Islamic Banking

Islamic Banking

Judul ini saya angkat dari sebuah event seminar yang diselenggarakan oleh KSEI Progres STEI Tazkia. Dan banyak catatan kenyataanya di seputar perjalanan pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia yang telah berjalan 20 tahun lamanya. Maka ia semacam muhasabah yang kita tempelkan atas perjuangan kita selama ini membumikan Ekonomi Islam di bumi persada yang memiliki jejak khasnya jauh sebelum hari ini menjadi euphoria.

Euforia selepas Krisis Keuangan Dunia yang meledak hingga membail out semua perusahaan Swasta yang di kemudian hari public lebih akrab mengenalnya sebagai pemanjaan terhadap para eksekutif perusahaan swasta Amerika Serikat. Dan saat yang sama kita menemui Ekonomi Syariah begitu banyak mendapatkan tempatan dan simpati dari para intelektual ekonomi dunia hingga para investor yang lebih memilih safety dan aman dengan berinvest di deposito berbasis skim mudharabah hingga gold dinnar. Tapi kalau mau dilihat dari kacamata kritis, Ada ketimpangan yang sangat jelas. Antara permintaan Industri Perbankan Syariah yang walau baru mencapai 2,3 % pangsa pasarnya namun telah berlari demikian kencang yang ditandai dengan pertambahan baru unit usaha syariah dan bank umum syariah yang mlai diancang-ancang akan dibuka akhir desember 2009 ini. Seperti BCA yang akan segera ancang-ancang membuka unit usaha syariah akhir desember ini belum ditambah di ranah politik, Ekonomi Syariah tak dilewatkan sebagai bagian dari agenda visi dan misi nya membangun dan membenahi pembangunan perekonomian Indonesiaseperti hal nya yang dtunjukkan oleh capres dan cawapres JK-Win yang menjanjikan market share Bank Syariah meningkat sebesar 25 %

Tapi, sekali lagi kalau kita mulai cermat. Di balik gejolak euphoria oastilah ada udang yang turut bersama bermain. Prof Didin S Damanhuri dalam seminarnya di event tadi, Di tengah-tengah kepungan liberalism dan gejolak kapitalisme yang tengah demam. Ekonomi Syariah demikian eksisnya dengan icon Perbankan Syariah yang laris manis di dari ujung timur jauh hingga Vatikan pun ikut menganjurkan Barat belajar pada skim keuangan Islam yang diyakini dengan sangat dapat mejadi jalan keluar dari kejahatan ekonomi dan kebrutalannya saat ini. Keeksisannya pun kembali dipertanyakan. Apakah Keuangan Syariah dapat keluar sebagai pemenang dengan tetap terjaga ashalahnya di tengah kepungan liberalism dan gejolak kapitalisme yang mulai berbenah ataukah sebagai “tools” kapitalisme yang tengah berbenah itu untuk menyedot dana segar dari negara-negara petro dolar.

Muhasabah selalu berkait dengan tiap zaman dan dengan tiap manusianya. Bahkan secara holistic instrument kepentingan dan kebebasan sebagai motivasi motif berekonomi menempat tempat yang demikian unik di tiap individunya.Mengapa ? karena mereka objek dari system ini . Sistem yang demikian kita yakin kehalalannya menjadi “tak halal” ketika bertemu dengan manusia-manusia yang masih bermental liberal dan ekstrim karena Ekonomi Islam itu sendiri bukan sekedar berekonomi halal. Sistem tak hanya bicara regulasi dan doktrin tapi bagaimana dengan system itu ia lebih maksimal mendekat pada neraca spiritual Islam di sector moneter,fiscal, hingga ZISWAF.Sehingga dari sana sisa-sisa derajat neraca spiritual itu berbekas pada realisasi Maqashidusy Syariah. Maka kita pun paham mengapa salah seorang pakar Ekonomi Syariah demikian leluasanya menafsirkan Ekonomi Pancasila sama dengan Ekonomi Islam. Ada yang memperjuangkan habis-habisan nilai substantif karena dinilai lebih dekat dengan realisasi Maqashidusy Syariah dan ada yang menempuh jalan masa silam sebagaimana pertama kali Ekonomi Syariah pernah berjalan di masa kenabian hingga abad pertengahan dengan lebih banyak mengedepankan Qiradh, Gilda, Dinar dan Dirham sebagai mata uang Islam yang resmi dan menolak pragmatisme uang kertas hingga perlu “membid’ahkan” Instrumen Keuangan Syariah saat ini.

