Tag

,

Hari kemarin seharusnya menjadi hari luapan dari selesainya ujian UAS bagi saya tetapi ada agenda yang belum selesai. Yach salah satunya menghadiri sebuah perhelatan akbar dengan undangan atau peserta dari pelbagai Lembaga Da’wah Kampus seIndonesia dan termasuk juga LDK Al Iqtishod STEI Tazkia turut serta menjadi tamu undangan dal;am Perhelatan akbar yang bernama Konferensi Mahasiswa Muslim Indonesia yang pertama kalinya diselenggarakan di Auditorium Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan FSLDKN dan SALAM UI sebagai penyelenggaranya.

Ada sebuah ghirah yang kembali bergolak. Di antara semangat menemukan wajah dunia Islam yang ramah lingkungan dan  moderat sesuai dengan fitrah dan tabiat Islam itu sendiri dengan pergeseran serta persinggungan dengan issue-issue politik yang juga masih memanas. Maka tak salah kiranmya dalam Konferensi Mahasiswa Muslim Indonesia dengan tamu undangan dariu pelbagai LDK Kampus se Indonesia  mengambil tema ”Menyambut Perubahan Baru di Pemerintahan yang Baru. Di antara issue-issue yang sempat mencuat juga adalah kaitannya dengan akselerasi Perbankan Syariah dan sistem Ekonomi Islam yang seharusnya sudah bisa didudukkan sebagai solusi total atas krisis Ekonomi Global. Saya menyaksikan antusiasme dan apresiasi para peserta menyambut fenomena euforia Ekonomi Syariah yang mampu bermain cantik di pentas Perekonomian Indonesia bahkan Dunia.

Hari pertama yang disi dengan seminar seputar refleksi perjalanan ummat Islam sepanjang sejarah Bangsa Indonesia yang ternyata mempunyai ”Golden Age” dan fakta sejarah itu tertuang dalam pelbnagai pemikiran pemikir muslim Indonesia dan di”negara”kan dalam bentuk konstitusi tanpa serta merta merubah bangunan atau konsepsi NKRI itu sendiri. Karena seperti yang ditegaskan oleh Yusril Ihza Mahendra dalam seminar di sesi kedua ”Banyak hukum adat yang dimasukkan dalam undang-undang hukum di Indonesia tetapi tak serta merta merubah Konsepsi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara Adat ” maka menurut Yusril Ihza Mahendra ” Begitu juga dengan Syariah Islam, kita bisa masuk dengan merekonstruksi Undang-Undang yang telah ada hingga ia menjadi hukum Positif yang diberlakukan di Republik ini”

Di Bidang Ekonomi, Tampil sebagai pembicara Bambang Soetrisno, mewakili Asbisindo,Asosiasi Bank Syariah Indonesia, memaparkan perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia yang sarat dengan euforia Ekonomi Syariah dari mulai terujinya sistem Perbankan Syariah di masa Krisis Ekonomi Global  hingga mampu membuktikan dirinya tampil pro rakyat dan sektor pertanian dengan FDR di atas 100 % . Tentu saja ketika oleh moderator dibuka sesi tamnya jawab, tangan-tangan mengacung bermunculan dan pertanyaan yang dilontarkan penuh nuansa keunikkan dan rasa penasaran yang tinggi terhadap Ekonomi Islam. Seperti yang tampak dari seorang penanya dari GAMAIS ITB, yang ikut bertanya seputar korelasi Dinar Dirham dengan Ekonomi Syariah an pertanyaan lainnya yang mencerminkan penasaran serta ghirah tinggi pada sistem Ekonomi Islam yang seharusnya oleh Pemerintah dijadikan solusi total krisis Ekonomi Global dan tak hanya bermain di wilayah periphery atau sama sekali terdistorsi sama dengan Perbankan Syariah.

Di Bidang Kepemudaan dan Mahasiswa, tampil sebagai pembicara ketiga adalah Akhina Ahmad Setiabudi, Ketua Umum SALAM UI, menyampaikan pandangannya seputar dunia Pemuda dan Mahasiswa yang selalu menjadi garda terdepan perubahan di dunia termasuk mempercepat perbaikan segala sektor. Selain itu Akhina Ahmad Setiabudi memaparkan pula keterkaitan antara sifat manusia Indonesia dengan aspek sejarah bangsa Indonesia yang selama tiga setengah abad dalam cengkaraman penjajahan kolonial dengan sikap manusia Indonesia yang boleh jadi ada keterkaitannya, yang menurut beliau, tampak pada kasus korupsi sebagai warisan penjajah yang hingga kini masih dipraktikan.

