Saat kata kita merangkai dunia

Kesaksian dari arah pembangunan menjerit peka

Telah enam puluh empat tahun negara kita merdeka

Telah menua usia bendera merah putih disana

Seharusnya kita lebih belajar lebih dewasa dari anak TK

Saat kata kita harus merangkai wacana

Pada permulaanya hanyalah di atas kalam

Buah pikir yang tersantunkan dan menggeliat

Menggeliat menjadi poros.

Menggelinding ia sentuhkan perubahan

Saat kata kita kembali bicara jujur

Dari ruangan hati ke meja berhiaskan speaker

Dari ruangan hati ke bilik kekuasaan Presiden

Atau malah dari ruangan yang tak mempunyai hati nurani

Yang penting merdeka lebih punya isi

Yang melawan retorika para politisi.

Yang melawan kelaparan bayi-bayi

Kesaksian dari arah pembangunan menjerit peka

Sudah enam puluh tahun kita merdeka

Sudah renta usia negara kita

Dan kata-kata kita masih dijajah dari  berkata jujur.

Kau adalah anak baik-baik

Andai diam saja dan katakan sesuai apa yang dipesan pemilik modal

Andai tetap tersenyum dan katakan sesuai apa yang dipesan pelaku pasar

Kau adalah ulama yang terhormat

Andai selalu merapat pada barisan koalisi kekuasaan Sang Presiden

Andai tak terlalu banyak berfatwa

Fatwamu cukup untuk si miskin dan si pengangguran

Mereka berdosa karena kemalasan mereka dan dapat menjadi beban negara !

Kesaksian dari arah pembangunan menjerit pedih

Sudah enam puluh empat  tahun kita merdeka

Masih jua meronta perih

Sudah renta usia ibukota kita

Masih jua menangis pasrah

Dan kata-kata kita masih dibelenggu dari berkata ikhlas

Lalu siapa yang bisa memberi arti pada tulang-tulang berserakan

Pasca 10 November dan antara krawang dan bekasi ??

Lalu apa artinya kita berteriak gagah-gagahan merdeka !

Untuk Tanah, Air, Minyak, Bumi, dan Api bukan kita yang punya

Menghirup udara pun perlu proyek privatisasi

Kesaksian dari arah pembangunan

Masih berteriak lemas dan marah !