Afzhalurrahman dalam Economics Doctrines of Islam mendekripsikan bahwa Zakat memiliki makna “tumbuh”, “ suci”,”berkembang” yang semuanya mengarah pada penyucian jiwa itu sendiri sebagai sebuah bentuk “obligatory to God “ bukan sekedar amal sumbangsih atau charity dan bukan pula pajak yang dibebankan dan memberatkan atau Tax namun, masih menurut Afzhalurrahman , ZAKAT demikianlah tetap disebut sebagai zakat pada term apapun .”Obligatory to God sendiri juga memiliki makna sebuah ibadah, namun disisi lain Zakat memberikan tambahan atau asupa spiritual yang mampu menyehatkan jiwa dan menyucikan harta dengan membayarkannya melalui Baitul Mal untuk kemudian disalurkan kepada kalangan-kalangan yang berhak menerimanya .Inilah salah satu point yang mencerahkan dan dapat dirasakan manfaat yang berkali-kali lipat justru di saat harta kit secara hitungan kalkulatis telah dikurangi nishab zakat sebesar 2,5 %

Lebih Lanjut Afzhalurrahma mengemukakan, zakat bila dikalkulasikan secara agregat maka yang Nampak adalah mendorong tiap muslim yang memiliki kekayaan yang berkecukupan untuk segera membayarkan zakat untuk semakin menubuhkembangkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi .Zakat juga mampu memberikan stimulus kepada suatu masyarakat muslim untuk menanamkan modalnya dalam periode singkat maupun panjang akan mampu menaikkan total harta kekayaan yang dimilki oleh suatu komunitas muslim

Sementara itu Muhammad Abdul Mannan, salah seorang pemikir ekonomi islam di era kontemporer memandag zakat sebagai poros utama keuangan public Islam. Ia bukan pula pajak namun justru dipandang sebagai sumber utama pendapatan dan juga “ a religious obligation” Muhammad Abdul Mannan menegaskan bahwa keunikan zakat sekalipun ia harus mengeluarkan harta sebagai pemenuhan kewajiban dari lima rukun islam .Akan tetai zakat malah seharusny mendorong bahwa Zakat memang tidak memilik effek merugikan dalam motivasi berkerja. Malah yang terjadi adalah sebaliknya membangkitkan semangat untuk berkerja (Asnaf:2003)

Dimulai dari sini mungkin bisa dipahami akan alaqah atau hubungan yang erat antara kesucian zakat yang membersihkan harta kaum muslimin dan dengan keberadaanya yang seuai arti dari istilah zakat mambuat harta yang dikeluarkan mengundang barakah. Barakah dalam artian Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauzi berarti pertambahan nilai (Fillah :2005) maka dengan keberadaan zakat pun harta yang dikeluarkan tak saja membuahkan hasil di luar dugaan tetapi janji Allah bagi mereka yang menunaikan zakatnya. Dan Kerja pada keberkahan produktifitasnya. Semakin banyak produktifitas yang dihasilkan mencari nafkah maka semakin kuat pula motivasi untuk menunaikan zakat. Karena dalam ternyata zakat yang dibayarkan dari penghasilan berkerja memberikan nilai lebih atau keberkahan yang berlipat atas pekerjaanya

Allah Ta’ala Berfirman

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.[1565] ( Surah Alinsyiqaq:6)

(yaitu) mereka yang beriman[13] kepada yang ghaib[14], yang mendirikan shalat[15], dan menafkahkan sebahagian rezki[16] yang Kami anugerahkan kepada mereka. (Surah Al Baqarah : 3)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui

(Surah Al Baqarah :261)

Sampai sini, keagungan Ekonomi Islam berpendar cemerlang dibalik seruan untuk berkerja dan perintah menafkahkan sebagian harta yang diberikan Allah ta’ala pada mereka. tersirat jelas sebuah rumus kekayaan yang mungkin sekilas musykil bagi mereka yang telah kadung tenggelam dalam belantara pemikiran yang materialistis .Maka perhatikanlah sejenak Surah Al Baqarah ayat 261 ini

