Tag

Di antara dua belah batu karang adalah sebuah judul pidato yang sangat monumental dari Bung Hatta. Pidato yang disampaikan kurang lebih berisi penegasan sikap negara Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekaanya dari penjajah kolonial Belanda dalam hal kemandirian bangsa di tengah percaturan dagang dunia.

Bung Hatta menegaskan keberpihakannya pada prinsip dan sikap yang berdikari serta berdaulat di tengah dua belah batu karang yang dilukiskan sebagai sistem Ekonomi berbasis Free Fight Liberalism dan sosialisme. Ke depanny, prinsip dan sikpa itulah yang kemudian diperjuangkan oleh para Ekonom UGM seperti Prof Mubyarto dan sekarang diwariskan pada “penerus” generasi “Ekonomi Konstitusi”. Maka tersebutlah nama-nama seperti Iman Sugema, Umar Juoro, Faisal Basri, Ichsanuddin Noorsy, Revrisond Baswir hingga Hendri Saparini dan Aviliani.

Saya kira, view dari sikap dan prinsip yang tegak berdiri di tengah dua belah batu karang ini masih relevan hingga sekarang dan detik ini. Tidak hanya di bidang Pembangunan Ekonomi tetapi juga secara holistik pemetaan garis pemikiran islam dari mulai yang puritan hingga liberal menjadi kalam dan agama baru bahkan Ideologi yang tak bisa ditawar-tawar lagi sebagai konsensus bersama warga dunia tanpa menghiraukan kewajaran rasionalitas yang heterogen

Kalangan yang pertama, selalu berkutat pada urusan-urusan fiqh ibadah dan khilafiah serta kerap tak segan-segan memberikan tahdzir dan kritik yang keluar dari ambang proporsionalitas. Ketika ada yang melihat, salah seorang menjalani perkara khilafiah sedikit berbeda dengan mereka seperti yang pernah saya alami, selepas shalat Maghrib di sebuah majsid dekat dengan rumah. Saya yang ketika itu sebagai makmum di sebelahnya, tiba-tiba ditegur agar jangan terlalu kencang membaca ayatnya. Padahal saya ketika itu hanya larut dalam bacaan imam dan sedangkan dari sisi etika ada baiknya dalam menegur memperhatikan time dan saat yang tepat.

Sebagaimana adab dalam berukhuwwah, menegur orang ketika melakukan kesalahan memang baik tapi menegur di depan orang banyak lain lagi urusannya. Seorang yang mengaku salafy suatu ketika pernah menyangkal “ hal itu dilakukan agar orang lain waspada dengan perilaku bid’ahnya itu” nah dengan logika yang sama, seandainya saya hidup bersama anda 24 jam penuh lamanya dan saya mengetahui dengan detail segala aib buruk anda maka bersediakah saya publikasikan segala aib-aib anda di media massa umum ? dan dengan logika yang sama agar orang lain waspada dengan perilaku anda “. Bukankah demikian seharusnya ??. Maka begitu paradoks ketika mereka yang begitu memuja diri sebagai pengikut ahlussunnah wal jamaah ini tega bahkan mengkufurkan para ulama besar yang bersebrangan pemikiran dengan mereka dari mulai Muhammad Al Ghazali hingga Prof Dr Yusuf Qardhawi.

Mereka lupa dengan kaidah emas yang kenyataanya mampu mengikat hati-hati ummat islam “Ittafaqna alaih wa ya’dziru ba’dhuna ba’dhan fima ikhtalafna alaih “ Kita bekerja sama dalam hal yang kita sepakati dan kita bertoleransi dalam hal yang kita masih perselisihkan. Mereka juga lupa dalam mengeluarkan produk Fiqhnya, yang dikedepankan adalah kesusahan dan keras serta menyulitkan. Lupa dengan karakteristik Islam yang memberikan kemudahan “ Dar’ul Mafsadah wa jalbil Mashalih “ . Prof. Dr. Yusuf Qardhawi dalam salah satu kitabnya “Dirasah Fi Fiqh Maqashid Syariah “ menjelaskan sikap keras dan jumud kalangan ini bahwa ia tidak hanya mereka yang giat menyeru umat kembali pada manhaj Ahlus Sunnah di perkara-perkara yang berkaitan dengan hukum Syariah. Tetapi juga di bidang Politik, seperti yang nampak pada gerakan Hizbut Tahrir.

