Al Ilmaniyyun, dalam kosakata bahasa arab tergolong sebagai kata serapan dari bahasa arab. Prof.Dr Yusuf Qaradhawi dalam bukunya “Al Islam Wal Ilmaniyah wajhan li wajhin” sebagai penerjemahan yang tidak mendalam terhadap kata secularism dan tidak memiliki kaitan apapun pada ranah ilmy. Akan tetapi, seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Yusuf Qaradhawi, Al Ilmaniyyah sejatinya memiliki kekuatan epistomologis sebagaimana term yang pernah ada. Maka, Al Ilmaniy lebih menggambarkan “pembersihan” atau “ netralisasi” ruh epistomologi spiritual dalam ruangan pemikiran dan rekonstruksi peradaban manusia

Jauh sebelum kita rasakan booming Ekonomi Islam hari-hari ini. Belum pernah ada seorang analyst bursa efek memasukkan ayat-ayat qura’an dalam analisanya. Belum pernah ada seorang pengamat ekonomi dari mazhab manapun ia, memasukkan tindakan gharar, maysir, ihtikar, tadlis. Sebagai variable yang dapat secara positif merusak kestabilan pasar. Dan lagi-lagi belum pernah ada seorang Gubernur Bank Indonesia menyatakan transaksi di pasar derivative sebagai penyebab krisis keuangan dunia.

Semuanya dinafikkan. dan semuanya ditelantarkan ke pojok mushalla atau hanya ada dalam pembahasan kitab-kitab turats yang telah sekian lama terkunci di almari pustaka pesantren. Singkat kata. Inilah wajah sekularisme sebagai saudara kandung dari liberalisme dan ayah dari Darwinisme social.

Para teolog Barat mengakui kalau ada problema yang rumit sekitar mengapa sekularisme bias  muncul di ranah pemikiran orang Kristen. Antara Gereja dan Akademik harusnya klop tetapi malah talak tiga. Antara bible dan rumus-rumusnya Kepler harusnya bisa memberikan inspirasi tetapi yang ada membuat seorang Immanuel Kant harus memilih penuh ambiguitas. “I Felt the need to leave behind all the books I read, in order to believe In God “ katanya telah memutuskan. Dan puncaknya kita masih ingat saat Friedrich Nietzsche yang mengklaim sebagai manusia super dengan lantang bersuara “ God Is Dead !”

Susah bila berbicara akar sekularisasi dan liberalisasi kalau tak dimulai darimana jerami-jeraminya dibakar dan menimbulkan asap. Maka trauma sejarah peradaban Barat tak bisa didiamkan begitu saja dan peradaban barat itu sendiri sulit dan rumit kalau dibentangkan jarak dengan problem teologis dunia Kristen.

Empirisnya, perlu ada penyesuaian realitas peralihan zaman dan waktu agar spirit Kristen tetap terjaga dan tanpa perlu menunggu musnahnya teologi ini Karen ajarannya yang tidak lagi bisa berdamai dengan manusia. Dalam segala hal, perubahan revolusioner ini menderas bak air bah ke segala lorong kehidupan di Barat. Atau meminjam ungkapan salah seorang filosof terkenal dari Denmark, Soren Kiekegard, “We are always becoming Christians “ yang instrumennya :rekonseptualisasi ajaran Kristus, definisi ulang konsep Tuhan dan de-helenisasi dogma Kristen.

Perubahan revolusioner ini secara epistomologis akhirnya melekat pada ruangan ranag pengetahuan yang tengah berangsur-angsur tumbuh sebagai disiplin ilmu pengetahuan . Di dalam Politik, kita tak perlu heran setiap para liberalis selalu mengumandangkan untuk berhati-hati terhadap politisasi agama sebagaimana yang kerap mencuat di media massa. Karena, entah didasarkan pada traumatis psikologis pada kebengisan dan kebrutalan Gereja sebagai pemegang otoritas kekuasaan di abad pertengahan, dengan semangat praduga bersalah mereka vonis system Khilafah Islamiyah sebagai bentuk baru “Theokrasi” ! padahal, Sayyid Abul Ala Al Maududi menyebut model negara theokrasi sebagai pemerintahan setan. Kemudian, dalam ilmu Ekonomi, yang dulu serta merta dilarang oleh Gereja malah menjadi instrument  yang legal

“If you lend money to [any of] My people [who are] poor among you, you shall not be like a moneylender to him; you shall not charge him interest.(Exsodus 22:25 New King James Version )

Maka tak boleh kamu mengambil bunga dari pada saudaramu, baik bunga uang baik bunga makanan baik bunga barang sesuatu yang dapat makan bunga.23:20Maka dari pada orang lain bangsa boleh kamu mengambil bunga, tetapi dari pada saudaramu tak boleh kamu mengambil dia, supaya diberkati Tuhan, Allahmu, akan kamu dalam segala perkara pegangan tanganmu dalam negeri yang kamu tuju sekarang hendak mengambil dia akan bahagianmu pusaka.( Ulangan: 19-20 , Alkitab Terjemahan lama )

Dalam ranah Ekonomi Mikro, pada ruangan Economic behavior dan perilaku konsumen yang inshaAllah akan saya bahas di “Ekonomi Islam dan Kebebasan “, mekanisme filter moral dan khuluq sama sekali dilenyapkan untuk menambah jumlah kepuasan dalam konsumsi dan sebagai gantinya kepuasan itu diukur atas dasar logika utilitarianisme yang diperkenalkan oleh John Bentham dengan ukuran “nyaman” atau “sakit” atau seperti dalam logika Akuntansi, semakin besar angka yang tercatat dalam laporan keuangan maka semakin besar laba bersih yang kita peroleh dan semakin kuat pula para investor sebagai user dari laporan keuangan itu menanamkan dananya di perusahaan yang mengeluarkan laporan keuangan tersebut.