Sikap Tawasuth

Adalah apatis. Apatis kiranya kalau kita tetap berfikir tak ada celah lagi. Tak ada jalan lagi dalam merampungkan agenda perlawanan terhadap penjajahan colonial modern saat ini. Saat-saat Kapitalisme dilanda demam hebat kemudian para ekonom dunia mencatat telah terjadi lebih dari seratus krisis keuangan di pelbagai negara di dunia. Dari mulai Tragedi Black Monday yang dikenang begitu menegangkan bagi Alan Greenspan,Mantan Gubernur The Fed, hingga puncaknya tahun 2008/2009. Tapi ironisnya, di masa-masa ini pula Bendera NeoLiberal berkibar dengan gemilangnya hingga secara vulgar salah seorang liberalis dalam bukunya “Mendobrak Sentralisme Ekonomi” mengiklankan dirinya sebagai alternatif ketimpangan Ekonomi modern. Terpilihnya Boediono, mantan Gubernur BI, sebagai cawapres SBY walau saat ini wilayahnya lebih pada zhanni politik tetapi tak dilupakan track recordnya di tengah publik dan seperti semakin memperkuat benderanya menancap di lapangan pembangunan perekonomian Indonesia.

Pertimbangan yang kedua,Sebagaimana diskenariokan dari kemungkinan pertama di tengah-tengah arus neoliberalisme perdagangan, pasar bebas, budaya, politik dan agama. Pertimbangan kedua itu adalah dekonstruksi bangunan pendidikan kurikulum konvensional serta memberikan Value Added nilai-nilai Islam yang dibangun berdasarkan kemunculan sejarahnya.

Di tataran epistolomogi yang berikatan erat dengan worldview Tradisi Keilmuan. Dan Tradisi Keilmuan berkaitan erat dengan bangunan paradigm pendidikan. Maka sudah tak relevan lagi meletakkan asumsi netralitas ilmu pengetahuan. Sekalipun benar-benar empiris “netral”, kata Ziauddin Sardar, pendekatan terhadapnya lah yang membuat ilmu itu menjadi sekuler. Atau “bersih” sama sekali bersih dari shibgah Islam. Atau dalam bahasa awamnya “sentuhan agama “ . Inilah gagaan yang diajukan oleh pemikiran Ekonomi Islam Mainstream. Ya. The Islamization of Knowledge atau Sains Islam menjadi satu keharusan dan bahkan kewajiban atas bergulirnya inovasi Perbankan Syariah hngga pelbagai lembaka keuangan Syariah lainnya. Cita-cita dari Sains Islam atau Islamisasi Ilmu Pengetahuan adalah merumuskan Ilmu Pengetahuan yang bermanfaat (Setia:2008) .Ia diarahkan kepada melayani dan bukannya meruntuhkan cita-cita manusiawi yang mulia ini. Dan tentu sasaran termulia “Summum Bonum” adakah tentu membawa hati yang bersih (Qalbun Salim ) bertemu dengan Tuhannya dan dengan demikian mencapai keridhaaan Allah SWT. (Setia :2005)

Maka itulah yang juga dicita-citakan dengan adanya Pendidikan Ekonomi Islam. Dan seharusnya memang bisa berjalan seimbang antara praktik dan penguatan pemahaman dan kerangka paradigma atas susunan Ilmu Ekonomi Islam. Maka kita bisa bertanya, Dimanakah Epistomologi Pendidikannya baik itu kurikulumnya atau sistem akademiknya ketika ada yang semakin belajar Ekonomi Islam mala semakin mudah mengenteng ujung rokok dan menampilkan dengan sempit sebatas berekonomi Halal yang tak lagi thayyib dan falah.