Dalam setiap diskursus peradaban dan pemikiran akan selalu mencuat kalangan –kalangan yang satu sama lain bersebrangan baik itu secara kontras atau setidaknya mempunyai titik singgung yang mencerminkan substansi dari sebuah kalangan lain pada ajaran,mazhab,pemikiran yang dianutnya.

Mudahnya, sebelum robohnya tembok Berlin, Dunia hanya terbagi dua blok.Amerika Serikat dengan sekutunya yang baik secara politik membentuk kubu liberal atau ekonomi dengan gaya kapitalisme klasiknya Vis A Vis dengan Unisovyet yang hasil interpretasi Lenin atas Das Kapital ke format Negara yang baik secara politik membentuk kubu komunisme atau Ekonomi dengan gaya sosialisme utopianya. Tetapi sejarah juga mencatat, kalau perang dunia I & II tidak sedang memberikan kemenangan kepada siapa-siapa, yang ada kekalahan sudah mutlak dialamatkan pada negeri-negeri dunia ketiga di sepanjang setengah penduduk dunia di Asia dan benua hitam Afrika.

Kala saat-saat menjenuhkan itu, sejarah dunia mencatat Indonesia berperan aktif dalam mempelopori lahirnya kekuatan “antitesa” baru yang diharapkan mampu untuk mengimbangi bahkan mendamaikan dua blok itu. Mala lahirlah gerakan Non Blok yang dianggotai puluhan negeri-negeri dunia ketiga. Misinya hanya untuk cinta dan semangat Anti perang demi terjaganya perdamaian dunia.

Akan tetapi, usainya robohnya tembok Berlin, semua berubah. Termasuk peta para penentang perang dunia ini juga mengalami guncangan. Maka, saat itu Francis Fukuyama dalam bukunya “The End Of History” dengan mantap mendeklarasikan sejarah telah usai dan kubu liberal lah yang menggondol piala peradaban sejarah itu. Kalau pun ada friksi, kata Fukuyama, tak seberapa dan tak berarti, tandasnya lagi dengan arogan. It’s including Indonesian people dianggap menyalahi garis khittah “bebas aktif” setelah ditengarai cenderugnya Soekarno ke kubu Palu Arit. Garis perjuangannya di luar negeri semakin ambiguitas dan terbukti saat pertemuan Negara-negara G-20 kemarin Indonesia lebih memilih kubu Amerika yang menghendaki Stimulus Fiskal sebagai salah satu upaya penyelesaian Krisis Ekonomi Global dibandingkan dengan memilih pengetatan insentif pada perusahaan-perusahaan industri swasta.

Mencuatnya garis pemikiran “tengah-tengah” ini juga tampil dan bukan barang baru di ranah Fiqh. Kalangan yang saling talik ulur dan menimbulkan perdebatan para Fuqaha klasik terhadap produk hokum yang dikeluarkan. Biasanya, Fiqh Klasik membaginya berdasarkan empat madrasah mazhab yang antaranya, Imam Hambali, Imam Syafii, Imam Hanafi, Imam Maliki. Sisanya seperti Al Auza’i, Ats Tsaury, Al Hazm, dll lebih banyak diporsikan minoritas dan langka.

Imam Hambali atau yang bernama lengkap Ahmad Muhammad Ibnu Hambal Ibn Hilal Asy Syaibani Al Marwazi dan bergelar Amirul Mu’minin Fil Hadits Bukhari banyak dinilai sejumlah kalangan sebagai peletak dasar “Fundamentalis” juga ditambah kenyataan konstitusi Saudi Arabia secara resmi berpegang pada mazhab Hambali. Begitu juga dengan Imam Abu Hanifah, disebut-sebut sejumlah kalangan pemerhati perkembangan Ekonomi Islam sebagai peletak dasar “ Rasionalisme” yang memang Imam Ahmad dalam pemaparan Ustadz Hasbi Ash Shiddiquie dalam bukunya “Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab” baru menggunakan rasionya setelah tak menemukan hujjah yang kuat dalam sunnah. Nah, yang ketiga dan keempat, Imam Syafii dan Maliki dianggap mewakili representasi madrasah mazhab yang mendamaikan dua wajah kontras di atas. Walaupun belum benar-benar dikatakan mutlak namun setidaknya dalam era Fiqh klasik, Indikasi lahirnya madrasah “tengah-tengah” ini selalu ada. Apalagi pada era kontemporer yang diperjelas lagi secara gambling kalau ada pemetaan secara pemikiran oleh para Fuqaha Kontemporer atas produk-produk hokum Islam yang dikeluarkannya.

Prof.Dr.Syaikh Yusuf Qardhawi dalam bukunya Dirasah Fi Fiqh Maqashid Syariah membaginya menjadi tiga; mazhab Zhahiriyah, Al Mu’athilah Al Judul atau kalangan liberal, dan madrasah moderat atau pemikiran Mainstream. Begitu juga dengan Prof. Dr. T.M Hasbi Ash Shiddiquie dalam salah satu bukunya Dinamika Syariat Islam, Ijtihad Ulama Salaf dan Khalaf Dalam Pembinaan Syariat Islam juga membaginya tiga bagian; Golongan yang melepaskan kekang khayalannya atau kalangan liberal, golongan yang membeku atau Zhahiriyah, dan golongan yang imbang dan harmonis. Juga uniknya salah seorang pemerhati pergerakan Islam Dunia mensinyalir di Indonesia lah arus kebangkitan Islam itu bermula. Arus kebangkitan Islam dalam bentuknya yang natural sesuai hokum Sunnatulah dan karakteristik Islam itu sendiri.

Mengklaim sebagai satu anggota atau salah seorang mengaku sebagai mazhab tertentu adalah soal membalikkan telapak tangan. Lalu apalagi kalau tinggal mengklaim sudah termasuk ke kalangan yang bersikap moderat. Tetapi saya ingat saat berdiskusi dengan senior saya yang kini bekerja sebagai staff LPPM Tazkia, Ada Polarisasi range dari poin yang telah kita petakan. Antara kubu “fundamentalis” berjarak beberapa centi dengan pemikiran mainstream dan bisa jadi orang itu ada di titik itu begitu juga sebaliknya. Dan ditambah kenyataan istilah-istilah yang dianggap paten mulai dari Fundamentalisme, Radical, Tradisional semakin keluar dari ashalah terminology yang juga lebih banyak digunakan untuk kepentingan politis kekuatan negara klaimnya “hakim dunia “. Maka sekali lagi berhati-hati adalah kunci dari proses pemetaan yang didasarkan pada karakteristik sunnatullah alam dan ditambah dari Worldview Islam itu sendiri. Agar “tengah-tengah” akhirnya tidak ambigu memenangi kepedean para liberalis tetapi tidak juga kabur hingga berbau kekiri-kirian.

Dan agar umat ini, tidak lagi bingung di persimpangan jalan antara menjadi apatis atas kenyataan yang ironis, tidak juga utopia atas nama idealisme tak berpihak pada zaman. Allah menjanjikan kemenangan bagi agama ini. Entah hari ini atau esok karena agamanya dimenangkan dengan kerja-kerja panjang da’wah yang matang dan berkesinambungan, Namun jangan pernah lupa, Hukum Allah diturunkan dengan melihat situasi zaman, ruang dan waktunya sebab para pelaku kerja-kerja da’wah ini adalah jamaah manusia yang normal masih ada cacat, salah,khilaf, dan lupa. Tetapi demikian ajaib manusia sebagai Sang Khalifah : Kombinasi diri manusiawi dengan cita-cita bernuansa energi Hayawi !! Lagi-lagi di Tengah-Tengah