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Surah Al Baqarah :261 )

Dari sini pun sudah Nampak jelas akan janji Allah yang berlipat ganda kepada mereka yang menafkahkan rezeki yang Allah telah berikan untuk tidak disimpan sendiri atau melainkan dishare kepada mereka yang tak mampu. Ada sebuah rumus kekayaan yang sederhana namun pasti. pasti dalam ruangan atau yang yang tak terbatasi oleh zaman dan peredaran siang dana malam, Pasti karena datangnya dari Allah ta’ala yang Maha Benar. sementara itu Sayyid Quthb rahimakumullah dalam Fi Zhilalil Qura’annya menafsirkan bahwa metoda yang digunakan oleh Allah Ta’ala dalam menyeru hambaNya menaati dustur atau undang-undangNya tidaklah langsung dimulai dengan penetapan yang tegas namun Ia membuat metafora yang indah. metafora yang merangsang nurani manusia tuk segera bergegas menjalankannya karena hakikatnya rezeki yang Allah siapkan lebih dari sekedar transaksi sebutir benih yang menmbuhkan tujuh bulir dan tiap-tiap bulir terdapat didalamnya seratus biji maka demikian pula sebenarnya yan hendak ditetapkan oleh Allah Ta’ala dalam undang-undangNya bahwa infaq dan zakat sebagai salah satu fondasi yang sangat penting dalam menegakkan sendi-sendi perekonomian karena ketika seorang muslim meyakini bahwa rezeki, ajal,nasib, jodoh, dan kematian ada dalam genggaman Yang Maha Mengetahui maka taka ada kekhawatiran ataupun kesedihan sebab dengan membayarkan zakat dan infaq di sisi Allah bukan mengurangi harta melainkan menambah atau bukan menjadikannya akun beban pada hitungan Akuntansi melainkan asset yang barakahnya kian menyuburkan usaha perekonomian. Dan Ayat tadi ditutup dengan “Dan Allah Maha Luas (karuniaNya )lagi Maha Mengetahui “ Masih menurut Sayyid Quthb dengan “ Fi Zhilalil Qura’an”nya Maka Allah sesungguhnya Maha Kaya dan sama sekali tak membutuhkan apapun dari hambaNya dan penegasan yang menyejukkan bahwa Allah Maha Luas dalam membagikan atau mendistribusikan rezekiNya dengan cara aapun yang Ia kehendaki . dalam firmanNya yang lain

tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surah Al Muzammil:20)

Ketika seorang mukmin menjalan amal kebaikan yang didasarkan pada sebuah ketulusan dan lahir dari keyakinan akan balasan di Hari Akhir dan enggan mengharapkan apapun dari pandangan manusia. Maka kebaikan yang ia lakukan, dalam hal ini membayar zakat dan sedekah, sejatinya manfaat dan barakah didalamnya berbalik ke individu tersebut dengan manfaat dan balasan yang tak terduga atau bahkan tak pernah ia kalkulasikan selama ini dan tak pula menganggapnya sebagai beban yang harus ia keluarkan tiap bulannya atau tiap tahunnya. Karena kalau sudah berbicara tentang rezeki maka bentuknya bisa sangat luas dan beragam dan sesekali rezeki telah dijamin oleh Allah Ta’ala sebagaimana yang dilukiskan dalam Al Qura’an

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (Surah Al Mulk :15)

Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[710]. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).( Surah Huud :6)

Membaca dan menelaah Potensi Zakat Indonesia

Ada sebuah kekaguman sekaligus kebanggan yang seharusnya muncul dari raut wajah tiap anak negeri ini. Bukan lagi sebuah kekaguman dikarenakan peringkat kemiskinan tertinggi di dunia atau kekaguman pada peringkat korupsi dan pornografi yang mendominasi dunia. Bukan, Melainkan kekaguman dalam artian sebenarnya. sekaligus bangga pada makna yang sebenarnya. Kagum sekaligus bangga pada Negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. kagum dan bangga pada perjuangan dan tumpah darah kaum muslimin yang rela mengorbankan harta dan darahnya untuk memerdekakan Bangsa Indonesia dari cengkaraman terperih oleh Kolonial Belanda dan Jepang berabad-abad lamanya.