Pada hari kedua, saya baru sampai ke Universitas Indonesia pas waktu Zuhur dan menyempatkan sejenak bersembahyang Zuhur di Masjid Ukhuwwah Islamiyah UI. Selang beberapa saat setelah jua mendengarkan kuliah Zuhur dan makan, saya kembali bergegas ke tempat acara di Aula Djoko Soetono Fakultas Hukum Universitas Indonesia untuk kembali mengikuto rangkaian sesi dari Konferensi Mahasiswa Muslim Indonesia. Pukul 13.30, Konferensi kembali dibuka dengan sidang masing-masing komisi. Di antara komisi-komisi itu adalah : Ekonomi, Sosial Budaya Keagamaan,Politik dan Hukum. Saya yangs sebelumnya tidak ikut dalam pembagian sidang komisi di hari pertama dipersilakan untuk bergabung dengan bagian komisi Ekonomi setelah melihat identitas saya sebagai mahasiswa dari sebuah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam oleh panitia.

Tanpa tedeng aling-aling, saya menuju lantai tiga, tempat sidang Komisi Ekonomi diberlangsungkan. Rangkaian sidang komisi berjalan cukup alot bukan karena panasnya tempat acara namun sasaran dan pemetaan masalah yang sejauh saya pandang dalam sidang tersebut masih blur maka usulan-usulan yang masuk juga begitu mengambang. Setelah banyak mendengar sejenak, akhirnya saya beranikan diri untuk mulai menjabarkan masalah dari akar hingga kita bisa menemukan solusinya berdasarkan paradigma seorang muslim.

Masalah pertama, kita dihadapkan pada ketidakjelasaan sistem Ekonomi Indonesia. Walau sejak awal kemerdekaan ini, Bung Hatta telah juga ”memproklamirkan” Sistem Ekonomi Indonesia sebagaimana yang tertuang dalam pasal 33 Undang-Undang 1945 yang menekankan bahwa kekayaan bangsa yang tersimpan di perut bumi seharusnya dieksplore dan dikelola oleh pemerintah untuk kesejahteraan rakyat banyak di Indonesia. Nyatanya Perekonomian Indonesia, telah banyak berubah bahkan jauh dari semangat kemerdekaan dan konsepsi perekonomian mandiri yang digagas oleh Bung Hatta dalam pidatonya ”Di Antara Dua Belah Karang” hakikatnya Konsepsi Ekonomi kita telah dirancang. Tetapi ternyata jauh sebelum Bung Hatta mendeklarasikan wujud Ekonomi Mandiri yang kelak kemudian diperjuangkan dan dikenang oleh Prof Mubyarto serta para Ekonom UGM lainnya sebagai Ekonomi kerakyatan, Adalah seorang Haji yang dibawah asuhannya. Tempaanya. Didikannya. Ir Soekarno dan Kartosoewiryo menjadi singa-singa zaman yang disegani kawan dan lawan. Yang satu menjadi icon orde lama beserta kejatuhannya dan kini lebih banyak menjadi pajangan nostalgia politik dan yang kedua tetap menjadi misteri Negara Islam yang dirindu-rindukan oleh semua orang. Entah itu Bermadzhab Radikaly atau madzhab Zaituni. Namanya melangit di atap lelangit sejarah Indonesia.

Adalah seorang Haji yang bernama lengkap Haji Omar Said Cokroaminoto, gagasan yang kini kembali digaungkan ke seantero kampus hingga gedung Bank Indonesia sesungguhnya telah dan pernah dimulai. Begitu terpana Pak Aji Dedi Mulawarman, seorang pakar Akuntansi Syariah, hingga mengangkat gagasannya tentang Tazkiyah Ilmu menjadi sumber Inspirasinya membangun kembali framework Akuntansi Syariah yang dirasa oleh beliau masih lah longgar. Kalau ada organisasi sosial kemasyarakatan yang mengangkat slogan ” Memasyarakatkan Ekonomi Syariah  & Mensyariahkan Ekonomi Masyarakat” maka itulah MES yang ternyata slogan tadi telah lama dipraktikan oleh seorang Haji Omar Said Cokroaminoto dengan himpunan pedagang batik jawa nya dan dari yang terserak berhimpun yang padu. Dari sekedar Serikat dagang Islam bertemu menjadi Serikat Islam.

