Kemarin, Harian Media Indonesia menurunkan sebuah headline yang cukup menarik. Indonesia diprediksikan dapat segera keluar dari resesi paling awal. Berbeda pada saat krisis keuangan pada tahun 1998-1999 yang bermula dari fluktuasi mata uang baht. Indonesia menjadi korban terparah di Asia Tenggara. Mimpi didaulat sebagai Miracle’s Asia Economic musnah sudah. Dialektika alam maya dan nyata pa dasarnya saling berkaitan. Yang dicontohkan oleh transaksi derivative. Tetapi ketika alam maya yang tidak ditopang bisnis komoditas riil, begitu mengalami guncangan akan cepat merembet dan menyebarkan kepanikan dan puncaknya membongkar kerapuhan system yang diklaim mempunyai fundamental ekonomi makro yang kuat.

Perbankan ketika itu lebih banyak menyalurkan kredit ke korporasi-korporasi besar tanpa perhitungan standar kelayakan kredit. Akibatnya NPL perbankan naik drastis. Sementara untuk sektor UMKM, perbankan hanya menyalurkan kreditnya sebesar 10 % tetapi dengan kebijakan yang ditempuh oleh Bank Indonesia yaitu kebijakan uang ketat dengan menaikkan tingkat suku bunga yang asumsinya berefek pada masuk kembalinya uang yang beredar di pasaran dan merangsang kembalinya para deposan meningkatkan tabungannya di perbankan. Finally, para deposan dimanjakan dengan tingkat suku bunga 67 % and this is what we says as negative spread !

Di tahun 2009, krisis keuangan dunia selama dalam model gaya lama yang tidak selaras dan sejalan dengan tujuan Maqashid Syariah dan tidak mendorong pada model keadilan sosioekonomi dan nilai-nilai akhlak yang universal hanya bisa menemukan obat analgesik yang tak menjamin penyakit itu akan segera sembuh. Dan sebaiknya pun kita tidak terlalu cepat bergembira kalau Indonesia kan lekas keluar dari resesi. Sebab, model ekonomi berbasis komoditas bagaimanapun memerlukan political will yang effektif dan benar-benar berpihak pada masyarakat kecil ke bawah. Bukan masyarakat menengah ke atas. Tetapi tanpa bermaksud meminggirkan juga para eksekutif hanya meminta diberikan ruangan sedikit lebih lega dan leluasa menggerakkan usaha yang rill dan barkah

Model Ekonomi berbasis komoditas khususnya di bidang industri manufaktur  menyumbang sebesar 85 %  dari sektor non migas. Even menjadi penopang pertumbuhan sektor pertanian yang hanya menyumbang pada pertumbuhan domestik bruto sebesar 27,29%. Dikhawatirkan seusai diprediksikan Indonesia berhasil keluar dari krisis paling awal membuat keberpihakkan political will mengendur dan indikasinya belakangan ini mulai nampak. Seperti aksi penggusuran dan represif terhadap para pedagang kaki lima dll.

Berterima kasihlah juga pada Ekonomi Syariah yang dalam jangka waktu sejak kemuncullannya di persada bumi Indonesia hingga 2009 telah menunaikan perubahan gradual manusia-manusia pelaku industri keuangan Syariah. Tidak benar kiranya, kalau Perbankan Syariah di Indonesia belum ikut ambil bagian dalam pertumbuhan Ekonomi. Sebab, Financial Deposit Ratio rata-rata perbankan syariah mencapai di atas 100 % dan malah porsi pembiayaan( murabahah ) di atas 59 % jika dibandingkan dengan produk perbankan syariah yang lain. Perubahan gradual itu juga terikat dengan pencerahan kembali keimanan dengan meyakini dimensi Islam yang universal dan terdiri dari tiga dimensi fundamental. Akidah, Syariah dan Akhlak. Di saat yang tak jauh perubahan dalam struktural baik, payung hukum dengan undang-undangnya, political will dalam bentuk komitmen dan kebijakan yang pro rakyat, hingga sosialisasi bottom up dalam bentuk FES,KAMNAS, Seminar Goes To Campus hingga mempunyai proyek desa binaan semakin menambah lengkap ”persenjataan” perubahan itu serta tentunya membuat Indonesia lebih berwarna.

Shariah Compliances di Indonesia juga lebih ketat dan tinggi dibandingkan dengan Malaysia, Dubai., dan Inggris. Dewan pengawas syariah disini tak mau main-main dengan akad-akad pragmatis berkamuflase riba. Sehingga Investor dari Timur Tengah pun lebih melirik pengelolaan dana investasi dengan skim shariah compliances yang lebih ketat dan terjaga.

I remember what oneday Prophet Mohammad SAW ever say to his companions

“Bila kalian mulai bertransaksi dengan ‘inah, kalian memegangi ekor sapi, puas dengan bersibuk di ladang  dan kalian tinggalkan jihad , maka Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang takkan dicabutNya sampai (kecuali jika) kalian kembali ke agama kalian “