Kekaguman itu bukan sekedar retorika atau basa-basi semata, mengingat beberapa belakangan beberapa media massa Indonesia yang saya telusuri di Google dan beberapa situs internet lainnya seperti Era Muslim.com, atau Kompas.com kemudian Koran harian Republika dan beberapa media massa lainnya telah mencatat angin segara bagi siapa saja yang merindui kembalinya system ekonomi islam sebagai main system di negeri Indonesia ini. Khususnya terfokus pada masalah zakat yang menurut lansiran media massa cetak dan elektronik seperti Republika menyebutkan bahwa potensi zakat yang dikandung telah mencapai angka hingga 17 Trilyun .

(Antara : http://www.antara.co.id/arc/2007/9/29/potensi-zakat-umat-islam-rp17-triliun/) namun yang terwujudkan baru mencapai angka 2,5% atau hanya 700 miliar .

Atau beberapa lansiran media massa lainnya yang menyebutkan tentang terjadinya kenaikan yang bertahap antara dekade tahun 2004 hingga tahun 2007 mengalami kenaikan yang sangat signifikan .seperti yang telah disurvey oleh PIRAC (Public Interest Research and advocacy Center ) .yang menggelar survey di 10 kota besar pada akhir tahun 2007. PIRAC mensurvey dan di antara dekade tahun 2004 hingga tahun 2007 mengalami kenaikan dari 416.000 rupiah per orang menjadi 684.550 rupiah per orang dan PIRAC pun mensurvey telah terjadi kenaikan kesadaran msyarakat dalam membayar zakat dari tahun 2004 sejumlah 49.8 % dan tahun 2007 merangkak naik secara significant menjadi 55% di tahun 2007

Terhadap fenomena ini K.H Didin Hafidhudin memberikan pandangannya bahwa memang potensi zakat yang dikandung oleh masyarakat muslim Indonesia sangat besar.berdasarkan survey yag dilakukan baik oleh PIRAC maupun Universitas Islam Negeri sama-sama memperoleh hasil yang kenaikan kesadara masyarakat dalam menunaikan zakat maupun zakat yang telah terkumpul dan siap dialokasikan kepada para mustahik telah mengalami kenaikan yang sangat pesat .Bila diantara dekade tahun 2005-2006 Baznas /Badan Amil Zakat Nasional yang berkerja sama dengan berbagai lembaga amil zakat lainnya berhasil mengumpulkan dana zakat dari masyarakat muslim Indonesia sebesar 340 miliar rupiah maka pada rentang waktu berikutnya mulai dari tahun 2006-2007 angka tersebut mengalami kenaikan hingga mencapai jumlah 850 miliar rupiah .Dan K.H Didin Hafidhudin pun berharap jumlah yang sangat signifikan ini terus mengalami peningkatan dan beliau pun menambahkan asal dana zakat yang terkumpul tersebut dikelola oleh maka siapa saja yang kan mengelolanya menjadi tidak masalah . dari sini kita mampu menangkap tantangan bagi sebuah Baitul Maal wa Tamwiil yang memperoleh angin segar dan di satu sisi kita bisa menangkap ada tantangan lain yang telah menunggu yaitu kredibilitas dan integritas lembaga baitul maal itu sendiri di tengah boomingnya kesadaran masyarakat kembali bergairah menjalankan amal ibadah zakat dan kesadaran masyarakat untuk kembali pada sistem ekonomi yang benar dan terjamin keuntungannya .Profit Loss Sharing yang mengeliminir instrumen khas kapitalistme seperti Riba ,maysir, gharar, dan lain-lain menuju stabilitas perekonomian yang jauh lebih produktif dan semakin maksimal mensejahterakn rakyat Indonesia .