Air Post Edisi Idul Fitri

Air Post Edisi Idul Fitri

Ya.kira-kira demikianlah saya hendak memberi judul pada tulisan saya yang kesekian kalinya ini menulis mengenai Ekonomi Islam. Bukan karena tanpa alas an justru saya begitu terpikat untuk menuangkan gagasan segar kepada para pembaca sekalian dan berbagi banyak mengenai petualangan saya di dunia media massa kampus. Siapapun akhirnya takkkan pernah bisa menyangkal bahwa jangan pernah meremehkan keberadaan hal-hal yang secara kasat mata dalam pandangan mereka yang terlalu sibuk dengan gagasan besar dan isu-isu di belahan dunia namun akhirnya terjebak pada budaya bangga diri dan terlalu biasa merendahkan tiap amal yang dihasilkan dari “tangan-tangan gaib” yang menatah peradaban dan ummat dari atas meja dan berlembar-lembar catatan “perjuangan”.

Semua bermula kala saya menerima sebuah berkas map file berwarna hitam dari salah seorang senior saya yang kini telah bekerja sebagai staf LPPM Tazkia dan telah menikah beberapa bulan yang lalu setelah sebelumnya saya pernah menanyakan mengenai keberadaan lembaran-lembaran media massa lembaga dakwah kampus kepada beliau dan akhirnya beliau pun menepati janjinya untuk menyerahkan seberkas file tersebut untuk dijadikan ardip LDK Al Iqthishod.

Ada sebuah guratan dan keindahan serta memiliki daya pancar yang sangat kuat ketika saya membuka halaman demi halaman dalam berkas map file itu dan saya saksikan pelbagai artikel yang lahir dari tangan-tangan mahasiswa STEI Tazkia. Dengan lincahnya terus mengcreate pola- pola pe mikiran mahasiswa dan membentuk serta menjaga eksistensi paradigma ekonomi dalam bingkai da’wah atau dalam bahasanya Pak Ali Sakti di pelbagai seminarnya mengatakan bukan Ekonomi berbalut ayat-ayat atau hadits tetapi pandangan hidup Islam dalam berekonomi atau Ekonomi berbahasa Islam.

Kita mulai membedah halaman demi halaman dalam berkas yang saya terima itu. KOMDAS: agaknya sekilas bak sebuah plesetan atas nama sebuah Koran harian ternama di Ibukota,KOMPAS,yang teman-teman di kampus especially anak-anak HAMMAS (Himpunan Mahasiswa Akuntansi Syariah ) lebih suka memanggilnya sebagai KOMando PAStur sebagai bentuk lain perlawanan atas ketidakadilan media massa tersebut dalam menurunkan pemberitaan atau opini mengenai dunia Islam.Tapi Komdas telah memiliki warna yang unik bagi saya dan ia adalah kombinasi antara keteguhan idealism dan kreatitivitas jiwa-jiwa mahasiswa yang merindukan perubahan menyuarakan pemikiran agung antara da’wah kampus dengan arus core dan murni dari seruan Islamization Of Knowledge dari sebuah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia.

Maka itu berarti, kampus saya mengambil peranan yang sangat penting dan merupakan bagian dari sebuah usaha panjang dari menerjemahkan petunjuk Ilahi, dalam bahasanya Pak Syafii Antonio, membawa ulumul qura’an, tafsir, hadits,ushul fiqh,fiqh muamalah ke pasar modal, reksadana,Asuransi,Bursa Efek dank kepelbagai sector riil strategisnya lainnya dalam memberikan keberkahan atas Indonesia. Atau mengimplementasikan pemikiran filosofisnya Naquib Al Attas dalam dunia pendidikan islam lalu sebagai nyatanya atau institusinya berdirilah STEI Tazkia yang dulu bernama Sekolah Tinggi Ilmu Muamalah Iqthishoduna Bogor.

