Oleh :Adiwarman Karim

Kinerja suatu perusahaan tercermin dalam laporan keuangannya. Jumlah aset, kewajiban, dan modal suatu perusahaan digambarkan oleh neraca yang biasanya disajikan sebagai berikut. Sisi aset disajikan di sebelah kiri (left) dan sisi kewajiban serta modal disajikan di sebelah kanan (right

Krisis global yang telah merontokkan bank-bank besar dunia menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana mungkin bank-bank dengan reputasi dan laporan keuangan yang demikian kuat dapat hancur dalam hitungan hari. What’s really going on? Dampak krisis juga mulai menelan korban bank di Indonesia.

Bank, yang beberapa saat lalu dinyatakan hanya kesalahan teknis terlambat menyetor sehingga kalah kliring, ternyata malah harus diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan. Rasio Kecukupan Modal yang beberapa saat lalu belasan persen ternyata merosot cepat, jauh di bawah ketentuan minimal yang ditetapkan Bank Indonesia. Fenomena inilah yang disebut ”when there is nothing right on the left, there is nothing left on the right” (ketika tidak ada yang benar di sisi aset, tidak akan ada yang tersisa di sisi modal). Salah satu penyebab utama rapuhnya kualitas aset perbankan adalah investasi yang dilakukan pada instrumen-instrumen derivatif yang sama sekali tidak memiliki kaitan apa pun dengan transaksi sektor riil atau lazim disebut tidak memiliki underlying transaction

satu instrumen derivatif yang sering disalahpahami adalah Credit Linked Notes (CLN). CLN adalah surat utang yang diterbitkan oleh suatu Special Purpose Vehicles (SPV) dari suatu bank ternama. Pembayaran kembali pokok CLN dikaitkan dengan risiko penerbitnya dan juga dengan risiko surat utang lain yang biasanya berisiko sangat rendah.

katakanlah suatu bank ternama di luar negeri menerbitkan CLN-ROI, yaitu Credit Linked Notes yang risikonya dikaitkan dengan risiko Surat Utang Negara (SUN) Republic of Indonesia. Kadangkala, hal ini salah dipahami seakan-akan risikonya sama dengan risiko memiliki SUN itu sendiri, padahal tidak. Jika SUN tidak mengalami gagal bayar sampai dengan CLN-ROI jatuh tempo, pokok CLN akan dibayar lunas kepada investor pada saat jatuh tempo. Selama masa itu, investor tentu juga akan menerima pembayaran bunga secara berkala.

SUN mengalami gagal bayar dalam masa itu, CLN-ROI akan jatuh tempo. Investor tidak menerima pembayaran pokok CLN, namun akan menerima surat utang yang dijadikan rujukan; dalam hal ini, SUN. Jika hal ini terjadi, mudah diterka bahwa nilai pasar instrumen ini akan jauh di bawah nilai investasi awalnya karena telah terjadi gagal bayar.

Sisi inilah yang biasanya dijelaskan ketika bank ternama menawarkan produknya. Bagi calon investor yang yakin Pemerintah Indonesia tidak mungkin gagal bayar tentu akan merasa investasinya aman. Sisi lain yang jarang dijelaskan adalah bagaimana jika penerbit CLN-nya yang gagal bayar. CLN jelas bukan SUN. Oleh karena itu, risiko CLN-ROI tidak sama dengan risiko SUN.

Lazimnya surat utang, tentu nilainya akan dihitung berdasarkan harga pasarnya dan harga pasar ditentukan oleh rating surat utang tersebut. Karena kesalahpahaman tadi, kadangkala calon investor tidak menanyakan atau menganggap tidak perlu menanyakan rating CLN-ROI, seakan-akan dianggap pasti risikonya sama dengan risiko SUN.

Inilah awal dari kisah ”Nothing Right on the Left”. Pada 2006, rating surat utang di Amerika Serikat sejumlah 300 miliar dolar AS diturunkan rating-nya. Dampaknya tentu sungguh luar biasa. Neraca perusahaan yang memiliki surat utang tersebut tak ayal lagi melorot. Kerugian akibat penurunan nilai surat utang itu menggerus modal perusahaan sampai akhirnya ”Nothing Left on the Right”.

Bank-bank, termasuk di Indonesia, yang memiliki produk ini akan menjadi bank pertama yang merasakan dampak buruk krisis global. Ketika bank ternama di luar negeri yang menerbitkan CLN ditimpa masalah akibat krisis global, seketika itu juga risiko gagal bayar di ambang mata. SUN yang dijadikan rujukannya sama sekali tidak bermasalah, namun bank penerbitnyalah yang bermasalah.

CLN menjadi suatu instrumen investasi yang menarik karena jatuh temponya, kupon, dan surat utang rujukannya dapat disesuaikan dengan keinginan pasar. Kuponnya yang fleksibel dan memiliki fitur-fitur layaknya obligasi merupakan daya tariknya. Namun, semua pemain pasar yang berpengalaman paham bahwa likuiditas CLN tidak selikuid surat utang yang dijadikan rujukannya. Risikonya pun jauh di atas risiko surat utang yang dijadikan rujukannya.

Bila suatu bank telah terjangkit penyakit ”Nothing Right on the Left, Nothing Left on the Right”, langkah standarnya adalah dengan menambah modal agar tidak lagi mengalami ”Nothing Left on the Right”. Dengan adanya tambahan modal, bank akan kembali beroperasi normal karena there is something on the right

Tantangannya justru terletak pada langkah keduanya, yaitu bagaimana memperbaiki ”Nothing Right on the Left”, memperbaiki sisi aset yang berisi instrumen investasi bermasalah, dan memperbaiki kinerja bank di masa depan. Ibarat kita berbuat dosa, langkah standarnya adalah bertobat agar dosa-dosa kita diampuni. Namun, tantangannya justru terletak pada langkah keduanya, yaitu bagaimana memperbaiki dampak buruk dosa itu dan memperbaiki masa depan.

Hati orang lain yang tersakiti, hak orang yang terampas, dan hilangnya kepercayaan akibat kebohongan merupakan sedikit contoh dampak buruk dosa yang tidak mudah diperbaiki dengan cepat.Mari, kita doakan agar dibukakan mata dan hati dunia untuk dapat berbesar hati menerima pelajaran dari mana pun, termasuk dari ilmu keuangan syariah menuju suatu tatanan ekonomi keuangan dunia yang lebih baik.