Ada asap kalau ada api maka ada sebuah konsekuensi yang harus diambil dari sebuah sikap yang diputuskan. Bagi perjalanan da’wah ini terlalu sederhana menyebut Demokrasi sebagai sebuah sistem. Dan tanpa perlu mengambik konsekuensi yang menyusahkan bagi da’wah itu sendiri dari sikap mencap Demokrasi sebagai manhaj Kufur. Lebih parah dan celaka lagi, Perlukah dikafirkan semua orang yang berstatus warga negara Indonesia hatta Din Syamsuddin, Dr Hidayat Nur Wahid, AM Fatwa, bahkan seorang Susilo Bambang Yudhoyono sekalipun. Sedangkan notabene Indonesia masih menganut sistem Demokrasi. Sedangkan seorang muslim selalu terjaga hak-hak hidupnya, Seorang muslim yang masih bersyahadat haram baginya atas darahnya, hartanya, keluarganya, keturunannya, dan Akalnya atas kezhaliman dan perilaku aniaya. Semoga Allah merahmati Imam Malik yang salah satu hujjahnya Maslahah Mursalah dengan mempertimbangkan tiga aspek yang menjdi syarat mutlak hujjah dipenuhi: Persesuaian maslahah dengan tujuan-tujuan Syariah, maslahah yang bila diajukan pada kalangan rasionalis pun dapat diterima, dan menghilangkan masyaqqah yang terjadi.

Kalangan yang kedua, yang disebut oleh Prof . Dr Yusuf Qardhawi dala kitabnya “Dirasah Fi Fiqh Maqashid Syariah “ menyebutnya sebagai Al Mua’thilah Al Judud “ yapz. Mereka yang dengan leluasa mendompleng Islam untuk mengasong produk usang dar mulai persamaan gender, pluralisme, HAM, kebebasan berekspresi, politisasi agama. Jadilah justifikasi setiap dalil dengan maslahah wahmiyah yang tak pernah disadari.

Kontras 180 derajat dari kalangan pertama yang terbelenggu pada kejumudan ritual maka yang ini mengacungkan tangan sebagai kalanganyang fokus pada masalah substantif. Tak ada asap kalu tak ada api, tak ada api kalau tak ada pemicunya. Begitu pula dengan Liberalisme yang saudara kandung dari sekularisme ini mempunyai sejarah yang amat mengakar sekaligus menyakitkan. Kala gereka dengan pongahnya mengangkat institusinya sebagai satu-satunya otoritas kekuasaan tertinggi di daratan Eropa. Sejumlah film Hollywood yang pernah ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta “King Arthur “ , ‘Kingdom Of Heaven “ menggambarkan betapa perihnya kekuasaan kaisar di tengan otoritas Gereja. Itulah mengapa bisa muncul Protestan yang terinspirasi dari sikap “pemberontakan “ seorang Marthin Luther King dengan menempelkan 99 sikap resminya itu di depan pintu Gerejanya. Maka sesuai Sunnatullah, kekerasan sikap lebih banyak mengantarkan rasionalitas tanpa regulasi akal yang dapat menentukan “Benar”,”salah”,”Keliru”,atau “Tepat”. Hingga terkenallah salah satu “kaidah hitam” para liberalis. “Silakan anda berfikir tentang kebenaran tapi jangan pernah berfikir telah menemukan kebenaran mutlak karena yang ada relatif “

Kalau mau konsekuen, kita bisa saja bertanya kembali dengan logika yang sama; tapi mengapa secara tak disadari para liberalis telah mengukuhkan “agama” barunya dengan mengklaim kebenaran yang frameworknya telah tersedia sendiri dari “kaidah hitam tadi “ ? Ya. Pada empirisnya,Liberalisme, kata seorang guru besar sosiologi, telah menjadi agama baru tinggal alasannya dicari-cari. Itu juga yang membuat kita bangun dari keterheranan pada polemic pengesahan RUU Anti Pornografi. Di seputar polemic Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang mengharamkan natal bersama,golput, hingga rokok.

