerika Serikat. Saat itu juga beliau berkelana menimba ilmu keislaman dari banyak ulama di seantero Amerika Serikat. Belum Yulizar Djamaluddin Sanrego M.Ec , direktur eksekutif lembaga penelitian pemberdayaan masyarakat STEI Tazkia, yang sangat familiar di kalangan mahasiswa karena seringnya beliau turun mengajar ternyata juga seoarang aktivis da’wah di era da’wahnya. Dalam sebuah diskusi yang tenang di perpustakaan STEI Tazkia, beliau juga mantan aktivis mahasiswa dan pernah tergabung dengan HMI. Hingga pernah beliau terus terang bercerita salah pengalaman berkesan selama masa mudanya dari mulai menyusuri sebuah sungai golok hingga menumpang di belakang gerbang lokomotif kereta Api, ya. Hanya untuk menjalankan amanah organisasinya. Belum lagi Prof.Dr. Didin S Damanhuri. Kita sudah sering membaca tulisan-tulisannya di kolom Opini di Republika. Apalagi bagi anak-anak jurusan EI atau Ekonomi Islam, tak asing lagi dengan pemikiran-pemikiran beliau yang juga banyak memberikan otokritik dan masukan bagi perkembangan industri perbankan syariah. Kemudian, Ali Sakti M.Ec yang juga pernah mengajar sebagai dosen tamu di STEI Tazkia juga dikenal sebagai aktivis da’wah di masanya. Hatta, jacket yang ia buat semenjak Kuliah dan mengidentifikasikan sebagai jacket da’wah kampus selalu ia pakai setiap menjadi pembicara di tiap seminar tentang Ekonomi Islam.

Intelektualitas tidak harus muncul dari sikap yang dipaksakan. Namun seperti yang pernah diingatkan oleh pak Ali Sakti dalam salah tulisannnya d blog beliau, ia bermula dari teladan akhlak islami trutama dari sikap dan adab menghormati tradisi keilmuan. Menghormati mereka yang benar-benat berilmu dan mereka yang menimba ilmu. Fundamental Ekonomi Islam hakikatnya mencakup kebersihan aqidah dari jernihnya Tauhid, Sistematika rasionalitas hukum  syariah di bawah Wahyu Illahy dan petunjuk yang lailhuha kanahariha .dan kebersihan sikap membuahkan teladan datangnya dari ketegasan moral dan khuluq Islam harus ditekankan juah sebelum memasuki ilmu-ilmu yang njelimet atau malah langusng pada akad-akad yang bersifat praktikal.

Hidup memang lebih berwarna dengan gerak dan pergerakan mahasiswa Ekonomi islam adalah kenyataan,petunjuk dan kehidupan yang membuat hiudp lebih hidup, karena, Dalam bergerak ada barakah !!!

Bandung, Syawal 1430 H