Back To My Story, Maka tak ada lagi pemikiran yang sarat dengan idealisme untuk sebuah mekannisme operasional dan landasan yang tak lagi berjalan On The Right Track.Tapi kini Komdas kembali melebur kembali pada satu asa baru yang menemukan raganya yang baru. Lebih mungil dan Soft serta itulah proyek yang tengah dan masih saya kelola bersana dua orang sahabat saya di divisi Infokom Al Iqthishod. Komdas dengan lembarannya yang begitu kritis dalam mengenai hal-hal perekonomian serta pernah juga memetakan arus mazhab Ekonomi islam seperti yang ditulis oelh Akhina Muhammad Jarkasih dalam “Arus Kiri-Kanan Ekonomi Syariah” , sebuah ‘Ramalan” yang ditulis oleh mas Aam Slamet Rusydiana, senior saya yang menyerahkan berkas map file hitam ini kepada saya tadi, menulis “Ekonomi , Esok Hari” Juga semangat optimisme akan lahirnya mata uang yang berasaskan keadilan dan transanparansi atas sekian keluhan dan kezaliman yang dialami oleh Negara-negara berkembang dengan mewabahnya dollar di negara mereka dengan tingginya inflasi yang harus dibayar oleh negara-negara berkembang hadir dalam tulisan “ Selamat Datang Dinar Dirham “ yang ditulis oleh senior saya juga di Progres akhina Mahbubi Ali.

Namun sebuah tulisan yang patut saya berikan apresiasi tersendiri karena sejuah saya mengikuti dan menelaah pelbagai tulisan mengenai permasalahan Ekonomi baik itu Fiskal maupun Moneter, dari mulai Mikro hingga Makroekonomi, baik itu dalam segi pandangan hidup Islam ataupun konvensionaliyun, belum pernah ada yang mau membahas Paradigma Ekonomi Islam itu sendiri dan peran da’wah kampus dalam pertumbuhan ekonomi Islam. Seiring dengan hakikat dari media massa da’wah kampus itu sendiri yaitu tetap istiqamah dalam mempropagandakan kebenaran sebagai legalitas norma dan nilai sosial budaya masyarakat dan memberangus budaya materialisme dan sekulerisme yang bersumber dari kebobrokan jahiliyah dengan wajahnya yang telah dipoles kegemilangan semu dan analisa palsu ala Barat. Maka kita pun bergegas mempropagandaknnya sebagai kejahatan dan kebathilan yang diakui oleh norma dan nilai sosial masayarakat bagian asasi dari ilegalitas.

Manusia dan hukumnya boleh rebah dan bangun atau terkoyak-koyak oleh hingar bingar ketidakjelasan kepentingan siapa yang bermain atau dalam bahasanya Goenawan Mohammad bahwa hukum di sebuah negeri yang sarat dusta dan pat gulipat. Moralitas menjadi politis dan politis menjadi moral. Bicara nilai,norma,etika,pranata sosial dan segala macamnya dalam kamus masyarakat barat pun lebih paham bahkan di Amerika Serikat lah tempatnya deklarasi hak azazai manusia digaungkan but empirisnya sejarah mencatat dari catatan tahunan dunia yang terisolasi dan disandera oleh nafsu buta lobi-lobi zionisme.

Amerika juga mengoyak-ngoyak dan meluluhlantakkan bumi para ilmuwan dan kekhalifahan, Baghdad, Amerika juga melalui Lehman Brothers seketika merobohkan tatanan ideology kapitalisme dunia dan merobek jahitan-jahitan yang sekian lama mengalami tambal sulam. Selama satu decade juga memaksakan pengaruhnya dan ideologinya pada tiap lini kehidupan manusia serta seluruh warga dunia. Dissat yang sama mereka dengan rajin mendonasikan dana segar untuk membangun budaya dekonstruktif dalam bentuk sekularisasi dan demokratisasi.

Maka moralitas dalam islam dikenal dengan akhlak. Hamid Fahmi Zarkasy dalam tulisannya di jurnal Islamia memaparkan bahwa alam raya sebagai ciptaan diistilahkan sebagai Khalq memiliki akar yang sama dengan istilah moralitas manusia atau Akhlak. Dan yang demikian menunjukkan bahwa memahami objek ilmu yang merupakaan ciptaan Tuhan harus menggunakan dan mendahulukan etika dan moralitas.

