Film Merah Putih

Film Merah Putih

merah putih, hormaat grakkk!
buat semua bangsa lain tersentak
kibarkan sang saka dengan serentak
harumkan nama ibu pertiwi serempak

di bawah langit biru berkibar tertiup angin
bangga jadi orang indonesia ku semakin
terpacu tuk memajukan bangsa
tunjukkan kita kuat kita bukan mangsa

berbeda suku, beda golongan dan agama
bhinneka tunggal ika kami yang pertama
bahu membahu bimbing saling membimbing
berat sama dipikul ringan sama dijinjing

ini nusantara kita satu darah
satu nusa bangsa bahasa dan satu arah
takkan kulupakan selama lamanya
bangsaku, INDONESIA NAMANYA!

( Saykoji, Merah Putih )

Tak lama, aku sudah menonton film Merah Putih. Sangat menggelora dan menggedorkan kembali ghirah cinta pada bumi persada ini. Momennya pun sangat tepat . Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Cerita dalam Film Merah Putih ini mengambil setting Indonesia dalam agresi Belanda di daerah Jawa Tengah, Pasca menyerahnya Jepang serta diproklamasikannya kemerdekaan Republik ini. Dalam sebuh video yang beredar di Youtube, aku juga pernah menyaksikan orasi Bung Tomo kala membakar semangat penduduk Surabaya menyambut kedatangan balatentara Sekutu dan NICA. yang membuat aku bergetar, adalah fakta sejarah para pejuang di negeri ini menyambut mereka dengan pertempuran yang seru disertai takbir.

Di film itu juga aku menyaksikan, para pejuang kemerdekaan dilukiskan dari beragam kultur,suku,agama, budaya, dan juga tak lupa karakter. Ada tokoh yang bernama Thomas dari Sulawesi Utara dan beragama Protestan. Ada tokoh yang bernama Marius yang digambarkan berasal dari kalangan Priyayi, Ada tokoh bernama Amir yang berprofesi sebagai guru dari jawa dan juga pemeluk Islam yang sangat konsisten. Tetapi ada juga tokoh Dayan dari Bali serta beragama Hindu dan yang terakhir sosok dari kalangan Priyayi yaitu Soerono. Membaca dialog-dialog antar tokoh dalam film ini membuka kembali file ingatan saya dengan Film Kingdom Of Heaven di tahun 2005. yang entah mengapa dikomentari oleh Goenawan Mohammad dalam catatan pinggirnya sebagai menyimpang dari sejarah. Tetapi yang pasti, Film Merah Putih, dialog-dialog yang dibangun antar pemain lebih bernuansa diplomastis dan elegan serta dalam rangka toleransi adanya perbedaan di antara mereka. Sementara adegan pembukaanya, dibuka dengan adegan pembukaan sekelompok keluarga di Sulawesi Utara yang disaksikan dengan mata sendiri oleh salah seorang pemuda dan kelak dalam dalah satu bagian di film Merah Putih ini Kita mengenalnya sebagai tokoh bernama Thomas.

Akhir cerita ditutup dengan serangkaian konflik yang sangat menegangkan. Kejar mengejar antara penjajah kolonial dengan empat sisa pejuang kemerdekaan ini. Di saat-saat seperti ini, ternyata mampu merekatkan persatuan di antara perbedaan yang ada di antara mereka dan diakhiri dengan penyergapan serta penyerbuan konvoy tentara sekutu.

Dua hari yang lalu di hari Senin, tanggal 17 Agustus 2009, Indonesia telah menapak hari hidupnya di usia yang ke-64. Ya. 64 tahun kita merdeka tetapi masih dibelenggu dalam kelangkaan ketok palu keadilan. 64 tahun kita telah bebas dari kejinya kolonialis kaphe Belanda namun selama jangka waktu yang sangat tua itu masih terjebak dalam krisis kesejahteraan. 64 tahun juga kita telah keluar dari lubang pengap penjajahan atas dasar darah yang telah membanjir tertumpah, darah teungku Umar, Panglima Polem, Imam Bonjol Sultan Mahmud Badarudiin, Hingga Raja Sisingamaraja ke-12. Tapi kita merdeka ibarat dalam sepotong waktu. Setelahnya, Pendidikan Indonesia masih beratap genting roboh, dinding rapuh, dan ancaman pemindahan karena lokasinya akasn dibangun sebuah Mall.

Lagi-lagi ”dosa” Ekonomi Kapitalis bertambah panjang disini, ketika Economic menorehkan luka atas lingkungan sosial dan kewajibannya menjaga lingkungan itu selalu ada. Setelahnya, para mereka yang disematkan gelar ”intelektual muda ”,” cendikiawan” semakin jauh dari profil ilmuwan yang tawadhu dan mempunyai izzah. Semakin ”belagu-belaga” mengecam Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Dan entah justifikasi ke berapa agar kebathilan dan syhawat binal dipertahankan agar tetap ada serta perlahan mereduksi ikatan Jihad setolol mungkin. Setelahnya, para pemimpin bangsa ini lebih tertarik meributkan DPT dan sikap koalisi apa oposisi atau bahkan merengek-rengek memohon pada MK agar Pemilu diulang. Lalu setelahnya ?, Pemerintah masih lagi enggan untuk melakukan evaluasi atas pertumbuhan Ekonomi dan pemerataan kue kesejahteraan. Klaim-klaim lebih terasa kental sebagai pencitraan publik dan politis.