Maka, dengan logika seperti ini public tak pernah lupa dan paham dengan kasus Accounting Failure yang menimpa kantor akuntan ternama, Arthur Anderson, yang telah kehilangan reputasinya sebagai akuntan yang sangat famous. Belum lagi ditambah kasus laba fiktif berkisar antara $176 M hingga $10 Trilyun !!

Jangan Sampai …….

Mengkritik orang lain adalah perkara membalikkan telapak tangan meskipin dilengkapi dengan bobot ilmiah sesuai standar akademis. Akan tetapi persoalan akan lain cerita dengan otokritik dalam dalam jiwa pengkritik itu sendiri. Telah 20 tahun Ekonomi Syariah berkembang dan mendapatkan tempat nya di tengah-tengah krisis keuangan dunia yang telah lebih dari 100 kali melanda dan telah banyak juga pencapaian yang didapat, Seperti pada kuartal keempat 2009, seperti yang dilansir oleh Republika(30/july/2009)

sejumlah bank umum syariah dan unit usaha syariah akan mulai beroperasi. Bank Umum Syariah yang lekas dilaunching itu adalah, BNI Syariah, Bank Panin, Bank Victoria, dan Bank Jabar Banten. Sementara Unit Usaha Syariahnya yang bertambah adalah Bank OCBC, Bank NISP, dan Bank Sinarmas. Sementara itu, target asset diproyeksikan mencapai Rp 65 Trilyun. Dan berdasarkan data publikasi dari DPBS BI per Mei 2009 telah tercatat asset Rp 53,1 Trilyun, Pembiayaan Rp 40, 7 Trilyun dan DPK Rp 40,2 Trilyun.

Melihat fakta-fakta angka di atas tentunya fantastis bukan ?! di pertengahan 2009 ini telah banyak yang Bank Syariah capai. Tetapi sejumpah pertanyaan fundamental tetap menggantung. Sudahkan dengan asset sebesar Rp 53,1 Trilyun itu memberikan dampak signifikan atas berkurangkanya angka kemiskinan dan mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia ?? Pariwisata saat ini telah beralih. Lihat saja, di tenganh klaim pemerintah Indonesia dengan pencapaian pertumbuhan Ekonomi yang diestimasikan meningkat menjadi 5 % dan data BPS tentang kemiskinan yang telah berkurang. Di Kompas, Pariwisata kemiskinan menjadi objek yang menggiurkan bagi para pelancong dari pelbagai negara ! alangkah menyedihkannya…Belum lagi produk-produk Perbankan Syariah di selepas pasca dikeluarkannya UU Perbankan Syariah No 21 yang (seharusnya) lebih membuat leluasa membuat Perbankan Syariah mengeluarkan produk-produk innovative dan Pro Rakyat. Yang ada malah mirroring dengan produk-produk perbankan Konvensional.

Adalah benar kaidah Fiqh “Al Ashlu Fil Muamalah Al Ibahah Hatta yudallilu Tahrimiha “ tetapi kalau disikapi dengan semangat positif dan berinnovasi membuat Bank Syariah memberikan dampak maslahah yang berbeda dibandingkan dengan perbankan konvensional. Biarkan BCA dengan Gebyar BCA, Biarkan Bank BRI dengan program Hebring BRItamanya. Dan biarkanlah mereka berpesta pora dengan linangan para nasabah atas krisis yang telah mereka buat sendiri. Membanding-bandingkan asset Bank Syariah dengan total “kedigdayaan” bank konvensional sejatinya lebih banyak memberikan rangsangan negatif terhadap pelaku industru keuangan syariah itu sendiri. Ingat kaidahnya, “Ma La Yudrikukulluh La Yudriku Kulluhu “ kalau belum bisa semua jangan ditinggalkan sama sekali. Sikap Istiqamah dan bertahan dengan karakteristiknya yang lebih dekat dengan alam jauh lebih strategis daripada hanya sekedar mirroring dengan bekal “justifikasi fatwa DSN “

Selain di sector Perbankannya, yang tak boleh dilupakan adalah Sumber Daya Manusia yang FAST. Fathanah, Amanah, Siddiq, dan Tabligh. Merujuk pada data publikasi yang dilansir harian Republika tadi, untuk satu UUS saja akan menggunakan SDM yang sudah ada (convert) sebanyak 159 orang atau menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia kebutuhan saat ini mencapai  lebih dari 20.000 SDM Perbankan Syariah sementara yang telah ada baru mencapai 15.000 SDM berarti ada gap yang sangat jauh antara tataran teori dengan praktik yang telah lebih dulu berjalan. Bisa dipahami mengapa begitu penting Pendidikan Ekonomi Islam. Ya! Kaderisasi SDM syariah bermuara pada Tarbiyah itu sendiri ! Epistomologinya juga harus tepat. Antara Worldview dengan strategi saling bersambung. Worldviewnya Islam tetapi cara-cara strategi pengembangannya masih bergaya konvensional jelas akan bertabrakan.

Kalau sudah demikian, Cita-cita luhur Ekonomi Islam akan terkhianati dan subtansinya lenyap tinggal disindir oleh para sekularis sejati EI:Ekonomi Ilmaniyyun yang tak ubahnya dengan Ekonomi Kapitalis. Bahkan outputnya semakin paradoks. Semakin sering bergabung dalam kajian Ekonomi Islam yang ada malah semakin jauh dari akhlak yang Islami. Dan betapa mudahnya mencari pembenaran dengan legalitas Fiqh atas dasar syahwatnya sendiri ! Nastaghfirullah ya Rabbi !!