Tapi pesan penting ini belum tersampaikan secara menyeluruh dan membuat mata tiap mahasiswa, yang sangat vital fungsi serta peranannya sebagai agen perubahan atau benteng moralitas, terbuka dan terus mengup date pemikiran tsaqafah islamiyahnya dan terus bergerak dalam barisan Amal Jama’i untuk senantiasa menggulirkan angin pembaharuan dan perubahan. Ya! Karena kita adalah khalifathurahman dan kiranya kepada siapa lagi masyarakat yang centang perenang atawa sudah cukup frustasi dengan kondisi yang demikian menghimpit di luar sana sudi kembali berharap ?? .

Dan kiranya penting sekali lagi untuk terus didentangkan makna dan peran dari da’wah kampus itu sendiri di tengah-tengah pergumulan serta pertumbuhan Ekonomi Islam yang berada di antara kondisi masih mencari identitas sebenarnya dan kenyataan operatif sains islam di belantara akademik dan public.

Benarlah kata seorang sahabat saya ketika berbincang-bincang mengenai persoalan da’wah kampus, akhina Kahfi Riza dari jurusan EI , bahwa Ekonomi Islam harus dibangun dari asasnya yang paling fundamental yaitu Al Islam itu sendiri. Di tiap pemikiran dan mind set para penggiatnya agar terbangun paradigma yang utuh mengenai Ekonomi Islam bahwasanya ia bukanlah ilmu ekonomi atau disiplin ilmu yang secara paksa dikenakan atribut Islam atasnya tetapi ia adalah Ekonomi dalam bahasa Islam dan Islam itu sendiri yang memiliki satu system tersendiri, pure, dan corenya orisinalitas ajaran Islam dalam hal muamalah. Serta kaidahnya Al Ashlu Fil Muamalah Ibahah dan memiliki karakter akan terus berkembang sesuai tingkat kebutuhan manusia.

Maka baik itu KOMDAS kemudian reinkarnasinya Air Post atau pun bulletin Progres memiliki mesej(pesanan) penting yang memblow up dan kemudian membangun bahkan menguatkan opini publik ke tengah-tengah masyarakat kampus dan di luar kampus. Sejarah Media massa kampus mempunyai rekaman yang unik tersendiri,. Antara ada dan tiadanya keberadaan optimalitas media da’wah kampus yang bias berpotensi menjadi corong propaganda secara lebih massif hari ini masih menjadi tantangan keberadaan eksistensi bagi yang istiqamah untuk terus memperjuangkan kehidupan lebih baik dibalik goresan pena maupun ketikan-ketikan selepas kuliah dan di antara tugas-tugas kampus yang bejibun.

KOMDAS sudah terhitung beberapa kali tiarap dan sempat vakum sebentar untuk kemudian berganti wajah yang lebih soft dan ceria. Lahirlah Air Post yang pertama dikelola oleh akhina Fauzul Azmi Zen sebagai pimrednya dan juga masih berada dalam massa amanah sebagai Presnas FoSSEI COCODA. Waktu bergulir cepat hingga akhirnya saya pun ditunjuk untuk menjaga keutuhan dan ketajaman mesej yang hendak disampaikan oleh Air Post. Tidak mudah memang tapi saya tetap menolak eksistensi sebagai tujuan dan lebih memposisikan eksistensi itu sendiri sebagai konsekuensi. Karena ia perkara niat dan hendaknya niat itu dikembalikan sebagai media syiar dan propaganda program da’wah LDK Al Iqtishod ke tengah-tengah warga kampus.