Siapa yang mau peduli quo vadisnya pemberantasan terorisme di Indonesia menyebabkan stigmatisasi itu kembali berulang ?? Siapa yang mau peduli, mereka yang sudah berjibaku dalam usaha da’wah menyebarkan Islam seagai misi kebaikan untuk seluruh alam haris kembali diidentifikasikan dengan paksa oleh kuasa media massa sebagai pelaku kejahatan yang tak layak hidup dan biadab.

Ternyata, cara-cara inilah sebagai balas jasa pada darah yang ditumpahkan oleh ummat Islam. Mungkin, kalau tanpa Fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Mu’tamar Ummat Islam saat Belanda berencana kembali melakukan agresi militernya pasca 17 Agustus 45 takkan pernah ada mereka yang mau bergerak membela tanah airnya. Mungkin, Kalau tanpa Fatwa Jihad yang dikeluarkan oleh empat ulama besar dari Aceh untuk mempertahankan NKRI dari serbuan kaphe Belanda takkan pernah kemerdekaan itu ada hingga menginjak usianya yang ke-64 tahun dua hari kemarin.

Dukungan Al Ikhwanul Muslimin Untuk Indonesia

Dukungan Al Ikhwanul Muslimin Untuk Indonesia

Jangan pernah lupakan pula sumbangan dan kontribusi saudara-saudara seiman kita di luar sana yang ikut meneropong kejadian demi kejadian apa yang terjadi di Indonesia. Kalau tanpa ikatan keimanan, susah seorang KH Agus Salim beserta rombongan panitia kemerdekaan mencari dukungan ke luar negeri untuk eksistensi bangsa Indonesia. Akhirnya, bangsa ini harus berterima kasih pada mereka saudara-saudara seiman kita salah satunya dari Al Ikhwanul Muslimin dan sosok Hasan Al Banna yang menerima langsung silaturahim dari saudara-saudara mereka di Indonesia. Jangan pernah lupakan pula, saat-saat kita masih bertanya sok kritis mengapa kita harus repot membela perjuangan rakyat Palestina saat yang sama kita masih repot urusan dapur sendiri, Ada seorang Perdana Menteri Palestina yang hatinya, lagi-lagi dari dimensi keimanan, menyaksikan saudara-saudara mereka tengah menderita yang sangat parah akibat agresi Belanda, ia rela menguras seluruh harta miliknya di Bank untuk diberikan pada delegasi Indonesia di Kairo dalam rangka membantu kemerdekaan republik Indonesia ini.

Ummat Islam: Kapan Kita Berbenah ??

Ya inilah momen tepat. Kita merdeka di atas kampung kita sendiri yang dibangun dengan tangan-tangan kekar kita juga. Sunduquna Juyubuna, begitulah kalau diibaratkan Ummat Islam menyusun dan menata bangunan keutuhan negerinya. Sampai terkenal doktrin ekonomi ummat Al Banna ”siapa yang menerima tak bisa memukul” kita pancangkan kukuh ajaran ini. Berdikari. Berdiri di Atas Kaki Sendiri.Sungguh satir tapi menohok slogan orang Jakarte , Kampung kite klo bukan kite nyang ngurusin siape lagi ??.lalu saat-saat enam puluh empat tahun RI merdeka permasalahan bagi ummat islam saat ini mengapa enggan lagi berhimpun dalam satu barisan kala Masyumi masih menjadi poros politik ummat Islam. Egoisme dan ta’asub yang mendarah daging jadi perkara peliknya.

Ada sekalangan orang merasa perbaikan seperti apapun selama itu dalam jalur Demokrasi yang mereka anggap kufur maka nonsense. Lalu usaha kerja-kerja da’wah darimanapun dan siapapun mereka yang masih ingin tetap bergerak dianggap angin lalu. Kalau perlu mendapat cap ashobiyah atau bahkan kufur. Ada lagi dari mereka yang masih merasa pewaris tunggal Thaifah manshurah , Firqatun Najiyyah dan gelar ahlus sunnah waj jamaah. Sisanya mereka anggap ahli bid’ah dan bahkan zindiq. Hatta dari mereka yang mengaku dari kalangan mainstream pun kerap terjebak pada retorika liberal hingga parahnya makna Jihad sekering padang tandus di sahara. Padahal untuk mereka semua, tegas Allah katakan dalam Al Qura’an bahwa jangan pernah kamu merasa diri kamu suci.

maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.( An Najm :32 )

Dan Allah SWT menjanjikan kemenangan bagi tanah persada Indonesia ini. Allah janjikan kejayaan bagi agama ini selama kita berbuat untuk memperbaiki nasib kita sendiri

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan768 yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.( Ar Rad :11)

Beruntung kita ummat muslim. Diajarkan pada kita bukan apabila ditampar pipi kananmu berikanlah pipi kirimu tapi perangilah mereka yang teraniaya hingga tak ada lagi fitnah dan agamamu benar-benar kembali pada Allah. Serta diajarkan pada kita,

Itulah mengapa bangsa Indonesia mampu merebut piala kemerdekaanya. Karena dengan pekik takbir pun kita merdeka bukan dengan tertawa bingar ala pejabat kelas kakap atau senyum sumringah para pemegang bond dan sukuk.