Paradoksial Globalisasi Dan dalam ruangan globalisasi lebih banyak peradaban penuh paradoksial yang tampil. USA,negerinya Michael Jackson ini, meniupkan terompet gerbang globalisasi ke seluruh dunia. Tapi warga dunia pun mafhum peradaban yang ditata oleh Amerika melalui globalisasi ini seakan utopia kalau tujuannya adalah keadilan dan kesejahteraan atau meminjam istilahnya Dr Umer Chapra, Humanitarian. Mengapa ?? Sebab Amerika Serikat harus memaksakan ide-idenya yang didukung di Indonesia melalui Asia Foundation & LibForAll demi “uniformitas” pada asas kebebasan, multikulturalisme, hak azazi manusia,keterbukaan, dengan standar yang telah ditetapkan tanpa definisi yang sudah tegas.

Tradisi Keilmuan

Dalam hal Tradisi keilmuan antara keduanya pun bertabrakan dan saling bertolak belakang satu sama lain. Ketika penyikapannya dengan globalisasi, kalangan yang pertama bersikeras dan menolak hal segala yang dating dari Barat termasuk pengharaman televisi dan fotografi dengan alas an menyerupai makhluk hidup. Hizbut Tahrir meskipun konsisten dalam pergerakannya melawan konspirasi global dunia yang dihegemoni oleh Political will Barat, kenyataanya belum lagi secara massif mendapatkan dukungan dari akar rumput massa tempat mereka berada hingga terkesan berada di menara gading. Apalagi masih bertahan dengan iklan khilafahnya yang membuat kalangan santri dari pondok pesantren begitu terasa nyeri bahkan trauma dengan pelajaran sejarah peradaban Islam yang masih lagi berkutat pada bab intrik politik.

Kalangan Liberal, begitu inferior menatap tradisi keilmuan silam yang telah dibangun fondasinya oleh para ulama yang ilmuwan dan para ilmuan yang ulama. Serta doktrin ketika itu oleh Imam Ghazali “ Menghalangi pengetahuan berkembang karena alas an agama sama halnya dengan membunuh agama itu sendiri maka mempelajari ilmu kedokteran tak kalah fardhu kifayahnya dan pentingnya dari ilmu-ilmu agama karena bodoh namanya kalau urusan puasa di bulan Ramadhan masih saja bertanya pada dokter Yahudi atau Nasrani.” Mereka menutup mata terhadap referensi emas para ulama Islam terdahulu dari mulai Imam Ghazali yang famous bersama dengan Ihya Ulummudinnya dan wafat dengan memeluk qura’an di dadanya hingga Syaikh Nawawi Al Bantani, ulama Indonesia yang sangat brilian dan cerdas. Gantinya, bagi kalangan ini, berderet nama dari mulai Gamal Al Banna, Mohammad Arkoun, Hasan Hanafie,Ashgar Ali Enginer, bahkan John Hick. Hatta di Indonesia ada Ulil Abshar Abdalla, Sukidi Mulyadi, dan Rizal Malarangeng. Sungguh terperangah saya kala membaca email dari ulil abshar yang terpublikasi di Internet mengenai Ekonomi Syariah, yang menurutnya hanya Ekonomi Kapitalis yang diarabkan. Lalu apa bedanya intelektualitas seorang Ulil Abshar yang katanya tengan mengambil studi lagi di Boston,USA, dengan para mahasiswa UKI dalam sebuah acara debat di Tv One, menggugat konsep Ekonomi Islam sebagai Ekonomi Arab ?? Aaaakh Betapa dangkalnya !