Bnera juga kiranya kalau Air Post perlu dipertajam mesejnya dengan isi yang tak melulu ber “akhi-ukhti” but kita dapat mengantisipasi threats yang tengah menanti, Apakah ia sekularisasi baru yang berangkat dari pemahaman yang salah kaprah mengenai paradigm ekonomi Islam itu sendiri hingga memisahkan urusan ranah kebijakan ekonomi yang banyak tertuang pada bulletin Progres dan tulisan umum mengenai fikrah Islam itu sendiri di Air Post. Sedangkan kalau ditelaah lebih ulang pada arsip KOMDAS yang diberikan oleh mas Aam, ada banyak juga yang berkaitan dengan issue-issue ekonomi kontemporer lebih kritis dan tajam serta berani.

Progres sebenarnya lebih mendingan still show must go On bahkan tercatat di FoSSEI Jadebotabek sebagai KSEI yang paling stabil dalam kajian-kajian ekonomi Islam. Tatkala KSEI-KSEI lain masih senin kamis kehidupannya. Tanpa bias dipungkri juga pada eranya Akh Mahbubi menjabat sebagai ketua umum Progres bias dipastikan 4L “Loe Lagi-Loe Lagi’ dalam soal muatan bulletin. Tanpa bisa dipungkiri juga walaupun Progres dapat berhasil tersebar ke pelosok-pelosok SMA di Bogor Barat dengan menjalin kerja sama dengan bagian humas STEI Tazkia, Hasilnya dan dan konsekuensinya sangat jarang ada tulisan di Progres yang mengkritisi perkembangan Ekonomi Islam saat ini sekalipun ada banyak yang seharusnya menjadi pertimbangan dan evaluasi atas pertumbuhan perbankan syariah. Seorang mantan wakil ketua Progres, Nasher Akbar, pernah berbincang-bincang dengan saya bahwa itulah konsekuensinya.Mereka tak menghendaki masyarakat seketika apatis dan menolak perbankn syariah yang kemudian secara gegabah mencap bahwa perbankan syariah tak jauh bedanya dengan perbankan konvensional. Hanya dikeranakan sifat kritis yang tadinya ingin memberikan kritik yang bersifat konstruktif.

Actually not just them media massa atau media da’wah bil qalam yang leluasa mengembangkan sayapnya dalam usaha yang berkesinambungan membumikan Ekonomi Islam dan meletakkan pemahaman yang tepat namun elegan pada paradigm da’wah serta yang paling asasi dari Ekonomi islam itu sendiri.Yaitu seperti yang dituliskan oleh Kak Jarkasih dalam tulisannya di lembaran KOMDAS “Paradigma Ekonomi dan Peran Dakwah “ bahwa pemahaman Ekonomi Islam hendaknya lahir tidak bersifat parsial namun holistik. Yang maknanya pengenalan ekonomi Islam tidak hanya berkutat seputar kebijakan Ekonomo seperti Fiskal dan Moneter atau yang berkaitan dengan lembaga perbankan dan keuangan serta prosuk-prosuk LKS (Lembaga Keuangan Syariah ) seperti akad-akad. Namun juga mencakup seluruh aspek Islam sehingga menghasilkan pemahaman yang benar.

Di ranah kampus hijau ini, masih tercatat sejumlah media massa yang terbit dalam bentuk bulletin seperti EKONOMIKA , bulletin milik HMJ Ekonomi Islam, hingga MARGIN, dalam bentuk majalah dinding yang pernah diterbitkan oleh matrikulasi atau Badan Independen Matrikulasi. Serta pernah pula saya menemukan lembaran bulletin Debet-Kredit milik HMJ Akuntansi Islam dan di kampus ini juga pernah diterbitkan oleh BEM Tazkia Post yang ditetapkan sebagai Koran nasional milik rakyat STEI Tazkia.

But kesemuanya akhirnya harus kandas dan tenggelam dari permukaan hanya Air Post dan bulletin Progres yang masih show must go on serta menghadapi tantangan yang menguji tak hanya sejauh mana eksistensi media massa da’wah kampus tetapi juga keistiqomahan media tersebut menyebarkan fikrahnya ke tengah-tengah ummat. Dan InshaAllah ke depan akan menjadi media yang independen,cerdas, aktual, inspiratif serta mendidik masyarakat luas. (Yassin El Cordova)