Kembali pada diskusi di atas, Islam, dalam penjelasan saya pada teman-teman di sidang komisi bagian Ekonomi serta berlatar belakang dari pelbagai kampus seluruh Indonesia itu, Lebih mula kita posisikan dimanakah posisinya ia dalam percaturan politik dan Ekonomi Dunia.Sebagai sebuah sistem Ilahi, yang diturunkan bagi rahmat sekalian alam, Terlalu rendah ketika kita dengan beraninya, entah dasar ghirah terlalu bergejolak atau apa, menyamakan keanggunannya dengan sistem yang ramai dipromosikan para capres dan cawapres sebagai Ekonomi Kerakyatan. Atas dasar itu pula, maaf,  agaknya saya kurang setuju dengan pandangan yang dituangkan oleh Pak Adiwarman Kariim di Republika dengan tajuk ” Kembali ke Ekonomi Pancasila ” menjelaskan bahwa Ekonomi Pancasila sudah begitu serasi dengan Maqashidusy Syariah atau tujuan-tujuan dan kamsud dari Syariah Islam yang tertuang kental di lembaran keilmuan para ulama terdahulu dari mulai Al Ghazali, Asy Syathibi hingga Imam Al Qarafi.

Tapi sangat kontras pandangan Ekonomi Pancasila yang disampaikan oleh Prof Anhar Gonggong dan kawan-kawan dalam sebuah acara talkshow di TVRI. Begitu jauh ternyata. Tak tanggung-tanggung Revrisond Baswir yang juga Ekonom dari UGM, menyatakan bahwa sejatinya Ekonomi Pancasila lebih dekat dengan Ekonomi Sosialis. Baik Itu Sosialis dan Kapitalis mempunyai kutub sejarah yang sangat panjang. Yang satu dimulai dari kebekuan tradisi keilmuan di Barat dan yang kedua berpuncak pada robohnya tembok Berlin kemudian, Menurut Alan Greesnpan ketika pertama kali mendarat di Moscow, Begitu tragis dan parah perekonomian yang dibangun dengan nuansa sentralistik ini. Hingga kesimpulanya, Alan Greenspan seperti sepakat pada Francis Fukuyama bahwa Kapitalisme seperti telah dinobatkan menjadi pemenang pertarungan sejarah yang telah berakhir. Akh, maka terlalu rendah jua Ekonomi Pancasila dianggap telah mewakili total wajah ekonomi Ummat karena Islam adalah Ya’lu Wa La Yu’la Alaih. . Bukan sama sekali menafikkan, katakanlah Substantif akhi, tetapi bukankah Substansi kadang tak memiliki Ruh maka apalagi badannya ?? yang ada jelas, mewarisi ketidak jelasan sistem Ekonomi Indonesia. Begitu Krisis terjadi, segera semua pihak cuci tangan dan mengarahkan moncongnya para Ekonom yang dulu berjuang selagi masih jadi mahasiswa mulai dari STEI Tazkia hingga belantara kampus diseluruh Indonesia yang pernah membuka jurusan Ekonomi Syariah di saat popularistas nya tengah naik daun.