Sama terperangahnya saya kala menonton Todays Dialogue di Metro Tv saat tak lama setelah ada Krisis Ekonomi Global “resmi” mewabah, menyebutkan dengan dalih manusia yang selalu senantiasa mencipta dan mengkreasi dan tak ada sistem yang selamat dari kelemahan dari dalam sistem itu sendiri karenanya Ekonomi Kapitalis yang saat ini masih ada masih dianggap yang “terbaik” dari yang ada. Kontan, para audiens tertawa terbahak-bahak karena di saat yang sama Kapitalisme tengah dilanda demam yang sangat akut especially di lantai bursa sana diiringi jeritan investor menatap berlembar-lembar saham tak lagi punya arti. Dibeli merana,dijual simalakama. Atau raungan para nasabah Bank Century dan Sarijaya Sekuritas akibat “digorengnya” dana yang mereka Investasikan di Pasar Modal ! Ya Allah !!

Jalan Kita

Jalan kita bukan yang dikehendaki Materialisme Barat dan Mistisme Timur. Seperti yang di nyanyikan oleh Muhammad Iqbal. ”Keduanya berjiwa gelisah dan tak sabar menanti. Keduanya orang asing bagi Ilahi dan penipu manusia. Yang satu diasuh oleh ruh revolusi, yang lain gemuk oleh penghasilan negara dan di antara kedua ini, dua batu kemanusiaan terlanda ” kata Iqbal lagi ” Yang satu mengalahkan tujuan pengetahuan seni dan agama. Sedangkan yang lain menyentakkan jiwa dari tubuh dan roti dari tangan ”

”Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam ) Umat yang adil dan pilihan. Agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan ) manusia dan agar Rasul (Muhammad ) menjadi saksi atas perbuatan kamu di dunia. (Al Baqarah : 143)

Kalau memang dicitakan kembali pada Ashalah Da’wah, semestinya mereferensi pada karakteristik asli agama ini. Dan Karakteristik aseli agama ini sangar erat mengembalikan pada tujuan mengapa hukum Allah perlu ada. Dan apa konsekuensinya kalau produk hukum itu atau malah sumber hukum itu sama sekali dianulir atas nama kebebasan berekspresi, hak azazi manusia, gender, pluralisme, dan pelbagai produk derivatif usangnya. Dan apa yang kan terjadi kalau tujuan mengapa hukum Allah itu ada disempitkan sedemikian rupa melampaui sewajarnya fitrah manusia sebagai makhluk yang manusiawi.

Pada akhirnya, dalam situasi sesulit apapun harapan itu masih dan selalu ada. Itulah mengapa nasihat ulama terdahulu selalu mengatakan ” Tunggulah barang sesaat sesudah itu akan muncul jalan penuh kemudahan”. Dalam dalam salah satu atsar yang lain ” Barangsiapa yang mengatakan orang itu telah hancur, maka sesungguhnya dialah yang telah hancur. Dan inilah jalan yang kita tempuh, Madrasah, yang menurut Prof Dr Yusuf Qardhawi, menggabungkan antara nash dengan illat, menggabungkan antara rasio dengan wahyu, tunduk pada ayat muhkamat dan berserah pada ayat mustayabihat serta tak bermain-main pada nash yang jelas dilalah qath’inya juga dengan menilik tujuan Hukum Allah diturunkan (Maqashid Syariah ). Jalan inilah yang kita tempuh agar tak pudar dan hancur ditelan sejarah dan sunnatullah alam.

“Jangan Sekali-kali melanggar Aksiomatika hukum alam karena dialah yang kan menang. Pergunakanlah,manfaatkan,dan kendalikanarusnya.Dayagunakanlah sebagiannya dengan sebagian yang lain,lalu tunggulah saat kemenangan tiba.Sungguh ia tidak jauh darimu (Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan )