Kurva keseimbangan perilaku konsumsi

Kurva keseimbangan perilaku konsumsi

Kebebasan adalah nalar fithrah.. keberadaanya diakui dan diberikan tempat dalam porsi yang sesuai dengan haknya mengelola hajat hidup untuk menambah maksimalitas arti hidupnya sebagai hamba di atas pentas peradaban manusia.yang, bagi Sayyid Muhammad Baqir Shadr, hanya dalam Islam kebebasan bertemu muka dengan konsep Khalifah yang justru membukakan pintu gerbang bagi manusia mengelola alam dan sumber dayanya seluas-luasnya. Tapi beranjak dari sebuah sabda Rasulullah, keberadaanya bagaikan lilin yang panas namun berkali-kali serangga coba untuk menerobos lilin itu dan terbakar. Begitu juga dengan perilaku manusia, In The Name of Freedom, tanpa melihat lagi dampak mafsadat yang ditimbulkan asal memenuhi konsumsi syahwatnya nyaris tak lagi diperlukan usaha untuk menggapainya.

Di era sekuler, salah seorang anggota parlemen Turki dari Partai Keadilan dan Pembangunan, Edibe Sozen, pernah mengusulkan dirancangnya draft undang-undang yang mengatur larangan minuman keras dan alcohol di seantero Turki. Namun memang sebuah Negara sekuler yang konon memegang teguh asas demokrasi, idea perancangan drfat undang-undang itu mendapatkan reaksi keras dari para sekularis di seluruh Turki dan mendapatkan vonis sebagai pilot project rencana mengembalikan Turki sebagai Shariah State. Padahal, Negara tetangganya, sudah telanjur menghalalkan minuman keras dan harus membayar social cost yang sangat besar dalam hal demoralisasi penduduknya. Hatta, di Indonesia, untuk mendapatkan sebuah tabloid bernuansa “panas” hamper tak diperlukan usaha sama sekali. Entah apakah Indonesia nyatanya lebih liberal dan sekuler dari pada Negara yang mengaku embahnya liberal dan sekuluer pun. Tapi biasanya angka di atas statistik selalu berbicara demikian.

Inilah eranya kebebasan ! siapapun boleh berbicara. Nyaris tanpa filter dan kerap dalam tiap tayangan dialog di salah satu Tv swasta, mereka yang bukan ahlinya pun bisa turut angkat bicara. Asal punya nama popular dan gelarnya, entahkah dia pakar atau bukan, tinggal dibuatkan oleh sang produser acara. Ada yang bilang, kalau Demokrasi yang baik menjamin tingginya tingkat keamanan dan pertumbuhan ekonomi yang pesat. But, setelah melirik ke negara tetangga yang malah sedang panasnya undang-undang keamanan internal diberlakukan malah pariwisatanya melonjak dan perekonomiannya dibilang tumbuh subur di antara negara asia tenggara yang lain. Lain cerita dengan bangsa kita, terlalu banyak suara. Terlalu banyak ambiguitas menilai kembali mana yang haq dan bathil. Dan meninjau kembali mana yang kepentingan nasional bangsa atau kepentingan konglomerat jawa dengan menguasai 90 persen sumber daya alam Indonesia.lebih liberal dari Amerika. Sang murid belajar cepat dari sang gurunya.

Dalam hal Ekonomi Mikro juga dibahas tentang analisa perilaku individu dalam hal berkonsumsi. Tetapi kita diajarkan dengan paradigma kapitalistik, semakin besar tingkat konsumsi yang dilakukan akan mendorong seorang individu pada kepuasan maksimal.nah agar permintaan dan penawaran berjalan seimbang diperlukankah mekanisme harga dengan asumsi semakin besar permintaan semakin besar tingkat harga merangkak naik. Kalau semakin besar tingkat harga naik semakin besar pula hasrat untuk membeli lebih banyak diurungkan. Asumsi ini, terlihat wajar dan good looking. Tapi dalam tataran pasar bebas apalagi globalisasi saat ini. Bagi mereka para cukong kelas kakap selalu mempunyai kemampuan daya beli tanpa melihat seberapapun besarnya tingkat harga yang diberlakukan. Akibatnya daya beli masyarakat kelas bawah semakin menurun dan tidak terjangkau. Dan semakin daya beli masyarakat tidak terjangkau semakin besar pula sektor “underlyng asset” atau riil terdorong keluar dari pasar karena tidak mampu bersaing dengan pasar-pasar swalayan yang menjamur belakangan ini di hinga ke desa-desa. Di saat yang sama pasca pilpres, iklan dan jargon “ekonomi kerakyatan” seperti barang rongsokan habis jualan kemana-mana. Usai pilpres, diletakkan kembali dengan “hormat” pada buku diktat ekonomi ataupun malah tinggal cerita fiksi.

Kebebasan dalam logika yang ditata oleh Ekonomi Islam adalah terletak pada kendali diri. Memaksimalkan yang kita punya untuk dikontribusikan pada mereka kemampuan dan pendapatannya dalam sebulan di bawah rata-rata. Memaksimalkan kontribusi zakah dan sedekah agar, kata Allah, harta itu tidak berputar disitu-situ saja. Itulah mengapa Nabi Muhammad SAW selalu memotivasi kita, khairu naas anfa’ukum linaas. Sebaik-baik kamu adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Kala hedonisme mencengkram membuka kebebasan sebasar-besarnya untuk menentukan cara terindah konsumsi syahwatnya hingga cara membinasakan diri sendiri, maka, Islam membukakan gerbang memberikan manfaat bagi sesame sebasa-besarnya yang kita mampu. Hingga, kata Nabi SAW, menyingkirkan duri di jalan pun termasuk shodaqoh !! Allah Akbar !! Hakadza Dinul Islam akhii.. inilah indahnya kemuliaan yang diberikan oleh Islam. Even, seorang pemikir Islam sekaligus syuhada kebangkitan Islam, Sayyid Quthb, pernah berkata “ Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Sedangkan orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar “ . Oleh karena itu dalam logika jahiliyah terkenal lah ungkapan pepatah arab “Bul Ala Zamzam” kencingilah air zamzam maka kau akan terkenal. Ya symbol kebebasan jahiliyah tanpa batas. Hasilnya ? benar-benar terkenal. Sebagaimana terkenalnya “syekh” puji yang menikahi anak di bawah umur. Atau si very “banci macho berhaus darah. Atau disana, kebengisan Israel, barbarnya China, dan Tamaknya Thailand atas nyawa seorang anak bahkan beribu-ribu manusia di Palestin, orang-orang tua renta di Xianjang dan Urumqi kemudian warga melau muslim di Pattani yang dianeksasi sejak Siam mengagresi melayu dan mencampakaan bahasa dan agama orang Pattani. Yah Selamat Datang Kebebasan tanpa batas. Selamat datang pula era jahiliyah. Seburuk-buruknya Peradaban !!