Lalu pada masalah kedua, kita dihadapkan pada gebyar Ekonomi Syariah yang begitu membahana sehingga begitu terasa sedang berjalan menuju genggam daulah. Tetapi seperti yang saya sudah jelaskan di atas. Euforia juga mengundang orang bersikap reaktif dan berspekulasi reaktifnya itu positif atau negatif juah lebih menyentuh wilayah Dzon dalam agama kita, Sebagian besar Dzhon itu adalah dosa karena membiarkan perasaan lebih bertahta dari pada kematangan logika, emosi dan ruhiyah. Teman-teman banyak membahas seputar Issue Zakat akan tetapi sayanganya Zakat yang diangkat ternyata baru Zakat Fitrah ! dengan sedikit menahan nafas, saya mencari cara penjelasan yang elegan tetapi kena di sasarannya” Akh afwan, bahasan tadi sangat baik, tetapi maaf , akh setahu ane yang justru dikenai sasaran baik itu pemerintah mapun lembaga –lembaga Amil Zakat lainnya dan dikemas dengan cara elegan, bagaimana kelak, para mustahik itu diberdayakan dengan dana zakat secara mandiri hingga kemudian ia berdaya sendiri menjadi muzzaki. Kemudian bahasan dalam  masalah yang kedua ini hingga mulai menyentuh ranah perbankan Syariah. Dan seperti biasa, saya memang terlebih dahulu banyak mendengar. Yach tak ada dosa dan salahnya karena Allah pun menciptakan dua telinga dan satu mulut pun dengan tujuan lebih banyak kita dididik untuk mendengarkan orang lain baru kemudian berbicara pada bahasa, tempat, dan waktunya yang tepat. Perbankan Syariah, kata teman-teman, masih lah merangkak pada angka 2.04 %. Serta itu adalah sebuah gambaran pangsa Pasar Perbankan Syariah masih jauh dari kata ”Adil dan Sejahtera ” tetapi maaf, teman-teman silakan tengok bagaimana penyaluran FDR bank Syariah yang telah di atas 100 % dan dana yang tersimpan di SWBI pun tak seberapa lalu terkait dengan Market Share.

Saya teringat dengan tulisan Muhammad Jarkasih, kakak kelas saya yang sekarang bekerja di Zahra Accounting,  Peran yang dimainkan oleh LDK jauh lebih strategis dan holistik dalam menyikapi perbankan Syariah. Jangan dibandingkan semata dengan asset Perbankan Konvensional yang lebih tua hingga memaksa untuk mengejar hingga mengerahkan teorinya Machiavelly. Dari mulai Kartu kredit Syariah hingga Uang Fiat yang masih digunakan oleh Perbankan Syariah. Bukan berarti menafikkan hukum Syara penggunaan uang Fiat tapi kita mencari mata uang atau instrumen Investasi yang berkeadilan.

Dan hanya Gold Standar yang bisa memenuhi semua syarat mata uang dan itulah mengapa juga Ekonom dari Mazhab Austrian mengusulkan kembalinya Uang Emas sebagai Standar menggantikan uang Fiat yang berwajah ganda. Secara kritikal juga Dr Umer Vadillo, Ekonom dari Spanyol mengkritisi Perbankan Syarih saat ini sudah mulai terjebak pada kegamangan sikap di tengah-tengah gurita liberalisme dan kapitalisme dan itulah mengapa beliau menyebutnya sebagai ”Kapitalisme Religius ” . Akan tetapi, sebuah Kaidah emas para ulama mengajarkan pada kita ” Ma La Yudriku Kulluhu La Yatraku Kulluhu ” kata mereka, para ulama berhati emas itu, apa-apa yang sebenarnya masih bisa berkembang dengan baik tetapi masih jauh dari kata optimal bukan berarti ditinggalkan sama sekali !” Begitu juga, yang dinasihatkan oleh Pak Ali Sakti, Peneliti Yunior dari BI, ”Di hadapan anda tersedia dua mangkuk mie. Yang satu berbumbu babi yang jelas keharamannya tetapi yang satu terlalu asin atau malah pedas etapi yang jelas halal, lalu anda pilih mana ?? ” nah begitu juga saat kita mencandera perjalananan Perbankan Syariah ini. Tak lagi melulu sarat dengan paradigma yang nyatanya belum murni dari kapitalistik’s paradigm.

Sidang Komisi selesai setelah Shalat Ashar kemudian dilanjut dengan pembahasan lengkap dari masing-masing komisi. Dan sedikit berjalan panas tetapi bisa dengan tenang diredam oleh ketua Puskomnas FSLDKN. Acara kemudian berlanjut ke Deklarasi pernyataan Mahasiswa yang diangkat dari butir-butir yang disepakati oleh masing-masing sidang komisi tadi. Dan saya sangat lega juga puas dengan keberadaan saya juga masukan saya dijadikan poin-poin tuntutan mahasiswa kepada para capres dan cawapres. Memang benar The Right Man On The Right Place !